Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan :(55) Baikan


__ADS_3

####


"Hei, hei, kalian ini lagi ngeributin apa sih?"


Gue langsung melirik Aro sinis dan mendengkus tak percaya. Baru setelahnya, gue langsung masuk ke dalam dengan wajah jutek. Serius, gue mendadak kesel kalau mengingat kejadian semalam. Nyebelin banget sih dia, setelah bohongi gue semalam, sekarang masih bisa bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa?


"Hei, hei, mau ke mana lo?" teriak Bang Riki namun gue abaikan, "anak itu. Makin jadi aja kelakuannya," gerutunya kemudian.


"Anggita!" seru Aro memanggil nama gue.


"Apa?!" gue berbalik dan menatap Aro sengit.


"Aku bikin salah, ya?"


"Kamu ngerasanya begitu apa enggak?"


"Kan lo yang bikin salah, Gi. Lo ganjen sama cowok sipit tadi," sahut Bang Riki ikut campur.


Gue berdecak sengit. "Nggak usah ikut campur dulu deh, Bang. Ini urusan gue sama Aro."


"Oke, gue nggak ikut-ikutan," kata Bang Riki langsung meninggalkan kami.


Lalu gue membalas, "Memang seharusnya begitu."


"Jadi, aku bikin salah apa kali ini?" tanya Aro masih dengan ekspresi wajah tak tahunya.


"Sekarang jawab dengan jujur! Kamu kemarin beneran balik ke Bandung atau enggak?"


"Hah?" respon Aro dengan wajah bingungnya, "maksudnya?"


Gue menyilangkan kedua tanganku di depan dada. "Kemarin, waktu kamu pamit ke aku. Kamu nggak benar-benar pulang ke Bandung kan?"


"Enggak, aku beneran pulang ke Bandung, tapi paginya aku balik ke Jakarta."


"Lalu kenapa kamu baru bilang? Kenapa pas aku tanya semalem, kamu masih bilang kalau kamu di apartemen, baru mandi. Padahal jelas-jelas kamu sudah berada di Jakarta dan bahkan berkencan dengan mantan kamu. Hih, hebat sekali kamu. Lupa kalau kamu pernah bilang kalau aku seratus kali lebih baik ketimbang perempuan itu?"


"Kamu... kamu melihat kami?"


"Ya, aku melihat kalian. Kenapa... kenapa kamu tega banget bohongin aku, Ar? Kenapa?"


"Itu... itu karena aku ingin memberimu kejutan. Makanya aku tidak bi--"


"Selamat, kamu berhasil, Ar. Aku nggak cuma terkejut, tapi sangat terkejut."


"Tapi aku cuma--"


"Kamu bisa jelasin ini lain kali, aku mau berangkat kerja," kata gue memotong ucapannya.


"Aku antar," tawar Aro.


Gue menggeleng. "Nggak usah, tapi thanks. Gue bareng Bang Riki."


"Bang Riki baru aja berangkat, Gi," celetuk Vinzi tiba-tiba.


Seketika wajah gue memucat. Mampuslah gue. Batin gue panik.


Aro langsung tersenyum puas. "Ayo, aku anter. Nggak usah gengsi, kamu bisa diemin aku selama perjalanan nanti."


Sial. Bagaimana cara gue menolaknya?


"Tidak perlu ditolak. Ayo, langsung berangkat!" ajak Aro sambil menunjukkan wajah kemenangannya.


Gue berdecak sebal. Gue tidak suka situasi ini. Ck, menyebalkan.


"Ayo, tunggu apa lagi? Ayo!"


"Udah, Gi, ikut aja!" seru Vinzi mengompori.


Gue melotot tajam ke arahnya. Kok dia gitu sih?


"Tuh, dengerin Kakak ipar kamu. Ayo, dari pada nanti terlambat, kamu bisa dipecat lho," ujar Aro sambil memamerkan senyum cerahnya.


Ck, itu kulkas dua pintu kok tumbenan murah senyum begini sih, padahal kan gue lagi badmood. Ngeledek gue, ya, ini pacar gue?


"Sayang!"


"Nggak usah panggil-panggil sayang. Aku masih marah sama kamu, Ar," seru gue sewot.


Aro mangguk-mangguk pasrah, lalu melirik gue. "Mau berangkat sekarang atau besok sih, ini?"


"Sekarang lah," jawab gue sewot.


"Ya udah, ayo!" ajak Aro hendak meraih telapak tanganku.


"Nggak usah pegang-pegang!" seru gue judes.


"Iya, lupa. Maaf," ucap Aro sambil mangguk-mangguk.


"Aku ikut kamu karena terpaksa, ya, Ar. Bukan berarti karena kita baikan, paham? Aku tetep masih marah sama kamu."


"Iya, iya, aku masih inget, Anggita. Kamu masih marah, dan nanti aku bakal jelasin kalau kamu udah siap dengerin penjelasan aku," balas Aro tanpa beban.


Kok dia sesantai ini sih, enggak ada rasa-rasa bersalah atau resah dan gelisah karena gue ngambek. Patut dicurigai enggak sih ini?


"Waktu terus berjalan, Anggita. Mau terus melamun atau berangkat kerja?"


Gue melirik Aro sinis, mendengkus kasar lalu pergi meninggalkan Aro begitu saja. Keluar dari rumah dan berniat langsung masuk ke dalam mobil Aro, namun ternyata mobilnya masih terkunci. Gue kemudian langsung menoleh ke arah Aro, yang kebetulan kini sedang berjalan ke mari.


"Buruan bukain pintunya!" seru gue berteriak.


"Bentar, lagi jalan ini," balas Aro santai.


Gue mendengkus. "Lo kan bisa buka pake smart lock lo, Ar."

__ADS_1


"Suka-suka aku dong. Kan kita lagi marahan, ya berarti aku nggak harus nurutin kata-kata kamu," balas Aro tanpa beban.


Gue melongo. Kok makin meyebalkan sih, si Aro, bukannya harusnya sekarang ini gue dibujuk-bujuk biar enggak makin marah, kenapa malah dibikin makin kesal begini? Astaga!


"Minggir!" suruh Aro saat kini sudah berada tepat di samping gue.


Gue langsung menatap Aro tak percaya. "Aku bisa buka sendiri, kamu tinggal--"


"Minggir atau cium kamu," potong Aro dengan wajah datarnya.


"Iya, iya, aku minggir," dengkus gue kesal sambil menghentakkan kedua kaki gue karena kesal.


"Silahkan!" ujar Aro sambil membukakan pintu untukku.


Gue mendengkus sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada. "Kamu sengaja ya, Ar?"


Aro mengangguk, mengiyakan.


"Dan kamu pikir aku akan luluh?"


Aro menggeleng. "Enggak juga. Udah buruan masuk! Ini udah siang banget, nanti kamu telat."


Gue berdecak sebal, sedikit tidak rela karena gue harus nurut pada Aro padahal saat ini gue sedang merasa kesal dengannya.


#####


Selama perjalanan menuju, hotel tempat kerja gue, tidak ada obrolan sama sekali. Aro fokus dengan kemudinya, sedang gue, sedang fokus menahan diri agar tidak lirik-lirik Aro.


Namun, emang dasar gue yang lemah iman, baru juga mobil Aro jalan lima belas menit belum ada, gue sudah tergiur untuk menoleh ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Aro, saat menyadari gue sedang menatapnya. Pandangannya masih fokus ke arah jalanan, tanpa menoleh ke arah gue sama sekali.


"Jadi, yang semalem kalian ngapain?" tanya gue pada akhirnya menyerah, karena tidak tahan dan juga penasaran.


Di luar dugaan, Aro tiba-tiba tersenyum dan menoleh ke arah gue. "Katanya marah, ngambek, belum mau denger penjelasan dari aku. Kok mendadak berubah, cepet banget lagi."


Rahang gue semakin mengetat. Emosi gue kian memuncak.


"Bercanda. Iya, iya, aku jelasin. Jadi, kemarin itu aku--"


"Bodo amat, aku nggak mau denger."


"Anggita, kamu tahu kenapa dari tadi aku bersikap tenang seolah tidak terjadi kesalahpahaman di antara kita?" tanya Aro tiba-tiba.


"Jelas, karena kamu menyepelekan hubungan kita."


"Kalau aku menyepelekan hubungan kita, kamu tidak akan ada di dalam mobilku saat ini, dan berakhir di sepeda motor Abang-abang tukang ojek. Ngerti?"


Kali ini gue hanya diam, tak menjawab apa pun.


"Karena kamu sedang terbawa emosi, Anggita. Jadi, setidaknya aku harus bersikap tenang."


Gue langsung mendengkus tak percaya. "Dengan bersikap menyebalkan begitu?"


"Itu karena kamu memang menyebalkan, Ar."


"Iya, iya, oke, anggap saja memang demikian. Aku menyebalkan."


"Kamu memang menyebalkan, Ar," ujar gue tak mau dibantah.


"Iya, oke, aku memang menyebalkan. Jadi, kita baikan?"


"Enggak lah," sahut gue cepat, "kamu bahkan belum jelasin alasan kenapa kamu bohongi aku," imbuh gue kemudian.


"Kan aku udah bilang, kalau aku mau ngasih kejutan, makanya aku terpaksa berbohong. Kalau tahu bakal begini, aku juga tidak akan berlagak memberimu kejutan dan berbohong."


"Lalu kenapa kamu melakukannya?"


"Aku pikir kamu akan suka. Bayangin wajah kaget kamu, terus kamu yang tiba-tiba meluk aku. Bukannya itu terdengar sangat menyenangkan?"


Mau tak mau, gue akhirnya mengangguk setuju. Bayangan Aro terdengar menyenangkan, tapi kenyataan yang kami alami benar-benar sungguh menyebalkan. Huh, gue sama sekali tidak suka jika teringat kembali.


"Jadi, apa yang kalian lakukan semalam?"


"Tidak ada. Dia hanya menyempaikan beberapa hal yang mengganggu pikirannya. Dia minta maaf dan aku tidak terlalu mempedulikannya."


Gue menatap Aro dalam. "Kalian belum berdamai?"


"Tidak semudah itu, Anggita. Dia berselingkuh dengan seniorku, di belakangku. Jelas tidak mudah bagi kami untuk berdamai."


"Kamu masih menyukainya?"


"Jangan bercanda! Aku tidak sebodoh itu, menyukai perempuan yang telah menorehkan luka sedalam ini," balas Aro emosi.


"Kamu pasti sangat mencintainya, ya, dulu," guman gue tanpa.


"Dan aku jelas akan lebih mencintai kamu dari pada aku mencintai perempuan itu dulu. Paham! Jadi, plis! Nggak usah cemburu dengannya, kalau dengan perempuan lain aku tidak masalah. Tapi, kalau dia, jangan! Aku tidak akan mengizinkannya."


Gue diam, lalu menatap Aro datar. "Jadi, kamu berencana bikin aku cemburu dengan perempuan lain?"


"Hah?"


"Tahu lah!"


"Astaga, enggak begitu maksud aku. Aku cuma--"


"Ssst! Fokus nyetir, kalau enggak aku ngambek lagi."


"Oke," jawab Aro cepat, sambil mengangguk yakin.


#####


"Nanti aku jemput," ujar Aro saat gue hendak turun dari mobil.

__ADS_1


Gue berpikir sejenak, namun beberapa detik kemudian, mengangguk. "Nanti aku kabarin, biar kamunya nggak telat atau nunggu kelamaan."


"Oke. Selamat bekerja!"


Gue mengangguk. "Kamu selamat bersantai!"


"Aku ke sini mau kerja, sayang. Bukan mau bersantai."


"Oh ya?" tanya gue mendadak penasaran.


Maksudnya, Aro pindah kerja di Jakarta gitu?


"Hari ini aja," ucap Aro tiba-tiba, mungkin ia menyadari perubahan ekspresiku.


Gue ber'oh'ria sambil mengangguk sedih, baru setelahnya turun dari mobil.


"Dianter siapa itu? Gue yakin itu bukan mobil Abang ganteng lo," goda Mbak Heni sambil menyenggol pundakku.


Gue tersenyum. "Pacar dong, Mbak."


"Serius?"


"Tigarius, Mbak," kata gue sambil mengangguk, membenarkan.


"Ah, kenapa kamu baru bilang?"


"Kan, Mbak Heni baru tanya."


"Ah, iya juga, ya."


"Nah!"


"Mau lihat dong fotonya, penasaran tahu," rengek Mbak Heni membujuk gue.


Gue tersenyum. "Nanti lihat sendiri deh, Mbak. Nanti jemput kok."


"Serius?" seru Mbak Heni heboh.


Gue mengangguk yakin, sebagai tanda jawaban.


"Wah, nggak boleh ketinggalan nih."


"Udah, ah, ayo kerja!" ajak gue sambil merangkul lengan Mbak Heni agar kami segera bersiap memulai aktivitas kami.


Siang harinya


"Hai," sapa Luki tiba-tiba berdiri di depan meja resepionis sambil melambaikan tangannya, "udah makan siang?"


Gue menggeleng. "Masih nungguin temen gantian."


"Sip, gue tungguin ya?"


"Enggak usah, duluan aja! Gue biasa makan sendiri kok. Santai," tolak gue sambil menggeleng.


"Nggak papa, gue tungguin sampai temen lo balik. Gue pengen makan bareng lo, soalnya hari ini."


"Ya udah, terserah lo. Tapi nggak boleh nungguinnya di depan meja resepionis begini."


Luki mengangguk. "Oke, gue tunggu di sana deh," kata Luki sambil menunjuk ke sofa yang ada di lobi.


"Ah, terserah lo, Ki. Gue larang pun tetep bakalan lo lakuin kan?"


Luki meringis sambil mengacungkan jempolnya. "Sip, gue suka cewek pengertian kayak lo."


"Bodo amat," balas gue sebenarnya jujur, namun Luki mengiranya gue sedang bercanda. Makanya saat gue mengucapkan kalimat itu dia malah tertawa.


Bodo amat, deh. Nanti kalau terluka juga tanggung sendiri.


Tak lama setelahnya, Mbak Heni kembali.


"Abis makan apa, Mbak?"


"Bakso di depan. Ada yang mangkal. Enak, Gi. Maknyus, pedes gila!"


"Oh ya? Perlu aku nyobain?"


"Harus."


"Udah? Makan siang langsung, yuk!" ajak Luki tiba-tiba sudah ada di hadapan kami sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.


Mbak Heni tiba-tiba mencubit pinggangku. "Eh, ini maksudnya apaan? Lo jangan mentang-mentang cantik, terus bisa punya banyak pacar, Gi," bisiknya sambil melotot tajam ke arah gue.


Gue terkekeh geli. "Apaan sih, Mbak, cuma makan doang. Lumayan, kali aja aku ditraktir," balas gue ikut berbisik.


"Wah, nggak bener kamu."


"Udah, santuy, Mbak. Aku nggak selingkuh kok. Aman."


Gue kemudian langsung menghampiri Luki. "Gue mau makan di Abang-abang tukang bakso depan, Ki. Sorry, kayaknya kita lain kali aja deh--"


"Ya udah, ayo!"


"Hah?" respon gue spontan.


"Kata lo, lo mau makan bakso. Ya udah, ayo, gue tadi juga abis liat postingan temen gue makan bakso. Ya udah, ayo! Berangkat sekarang, takut jatah makan siang lo abis."


Astaga, sepertinya gue salah membuat keputusan.


**Tbc,


kumbek-kumbek πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


tetep jaga kesehatan dan setia menunggu cerita gajeku, ya. hihi, see you next part πŸ˜πŸ˜šπŸ˜˜πŸ˜™πŸ˜πŸ™‹**

__ADS_1


__ADS_2