
#####
"Apa lo bilang?!"
Baik gue dan juga Aro langsung menoleh ke asal suara. Di sana ada Bang Riki dengan kedua matanya yang melotot tajam ke arah Aro. Dia sudah sendirian, tidak lagi bersama dengan Vinzi. Sudah pulang mungkin itu calon Kakak ipar gue.
"Lo barusan bilang apa, Ar?" ulang Bang Riki dengan wajah tidak wolesnya.
Aro menoleh ke arah gue dengan tatapan bingungnya, sebelum menjawab, "Gue pengen jadiin adek lo menantu Mama gue."
"Lo ngelamar adek gue? Pake cara biasa begitu?" tanya Bang Riki terlihat seperti tidak terima.
Lah, kenapa Bang Riki yang enggak terima. Gue aja biasa aja, tuh.
"Emang lo pengennya Aro ngapain, Bang? Nari di tengah jalan terus pas musik berhenti dia berlutut sambil nyodorin cincin? Dih, norak!"
"Lo ngekode?"
"Kaga!!" sanggah gue cepat, "gue bilang tadi norakkan? Gimana ceritanya kalau gue lagi ngekode," gerutu gue kemudian.
"Yang tadi bukan lamaran, Rik. Gue--"
"Lo mau main-main sama adek gue?"
"Bang, lo nggak usah ngaco deh. Iya, iya, gue minta maaf karena udah ganggu adegan enak kalian. Tapi, yang tadi itu kan nggak sengaja. Ya, sorry!"
"Bangke!" umpat Bang Riki sambil berdecak dan menatap gue galak. "nggak usah bahas bagian itu."
"Kenapa? Pencitraan di depan calon adek ipar?"
"Lo kok kepedean gitu sih, Gi?" protes Bang Riki, yang kali ini memberikan tatapan malasnya.
Sama, gue juga males sama lo, Bang! Nyebelin sih lo, kan gue jadinya males.
"Rik, lo serius mau restuin kita nggak sih?"
Kini giliran Aro yang protes. Ekspresinya terlihat gemas saat menatap Bang Riki.
"Lo lupa pesen gue sebelum ngajak ke sini?"
"Inget. Gue belum sepelupa itu, Rik," balas Aro wajah datarnya.
"Apa? Gue bilang berjuangkan?"
"Ya, makanya lo jangan ngerusuh. Gue lagi mau usaha ini. Bisa sedikit membantu?"
Bang Riki memutar kedua bola matanya malas, lalu berjalan ke arah kami. "Geser!" suruhnya kemudian.
Meski dengan wajah bingung, Aro tetap menggeser tubuhnya. Mempersilahkan Bang Riki duduk di tengah-tengah kami. Ck. Kok Bang Riki rese begini sih. Gue kan tadi ganggu aktivitasnya juga karena enggak sengaja. Kenapa balasannya begini banget deh.
"Rik, gue perlu bicara sama Adek lo. Lo kenapa begini banget deh?"
Gue terpana. Bukan, bukan karena melihat wajah tampannya Aro yang selalu tampan itu, bukan. Tapi lebih kepada nada bicaranya sekarang ini, yang terdengar antara gemas campur ingin mencekik Bang Riki. Serius, Aro kalau sama Bang Riki lebih ekspresif beda jauhhhh kalau sama gue.
"Itulah sebabnya kenapa gue ada di sini, Ar," balas Bang Riki santai.
Iya, santai banget. Malah terlihat seperti enggak punya dosa gitu lho.
__ADS_1
"Maksud lo?" seru gue tak paham.
"Iya, gue di sini itu lagi bantu Aro biar sesi perjuangannya agak seru dikit," jawab Bang Riki, masih dengan wajah santainya. Bahkan sekarang doi lagi sibuk memainkan ponselnya, sibuk berbagi pesan dengan Vinzi mungkin.
"Astaga!" decak gue, frustrasi menghadapi Bang Riki.
"Astagfirullah!" koreksi Bang Riki.
Wajahnya masih sesantai tadi, pandangannya masih fokus dan belum berpaling sama sekali dari layar ponsel.
Gue melongo. Sementara Aro hanya mendesah pendek sambil memijit pelipisnya, yang mungkin mendadak pening menghadapi Bang Riki. Baru beberapa detik setelahnya, ia melirik gue sambil menunjuk Bang Riki dengan kepalanya.
"Lanjutin aja yang tadi!" celetuk Bang Riki tiba-tiba.
"Apanya?"
"Obrolan kalian yang gue jeda tadi lah, Wat. Jangan bego-bego amat jadi cewek kenapa sih?" decak Bang Riki sambil melirik gue gemas.
"Terus lo di sini?"
"Emang gue musti di mana?" tanya Bang Riki dengan wajah tanpa rasa bersalahnya.
Astagfirullah. Beri gue kesabaran, ya Allah!
"Jangan bikin gue jadi adek durhaka, ya, Bang. Gue cekek juga lo lama-lama kalau ngeselin begini!" ancam gue emosi.
"Yang tadi cuma akting, sekarang bisa kalian terusin. Gue di sini itu biar nggak ada setan di antara kalian, baekkan gue?"
"Banget. Kebangetan banget lo baeknya, Bang. Sampai pengen nangis gue rasanya, saking terharunya," ujar gue dengan nada jengkel.
Berharap agar Bang Riki peka dengan perubahan nada bicara gue. Tapi sayang, sepertinya kepekaan Bang Riki sedang tumpul saat ini, jadi ia tidak cukup mampu menerima kode gue tebar dengan baik.
Gue melirik Aro, mengkode pria itu agar pindah duduk di sebelah gue. Namun sayang, lagi-lagi kode gue sebar tidak mampu diterima. Bang Riki yang lumayan agak peka aja nggak peka, gimana Aro yang kulkas dua pintu begini. Astagfirullah! Gue harus gimana ini?
Karena nggak tahan, gue akhirnya mengungkapkannya secara langsung.
"Aro, pindah tempat duduk!" suruh gue sambil menunjuk sofa single di sebelah gue.
"Kenapa?" tanya Aro dengan wajah bingungnya.
"Kita perlu nerusin obrolan kita tadi, Ar," kata gue gemas yang bercampur frustrasi.
Di sebelah gue, Bang Riki secara terang-terangan menertawakan gue. Membuat gue tak tahan untuk mengumpatinya.
"Kan gue udah ngasih peringatan di awal, kalau kalian itu nggak cocok, Ronaldowati! Ngeyel sih lo, sekarang nyaho sendiri kan?" ejek Bang Riki sambil terbahak.
"Diem deh lo!" ketus gue judes. "nyamber aja kayak jambret."
Pandangan gue lalu beralih ada Aro, yang kini sudah berpindah tempat duduk tepat di samping gue.
"Kalau untuk jadi Menantu dan Ibu dari anak-anak lo, jujur gue belum siap. Kalau pacaran aja dulu gimana?"
Dengan wajah datarnya Aro mengangguk. "Saya tidak masalah," jawabnya sekenanya.
Mendengar respon Aro yang biasa aja begitu, sontak langsung membuat Bang Riki terbahak. Ia bahkan sampai memegang perutnya dan menghentakkan kedua kakinya heboh. Gue langsung menoleh ke arahnya dengan pelototan tajam gue.
"Jangan merusak suasana kenapa sih, Bang?" decak gue sebal.
__ADS_1
Dengan wajah santainya, Bang Riki menggeleng. "Enggak bisa dong, kan tujuan gue di sini itu biar perjuangan Aro seru."
"Sudahlah, Anggita, yang penting status kita sekarang jelas. Saya pacar kamu, kamu pacar saya, dan kita pacaran. Biarin Riki mau ngapain aja terse--"
"Mulai sekarang lo harus mulai belajar panggil gue Bang, Ar," potong Bang Riki sambil memainkan kedua alisnya naik turun.
Gue mendengkus lalu geleng-geleng kepala melihat kelakuannya. Baru setelah itu, gue menyuruh Aro berdiri.
"Kenapa?" tanyanya bingung.
"Pulang! Lebih baik lo pulang, daripada digangguin sama setan."
"Anggita, nggak boleh begitu, bagaimana pun juga Riki itu Abang kam--"
"Pulang!" tegas gue tidak ingin dibantah, dengan gerakan tak sabar gue langsung menarik lengan Aro keluar rumah. "jangan lupa besok jemput gue," imbuh gue kemudian.
"Yakin saya pulangnya sekarang? Memangnya, kangennya kamu sudah hilang?"
Tanpa sadar gue tersenyum. Duh, kok Aro mendadak ngegemesin gini, ya. Jadi pengen nyium. Gue melirik Aro malu-malu, pria itu sedang menatap gue instens.
Duh, sialan, gue beneran baper ini, gimana dong?
"Kalau yakin, saya beneran pulang sekarang. Tapi kalau kamu masih kangen, ya, saya stay di sini dulu sampai kangen kamu sedikit mereda. Jadi, bagaimana?"
Sialan. Pipi gue kenapa mendadak panas begini, cuma gara-gara denger Aro tanya begitu. Duh, norak banget gue sumpah.
"Anggita, saya sedang bertanya. Tolong angkat kepala kamu dan jawab pertanyaan saya!"
"Gue bingung harus jawab apa," aku gue jujur.
"Ya, kamu masih ingin saya di sini atau tidak?"
"Pengen sih. Cuma--"
"Ya udah, ayo masuk lagi!" kata Aro sambil meraih telapak tangan gue dan digenggam olehnya.
Kok, sikap Aro mendadak berubah begitu? Jadi, agak-agak serem, ya.
"Kok balik lagi?" tanya Bang Riki heran.
"Adek lo masih kangen gue," balas Aro dengan santainya.
Bang Riki melongo mendengar jawaban Aro. Wajahnya terlihat terkejut, pandangannya lalu beralih ke arah gue.
"Lo apain sohib gue, Wat? Kenapa mendadak jadi bucin gitu?"
"Enak aja!" sanggah gue tidak terima, "enggak gue apa-apain."
"Ngapain aja kalian tadi di depan?" tanya Bang Riki was-was, kedua matanya memicing ke arah gue dan juga Aro secara curiga.
"Enggak ngapa-ngapain, gue bukan lo, Rik, yang dikit-dikit tukeran ludah," balas Aro cuek.
Bang Riki berdecak lalu mengumpat, "Sialan lo berdua! Maksain biar gue bilang cocok tuh?" cibirnya kemudian.
"Enggaklah. Gue sama Aro kan emang beneran cocok," kata gue yakin.
"Lo dan Aro? Belum jadi kita, ya?" sindir Bang Riki lalu terbahak.
__ADS_1
Double kampret!
Tbc,