
******
"Gimana punya kabar?" sapa Vinzi, langsung merangkul lengan gue. Kami berdua lalu berjalan beriringan masuk ke dalam hotel, tempat kerja kita.
Gue mengangkat kedua bahu gue bersamaan. "Kayaknya masih sehat sih. Belum ada yang lecet kok," jawab gue cuek.
"Lalu bagaimana dengan kabar hati?" lanjut Vinzi terang-terangan menggoda gue.
Gue berdecak sedikit tak terima. "Kalau masalah itu nggak usah ditanya. Sangat-sangat buruk," lalu tersenyum kecut.
"Kenapa? Udah punya penjaga, ya?" wajah Vinzi berbinar antusias.
Gue menggeleng lemah.
"Terus?"
"Bang Riki ngelarang."
"Heh, maksudnya, ngelarang gimana tuh?"
"Ya gitu, kalau sampai gue naksir beneran sama doi, semua fasilitas yang Bang Riki kasih bakal dicambut sama dia."
"Loh, masalahnya dimana kalau lo naksir temennya?"
"Ya, itu dia masalahnya, Zi. Bang Riki ogah kedua sahabatnya berstatus 'pernah jadi pacar gue'," kata gue menjelaskan.
Vinzi diam sesaat, lalu menghentikan langkah kakinya, membuat gue ikut berhenti secara reflek.
"Bentar!"
"Kenapa, ada yang ketinggalan?"
"Enggak. Lo jadi kepikiran nggak sih kalau Aro bisa jadi juga naksir lo?"
"Hah? Maksudnya?"
Serius. Gue nggak paham sama omongan Vinzi saat ini.
"Iya, kalau Aro nggak naksir lo juga, Bang Riki nggak perlu khawatirkan? Nah, berarti emang ada kemungkinan besar si Aro juga naksir lo. Jadi, lo ada kesempatan, Gi," kata Vinzi menjelaskan penuh semangat.
Gue berpikir sejenak, memandang Vinzi ragu. Masa iya, Aro naksir gue juga. Tapi kayaknya enggak deh, orang dia kaku bin cuek gitu.
"Ah, ngaco lo."
"Loh, kok ngaco sih. Ya, enggak dong, Anggita. Coba lo pikir, kalau seandainya Aro nggak naksir, Bang Riki nggak bakal tuh sekhawatir ini. Iya, kan?"
"Masa sih?"
Gue memandang Vinzi tak yakin. Sementara dia justru mengangguk dengan penuh keyakinan. "Insting gue kuat. Dan kebetulan lumayan masuk akal."
"Tapi kalau seandainya insting lo salah? Gue makin patah dong, kan udah berharap ketinggian, eh, tahunya cuma perasaan lo aja."
"Insting, Gi, insting! Bukan perasaan," koreksi Vinzi dengan wajah sewotnya.
__ADS_1
"Iya, iya. Insting. Tapi kalau--"
"Stop! Berhenti berkalau-kalau, mending sekarang kita kerja, nanti pulang kerja baru lo cari jawabannya," potong Vinzi sambil mendekatkan telapak tangannya tepat di hadapan gue.
Gue menerjap kebingungan. "Cari jawaban di mana? Mbah gugel?"
Vinzi langsung berdecak gemas. "Jangan terlalu mengandalkan mesin pencarian itu dong, Gi. Nggak semua hal dia tahu lho, contohnya kalau lo mau tanya jodoh, yang ada kita malah diceramahi lho."
Gue mengernyit heran, niat gue tadi kan cuma bercanda. "Lo pernah tanya jodoh lo di sana?" tanya gue spontan.
"Pernah. Waktu lagi gabut," jawab Vinzi santai.
Gue melotot horor. Serius dia pernah nanya begituan?
"Enggak sehat otak lo, Zi," cibir gue sambil menggeleng miris.
"Otak lo bentar lagi juga gitu, apalagi kalau mendapati fakta bahwa Aro juga suka sama lo, tapi kesandung restu dari Abang lo. Fix, nggak sehat pasti."
Karena kesal, gue langsung memukul lengannya. "Doa lo kok jahat banget sih, Zi. Doain Aro beneran naksir gue, tapi malah doin Bang Riki nggak kasih restu. Jahat amat sih lo!"
"Gue nggak doain, tapi ngomongin fakta."
Fakta?
Jadi, Aro beneran naksir gue itu sebuah fakta?
####
"Assalamualaikum!" seru Bang Bima sedikit berteriak.
Dengan semangat gue langsung berdiri dan menghampirinya. Gue langsung tersenyum menyambutnya. Bang Riki mengernyit, menatap gue heran. Tangan kanannya masih sibuk melonggarkan dasinya, lalu berjalan melewati gue dan berjalan menuju ruang tamu, meninggalkan gue begitu saja. Gue mendecak gemas lalu mengekor di belakangnya.
"Mau minta apa?" tanya Bang Riki sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Enggak ada."
"Terus?"
"Mau tanya."
"Tanya apaan?"
"Kenapa lo takut gue naksir sama Aro?"
Bang Riki berdecak lalu menggulung lengannya. "Kan kemarin gue udah bilang. Kenapa tanya lagi?"
"Ya, menurut gue aneh, Bang," kata gue sambil menopang dagu gue.
Bang Riki kembali mengernyit. "Aneh gimana?"
"Kan yang naksir gue, tapi kok lo khawatir banget, padahal belum tentu Aro mau sama gue," gue melirik ke arah Bang Riki, wajahnya sedikit menegang. Membuat gue makin curiga, "apa, jangan-jangan Aro juga naksir gue?"
Bang Riki diam, tak langsung menjawabnya. Hanya melirik gue sekilas lalu menghela nafas pendek. Membuat gue semakin penasaran.
__ADS_1
"Bang," panggil gue.
"Gue cuma khawatir kalau hubungan kalian nanti nggak berhasil, Wat," ujar Bang Riki ambigu.
Jadi, Aro beneran naksir gue juga?
"Jadi, beneran?"
Bang Riki akhirnya mengangguk, meski raut wajahnya terlihat tidak rela.
"Lo tahu dari mana, Bang?"
"Aro-nya sendiri."
Gue membungkam mulut gue secara reflek, karena terkejut. Kok bisa?
"Tapi gue udah larang," lanjut Bang Riki membuat gue menoleh ke arahnya dengan kedua mata melotot.
Maksudnya apa itu?
"Pokoknya hubungan kalian nggak bakalan berhasil. Gue yakin itu."
"Kok lo jahat sih, Bang? Bukannya lo sendiri yang bilang kalau jatuh cinta itu emang nggak bisa kita atur, entah secara waktu maupun dengan siapa. Kok sekarang lo ngatur?" protes gue kesal.
"Bukan gitu maksud gue, Wat. Lo juga ngertiin posisi gue dong, sebagai Abang lo sekaligus sohib Aro."
"Lo minta gue buat ngertiin posisi lo, tapi lo sendiri mengabaikan perasaan adik lo sendiri, Bang, termasuk perasaan sohib lo sendiri? Emang nggak punya hati lo!"
Dengan emosi gue bangkit berdiri dan meninggalkan Bang Riki, berlari kecil menaiki anak tangga. Tak berapa lama, Bang Riki menyusul setelahnya.
"Dengerin gue dulu!" kata Bang Riki sambil mencekal lengan gue, mencegah agar gue tak masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.
"Apa? Gue musti dengerin apa lagi sih, Bang? Lo itu egois," teriak gue emosi.
Bang Riki berdecak. "Biasa aja, nggak usah ngegas," gerutunya membuat gue melotot kesal.
"Oke, oke, gue tahu apa yang gue lakuin sekarang ini itu termasuk kategori egois. Tapi, gue ngelakuin ini juga buat kalian, Wat. Masa lo nggak paha--"
"Enggak, gue nggak paham," potong gue dengan nada sewot.
Bang Riki meraut wajahnya frustasi, lalu beristigfar. "Astagfirullah! Gue harus gimana sih, Wat?"
"Restuin hubungan kita."
"Apa lo bilang?!" seru Bang Riki sewot. "hellow! Aro belum nembak lo, ya, dan kalian belum punya hubungan. Nggak usah ngehalu yang ketinggian."
Gue mendengkus. "Ya udah, kalau gitu bikin gue sama Aro punya hubungan."
"UDAH GILA LO?!"
Tbc,
Bantu koreksi dong!!!!! 😃
__ADS_1