
######
Drrrt Drrrt Drrrt
Aku langsung meraih ponselku yang tadinya tergeletak di atas meja. Mengintip ke arah layar untuk memastikan siapa yang menelfon. Aku baru selesai mandi dan baru hendak mengeringkan rambut, namun harus kuurungkan niat tersebut karena Gani menelfon.
"Ya, Gan? Kenapa?"
"Lo udah balik ke Bandung?"
"Udah. Nyampe sini tadi malem. Kenapa?"
"Balik lagi ke Jakarta, ya?"
"Hah? Apa lo bilang?"
"Balik ke Jakarta lagi, Ar!" ulang Gani.
Aku mengerutkan dahi heran dengan permintaan aneh Gani. Aku yang baru sampai di Bandung, tapi Gani sudah memintaku untuk kembali ke Jakarta? Serius? Mentang-mentang bos begitu, lantas ia bisa seenaknya menyuruhku begini.
"Lo bercanda, Gan?!"
"Serius, dong. Sibuk nih gue, mana sempet ngajakin lo bercanda. Aneh-aneh aja. Baru jadi Bapak baru gue, Ar, The New Hot Daddy."
"Terserah lo!"
"Oke, sip, gue langsung kirim supir ke apartement lo, ya?"
"Gue belum bilang setuju, Gan," seruku sedikit berteriak.
"Kata lo terserah?" balas Gani ikut berteriak.
Aku berdecak. "Lo mau nyuruh gue ngapain sih ke sana?"
"Pacaran."
"Hah?"
"Kerja dong, Ar, sekalian pacaran juga boleh. Restoran di sana mau ada event, mayan gede, Rudi, Chef de Cuisine kita lagi sakit. Kasian dong kalau nggak ada yang mimpin, nanti mereka keteteran. Lo berangkat ya, gue kirim supir."
Aku mendesah pasrah. "Ya, udah, iya. Tapi nggak usah kirim supir deh, gue nyetir sendiri."
"Jangan dong, lo itu aset kita. Nanti kalau lo ikutan sakit gimana? Enggak, gue kirim supir. Udah gitu aja. Gue tutup telfonnya. Assalamualaikum!"
"Hmm. Wa'allaikumussalam."
"Pokoknya tungguin supir yang gue kirim, ya, Ar."
"Iya."
"Ya udah, gue tutup."
"Hmm."
Aku langsung melempar ponselku ke atas ranjang dan berganti pakaian. Berjalan ke ruang tengah dan menyalakan televisi untuk menonton siaran berita ditemani secangkir kopi. Tak lama setelahnya, Gani mengirimiku pesan.
Gani:
Ar, gue udah kirim supir, ya. Lo langsung turun ke lobi
Aku langsung menutup roomchat berisi pesan Gani setelah membacanya. Mencuci cangkirku dan bersiap turun ke lobi. Saat sampai di lobi, aku langsung disambut seorang pria setengah baya dengan stelan PDH hitam khas supir.
"Dengan Mas Aro?"
Aku tersenyum tipis dan mengangguk.
"Saya Pak Bambang, supir yang disewa Mas Gani untuk mengantarkan Mas Aro ke Jakarta. Langsung berangkat, Mas?"
Sekali lagi aku mengangguk.
"Bawaannya, Mas?"
"Saya tidak bawa apa-apa, Pak. Hanya ini bawaan saya," kataku sambil menunjukkan handbag-ku.
Aku memang tidak membawa apa pun, kecuali handbag karena di Jakarta pakaianku banyak. Aku sengaja hanya membawa handbag karena barang bawaanku hanya dompet, ponsel, charger, dan parfum.
"Oh, begitu. Mari, Mas!"
Aku mengangguk lalu mengekor di belakang Pak Bambang menuju tempat parkir.
"Makasih, Pak," kataku sambil mengangguk saat Pak Bambang membukakan pintu untukku.
Pak Bambang mengangguk lalu masuk ke ke dalam mobil setelahnya. "Mau mampir cari sarapan dulu, Mas?"
"Pak Bambang sudah sarapan belum?" tanyaku balik.
"Sudah, Mas."
"Ya sudah, langsung saja, Pak tidak usah mampir."
"Baik, Mas," kata Pak Bambang lalu mulai menyalakan mesin dan menjalankan mobil.
Aku mengangguk lalu mengeluarkan ponselku dari dalam handbag, bermaksud untuk memberitahu Anggita kalau aku akan datang ke Jakarta. Namun, belum selesai jari jemari ini mengetik pesan, sebuah ide tiba-tiba terlintas di pikiranku. Kenapa aku harus memberitahukannya sekarang, kalau aku bisa merahasiakannya untuk memberinya kejutan nanti. Aku rasa itu bukan ide yang buruk.
Tanpa sadar aku tersenyum membayangkan wajah kaget Anggita saat tahu aku ada di Jakarta, lalu dia akan memberiku pelukan hangat. Bukankah itu terdengar sangat manis? Ah, aku jadi semakin bersemangat dan tidak sabar untuk memberinya kejutan.
Setelah menempuh perjalanan lebih tiga jam lebih, aku sampai juga di Jakarta dengan sedikit gangguan macet. Aku tidak langsung ke restoran dan pulang ke rumah Mama terlebih dahulu, lagian acaranya masih besok dan aku bisa datang nanti sore.
__ADS_1
"Loh, kok balik lagi?" tanya Mama heran, saat aku masuk ke dalam rumah.
"Masih kangen Mama," ucapku sambil mencium kedua pipi Mama secara bergantian, "bilangin Simbok, ya, Ma, suruh nyiapin kamar buat supir Aro."
"Kamu sewa supir?"
"Gani yang nyewa, capek, kan baru nyampe Bandung semalem, Ma, masa mau nyetir lagi ke sininya."
"Kalau capek kenapa bolak-balik begitu?"
"Nggak tahu, salahin aja itu si Gani. Aro capek mau tidur. Bangunin Aro nanti sore, ya, Ma."
"Mau jemput Anggi?"
Aku menghentikan langkah kakiku dan berbalik. "Mau ke resto, Ma."
"Oh, kirain mau jemput calon mantu Mama. Tapi dia tahu kan kamu ke Jakarta?"
Aku menggeleng. "Belum. Rencananya Aro mau kasih surprise buat Anggi."
"Dih, kebanyakan gaya," cibir Mama sambil mendengkus, "hati-hati! Rencanain surprise-nya betul-betul, nanti takutnya Angginya beneran terkejut kan kamu yang susah," sambung Mama kemudian.
Setelah mengatakannya, Mama langsung pergi meninggalkanku. Aku menaikkan alis bingung dengan kalimat Mama barusan. Seperti agak ambigu, tapi, entah kenapa membuatku mendadak ragu-ragu untuk merahasiakan keberadaanku yang sekarang sedang berada di Jakarta. Yang barusan tadi, Mama hanya asal bicara kan?
Aku kemudian mengangkat kedua bahuku secara bersamaan, dan memilih untuk kembali melangkahkan kakiku menuju kamar. Aku butuh banyak istirahat sebelum besok siap bertempur dengan alat-alat dapur.
#######
"Bangun, Ar! Udah sore."
Aku mengeliat saat merasakan sebuah tepukan ringan, kurasakan di sebelah pahaku. Dengan sedikit tidak rela, aku membuka kelopak mataku dan menemukan Mama sedang berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatapku datar.
Aku mengucek sebelah mataku, lalu bangun dari posisi tidurku. "Jam berapa, Ma?"
"Setengah empat," jawab Mama lalu duduk di tepi ranjangku. "Ar," panggil beliau kemudian.
Aku memandang Mama curiga. "Kenapa, Ma?"
"Mama denger istrinya Gani udah lahiran, ya?"
Aku semakin menatap Mama was-was. "Iya, udah lahiran. Anaknya cowok," jawabku kemudian.
"Terus katanya lagi, istri Riki juga udah hamil. Iya, bener itu, Ar?"
Bener sekali. Bahkan sebelum mereka menikah pun, Vinzi sudah hamil. Ingin sekali aku menjawab begitu, tapi tidak bolehlah. Aku harus menahan diri.
"Iya, bener, Ma. Vinzi, istrinya Riki udah hamil."
"Terus kamu kapan, Ar?" rengek Mama seperti anak kecil.
"Bukan kamu yang hamil, tapi istri--"
"Aro belum menikah, Ma, kalau Mama lupa," ucapku memotong kalimat Mama.
"Ya, makanya kamu cepetan nikahin calon mantu Mama dong. Jangan kelamaan pacaran terus, biar bisa segera kasih Mama cucu."
"Mama dan Papa masih sehat, nggak usah diburu-buru lah, lagian Aro dan Anggi--"
"Maksud kamu, kamu berencana menikah setelah Mama atau Papamu sekarat dulu, begitu?" tanya Mama sewot.
Hah? Aku melongo secara spontan, rasa kantukku yang tadi sedikit tersisa kini mendadak hilang. Memang siapa yang bilang demikian?
"Iya? Nunggu salah satu dari kami sekarat dulu, baru kamu akan menikah, begitu?"
"Ya, enggaklah. Mama ini ngomongnya aneh banget. Aro nikah kalau udah saatnya tiba. Udah, ah, Aro mau mandi."
Aku kemudian menyibak selimutku dan turun dari ranjang, mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Setelah aku selesai mandi dan keluar dari kamar mandi, aku sudah tidak menemukan Mama di kamar. Aku berdecak sambil mengeringkan rambutku. Sepertinya, untuk beberapa waktu ke depan aku harus membiasakan diri mendengar Mama merengek agar aku segera menikahi Anggita. Sebenarnya sih, aku bukannya tidak mau atau belum siap untuk melamar Anggi, tapi karena Anggi belum siaplah yang menjadi alasanku saat ini.
Setelah selesai berganti pakaian, aku langsung turun ke bawah dan berpamitan pada Mama.
"Aro berangkat dulu, Ma."
"Makan malam di rumah aja kalau belum mau lamar calon mantu Mama," pesan Mama.
Aku mengangguk. "Diusahakan, ya, Ma. Semoga semesta berkehendak," jawabku kemudian.
Aku kemudian keluar rumah dan mencari keberadaan Pak Bambang yang sedang sibuk mengobrol dengan satpam.
"Pak, anterin saya ke restoran."
"Siap, Mas!"
Aku mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.
#####
"Aro?"
Aku secara otomatis menghentikan langkah kakiku dan berbalik, mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam mobil. Tubuhku seketika langsung menegang saat menemukan siapa yang memanggil namaku tadi. Detik berikutnya, aku mendengkus tak percaya. Sedang apa perempuan ini di sini? Bukankah dia di Bandung, kenapa sekarang di sini? Apakah dia sedang mencoba menguntitku?
"Kamu kerja di sini? Aku sering ke sini, tapi belum pernah liat kamu sebelumnya. Apa kamu baru di sini?" tanya Jasmine dengan senyuman andalannya, yang kini sudah tidak tidak terlihat manis sama sekali dan justru terlihat memuakkan.
Aku benci dengan sikapnya yang seolah ia tidak punya salah di masa lalunya. Bersikap layaknya gadis lugu yang sering kali menjerat orang-orang di sekitar hanya karena melihat senyumannya. Aku benar-benar membenci itu.
"Bukan urusan kamu, dan saya tidak punya hak untuk menjawab pertanyaan barusan. Maaf, saya sibuk."
"Aro, kamu masih marah sama aku?"
__ADS_1
Aku memejamkan kedua mataku dan mengeram tertahan. "Kelihatan?"
"Kamu membenciku."
"Sangat," kataku mengimbuhi.
"Aku bilang, aku minta maaf, Ar. Aku terpaksa melakukannya, aku... aku..."
"Saya tidak butuh permintaan maaf darimu."
"Tapi aku butuh, Ar, aku sangat membutuhkannya. Aku harus melanjutkan hidup tanpa perasaan bersalah terhadap kamu. Aku... menyesal."
"Saya permisi," ucapku dingin.
Tanpa keraguan sedikit pun, aku langsung membuka pintu mobil, namun saat aku hendak masuk, Jasmine menahanku.
"Aku mohon, Ar, beri aku kesempatan," ucap Jasmine penuh permohonan.
Kedua pipinya kini banjir air mata, dan aku benci saat melihatnya.
"Kamu tidak berhak mendapatkan kesempatan apa pun dari saya."
"Aku mohon, Ar!"
"Berhenti menangis dan memasang wajah lemah kamu di hadapan saya! Saya bilang saya tidak membutuhkannya, kamu tidak mendengar saya?" teriakku emosi, sampai beberapa pengunjung memperhatikan kami.
Aku mendesah pasrah sambil memijit pelipisku yang mendadak pening.
"Maaf, saya tidak tertarik untuk menjadi pusat perhatian. Pergilah, saya permisi," kataku lalu masuk ke dalam mobil.
Di luar dugaan, Jasmine tiba-tiba ikut masuk setelahnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Keluar!"
"Berusaha berdamai dengan kamu. Ayolah, Ar, aku tidak meminta kamu untuk kembali bersamaku. Aku hanya ingin menyelesaikan masa lalu kita," pinta Jasmine dengan tidak masuk akal.
"Masa lalu kita sudah selesai, kalau kamu lupa," kataku mengingatkan.
"Belum, Ar, kamu masih menyimpan dendam denganku," kata Jasmine, "jalan, Pak! Nanti kita berhenti di restoran seafood depan."
"Apa-apaan kamu?" tanyaku sewot.
"Aku tidak punya cara lain, selain memaksa kamu, Ar. Maaf."
Aku mendengkus tak percaya. Bisa-bisa aku hanya pasrah tanpa melawan sedikit pun.
"Mas, ini jadinya gimana?" tanya Pak Bambang.
"Ya udah, Pak, jalan!"
"Pulang?"
Aku melirik Jasmine dan berdecak. "Ke restoran yang perempuan ini maksud."
"Oh, oke. Baik, Mas."
Lalu Pak Bambang mulai menjalankan mobil menuju restoran yang Jasmine maksud. Kami langsung turun setelahnya. Saat hendak masuk, aku merasakan getaran ponsel dari saku celanaku.
"Siapa?" tanya Jasmine.
"Tidak usah sok akrab, kita ini sekarang hanya lah dua orang asing yang punya privasi masing-masing. Jangan coba-coba untuk ikut campur!" kataku ketus.
"Kamu di mana, Ar?"
Mampus!
Jawab apaan ini?
"Di apartemen, baru abis mandi," jawabku terpaksa harus berbohong. Lalu secara tiba-tiba sambungan telfon terputus begitu saja.
"Pacar baru kamu?" tanya Jasmine tiba-tiba.
"Bukan urusan kamu," balasku ketus.
"Aku cuma mau menebus kesalahanku dulu, Ar, aku mau kamu maafin aku. Sebegitu bencikah kamu sama aku? Sefatal itukah kesalahan aku di mata kamu?" teriak Jasmine tiba-tiba.
"Jelas, kesalahan yang kamu lakukan sudah sangat fatal. Kamu tidur dengan seniorku! Kamu bersenang-senang di belakangku, kamu menyakiti perasaanku dan kamu menghilang tanpa meminta maaf secara langsung denganku. Lalu tiba-tiba sekarang kamu datang saat aku sudah hampir melupakan semuanya, aku sudah bahagia dengan wanita yang kusayangi lalu kamu tiba-tiba datang dan meminta kesempatan? Tidakkah kamu terlalu kejam?"
Jasmine menunduk di sela tangisnya, tak lama setelahnya ia mengangguk. "Ya, aku memang kejam, kamu benar." ia kemudian mendongak dan menatapku tajam. "Tapi asal kamu tahu, Ar, aku tidak pernah tidur dengan Mas Bara."
Aku mendengkus saat mendengar omong kosongnya. "Ya, anggap sama memang begitu. Tapi fakta kalau kamu berselingkuh di belakangku, itu tetap benar kan?"
Jasmine diam dan menunduk sambil mengigit bibir bawahnya. Membuatku yakin jika ia sedang membenarkan ucapanku.
Aku langsung tersenyum sinis. "Aku benarkan?"
"Tapi... aku melakukan karena terpaksa. Aku kesepian, Ar, kamu terlalu sibuk dengan dunia dan ambisi kamu sendiri. Kamu melupakan aku yang berstatus pacar kamu, aku pacar kamu, Ar, aku juga butuh perhatian kamu."
"Alasan hal semacam itu tidak lantas membuat seseorang diizinkan untuk berselingkuh. Kalau kamu mulai bosan denganku, kamu bisa mengakhiri hubungan kamu denganku. Lalu kamu bisa memulai hubungan yang baru. Atau setidaknya bicarakan denganku, bukan justru memulai hubungan yang baru dengan orang baru, padahal kamu masih bersamaku. Tidak begitu, Jasmine. Kamu melukaiku, melukai Mas Bara, dan juga melukai dirimu sendiri. Lihatlah, dirimu sekarang! Kamu bahkan menyesalinya sampai sekarang kan?"
Jasmine diam dan tidak menjawab, yang ia lakukan hanya menangis sesegukan. Membuatku terlihat seperti pria brengsek yang tega membuat perempuan cantik ini menangis. Sialan, itu terdengar sangat buruk karena kenyataannya perempuan cantik ini yang membuatku menangis, dulu.
"Urusan kita sudah selesai. Saya permisi," kataku langsung meninggalkan Jasmine begitu saja.
Persetan dengan pikiran dan asumsi orang-orang yang melihat kami. Aku tidak peduli.
Tbc,
__ADS_1