
#####
Akhirnya, hari ini gue resmi kembali bekerja. Meski agak-agak sedikit takut juga sih sebenarnya, maksudnya kerjaan gue kan di bagian resepsionis hotel, otomatis lebih banyak berdiri saat harus menerima tamu. Tapi mau gimana lagi, cuma bisa terima nasib.
"Yakin masih kuat, Dek?" tanya Mbak Heni, salah satu resepsionis senior gue.
Gue mengangguk, mencoba menyakinkan Mbak Heni agar tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi kaki gue yang sudah tahap pemulihan ini.
"Kuat, Mbak, santai aja. Udah sembuh kok," kata gue kemudian.
Mau tak mau, akhirnya Mbak Heni mengangguk. "Ya udah, kalau ada apa-apa jangan salahin Mbak, ya?"
"Ya, enggak lah. Ngapain juga aku harus nyalahin Mbak Heni? Kan, Mbak Heni nggak ada salah apa-apa. Udah, ayo lanjut kerja!" ajak gue kemudian. Kebetulan ada tamu yang ingin melakukan chek-in.
Mbak Heni mengangguk lalu kami bersiap-siap untuk melayani tamu. Hari pertama gue kerja setelah cuti sakit, rasanya lumayan agak berat. Kaki gue kembali terasa nyeri dan nyut-nyutan, padahal harusnya udah enggak.
"Itu kenapa ekspresinya, meringis-ringis gitu?" tanya Mbak Heni setelah tamu sudah diantar ke kamarnya.
Gue meringis. "Pegel, Mbak."
"Ya udah duduk aja dulu. Mbak anter berkas ini."
"Eh, nggak papa, Mbak?" tanya gue tak enak. Karena harusnya yang mengantar berkas itu gue, bukan Mbak Heni.
"Udah, nggak papa. Nggak tega gue biarin kamu yang anter padahal kaki kamu masih begitu. Santai aja lah, Gi, kayak sama siapa aja."
Mbak Heni menepuk pundakku pelan, sebelum meninggalkan meja resepsionis. Gue hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Cukup lama Mbak Heni kembali lagi ke meja resepionis, membuat gue penasaran apa aja yang telah dilakukannya tadi.
"Tumben lama, Mbak?" tanyaku heran.
"Lift penuh. Antri."
Gue hanya ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk.
"Gimana kabar Vinzi? Udah jadi nyonya, ya, sekarang? Nggak kerja lagi?" Mbak Heni terkekeh geli sambil membuka bungkusan permen mintnya.
"Sehat, Mbak. Iya, udah jadi nyonya, kerjaannya makan tidur, makan tidur mulu. Tapi asli, emang kerjaannya makan tidur terus, Mbak. Masa lagi ngobrol sama aku, suka banget tiba-tiba ketiduran."
"Hormon hamil mungkin," jawab Mbak Heni.
Mau tidak mau, gue ikut mengangguk. "Iya, kayaknya gitu deh, Mbak. Dulu Mbak Heni gitu juga nggak?" memandang Mbak Heni dengan penasaran.
Dengan senyum kecutnya, Mbak Heni menggeleng. "Enggak. Enggak berani juga, Gi, aku kan masih ikut mertua waktu itu. Sama Kakak ipar aku juga, ya, mana berani aku dikit-dikit tidur."
Susah juga, ya, kalau harus tinggal bareng mertua. Gue jadi agak was-was, nanti kalau gue harus tinggal sama Mamanya Aro juga, gimana, ya?
"Cie, ngelamun," goda Mbak Heni sambil menyenggol lengan gue, "ngebayangin tinggal bareng mertua, ya. Cie cie, emang udah ada calonnya, Gi?" sambungnya makin menggodaku.
"Apaan sih, Mbak, kok malah godain Anggi."
"Jadi, udah ada calonnya?" tanya Mbak Heni dengan ekspresi antusiasnya bercampur rasa penasaran, khas perempuan.
"Ya, aminin aja lah, Mbak," jawabku sekenanya.
Kedua mata Mbak Heni langsung berbinar cerah, seolah baru saja mendapat undian berhadiah. "Eh, serius udah ada?" tanyanya kepo, "nggak nyangka aku, ternyata diam-diam menghanyutkan juga kamu. Orang mana? Mbak kenal nggak kira-kira? Iiih, aku kepo deh. Yang kemarin itu bukan, siapa namanya?"
"Siapa?" Gue balik bertanya, karena tidak tahu siapa yang dimaksud Mbak Heni.
"Itu lho, yang ganteng, yang sempet jemput kamu. Katanya kenalannya pas dia ada acara meeting atau ketemu klien gitu."
Gue mencoba mengingat-ngingat siapa yang Mbak Heni maksud, namun tidak ingat juga. "Siapa sih, Mbak? Kok aku nggak ngeh?"
Ekspresi Mbak Heni berubah kecewa. "Bukan yang itu ya, Gi? Padahal menurut Mbak kamu cocok sama yang itu lho."
"Siapa sih?" tanya gue masih tak paham.
"Itu loh, siapa sih namanya aku juga lupa. Prastyo?"
Astaga!
"Maksud Mbak Heni Prasta?"
"Nah, iya, Prasta. Yang ganteng itu kan? Yang pernah jemput kamu, nganter juga pernah. Kupikir itu. Bukan, ya?"
"Bukan lah. Kita cuma temenan, Mbak."
Gue menggeleng tegas. Ya, kali Prasta.
"Tapi kayaknya, menurut penerawangan Mbak, dia ada rasa kok sama kamu."
Buset, jeli juga penerawangan Mbak Heni. Tepat. Prasta kan emang sempet naksir gue.
"Ya, biarin dong, Mbak. Itu kan perasaan dia, urusan dia dan hatinya."
Tiba-tiba senyum Mbak Heni mengembang, membuat gue menyipitkan kedua mata curiga.
"Kenapa ngeliatinnya gitu banget, Mbak? Bikin curiga."
"Jadi bener, ya?"
Gue menerjap bingung. "Bener apanya?"
"Bener kalau Prasta suka kamu?"
"Yaelah, lagu lama itu, Mbak. Aku udah punya pacar sekarang."
__ADS_1
"Oh, siapa? Zaki staff HRD?"
"Bukan."
"Ah, Mbak tahu, si Luki?"
"Heh? Luki yang mana, Mbak?"
Lagi-lagi gue tidak paham yang dimaksud Mbak Heni.
"Anak buahnya Bu Indira, staff sales & marketing kalau nggak salah."
"Ah, nggak kenal aku, Mbak. Siapa sih?"
"Itu loh, yang ganteng, putih, tinggi, tapi agak sipit."
"Nggak kenal aku, ah, Mbak."
"Katanya naksir kamu lho, cuma nggak berani deketin. Takut sama Abang kamu katanya."
Seketika gue terbahak. Merasa lucu saja gitu, Bang Riki tidak ada wajah-wajah sangar sehingga layak untuk ditakuti. Ya, kecuali kalau udah tahu waktu marahnya.
"Bang Riki nggak serem, ah, Mbak. Masa ditakuti." Gue menggeleng sambil terkekeh geli.
"Emang nggak serem. Ganteng gitu, mana ada serem-seremnya," cengir Mbak Heni sambil memainkan alisnya naik-turun.
"Terus kenapa dia takut?"
"Ya, mana Mbak tahu, Gi. Belum tanya orangnya langsung sih."
"Ya udah, kapan-kapan ditanyain dong, Mbak. Kan aku penasaran."
"Iya, deh, nanti... eh, eh, itu dia orangnya, Gi. Yang pake kemeja coklat moca itu loh, yang sipit," bisik Mbak Heni sambil menunjuk ke arah segerombolan karyawan yang baru saja keluar dari lift.
Gue kemudian memfokuskan pandangan ke arah gerombolan itu. Mencari-cari pria berpakaian kemeja coklat moca dan juga sipit. Wow, gue cukup tercengang. Beneran ganteng, ****. Kok gue nggak tahu kalau ada yang demen gue sebeginu gantengnya. Mana senyumnya manis banget lagi. Pria itu tersenyum sambil mengangguk saat gue tak sengaja masih menatapnya.
"Gimana?" bisik Mbak Heni tiba-tiba.
Gue masih fokus menatap pria tadi. "Ganteng banget, Mbak, murah senyum lagi. Senyuman manis, kayak gula Jawa. Ah, sayang, aku udah punya pacar."
"Ya, nggak papa, selagi belum pesen gedung dan segala macemnya, masih aman kok. Kali aja lebih berpotensial ini," kekeh Mbak Heni.
"Jangan menghasut begitu dong, Mbak. Pejuang LDR nih, lemah iman. Apa lagi disodorin begituan. Ambyar sudah iman tipis hamba."
Mbak Heni ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Oh, LDR to, pantesan nggak pernah anter-jemput."
"Dia pacarku, Mbak, bukan supir atau tukang ojek yang tugasnya anter-jemput."
"Cari pacar tuh, yang fungsional. Nggak cuma bertugas ngingetin kita makan atau untuk disayang-sayang. Tapi harus siap jajanin mau pun anter jemput kita, Gi."
Gue langsung meringis canggung. "Makasih sarannya, Mbak."
Saat jam makan siang, gue diajak Ika dan juga Wisnu untuk makan di kantin khusus karyawan. Ika ini tidak bekerja di front office seperti gue mau pun Mbak Heni atau pun Vinzi dulu. Dia bekerja di bagian house keeping, ia seorang waiter's di salah satu restoran yang ada di hotel. Sedang Wisnu, masih sama dengan gue, berada di front office, dia seorang concierge.
Kalian tahu concierge? Pernah ke Bandara? di ruang kedatangan, bertampang gagah, senyum, sambil memegang sign board bertuliskan nama tamunya? ya itu salah satu bagian kerja concierge, dengan gagah menyambut tamu yang baru datang dari luar kota, menawarkan bantuan, membuat mereka adalah pangeran tak berkuda yang bisa membuat cinta pertama di destinasi wisata. Kalau di Hotel, concierge akan menjadi orang pertama yang akan kalian temui, kadang membukakan pintu mobil, pintu hotel, dan membawamu ke receptionist.
"Eh, lihat deh, si Nabila Afsheen, baru gaet pacar baru," celetuk Ika sambil melirik gue dan Wisnu secara bergantian.
"Ah, gosip lo percaya. Nabila itu, masih sama gue. Jangan percaya deh berita-berita begituan, hoax, tuh!" balas Wisnu dengan tingkat kenarsisan tingginya, seperti biasa.
Sebenarnya tidak terlalu masalah sih, toh, tampang Wisnu ini termasuk yang good looking. Jadi, agak wajar kalau dia sepercaya diri itu, meski tidak dapat dipungkiri kalau terkadang tingkat kepercayaan dirinya terlalu tinggi.
"Ngehalu aja lo kerjaannya, Nu," cibir Ika dengan wajah judesnya.
"Biarin, gratis kok. Pak Jokowi juga nggak ngelarang, pemerintah pun juga nggak kasih larangan. Ya, biarin, dong, suka-suka gue. Masalah buat situ?"
"Banget. Kalau nggak masalah, mana mungkin gue protes pe'a."
Gue menggelengkan kepala tak habis pikir. Mereka berdua tuh, jarang punya waktu bareng begini, tapi sekalinya bisa kumpul, ya, begitu, ribut mulu.
"Ribut aja kalian ini, nggak bosen? Mending pacaran aja deh kalian, masih sama-sama jomblo kan?"
"Dih, teu sudi lah," sahut Ika dengan wajah judesnya.
Lalu Wisnu menbalas tak kalah sengit. "Gue juga nggak mau sama lo. Mendingan Anggi ke mana-mana."
"Enak aja, kenapa gue dibawa-bawa, gue aduin pacar gue, ya."
"Emang lo ada pacar?"
"Ada lah, emang gue kalian?"
Kali ini keduanya mendengkus kompak. "Sombong," cibir Wisnu, "awas aja kalau nanti sebar undangannya duluan kita."
"Eh, kok kita? Kalian ada rencana nikah? Gila, gercep, ya."
"Iya. Cemburu lo?" balas Wisnu langsung meletakkan sendoknya dan merangkul Ika.
"Apaan sih, lo, modus aja kerjaannya," ketus Ika sambil melepas rangkulan tangan Wisnu.
"Namanya kesempatan," guman Wisnu dengan wajah cemberutnya, ia kemudian menegok ke arah layar ponsel Ika dan berceletuk, "itu cowoknya Chef, ya?"
Ika mengangguk. "Kayaknya iya."
"Ganteng."
__ADS_1
"Jelas. Lo, mah, nggak ada apa-apanya."
Dengan wajah tidak relanya, Wisnu mengangguk. Membuat gue seketika penasaran.
"Coba lihat!"
"Nggak usah, lo kan udah punya cowok. Takutnya, kalau lihat ini foto, bikin lo jadi terinspirasi buat selingkuh," balas Ika sambil menggeleng tegas.
Gue mendengkus. "Pacar gue ganteng kok, santai."
"Pacar lo mungkin ganteng, Gi, tapi ini Chef ganteng banget. Chef Juna, mah, lewat," sahut Wisnu sambil menandaskan es tehnya.
"Lewat mana?" goda Ika.
Dengan wajah judesnya, Wisnu melirik Ika sinis. "Lewat toko sebelah."
"Kayak judul lagu," celetuk Ika sambil mengusap-usap dagunya, seolah-olah sedang berpikir.
"Itu cek toko sebelah, Ka!"
"Dih, sewot."
"Lo yang mancing," balas Wisnu tidak mau kalah.
"Udah deh, nggak usah berantem mulu. Siniin, hapenya, gue pengen lihat, kek apa gantengnya."
Gue menodongkan telapak tangan, lalu Ika menyodorkan ponselnya.
Jantung gue rasanya seperti ditikam secara tiba-tiba. Terkejut, sudah jelas pasti, kecewa, apa lagi. Ini apa-apaan? jerit gue dalam hati, tidak terima dengan apa yang gue lihat.
"Ini siapa?" tanya gue shock.
"Nabila Afsheen, Gi. Selebgram."
"Sama?"
Ika mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Pacarnya mungkin."
Apa dia bilang? Pacar? Ini jelas-jelas Aro, kalau selebgram ini pacarnya terus gue apa? Selingkuhan?
"Kenapa muka lo? Kayak mergoki pacarnya selingkuh aja lo," celetuk Wisnu jahil.
"Lo yakin mereka pacaran?"
"Ya, yakin nggak yakin. Ah, nggak tahu juga sih gue."
Gue mencoba mengangguk paham, lalu berdiri.
"Mau ke mana?"
"Balik. Kerja," jawab gue asal.
Tanpa memperdulikan teriakan Wisnu mau pun Ika, gue terus berjalan dan mencari tempat agak sepi. Setelah mendapatkan tempat yang agak sepi, gue langsung menghubungi Aro. Tapi, tidak dijawab. Gue sudah mencobanya berulang-ulang, tapi panggilan gue masih saja dijawab operator. Hal ini membuat gue mendadak gelisah.
"Iiih, Aro kok jadi susah dihubungin," gerutuku sambil mengigit ujung kuku gue dengan gelisah, lalu kembali mencoba menghubungi Aro. Namun lagi-lagi gagal.
"Anggita," panggil seseorang, gue kemudian langsung menoleh dan menemukan Bu Lila, bos gue. Mampus!
"Sedang apa kamu di sini? Bukannya langsung kembali ke meja?" tanya beliau keheranan.
Gue meringis sambil mengusap bagian tengkuk gue. "Emm... iya, ini mau kembali ke meja. Saya permisi," kata gue langsung undur diri.
"Anggita!"
Gue menghentikan langkah kaki gue dan berbalik. "Ya, bu?"
"Sebelum kembali ke meja, rapikan dulu penampilan kamu. Saya tidak suka penampilan kamu sekarang ini. Ingat, penampilan resepsionis adalah image hotel, kamu mengerti!"
"Mengerti, Bu."
"Ya sudah kembali bekerja. Tapi ingat, rapikan dulu penampilan kamu," pesan Lila sebelum meninggalkanku.
"Iya, Bu."
Gue kemudian berbelol ke toilet dan merapihkan penampilan gue. Setelah dirasa sudah beres gue kemudian kembali ke meja resepionis.
"Kenapa, mukanya ditekuk begitu?"
"Bete dan juga galau."
"Ditegur Bu Lila?" tebak Mbak Heni, setengah benar.
"Kok tahu?" tanya gue takjub.
"Barusan mampir ke sini."
Gue manyun sambil mengangguk. "Pantesan," ucap gue kemudian.
"Sabar aja lah, namanya kerja sama orang."
Gue menunduk sedih. Masalahnya yang bikin galau gue itu bukan itu, tapi foto Aro bareng selebgram cantik itu.
**Tbc,
du du du du du, ku kumbek
__ADS_1
tetep tungguin kisah mereka, ya
see you next part buat kalian semua. jangan lupa jaga kesehatan, soalnya kayaknya udah mau musim penghujan nih, bae-bae ya kalian semua 🤗😍😗😙😘😚**