Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (30) Rindu Itu Wajar


__ADS_3

###


"Makan, Wat!" ajak Bang Riki sambil menyempulkan kepalanya di balik pintu kamar gue.


Gue mengabaikan ajakannya, masih setia menunggu telfon dari Aro, dengan posisi berada di samping kasur, duduk di lantai sambil menempelkan pipi kiri gue di kasur, menatap ponsel gue dengan harap-harap cemas.


"Lo lagi ngapain sih? Nunggu giveaway? Apa hape lo rusak?"


Bang Riki kemudian masuk dan duduk di tepi ranjang, melirik ke layar ponsel gue yang kini mati.


"Rusak? Mau dibeliin yang baru?" tanya Bang Riki, meraih ponsel itu dan langsung mencoba menyalahkan, "idup kok. Nggak rusak," guman kemudian.


"Yang bilang rusak siapa?" sewot gue langsung merebut ponsel gue dan meletakkan kembali ke tempat semula.


"Lo. Barusan."


Gue berdecak. "Sebelumnya," koreksi gue kemudian.


"Ya, enggak ada."


"Nah, kan!"


"Terus kenapa lo liatinnya gitu banget? Kan si Amat juga nggak gitu-gitu banget."


"Dih, lawakan garing plus jadul dibawa-bawa."


"Ya, gimana dong, Wat, kan gue ini bukan pelawak. Masa disuruh bikin lo ketawa, kan nggak pas tuh."


"Sebebas lo, Bang. Udah pergi sana, jangan gangguin gue," usir gue sambil mendorong tubuhnya, agar segera enyah dari pandangan gue.


"Ayo, makan dulu! Gue bela-belain ke sini tuh buat ngajak lo makan, bukan ngajak berantem."


"Nanti. Gue belum laper."


"Gimana ceritanya, ini udah waktunya makan malam. Masa iya belum laper, lo abis jajan?"


"Kaga. Lagi bokek."


"Terus?"


"Gue lagi males makan."


Bang Riki berdecak lalu kembali duduk, bedanya sekarang doi duduk di sebelah gue. "Kenapa sih, galau lagi? Kali ini gara-gara apa?"


"Masih gara-gara Aro."


"Emang suka cari gara-gara itu orang, harusnya lo nggak mau sama dia, Wat."

__ADS_1


Gue langsung melotot tajam ke arahnya. Beberapa detik kemudian Bang Riki hanya menyengir sambil mengangkat jarinya membentuk huruf V.


"Bercanda! Gitu banget deh respon lo, serem!"


Gue hanya mendengkus tidak perduli setelahnya.


"Jadi, kenapa lo sama Aro? Dia nyakitin lo?"


Gue menggeleng. "Tapi nyiksa gue."


Bang Riki melotot spontan. "Maksud lo?"


"Gue dibikin rindu serindu-rindunya."


"Anjiir! Alay banget sih lo, perkara ditinggal Aro sampai bikin segininya?"


"Rindu itu wajar, Bang!"


"Ya, emang," balas Bang Riki tak mau kalah, "cuma sikap lo aja yang nggak wajar. Rindu boleh, tapi gila jangan!"


"Rindu itu berat, Bang!" teriak gue emosi.


"Seberat-beratnya rindu, kalau dibandingin sama dosa gue, tetep masih beratan dosa gue."


Secara tiba-tiba Bang Riki ikut berteriak. Dan membuat gue tertawa, karena secara tidak langsung dia sedang mengatai dirinya sendiri.


"Tumben lo sadar diri, Bang?"


"Taik!!"


"Mulutnya itu lho, kayak nggak pernah disekolahin."


"Kan nggak lulus kuliah gue, Bang," cengir gue dengan wajah, bak bayi yang tidak punya dosa.


"Meski nggak lulus kuliah, seenggaknya lo lulus SMA, Markonah! Lo kata TK, SD, SMP, SMA ngapain? Jualan cilok? Emosi gue lama-lama. Udah, ayo buruan turun! Kita makan malam, gue udah beli nasi Padang tadi."


"Nanti."


"Nanti gimana, lo itu punya riwayat penyakit maag. Jangan biasain nunda makan kenapa sih? Seneng banget lo masuk rumah sakit," omel Bang Riki dengan wajah galaknya.


"Mager," rengek gue manja.


"Kalau pengen sehat itu nggak boleh males gerak, tapi harusnya makin gerak. Ayo, buruan!"


Bang Riki tiba-tiba membelakangi gue dengan posisi berjongkok. Ini mau ngapain Abang gue? Kok posisinya kayak minta gue naik ke punggungnya gini, kayak mau gendong gue.


Secara reflek, gue langsung memukul punggungnya. "Apaan deh ini?"

__ADS_1


"Naik!" seru Bang Riki memerintah, "mager kan? Nah, ayo gue gendong, mumpung lagi baik nih gue."


"Apaan sih lebay," gerutu gue sambil mendorong tubuhnya.


"Udah buruan naik! Menghadapi kenyataan butuh banyak tenaga. Lo perlu makan. Yuk!"


Sekali lagi gue mendorong tubuhnya, lalu berdiri. "Yuk, gue masih punya kaki sehat dan normal, ngapain pake digendong segala," gerutu gue kesal.


Bang Riki sontak langsung terbahak dan merangkul pundak gue. "Nah, itu lo tahu. Samain aja kalau gitu, Wat."


Gue menoleh ke arahnya dengan pandangan bingung. "Samain sama apa?" lalu kami berjalan beriringan keluar kamar gue dan turun ke bawah.


"Ya, samain aja, meski Aro di Bandung. Lo masih punya gue dan juga Vinzi."


Gue mendengkus. "Beda rasa."


"Kan gue suruh nyamain, gimana sih. Ya, jangan dibandingin dong," decak Bang Riki sedikit snewen.


Gue hanya terkekeh.


"Lo cuma perlu membiasakan diri, kalau udah terbiasa juga nanti--"


"Gue nggak mau membiasakan diri, Bang. Apa gue nikah aja sama Aro," usul gue yang langsung dihadiahi sentilan di dahi gue.


Njiir, sakit banget, cuyyy.


"Sembarang banget sih kalau ngomong, nggak pake otak dulu apa mikirnya?" sembur Bang Riki emosi. "Lo pikir nikah itu gampang, terus cuma enak aja."


"Ya, nggak juga lah, Bang. Gue belum bego-bego banget juga kali."


"Terus, bilang mau nikah karena cuma nggak mau pisah sama Aro, lo pikir itu nggak bego?"


"Ya, enggaklah! Kalau menikah kan jadi apa-apa berdua."


Bang Riki mendengkus. "Lo pengen banget apa-apa berdua? Terus nanti boker juga berdua gitu?"


"Ya, enggaklah! Enak aja."


"Nikah itu nggak cuma butuh alesan saling suka, saling cinta, dapat restu, mapan secara finansial."


"Dih, malah ceramah," decak gue kesal.


"Gue takut kalau Aro tiba-tiba lo ajak kawin."


"Bagus dong, artinya dia nggak main-main sama gue."


Bang Riki berdecak. "Ah, lo nggak ngerti. Nggak usah bahas beginian. Ayo, makan!"

__ADS_1


Gue mendengkus lalu menerima sebungkus nasi Padang yang Bang Riki berikan. Baru setelah itu kami makan dalam diam.


Tbc,


__ADS_2