
#####
Tidur nyenyak gue tiba-tiba harus terganggu karena rasa mual yang menyerang, dengan langkah buru-buru gue langsung berlari menuju kamar mandi. Mencoba mengeluarkan sesuatu yang bergejolak di dalam sana. Tak lama setelahnya, dapat gue rasakan pijatan lembut pada leherku, aku menatap cermin dan melihat pantulan Aro tengah berdiri di belakangku, sedang memijit leherku dengan kedua matanya yang terlihat masih mengantuk.
"Abis ngapain tadi?" tanya Aro, sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya karena menguap.
Aku menggeleng. "Nggak abis ngapa-ngapain, tiba-tiba kebangun gara-gara mual."
"Nggak ada yang keluar?"
Aku menggeleng lalu membasuh bibirku.
"Ya udah, nggak papa. Nggak usah dipaksain, mungkin bawaan bayi. Yuk, keluar, mau aku bikinin teh?" tawar Aro sambil menuntunku.
Gue menggeleng. "Air putih aja deh."
"Mau yang hangat atau panas?"
"Yang penting jangan panas-panas."
Aro mengangguk paham lalu keluar kamar, tak lama setelahnya ia kembali ke kamar sambil membawa secangkir mug berisi air hangat.
"Masih mual banget nggak? Mau periksa sekarang?" tawar Aro sambil menyodorkan cangkir mug, ia kemudian duduk di sebelahku setelahnya.
Gue menggeleng. "Jam segini belum ada yang buka praktek, Ar." Lalu meneguk air hangatku.
"Tapi kan IGD buka 24 jam."
"Enggak usah. Nanti aja sekalian, kalau pergi sekarang malah ribet, iya. Hamil muda kan morning sick wajar." Gue kemudian menyerahkan cangkir mug ke Aro, lalu berdiri dan masuk ke kamar mandi.
"Mau ngapain?"
"Pipis."
Aro ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. Lalu membiarkanku masuk ke kamar mandi.
"Mual lagi?" sambut Aro saat gue keluar dari kamar mandi.
"Dikit."
Aro menghela napas lalu menuntunku menuju ranjang. "Kok malah jadi mual terus begini terus sih?"
"Enggak tahu."
"Nanti mau dibikinin sarapan apa?"
"Nanti aja deh, Ar, tidur lagi aja, yuk!" ajakku kemudian.
"Udah jam segini, nanggung kalau tidur lagi."
"Terserah kamu kalau gitu, aku mau tidur," kataku sambil merebahkan tubuh di atas ranjang dan menarik selimut.
Aro tidak berkata apa-apa, yang gue dengar helaan napas pendek lalu tiba-tiba Aro sudah berada di sebelahku sambil menyusupkan lengannya di bawah kepala gue untuk dijadikan bantalku. Kecupan ringan tiba-tiba gue rasakan pada keningku. Dengan kedua mata terpejam gue tersenyum.
"Semoga dedeknya nggak nyusahin kamu terus-terusan begini, ya. Nggak tega aku lihatnya," bisik Aro sambil merengkuh tubuh gue. Sebelah tangannya kemudian meraba perutku yang masih rata.
"Tidur lagi, Ar," balas gue sambil terkekeh.
Meski bibir gue berkata demikian, gue sendiri malah tidak langsung tidur. Otak gue mendadak membayangkan sikap Aro yang akan super over protectif. Ya, ampun. Pasti antara lucu-lucu ngegemesin campur bikin emosi deh.
#######
Gue tidak tahu pasti berapa lama gue tertidur, yang jelas tahu-tahu Aro membangunkan gue begitu saja.
"Ssst, yang, mau sarapan apa?" bisiknya pelan.
Gue menggeliat sambil merenggangkan otot gue. "Jam berapa?"
"Ditanya mau sarapan apa kok malah tanya jam," decak Aro sedikit kesal.
Gue tersenyum. "Sensi amat sih Bapak Chef," goda gue kemudian.
"Mau apa?"
Gue mengusap dagu gue sambil berpikir. "Bubur ayam?"
Kedua alis Aro langsung terangkat tinggi-tinggi, begitu mendengar jawaban gue. "Yakin bubur ayam? Bukannya kamu nggak bisa makan bubur? Jangankan makan, liatnya kamu ogah lho. Lupa?"
Tanpa sadar gue meraba perut gue. Gue mengigit bibir gue, dan hal ini langsung membuat Aro berdecak.
"Nggak usah gigit bibir gitu," ujarnya kesal.
Gue selalu heran sama Aro. Kenapa sih masalah gigit bibir begini aja dia selalu protes.
"Yakin bubur ayam? Ngidam, ya?"
Gue meringis sambil menggaruk rambutku yang mendadak gatal. Gue tidak yakin sih, ini disebut ngidam atau bukan, yang jelas saat Aro menanyakan mau dibikinin apa, ya bubur ayam lah yang terlintas di otakku. Itu termasuk nyidam bukan sih?
"Enggak tahu."
"Oke, aku bikinin. Nanti pasti dimakan, ya?"
Gue hendak mengangguk namun ragu. "Diusahakan," ucapku kemudian.
"Oke. Mandi dulu, gih! Biar segeran."
__ADS_1
Gue mengangguk sambil mengacungkan kedua jempolku. "Oke, Papa."
Aro menoleh ke arah gue sambil mendengkus. "Apaan itu tadi?"
Gue menggeleng dan memilih langsung turun dari ranjang. Membuat Aro ikut geleng-geleng kepala dan keluar dari kamar. Gue sendiri langsung bergegas menuju kamar mandi.
Saat gue sedang menyisir rambut, Aro tiba-tiba masuk sambil membawa nampan berisi mangkuk, yang gue tebak isinya bubur pesanan gue dan segelas air putih.
"Ngapain di bawa masuk kamar? Bawa keluar sana! Makan kok di kamar, nggak sopan," gerutu gue mengusir Aro.
"Enggak papa, sese--"
"Bawa keluar, Ar! Makannya di luar aja, ini aku bentar lagi kelar."
"Diperhatiin juga, malah begitu," gerutu Aro terlihat kesal sambil membawa nampannya keluar kamar.
Gue juga tidak tega sih sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Masa mau makan di kamar, ya kecuali gue sedang sakit dan nggak kuat keluar sih, ya, baru deh gue nggak akan protes.
"Perhatian sih, perhatian, tapi yang wajar, jangan berlebihan," balas gue tak mau kalah.
"Iya."
Gue terkekeh melihat kelakuan Aro, lalu menyusulnya.
"Minumnya apa?" sambut Aro saat aku memasuki area dapur.
"Es teh manis satu, ya, Mas."
Aro berdecak. "Malah bercanda, serius, yang. Mau minum apa?"
"Air putih aja."
"Hangat atau dingin?"
"Emang kalau dingin boleh?"
Aro menggeleng. Gue kemudian mendengkus dengan wajah cemberut, dan itu membuat Aro tertawa.
"Nyebelin kamu," gerutu kesal.
"Ayo, sarapan! Nanti keburu kesiangan ke dokternya."
Aro mengabaikan gerutuan gue, dan menuntunku menuju meja makan. Secara tiba-tiba perutku kembali bergejolak saat melihat mangkuk bubur, meski sebenarnya Aro menyajikannya dengan tampilan cantik. Gue mendorong tubuh Aro secara reflek dan langsung berlari ke kamar mandi. Tak lama setelahnya Aro menyusul.
"Gara-gara liat bubur tadi?"
Bak mesin otomatis, Aro langsung dengan sigap memijit tengkukku. Dan lagi-lagi tidak ada yang keluar selain air ludah.
"Kayaknya gitu."
Gue menggeleng pasrah sambil membasuh bibir. "Enggak tahu." Aku kemudian berpegang pada wastafel karena mulai merasa lemas.
Dengan sigap, Aro langsung memegang kedua lenganku. "Lemes? Kaut jalan nggak?"
Gue mengangguk meski rasanya kedua kakiku terasa lemas. Sadar dengan reaksi tubuhku, Aro kemudian mengangkat tubuhku dan membawanya keluar kamar mandi menuju ranjang. Ia lalu berdecak samar.
"Kok malah jadi begini banget sih? Aku jadinya takut deh, yang, periksa sekarang aja, ya?" bujuk Aro.
Gue menggeleng tidak setuju, meski saat mual menyerang tubuhku terasa lemas luar biasa. Tapi kalau rasa mual itu hilang semua akan kembali seperti biasa.
"Enggak papa, bentar lagi juga enakan kok."
Aro menurunkan tubuhku di ranjang. "Tapi kamu sampai lemes begini lho. Aku yang liat nggak tega jadinya."
"Ar, plis, jangan berlebihan--"
"Aku itu beneran khawatir sama kamu, kenapa malah dibilang lebay terus sih? Dari pagi kamu belum makan, tapi udah mual-mual terus sampai kamu lemes begini. Aku kan jadinya serba salah sendiri, kamu itu tanggung jawab aku sekarang, Anggita," potong Aro dengan wajah kesalnya, "aku perhatiin dibilang lebay nggak diperhatiin nanti bilangnya nggak peka. Terus kamu maunya aku gimana?"
Gue memegang lengannya, sambil mendongak ke arah wajah Aro. Kebetulan gue sedang duduk di tepi ranjang dan Aro berdiri tepat di depanku.
"Maaf, bukan maksudnya aku begitu."
Aro menghela napas lalu berjongkok. "Kamu lagi hamil, sayang, wajar dong kalau pengen jadi suami yang lebih perhatian. Emang salah?"
Gue menggeleng. "Enggak salah, Ar, cuma menurut aku kami sedikit terlalu mencemaskan aku. Padahal aku baik-baik aja, kamu nggak perlu khawatir sampai sebegininya. Gitu maksudnya aku."
"Ya kamu bikin orang khawatir begini."
"Ya, maaf kalau udah bikin kamu khawatir."
Aro menghela napas sambil melingkarkan lengannya pada pinggangku. "Jadi mau sarapan apa? Biar aku bikinin."
Aku menggeleng setengah meringis. Bayangan bubur tadi benar-benar menghilangkan nafsu makanku.
"Makan apa aja yang di kulkas dulu deh. Nanti dipikirin lagi."
"Kok gitu?" protes Aro.
"Takut mual lagi," rengek gue, "masih ada sisa roti atau biskuit nggak? Sarapan itu aja dulu deh."
"Ya, masa cuma itu."
"Buat ganjel perut, yang penting ada isinya. Singkirin dulu deh buburnya tadi, aku tunggu di sini."
Aro menghela napas panjang, menatap gue lama. Entah, mungkin gemas antara ingin marah atau yang lainnya. Baru saat gue memasang wajah tersenyum, Aro meninggalkan kamar. Gue baru keluar kamar saat Aro memanggilku.
__ADS_1
"Adanya cuma ini," kata Aro sambil menunjukkan beberapa lembar roti tawar.
Gue mengangguk tidak masalah. "Aku abisin ya."
Aro tertawa sambil mengangguk. "Dicoba dulu."
Gue mengambil selembar roti tawar, menyobeknya lalu memasukkannya ke dalam mulutku. Gue mangguk-mangguk sambil mengunyah.
"Enggak papa kok, aman."
"Mau pake selai?" tawar Aro hendak beranjak dari kursi namun gue tahan.
"Enggak usah, ini aja cukup."
Aro kembali membenarkan posisi duduknya, kemudian menggerutu, "Aku pikir bakalan gampang ngurusin makan kamu pas hamil, karena aku bisa masak. Eh, tahunya keahlianku nggak berguna begini."
Gue mengelus punggung tangan Aro untuk memberinya semangat. "Nggak papa, sekarang kan baru permulaan. Besok-besok moga gampang, ya."
Aro mengangguk dengan wajah sedihnya. Ia berpindah posisi duduk lalu meraba perutku. "Jangan nakal dong sayang di sana, yang pinter. Kasian Mama, Papa juga jadinya bingung."
Gue tertawa setelah mendengar gerutuan Aro yang seolah-olah sedang mengajak bayi kami berbicara. Gue baru tahu Aro punya sisi seperti ini.
"Udah, sana sarapan!"
Aro mengangguk lalu berdiri. Mengambil piring dan juga nasi beserta lauknya.
"Astagfirullah, kenapa cuma itu?" tanyaku keheranan.
Bagaimana tidak heran. Aro kan seorang Chef, Head Chef pula, kenapa sarapan cuma sama nasi dan telur kecap? Nggak malu sama jabatan?
"Kenapa? Kamu mau?"
Gue menggeleng. "Bukan itu. Masa kamu sarapannya cuma sama telur ceplok, kalau kamu nggak bisa masak sih wajar. Lah, ini kan kamu jagonya soal masakan."
"Emang nggak boleh?" Aro terkekeh sambil menyendok nasi dan juga telurnya.
"Bukan nggak boleh."
"Terus?"
"Ya, aneh aja. Kenapa begitu?"
"Ya karena ini lebih praktis, males ribet."
Gue kemudian bergidik ngeri saat melihat telur gorengnya masih setengah matang. "Belum mateng itu, Ar" komentarku jijik.
"Ini masih mending, kamu mungkin akan lebih jijik kalau liat yang fried over easy. Atau yang lebih parah liat yang Sunny side up." Aro geleng-geleng kepala sambil mengayunkan sendoknya.
Mendadak gue penasaran. "Bedanya?"
"Kalau yang sunny side up telurnya digoreng tanpa dibalik, terus kuning telur masih encer di dalam gitu. Nah, kalau Over easy atau disebut juga runny, telurnya dipecahkan di atas penggorengan dan dibalik sekali, tapi kuning telur masih setengah matang," kata Aro menjelaskan.
Gue mangguk-mangguk paham sambil menguyah roti tawarku. "Terus yang punya kamu ini?"
"Over medium telurnya digoreng bolak-balik sampai kuning telur tidak bergoyang-goyang lagi tapi masih setengah matang." Aro kembali menyuap nasinya, "kalau kamu lebih suka yang over hard, ya?"
"Yang kayak gimana itu?"
"Ya, yang seperti biasa kamu bikin, telur digoreng bolak-balik sampai kuning telur menjadi matang."
Gue ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk paham. "Kayak steak aja ya ada medium-medium segala. Aku pikir cuma steak aja."
"Baru tahu kan?"
Gue mengangguk cepat. "Ho oh. Dulu aku suka diomelin Bang Riki kalau telur ceplok bikinan aku kurang matang, kalau aja tahunya dari dulu. Mana bisa Bang Riki ngomelin aku. Ah, sayang sekali."
"Apa hubungannya?"
"Ya, biar bisa aku jawab gini 'ini itu bukan nggak mateng, Bang. Tapi fried egg over medium.' Nah, kalau aku jawab begitu kan keren, Ar."
Aro hanya tertawa sambil mengangguk. "Jadi, mau aku bikinin yang versi apa buat sarapan?"
Gue langsung menggeleng tegas. "Nggak mau. Amis."
"Terus sarapan apa?"
"Pikirin nanti deh."
Aro berdecak samar. "Ya udah, itu rotinya tinggal satu. Diabisin sekalian."
Gue menggeleng sambil mengelus perutku. "Udah kenyang."
"Makan roti tawar berapa sampai bikin kamu kekenyangan begitu?"
"Tiga." Gue mengingat-ingat, "eh, empat deng," ralat gue kemudian.
"Nyemil buah, ya?" tawar Aro.
Gue mengangguk. "Boleh. Tapi nanti aja pulang periksa ya?"
"Iya."
**tbc,
alhamdulillah bisa up lagi. doain besok gk absen ya😂 sedang dilanda kemalasan nih. hehe. typo or italic yg ilang, mon maap belum bisa kuedit🤣🤣 tapi nnti klo udh longgar aku edit kok. hehe. udh segini aja cuap-cuapnya. see you next part😍😘🥰😂❤️**
__ADS_1