
####
Hari ini gue dan Aro resmi menjalani hubungan jarak jauh. Aro sudah berangkat ke Bandung kemarin sore dan itu cukup membuat gue galau seharian ini. Sesuai dugaan, gue tidak cukup ahli dalam hal semacam ini. Gue pun sebenarnya tidak tertarik untuk membiasakan diri menjalin hubungan jarak jauh, tapi situasinya dan keadaan menuntut gue untuk belajar hal ini. Baru ditinggal sehari kok rasanya gue sudah rindu berat begini. Sepertinya Dilan benar, rindu itu berat. Tapi harusnya yang rindu Aro saja bukan gue.
"Gi, lo kenapa sih seharian ini, lesu amat?" tegur Vinzi, "sakit?"
Gue langsung mengangguk sebagai tanda jawaban.
"Hah? Sakit? Sakit apa? Pusing?"
"Sakit malarindu," jawab gue sambil menopang kepala gue dengan tangan kanan.
Vinzi berdecak kesal. "Sialan! Gue kirain beneran. Lo masih ngegalauin Aro? Serius?"
"Iya, lah."
"Astaga! Lebay banget sih lo? Nggak gitu-gitu amat lah, Ta."
"Enggak bisa!"
"Terserah lo! Pokoknya kalau lagi ada tamu nggak boleh pasang wajah jutek begitu," kata Vinzi memperingatkan.
Gue hanya menjawabnya dengan anggukan kepala malas.
"Ini namanya lo nggak profesional, Gi," omel Vinzi tiba-tiba.
Gue menoleh ke arahnya dengan pandangan datar.
"Iya, lo tuh cuma perkara ditinggal kerja di Bandung doang aja segitu galaunya, gimana kalau lo ditinggal ke Arab? Nangis darah lo?"
"Lo sih belum ngerasain. LDR itu berat, Bung! Coba kalau Bang Riki kerjanya nggak di Jakarta, gue yakin lo juga bakalan gini."
__ADS_1
"Gue sama Bang Riki menikmati hubungan kita dengan sewajarnya, Gi, bukan selebaynya kayak lo begini. Jujur dengan kebiasaan Bang Riki yang begitu, harusnya gue khawatir. Tapi kenapa gue nggak terlihat sekhawatir itu? Itu karena gue percaya sama Bang Riki. Lo juga harus gitu dong."
Gue langsung berdecak meresponnya. "Gue galau bukan karena takut Aro selingkuh."
"Terus?"
"Gue galau karena nggak bisa peluk-peluk dia," balas gue ketus.
"Oh, gue kirain," ringis Vinzi sambil garuk-garuk kepalanya.
Gue mendengkus. "Lo sok tahu sih."
"Kalian udah ngapain aja sih, Ta?"
"Maksud lo?"
"Ya, selama lo jalan sama Aro, udah ngapain aja sejauh ini. Skinship-nya tapi."
Gue langsung terbahak. "Kepo lo!"
"Nggak banyak kok, ya, sekedar pelukan, gandengan tangan. Sejauh ini baru itu sih, Aro belum pernah cium-cium gue. Maklum, kulkas dua pintu."
Vinzi ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk paham. "Masih kayak gaya anak pacaran anak SMA, ya," ejeknya kemudian sambil terbahak.
"Mana ada, gaya pacaran anak SMA udah seimbang sama gaya hidup Bang Riki. Mainnya udah tukeran ludah terus berakhir di ranjang."
Vinzi langsung terbahak sambil geleng-geleng kepala. "Anak SMA tuh kalau main begituan nggak di ranjang, Gi, tapi di semak-semak, abis itu kepergok sama Pak Haji."
"Siapa yang kepergok Pak Haji?"
Gue dan Vinzi langsung kincep saat berhadapan dengan Bu Mega, Kepala bagian Humas yang terkenal galak dan juga judes.
__ADS_1
"Jam kerja itu, kerja, bukan ngerumpi begitu. Kamu pikir pihak Hotel rela begitu membayar karyawan yang kerjaannya cuma ngegosip kayak kalian? Dasar! Saya aduin ke bos kalian baru tahu rasa!" tegas Bu Mega sebelum meninggalkan kami.
"Gila, ya, Bu Mega itu, kalau udah nyinyir begitu ngalah-ngalahin nyinyirannya netizen. Pantes jomblo! Untung bukan bos langsung kita."
Gue langsung terbahak. "Hush, mulutnya!Jangan nyaingi akun lambe deh."
"Abis gue kesel."
"Gue juga kesel, cuma kan kita juga yang salah. Nggak sadar diri banget sih lo. Kalau kita ditegur karena kita sendiri yang salah, kita itu nggak boleh marah, apalagi ngatain yang udah negur. Harusnya yang bener tuh kita berterimakasih."
"Buset! Maksud lo, kita harus kejer-kejer Bu Mega buat ngucapin makasih gitu?"
"Ya, enggak gitu juga."
"Terus?"
"Bersyukur. Lo punya Tuhan?"
"Ya, punya."
"Siapa Tuhanmu?"
"Allah." Vinzi kemudian mengimbuhkan, "eh, kok bahasannya jadi serem. Berasa ditanya Malaikat Mungkar dan Nangkir."
Gue langsung terbahak. "Buat latihan."
"Nggak lucu!"
"Kan emang nggak lagi ngelucu. Udah deh, intinya bersyukur sama Allah, karena udah kirim Bu Mega buat negur lo."
"Setelah pacaran, lo mendadak bijak gini, ya. Keren! Tahu gini, gue suruh pacaran dari dulu lo."
__ADS_1
"Sialan!"
Tbc,