
####
Gue memijit pelipis gue yang mendadak berdenyut kencang. Menghadapi masalah yang Bang Riki buat, benar-benar membuat kepala gue rasanya mau pecah. Rasanya masih terasa seperti mimpi, mengetahui ini semua. Gila! Hal yang gue takutin akhirnya kejadian juga, Bang Riki keblabasan. Astagfirullah! Ini nanti gue gimana harus jelasin ke Ibu dan Bapak di Solo? Mereka bisa kena serangan jantung mendadak kalau tahu, putra kebanggaannya menghamili anak gadis orang. Astaga!
"Kenapa itu kepalanya?" tanya Aro lalu duduk di sebelahku.
"Pusing."
Telapak tangan Aro langsung ia tempelkan di dahi gue, gue memeriksa suhu badan gue, yang memang tidak sedang demam.
"Enggak panas," guman Aro lalu membawa kepala gue, untuk disandarkan di pundaknya.
"Aku pusing ngadepin masalah Bang Riki."
"Jangan terlalu dipikirin, biar Riki yang mikirin ini semua. Tugas kamu pastiin kondisi Vinzi agar tetap stabil, gimana pun, kehamilannya kan masih muda."
Gue mengangguk setuju lalu memeluk perutnya. "Oke. Kita pikirin gimana besok kita kencan aja?" tanya gue kemudian.
Jujur, setelah tahu Aro datang hari ini. Gue sudah menyusun berbagai rencana yang akan kami lakukan. Namun berhubung, tadi sempat ada drama yang menguras emosi gue habis-habisan, mendadak semua rencana yang sudah gue susun rapi tiba-tiba ambyar, remuk redam dibawa hembusan angin yang lewat.
Aro diam bergeming. Dapat gue rasakan tubuhnya menegang setelahnya. Gue mengernyit bingung, lalu mendongak. Gue menatap kedua bola mata Aro dengan tatapan curiga. Entah kenapa, mendadak perasaan gue tidak enak. Plis, siapa pun jangan hancurkan ekspektasi gue yang sudah gue bangun indah.
"Jangan katakan sesuatu yang akan membuat gue kesal, Ar. Hari ini emosi gue udah cukup terkuras menghadapi masalah yang Bang Riki timbulkan. Kamu jangan ikut-ikutan," kata gue memperingatkan. Di detik berikutnya, gue langsung menggeser tubuh gue menjauh darinya, sambil memalingkan wajah gue, menghindarinya.
"Sayang! Dengerin aku--"
"Apa?! Aku harus dengerin apa? Bilang sekarang!" seru gue emosi.
"Besok kita belum bisa kencan. Aku harus balik ke Bandung."
"Kapan?"
"Malam ini," lirih Aro dengan suara pelan. Namun sialannya, terdengar jelas di indera pendengaran gue.
Gue langsung berdiri.
Namun, tiba-tiba Aro mencekal lenganku. "Mau ke mana?" tanyanya dengan nada putus asa.
"Tidur. Kamu juga udah mau balik ke Bandungkan? Ngapain aku di sini? Donor darah buat nyamuk?" ujar gue sengaja menyindirnya. "Ora sudi," imbuhku lalu meninggalkan Aro begitu saja.
__ADS_1
Mau bilang gue egois dan childish? Ya, silahkan! Gue nggak peduli.
"Kenapa, Gi?" tanya Vinzi sambil memandangku heran.
Setelah diperbolehkan pulang, gue dan Bang Riki memang melarang Vinzi untuk kembali kostnya. Selain karena tidak tega, gue dan Bang Riki merasa sudah seharusnya bertanggung jawab atas kondisi Vinzi sekarang ini. Gue juga agak-agak parno sih, takut kejadian yang tidak diinginkan kembali terjadi. Amit-amit duh, Gusti.
Gue menggeleng dengan ekspresi cemberut yang tidak bisa kusembunyikan sama sekali.
"Bete?" tebak Vinzi.
Gue mengangguk, mengiyakan.
"Karena?"
"Aro."
Vinzi terkekeh geli. "Kenapa lagi sih? Katanya abis dikasih surprise, kok malah bete?"
"Aro mau balik malam ini, Zi. Coba lo bayangin, tadi pagi pas doi sampai sini, dia harus nemenin Bang Riki yang galau. Terus pas galaunya Bang Riki agak ilang, eh, malah dapat berita be--" Secara reflek gue membekap mulut gue dan menoleh ke arah Vinzi dengan perasaan tak enak. Dasar mulut, enggak ada filternya banget sih.
Ekspresi Vinzi berubah sedih dan juga seperti bersalah, ia menghela napas pendek lalu meminta maaf.
"Lo nggak sal--"
Gue menghela napas dan memeluk tubuh Vinzi. Meski dalam hati gue mengakui itu, tapi rasanya gue tidak tega untuk membenarkan hal tersebut. Apalagi dengan track record yang pernah Bang Riki miliki dalam hal asmara. Rasanya, kalau Vinzi ikut gue salahin kok rasanya gue kejam banget.
"Gue nggak suka kalau lo nyalahin diri lo begitu, Zi. Gue nggak suka."
"Gue juga nggak suka kalau lo cuma nyalahin Bang Riki, Gi. Sementara yang ngelakuin ini nggak cuma Bang Riki sendiri, tapi gue juga."
Gue mendesah lalu melepaskan pelukan kami. "Oke. Gue nggak akan nyalahin Bang Riki."
"Nah, gitu kan baru adil."
Gue mendengkus sebal. Entah setan apa yang telah merasuki gue, gue mendadak iri dengan hubungan mereka. Maksudnya, di balik masalah yang sedang coba mereka hadapi sekarang ini, mereka tetap terlihat so sweet di mata gue.
"Zi, apa gue sama Aro udahan aja, ya?" tanya gue tiba-tiba.
"Hah? Apa lo bilang?"
__ADS_1
"Gue capek, Zi. Gue nggak suka LDR-an apalagi, lo tahu sendiri lah sifat Aro itu kayak gimana."
"Kok lo gitu sih, Gi. Masa cuma gara-gara nggak mau LDR-an putus, lo beneran sayang nggak sih sama Aro?"
"Sayang. Cuma, logikanya gini loh. Buat apa sih bertahan sama orang yang kita sayang, tapi hati kita menderita? Percumakan?"
Kening Vinzi mengernyit samar. "Bentar, lo menderita jalan sama Aro? Sama sekali nggak bahagia gitu maksud lo?"
"Ya, gue bahagia. Cuma bahagia gue tuh kalau sama Aro doang, setelah Aro balik ke Bandung, gue menderita."
Vinzi mendecak samar sambil memijit pelipisnya, lalu geleng-geleng kepala.
"Gi, lo ini bukan anak SMP yang baru pertama kali pacarankan?"
"Ya, enggaklah enak aja. Kenapa gue disamain anak SMP?" sungut gue kesal.
Enak aja, kenapa gue disama-samain sama bocah ingusan gitu. Gue udah cukup pengalaman, ya.
"Kalau enggak sama, kenapa noraknya sama?"
Anjiir, ini bumil mulutnya pedes amat.
"Maksud lo?"
"Anggita, calon adik iparku yang cantik. Gue kasih tahu, ya, cinta itu nggak hanya memberi lo kebahagiaan aja. Jangan norak dan halu deh! Yang namanya hubungan itu nggak melulu bahagia, atau melulu menderita. Semuanya pasti berimbang, sesuai porsinya masing-masing," omel Vinzi judes.
Sepertinya hormon kehamilannya sedang naik, gue jadi ngeri lihatnya. Vinzi bahkan tidak terlihat seorang Ibu hamil yang sempat pendarahan. Padahal jelas-jelas, baru tadi pagi ia pendarahannya.
"Tapi gue nggak suka LDR, Zi," rengek gue dengan bibir manyun.
"Ya udah putus, nggak usah pacaran sekalian."
"Vinzi!!! Iih, kok lo ngomongnya gitu? Jahat."
"Ya, lo juga jahat kali sama Aro," balas Vinzi tak mau kalah.
Gue melotot tak terima. "Kok jadi gue yang jahat? Yang ditinggal itu gue, Zi, bukan gue yang pergi ninggalin dia."
"Lebay! Aro itu nggak ninggalin lo, Gi, Aro itu kerja. Cari duit, buat masa depan kalian juga. Astaga! Emosi gue lama-lama. Gue udah cukup pusing dengan status gue sama calon bayi gue, yang belum jelas ini loh, Gi. Jangan lo tambah-tambahin. Tahu begini mending gue tidur di kost. Jelas aman dan tentram."
__ADS_1
Seketika gue terdiam. Apa benar gue yang emang terlalu berlebihan, ya?
Tbc,