
#####
Nyaman. Itulah yang gue rasakan saat ini, terbaring nyaman di ranjang milik Aro. Sisa aroma tubuh Aro bahkan masih tertinggal di sini, membuat gue semakin betah berlama-lama di sini. Gue bahkan nyaris lupa diri, kalau saja Aro tidak mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam kamarnya begitu saja.
Iya, setelah merawat Aro yang super rewel dan juga manja saat sakit kemarin. Gue memang memutuskan untuk menginap di rumahnya. Selain karena tidak tega meninggalkan Aro sendirian, Bang Riki harus ke luar kota mendadak, sehingga menyuruh gue untuk tinggal sementara di rumah Aro sebelum dia jemput.
"Anggita, bangun! Kamu tidak sholat subuh?"
Gue langsung mendesah sebal saat mendengar suara Aro yang mengusik tidur cantik gue. Si Aro ini memang benar-benar juaranya, untuk urusan mengusik kesenangan orang.
"Bentar, lima menit lagi," kata gue yang masih betah berada di balik selimut.
Entah bagaimana ceritanya Aro tiba-tiba menarik selimut gue. Padahal gue baru saja memejamkan kedua mata kembali. Astaga!
"AARON ALDRIC!!!!!!!!" teriak gue sekencang mungkin. Untuk meluapkan emosi gue yang mendadak naik. Sementara Aro sendiri hanya memejamkan matanya saat mendengar teriakan gue, "gue kan tadi bilang 5 menit lagi, bukan 5 detik. Lo ngerti bahasa Indonesia enggak sih?" geram gue sambil melotot ke arahnya.
Aro menatap gue datar sambil berkata, "Nggak baik nunda-nunda ibadah, kita nggak tau kan kapan ajal menjemput. Bisa saja lho pas kamu mau tidur lagi terus kamunya malah blabas mati."
Gue melongo. Itu barusan gue lagi diceramahin, dinasehatin, apa disumpahin?
"Sholat Anggita! Bukan melamun," kata Aro menegaskan.
Gue mendengkus sebal sambil terus mendumal, sebelum mengambil air wudhu. Bahkan setelah selesai sholat pun gue masih sempat-sempatnya mendumal sembari melipat mukena-yang entah milik siapa ini.
Setelah merapikan diri, dengan mencepol rambut secara asal. Gue bergegas turun ke lantai bawah. Mencari keberadaan Aro yang ternyata sudah berada di dapur, sedang memotong entah apa, yang tidak gue ketahui. Dan errr.. dia keliatan makin ganteng, padahal dia cuma lagi motong jamur ternyata.
"Ngapain?" tanya gue yang kini udah berada di hadapannya.
"Lagi nunggu kamu untuk saya ajak ke KUA."
"Hah?"
Sialan, kenapa ini pipi gue kok berasa panas gini sih.
"Menurut kamu, saya lagi ngapain Anggita?" Aro bertanya dengan ekspresi datar andalannya.
"Motong jamur."
"Kalau tau kenapa nanya?"
"Maksud gue, lo kan lagi sakit kok--"
"Saya sudah sehat. Kamu tidak perlu khawatir," ucap Aro menenangkan.
"Terus lo mau masak?"
Aro mengangguk, kemudian mulai menumis bahan-bahan makanan yang malas gue sebut satu-satu.
"Bisa?" tanya gue tak yakin.
Namun bukannya menjawab, Aro malah balik bertanya, "Kenapa emangnya?"
"Lo kan cowok."
"Terus?"
__ADS_1
"Ya, aneh aja."
"Kamu kerja di Hotel kan?" Aro bertanya sembari menuang hasil tumisannya ke dalam piring.
Sementara gue menangguk membenarkan.
"Tau dong penghuni dapur restoran kebanyakan pria?"
Gue memilih untuk mengangkat kedua bahu gue tak tau. Karena gue memang tidak terlalu paham area dapur. Wilayah gue kan cuma di meja resepsionist, mana tahu area dapur coba.
Gue lihat Aro mengertakkan gigi, sambil menatap gue malas.
"Iya, iya tau. Tapi kan itu pekerjaan mereka, ya wajar dong kalo mereka pinter masak. Secara ladang penghasilannya di sana. Lah kalau lo?"
"Kamu belum tau pekerjaan saya?" Aro bertanya sembari menata masakannya yang terlihat mengiurkan di penglihatan gue.
"Kamu tukang masak?" tanya gue spontan.
Aro tersenyum mendengar pertanyaan gue. "Tampilan kamu modern, tapi istilah yang kamu pake terlalu kuno banget," ejeknya yang sukses membuat kedua pipi gue memerah karena malu.
Shitttt.
"Jadi kamu Chef?"
"Kenapa, tidak cocok?"
Gue mengangguk dengan reflek sebagai jawaban. "Eh, maksud gue tampilan lo ini cocoknya jadi eksekutif muda, pengusaha batu bara, atau model juga cocok."
Aro menyunggingkan senyumnya begitu mendengar ucapan gue. Membuat gue tersadar, kalau gue sepertinya menggunakan kalimat berlebihan yang berpotensi membuat Aro kepedean.
"Apa saya seganteng itu sampai kamu bilang saya cocok jadi model?" tanya Aro.
"Nyesel gue muji lo," runtuk gue pelan, namun sangat gue yakini kalau Aro masih dapat mendengarnya. Buktinya Aro tertawa kecil sambil mengelengkan kepala nya.
"Duduk dan makanlah!" kata Aro tiba-tiba.
Berhubung gue lumayan udah mulai merasa lapar, akhirnya gue memilih untuk langsung menurut. Setelah mendudukkan pantat gue di kursi, gue segera mengambil nasi putih beserta tumis jamur dan juga crispy brokoli--yang sebenarnya atas paksaan Aro, dan ternyata luar biasa enak. Gue yang notabenenya membenci sayuran hijau--yang katanya sehat itu, kini mendadak jatuh cinta dengan brokoli.
"Iiihhh, kok enak sih?" Gue memrotes sebal yang di sambut dengan gelengan kepala dari Aro.
"Ohya? Padahal saya hanya memakai bumbu seadanya, bagaimana kalau saya memakai bumbu lengkap, ya?" Aro terkekeh setelahnya.
"Anjiir, pede gila!" cibir gue kembali menyesal. Dan Aro terbahak-bahak setelahnya.
Warbiazah kali ya?
"Lo bisa ketawa juga?" ejek gue sengaja menyindirnya.
Secara otomatis Aro menghentikan tawanya kemudian menatap gue datar. "Memangnya kamu pikir saya ini apa?" tanyanya setelah menelan makanannya, aku kemudian mengeleng. Sepertinya ia sedikit tersinggung.
"Kulkas dua pintu," ujar gue cuek, sebelum kembali memasukan suapan nasi dan juga tumis capcay buatan Aro ke dalam mulut gue.
"Apa?" seru Aro tak terima, "Oke. Wajar. Karena saya akui jika saya memang jarang ketawa," lanjutnya sambil meletakan gelas. "Tapi saya termasuk orang yang mudah tertawa jika berada di dekat orang-orang yang membuat saya nyaman."
Tubuh gue mendadak menegang kala mendengar pengakuannya. Itu barusan apa? Gue bahkan tak menyadari tubuh Aro yang kini sudah menghilang dari pandangan gue. Gue menggeleng cepat, mencoba mengusir pikiran melantur gue dan memilih untuk bergegas membereskan sisa sarapan kami.
__ADS_1
"Anggita."
Gue langsung menoleh sebentar, kemudian mengambil serbat untuk mengelap tangan gue yang basah karena habis mencuci piring, lalu bergegas menghampiri Aro yang tadi memanggil.
"Kenapa?"
"Riki sudah menunggu kamu di depan. Sebaiknya kamu segera turun," kata Aro.
"Iya, gue ambil tas sama hape gue dulu," kata gue lalu bergegas naik ke lantai atas untuk mengambil barang-barang gue.
"Thanks ya, buat sarapannya," ucap gue tulus. Baru kemudian memilih langsung masuk ke mobil Bang Riki.
Aro hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Duluan ya, bro, thanks udah mau nampung piaraan gue."
Gue langsung memukul Bang Riki saat diriku disebut piaraannya, sementara Bang Riki hanya memasang wajah cengengesan. Aro hanya mengibaskan sebelah tangannya.
"Dasar Arogan," cibir gue setelah mobil Bang Riki membelah jalanan ibukota.
"...teng," sambung Bang Riki tiba-tiba.
Gue menaikkan alis bingung. Teng? Apaan itu maksudnya.
"Maksud lo?"
"Aroganteng, haha."
Gue mendengkus kala mendengar candaannya yang kelewat garing itu. Kemudian teringat sesuatu.
"Eh, Bang, emang si Aro itu beneran Chef ya?"
"Kenapa emang?" Bang Riki menoleh ke arah gue sekilas.
"Jawab aja kali!"
Bang Riki mengangguk. "He em, Aro emang Head Chef di restonya Gani. Dulu pernah jadi Head Chef salah satu Hotel di Bali malah. Kenapa emang?"
Gue terkejut. Jadi si Aro beneran Chef, dan bahkan ia sudah jadi Head Chef?
"Dia punya tato Bang?"
"Hah? Maksudnya?"
Bang Riki kembali menoleh ke arah gue sekilas, sebelum kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan.
"Yah, biasanya pria-pria yang berprofesi tukang masak biar keliatan jantan kan bikin tato," celetuk gue ngawur.
Bang Riki langsung tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan gue. Bahkan kedua kakinya di hentakkan saking gemasnya mendengar ucaapan gue.
Eh, emang ada yang lucu dari ucapan gue barusan?
"Dapat ilmu dari mana sih lo? Ngaco banget." Bang Riki mengelengkan kepalanya tak habis pikir, "nih gue kasih tau ya, Wat. Pria kalo mau diliat seberapa jantannya, itu bukan dilihat dari dia punya tato apa enggak. Tinggal ajak masuk ke kamar kunci pintu dan buktikan! Nah, kalau gitu lo bakalan langsung tau seberapa jantannya itu pria."
Gue mendengkus sebal kala mendengar penjelasan Bang Riki yang seperti biasa--selalu nyeleneh. Tidak jauh dari hal-hal berbau mesum.
__ADS_1
"Dasar penjahat kelamin," cibir gue kemudian.
Tbc,