Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Spesial Part : Pov Aro


__ADS_3

####


"Kenapa lo? Ngelamun aja."


Aku hanya menoleh ke arah Gani sekilas, lalu menggeleng kecut setelahnya, sebagai respon. Suasana hatiku saat ini sedang kacau, dan sedang malas untuk menanggapi keluhannya tentang kesibukan Anya.


"Gila! Gue dicuekin, jahat banget sih lo, Ar," gerutu Gani sambil memasang wajah kesalnya.


Aku hanya meliriknya sekilas, lalu menggeleng tak perduli.


"Kenapa? Dipaksa kaw--"


Aku langsung menoleh ke arahnya, dengan kedua mata melotot tajam.


Gani meringis. "Matanya biasa aja dong, Ar, kalau copot susah. Mata tajam kek punya lo itu nggak dijual di olshop mana pun. Jangan kan olshop, toko--"


Mulut Gani langsung bungkam, saat aku menoleh ke arahnya sekali lagi. Ia kembali meringis, padahal kali ini aku tidak memberikan tatapan mata tajam seperti tadi, dan hanya tatapan wajah datar yang sedang kutunjukkan.


"Oh, oke. Gue mingkem."


Suasana kembali hening setelahnya. Aku dengan pikiranku sendiri, sedang Gani dengan... entahlah, aku tidak perduli dengan apa yang sedang dilakukan olehnya saat ini.


"Ar," panggil Gani tiba-tiba, berhasil memecah lamunanku.


Aku berdecak jengkel. "Apa?" sembur gue galak.


"Serabi enak kayaknya," guman Gani, tapi berhubung dia duduk tepat di sebelahku, jadi aku mampu mendengarnya dengan sangat jelas. Dan aku tahu, ini calon Bapak pasti minta dibikinin.


Semenjak istrinya Anya hamil, kelakuan Gani memang nyeleneh. Suka mual mendadaklah, sensinya ampun-ampunan, sok-sok melow, dan yang terakhir, ya begini, suka minta dimasakin ini dan juga itu. Kesel aku lama-lama ngadepinnya. Bininya yang hamil, doi yang ngidam, dan aku yang harus memenuhi hasrat ngidamnya. Kan aku cuma dapet apesnya doang kalau begini ceritanya.


"Enggak. Gue lagi  mager. Lo beli--"


"Tapi gue nggak mau yang beli. Mau-nya lo yang bikin."


Kutatap Gani dengan wajah datarku, namun bukannya peka, Gani malah nyengir sambil menyatukan kedua telapaknya di hadapanku, wajahnya dibuat semelas mungkin. Tapi untungnya tidak langsung membuatku luluh.


"Enggak," tolakku tegas dan tidak ingin dibantah.


Gani menyipitkan kedua matanya lalu mendekatkan wajahnya ke arahku. Membuatku mundur secara reflek.


Mau ngapain sih ini orang?


"Lo lagi patah hati?"

__ADS_1


Bola mataku langsung melebar, sedikit takjub dengan kepekaannya. Apa memang sebegitu terlihatnya kalau aku sedang patah hati?


"Jadi bener?" kata Gani menyimpulkan sendiri, lalu terbahak setelahnya. "Alhamdulillah, ya Tuhan! Terima kasih, akhirnya temen gue normal."


"Sialan! Lo pikir gue kemarin-kemarin nggak normal?" umpatku tersinggung.


Dengan wajah polosnya, Gani mengangguk. "Beberapa bukti nggak menunjukkan kenormalan lo. Wajar kalau gue mikir lo nggak normal."


Sialan. Mulutnya ya, Tuhan. Kenapa lancar banget sih. Nggak ada perasaan  sungkan atau nggak enak gitu? Astaga, temen sama bos siapa sih ini? Pengen banget kucekik.


"Jadi, siapa cewek luar biasa itu?" tanya Gani dengan wajah antusiasnya.


Sementara aku bergeming. Bayangan wajah Anggita tiba-tiba berputar di benakku. Wajah galak, senyuman manis, dan juga wajah memerah karena salah tingkahnya benar-benar membuatku rindu. Sial. Kenapa aku harus jatuh cinta dengan adik teman dan juga mantan temanku sendiri?


"Lah, malah ngalamun."


Aku menoleh ke arah Gani.


"Kenapa sih?"


"Gue ditolak Abangnya."


"Hah? Maksud lo?"


"Ya, gitu, Riki nggak kasih izin."


Namun, beberapa detik kemudian ia tersadar akan sesuatu.


"Eh, bentar!"


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Kenapa Riki nggak ngasih izin?"


Astaga! Jadi, ini ceritanya Gani gagal paham gitu sama curhatanku? Harus kuapakan ini makhluk hidup, ya Tuhan. Tolong siapa pun kasih aku saran. Karena serius, aku sudah tidak sanggup menghadapi kelakuannya yang kian tidak masuk di akal sehatku.


"Jangan bilang--"


"Iya," potongku malas.


"Astaga! Kok bisa? Eh, tapi emang sih Anggi itu cantik dan menarik. Wajar sih kalau lo tertarik."


Aku mengangguk, membenarkan. Ya, Anggita semenarik itu. Aku akui itu.

__ADS_1


"Jadi, lo patah hati karena Riki nggak kasih restu buat kalian?"


Lagi-lagi aku mengangguk. "Dia pesimis kalau hubungan kita akan berhasil."


"Tapi Anggita mau sama lo?"


"Ya, enggak tahu juga," balasku sambil mengangkat kedua bahuku secara bersamaan.


"Ah, gue kalau jadi Riki juga pesimis lah, kalau adek gue ditaksir cowok modelan lo," sungut Gani emosi.


Sialan. Aku tersinggung. Ini calon bapak benar-benar deh, nggak jaga perasaanku banget.


"Maksud lo? Emang gue cowok modelan kayak gimana?"


"Ya, begitu. Kayak lo begini itu, unik."


Gani nyengir setelahnya, membuatku mendengkus sekali lagi.


"Tapi ya, Ar, kalau lo beneran naksir Anggi. Saran gue, perjuangin deh! Jarang-jarang loh gue nemu muka nelangsa lo begini."


"Sialan lo!" umpatku benar-benar kesal sekaligus tak terima.


Sekali lagi Gani nyengir. Membuat gue gemas ingin sekali menendang selangkangannya.


"Pokoknya, apapun yang terjadi lo harus perjuangin Anggi. Gue dukung lo! Kalau perlu terbang ke Jakarta malam ini juga," saran Gani, membuatku langsung menoleh ke arahnya dengan dahi mengkerut heran.


Tumben bener.


"Gue bentar lagi jadi Bapak. Riki udah tinggal pilih buat jadi istrinya. Lah, elo? Masih gini-gini aja, kan gue kesannya tega bener jadi bos kalau nggak ngebiarin lo kejar cinta lo."


"Terus Restoran? Siapa yang mau handle?"


"Sesekali kasih kepercayaan buat Iko. Menurut lo, bukannya dia udah cocok naik jabatan?"


Iko itu sous chef di restoran Gani. Aku akui sih, kinerjanya sudah sangat bagus dan bisa diandalkan. Tapi, membiarkan dia yang menduduki posisi Head Chef, kok rasa-rasanya aku tidak tega. Bagaimana pun tanggung jawab sebagai Head Chef itu berat.


"Gue belum tega ngelepas Iko buat pimpinan anak-anak."


"Terus hubungan kalian gimana? Masa lo mau nyerah gitu aja sih, Ar?"


"Enggak tahu. Nanti gue pikirin lagi deh."


"Ya udah, terserah lo. Kalau butuh bantuan atau saran, jangan sungkan."

__ADS_1


"Iya."


Tbc,


__ADS_2