Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
(not) Perfect Couple : {7} Kalah Tantangan


__ADS_3

#####


"Masak apa kamu hari ini?"


Aro baru kembali dari kamar sambil membawa ponselnya. Ia kemudian duduk di sebelah gue lagi dan kali ini menyender pada bahuku.


"Tumis sayur segala macem yang ada di kulkas aku jadiin satu."


Mendengar jawaban gue, Aro kembalitertawa. "Banyak amat."


"Enggak banyak kok. Cuma brokoli, sosis, bakso, wortel, sama kubis. Sayurnya cuma tiga macem. Stok sayuran abis tahu, besok belanja, yuk! Sambil jalan-jalan atau pacaran gitu, bosan tahu di rumah mulu."


"Iya. Besok belanja. Terus lauknya, kamu bikin apa?"


Gue menggeleng. "Belum bikin. Rencananya sih mau bikin tempe mendoan aja, tapi nunggu kalau kamu udah mau makan. Kamu udah mau makan?"


Aro mengangguk lalu menegakkan tubuhnya. "Aku aja deh yang bikin."


"Tapi kan kamu baru pulang kerja. Aku aja deh. Masa capek-capek pulang kerja masih masakin istrinya."


"Iya, nggak papa. Masa istri orang aja aku masakin, istri sendiri malah enggak?"


Kali ini gue tertawa. Iya, juga, ya. Aro akhir-akhir ini jarang banget masakin gue. Terakhir masakin gue itu, waktu gue pengen makan cemilan tapi Aro nggak ngebolehin gue jajan. Nah, biasanya kalau begitu dia mau masakin gue. Kalau untuk makan sehari-hari, Aro mulai sedikit mempercayai kemampuan memasak gue, meski ala kadarnya.


"Ya udah, sana kamu yang bikin," kata gue pada akhirnya, "aku ngehabisin nonton ini dulu."


Aro berpikir sejenak lalu menyandarkan kepalanya pada bahu gue. "Kamu aja deh, biar pahala kamu nambah. Itu nontonnya dilanjut abis makan aja."


Kok ngeselin, ya?


"Dasar php," gerutu gue sambil berdiri tanpa aba-aba. Hal itu tentu saja membuat kepala Aro membentur sofa.


Bukannya kesal atau marah, Aro justru terbahak. Dan mulai membenarkan posisinya menjadi berbaring sepenuhnya. Sementara gue langsung berjalan menuju dapur. Melaksanakan kewajiban gue sebagai istri, masakin Aro. Tak butuh waktu sampai setengah jam tempe mendoan gue jadi. Gue langsung berjalan menuju ruang tengah, bermaksud memanggil Aro, yang ternyata sedang tidur. Pantesan anteng banget, ternyata tidur.


Dengan hati-hati gue membangunkan Aro. "Ar, makan, yuk!" gue menggoyangkan kaki kiri Aro. Ia menggeliat sebentar lalu mengubah posisinya menjadi duduk.


"Udah selesai?"


Gue mengangguk lalu mengelus rambutnya sambil terkekeh. Wajah Aro terlihat sangat kelelahan.


"Capek banget, ya?"


"Enggak juga. Cuma ngantuk."


"Ya udah, ayo buruan bangun! Makan dulu baru tidur lagi nanti."


Aro mengangguk setuju lalu turun dari sofa, lalu kami berjalan beriringan menuju dapur.


"Ohya, unit depan sekarang udah ada yang nempatin. Besok kita mampir dulu buat nyapa, ya?"


"Mau dibawain apa?"


"Enggak usah, say hello aja deh. Takutnya kalau bawa apa malah sungkan dianya."


"Ya, enggak bisa gitu dong, Ar. Nggak sopan, aku bikinin puding aja ya?"


Aro tertawa sambil menerima piring berisi nasi dan juga lauk pauk yang gu sodorkan. "Emang bisa?" ledeknya kemudian.


Gue merengut. "Kamu tanya apa ngatain sih, Ar?"


"Tanya lah. Masa ngatain kayak gitu? Tapi ya udah deh, terserah kamu. Kalau kamu nggak ngerasa repot, gitu juga boleh."


"Oke. Tapi aku kita nggak punya bahan buat pudingnya, Ar," cengir gue, saat teringat kalau gue belum pernah membeli bahan untuk membuat puding.


"Gampang. Nanti aku beliin," kata Aro sambil menyuap nasinya, "masakan kamu sekarang udah ada peningkatannya. Good job! Nggak salah ya aku ngajarinnya."


Seketika gue mendengkus. "Kapan kamu ngajarinnya? Kamu kan sibuk masakin istri orang sama pacar orang," gerutu gue kemudian, "guru memasak terbaik aku itu kalau enggak Mas Google, Ya Mbak Youtube."


Aro tidak memprotes, ia mangguk-mangguk, seolah setuju dengan ucapan gue dan fokus menguyah.


"Ngomong-ngomong aku kangen Baby El deh, kapan nanti kita main ke sana lagi?"


"Resto lagi susah aku tinggal nih, gara-gara banyak dipake buat event, jadi kemungkinan belum bisa main ke Jakarta dulu. Kalau kangen telfon aja, ya? Video call gitu atau kita bikin sendiri."


Gerakan menguyah gue mendadak terhenti. Nasi beserta lauk yang gue kunyah mendadak terasa hambar. Ada perasaan bersalah, takut, cemas, dan juga khawatir, semuanya jadi satu.


"Ar, bukannya kita sepakat buat nunda kehamilan aku dulu, ya? Kamu mendadak berubah pikiran?" tanya gue dengan hati-hati.


Gue tidak mau kita bertengkar karena masalah hal seperti ini. Bagaimana pun juga kami sudah menyepakatinya bersama. Bukankah harusnya ia sedikit memahami perasaan gue juga?


"Enggak." Dengan wajah santainya, ia menggeleng. "Aku cuma nyaranin kok, ya kalau kamu nggak mau ya udah. Kan aku juga nggak maksa?"

__ADS_1


"Tapi secara nggak langsung kamu bikin aku harus segera berubah pikiran, Ar. Kamu bikin aku serba salah," aku gue jujur. Gue meletakkan sendok dan juga garpu, kedua mata gue menatap Aro serius.


"Aku nyakitin kamu?" Ekspresi Aro kali ini berubah serius, dari nada bicaranya pun bahkan terdengar khawatir. Ia ikut meletakkan sendok dan garpunya. Kedua tangannya terulur dan meraih sebelah tangan gue, "maaf, aku nggak maksud begitu. Serius."


Gue menggeleng. Aro mengelus pipi gue yang basah, tanpa sadar gue ternyata sudah menangis.


"Mungkin secara nggak langsung kita udah saling nyakitin, Ar."


Aro kemudian berdiri dan memeluk gue. "Aku nggak ada niatan buat maksa kamu, sayang. Aku paham posisi kamu, maaf kalau udah bikin kamu ngerasa bersalah. Aku serius nggak maksud begitu."


Gue tidak menjawabnya, yang gue lakukan hanya menangis di pelukannya.


"Aku jelas nggak mungkin maksa kamu, kalau kamunya sendiri belum siap."


Gue mengurai pelukan kami. "Aku janji akan belajar buat mempersiapkan diri."


Aro kemudian mengangguk setuju, lalu mengelap pipi gue sekali lagi. "Udah, nggak usah nangis! Kalau kamu nangisin terus begini, gimana aku bisa minta anak dari kamu. Yang ada nanti aku pusing ngurusinnya."


Gue mencoba memaksakan senyum gue. "Kan kamu juga yang bikin aku nangis."


Aro tertawa. "Iya, iya, maaf. Lain kali nggak gitu lagi. Kapok aku. Kamu kalau nangis harus pake adegan basahin baju aku sih," kelakarnya membuat gue akhirnya tertawa.


########


Kali ini pagi gue sudah sibuk di dapur, kemarin Aro meminta gue masakin telur balado. Bukan meminta sih, tapi lebih kepada menantang. Kalau masakan gue enak, gue, eh, ralat, kalau masakan gue nggak gagal gue boleh minta aja ke Aro. Tapi kalau masakan gue gagal, gue harus menuruti kemauan Aro. Ah, gue jadi harap-harap cemas. Kayaknya gue bakalan harus menuruti permintaan Aro.


"Udah jadi? Aku udah siap nih buat ngicipin."


Gue sedikit terlonjak kaget karena kemunculan Aro yang tiba-tiba. Buset, kapan pulangnya Aro? Kok gue sampai nggak sadar.


"Astagfirullah, Ar. Harus banget, ya, ngagetin gitu?"


"Hah?" Ekspresi Aro berubah bingung, "kapan aku ngagetinnya. Perasaan aku tadi ucap salam deh. Belum siap?" Ia sedikit melongok ke arah wajan. Sudut bibirnya terlihat sedikit bergetar, seperti sedang menahan tawa. "Gagal, ya?" ledeknya kemudian.


Gue menatapnya sengit. "Iiih, jahat banget doanya," rajuk gue kesal.


Aro tentu saja langsung menertawakan gue, sebelum akhirnya ia berlari masuk ke kamar kami. Begitu masakan gue selesai, gue langsung membawanya ke meja makan. Di sana Aro sedang duduk manis menunggu hidangan gue.


"Aman?" tanya Aro sambil sedikit terkekeh. Tangannya kemudian menarik tissu dan mengelap pinggiran wadah yang sedikit belepotan. "Gini kan lebih cantik."


"Iya, Chef," ujar gue penuh penekanan, "inget! Ngomentarinnya sebagai suami yang baik aja, jangan sebagai Chef beneran," imbuh gue memperingatkan.


Aro kembali terkekeh, lalu mengambil sendok dengan antusias. Ia kemudian menyendok kuah sambal baladonya.


Gue mengigit bibir bawah gue dengan harap-harap cemas. Repotnya punya suami Chef ya begini, kalau mau ngehidangin masakan aja rasanya kayak ikut kontes Master Chef.


"Inget, Ar, jangan jadi Chef beneran. Nggak boleh pedes-pedes komentarnya," kata gue memperingatkan lagi.


Aro tertawa kemudian mengangguk. Saat mencicipi, ekspresinya terlihat biasa aja. Datar, susah gue tebak. Kira-kira parah banget apa parah aja, ya?


"Gimana, Ar? Kok diem aja?" tanya gue penasaran.


"Not bad," komentar Aro langsung meraih air putih di sampingnya.


Gue menyipitkan kedua mata curiga. Enggak enakkah?


"Enggak enak, ya?" tanya gue semakin cemas, "aku kalah?"


"Kamu cobain sendiri dulu, deh," balas Aro semakin membuat gue penasaran.


Gue berdecak lalu lalu meraih sendok dan menyicipinya. Astaga, rasanya asin banget. Gue kemudian langsung berlari menuju wastafel, sedang Aro menertawakan gue.


"Asin, ya. Kayak anak gadis yang minta dinikahin aja."


Gue kemudian kembali ke meja makam dengan ekspresi sedih. Yah, gue gagal deh.


"Enggak papa, jangan manyun gitu. Besok bisa dicoba lagi," kata Aro mencoba menenangkan gue, "masih bisa dibenerin kok itu. Nanti aku benerin jangan tersinggung, ya, biar bisa kemakan."


Gue mengangguk sedih. "Jadi, kamu minta apa?"


"Gampang kok."


"Plis, jangan minta anak dulu," sahut gue spontan.


"Aku nggak mau bahas ke arah loh, Anggi, kenapa kamu malah mancing-mancing gitu sih?"


"Antisipasi."


"Enggak. Tenang aja, aku cuma minta..." Aro tiba-tiba memelankan suaranya, "mulai minggu depan nggak usah pake pengaman, ya."


"Ha?" Wajah gue cengo.

__ADS_1


"Tenang aja. Aku nggak ngelarang kalau kamu mau minum pill atau suntik KB kok."


Perasaan gue mendadak campur aduk. Gue harus bagaimana, ya?


"Apa permintaan aku terlalu memberatkan?" tanya Aro memecah lamunan gue.


Gue menatap Aro serius kemudian menggeleng. Sebenarnya permintaannya tidak memberatkan, hanya saja gue jadi serba salah kalau begini jadinya. Astaga!


"Oke. Berarti deal, ya? Aku nggak akan pake pengaman mulai minggu depan?"


Gue kemudian mengangguk setuju.


"Makasih," ucap Aro tulus. Ia kemudian berdiri dan mencium pipi kiki gue, "aku sulap dulu, ya, telur baladonya."


"Iya. Makasih."


Aro kemudian tersenyum dan mengangguk.


Sepertinya sudah saatnya gue mulai memikirkan untuk memiliki anak. Gue tidak bisa lari dari kenyataan lagi. Tapi, apakah gue beneran sudah siap memiliki buah hati?


******


Begitu selesai mandi, gue langsung kembali ke dapur dan mencari keberadaan Aro. Di sana ia tengah menuang telur balado--yang sudah ia perbaiki rasanya--ke dalam wadah yang tadi.


"Eh, udah selesai mandinya? Sini cobain dulu! Menurut aku sih udah lumayan kalau begini." Aro kemudian menyendok kuah sambal balado, meminta gue untuk mencicipinya. "Gimana?"


"Enak," komentar gue.


"Nggak perlu diapa-apain lagi?" tanya Aro kembali memastikan.


Dengan penuh keyakinan, gue mengangguk. Entah apa yang sudah ia masukan ke dalam telur balado gue, rasanya beneran jadi enak. Enak banget malah, nggak cuma dominan asing kayak tadi.


"Ini udah enak banget, Ar. Ini beneran telur balado bikinan aku yang tadi, apa kamu bikin baru sih?" tanya gue curiga.


Rasanya agak kurang percaya dengan rasa amburadul masakan gue tadi yang kini berubah jadi enak banget gini. Kan wajar kalau gue jadi curiga.


"Ya, yang kamu bikin tadi lah. Pemborosan banget kalau harus bikin ulang, mubazir."


"Hmm, kalau enak begini bisa lah dikasih ke tetangga baru," ucap gue tanpa sadar.


"Mau dikasih ini aja?" tawar Aro kemudian.


"Boleh?" gue balik bertanya.


Aro mengangguk yakin. "Kalau kita makan berdua aja juga nggak bakalan abis ini."


"Ya udah, yuk, langsung ke sana aja," ajak gue yang langsung ditolak Aro.


"Kamu sendiri aja deh, aku udah ketemu kok pas jogging tadi. Lagian aku kebelet nih, pengen ke wc."


Bibir gue manyun, tidak setuju dengan ide Aro. "Yah, masa aku sendirian sih, Ar. Kamu tega?"


"Astaga, cuma ke depan unit kita loh, masa nggak tega. Nggak usah berlebihan dong, sayang. Biasanya juga ditinggal setiap hari nggak protes kok."


"Ya, beda, kan biasanya ditinggal cari uang. Sekarang ditinggal ke wc."


"Terus? Kamu mau ikut?"


Gue menggeleng tegas, sebagai tanda jawaban.


"Ya udah, sana kamu anterin. Nanti keburu siang. Nanti kita juga mau belanja kebutuhan loh."


"Jadi, aku beneran sendiri?"


Aro mengangguk lalu mencium kening gue. Setelahnya ia berlari masuk ke dalam kamar mandi. Gue kembali manyun. Ya udah deh, terpaksa.


Sebelum keluar, gue merapikan rambut gue terlebih dahulu. Bukan ingin bermaksud yang bagaimana-bagaimana, biar punya kesan baik aja kalau gue ini bisa rapi. Setelah dirasa oke, baru akhirnya gue keluar dari unit kami dan menekan bell pada unit yang berhadapan dengan unit apartemen kami.


Butuh waktu satu hampir satu menit lebih, akhirnya pintu apartemen terbuka. Menampilkan sesosok pria familiar yang keluar dari dalam sana. Seketika gue menahan napas tanpa sadar, karena terkejut.


"Kamu?" koor kami secara bersamaan dan sama-sama terkejut.


Astaga, situasi macam apa ini?


Tbc,


Yuhuuuuu, double up. Hehe, berhubung hari ini double up, jadi doain biar besok tetep up dan gk absen. Oke?😉


Betewe, kura-kira ada yg bisa nebak siapa itu? 🙃🙃🙃


Hmm, gue menduga 99,999999999% pada nebak dengan benar🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


ohya, harap sabar dgn alur lambatnya ya🤭🤭


__ADS_2