Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (40) Kencan Spesial? With Cendol Dawet? Aku, mah, Ikhlas!


__ADS_3

#####


"Loh, itu kenapa anaknya, kok diseret-seret begitu, Bu? Koyo koper wae diseret-seret, anak e lho iku, nak lali."


Gue langsung berhambur ke pelukan Ayah, saat Ibu melepaskan jewerannya. Tanpa ingin membuang waktu, gue langsung mengadu ada Ayah.


"Yah, Ibu jahat!"


"Jahat lambemu! Lha nak Ibu jahat, terus kowe opo?" balas Ibu judes.


Seketika gue langsung menelan ludah gue dengan susah payah. Ibu masih marah sepertinya.


"Ada apa to?"


"Anakmu itu, wedokan gatel ora eram," adu Ibu ada Ayah.


Gue cemberut lalu menggeleng. "Enggak, Yah, Anggi nggak gatel kok."


"Halah, ora gatel piye? Pagi-pagi sudah pelukan sama lanangan, kalau bukan gatel apa itu? Ganjen? Rak yo podo wae to?"


Kini giliran Ayah yang menatap gue. Gue menunduk takut-takut. Ayah itu kalau marah lebih seram dari pada Ibu yang suka berteriak atau menjewer telingaku. Bagi, gue marahnya Ayah lebih seram.


"Emang kamu habis pelukan sama to, Nduk, sampai Ibu-mu semarah itu?" tanya Ayah dengan nada kalemnya. Tidak ada nada suara yang dinaikkan atau ekspresi marah, ekspresi Ayah masih sekalem biasanya.


Dengan kepala agak tertunduk, gue kemudian menjawab, "Aro."


"Aro?" beo Ayah, yang membuat gue langsung mengangguk sebagai tanda jawaban, "yang pacar kamu itu, nduk? Yang tinggi ganteng to? Calon menantu Ayah?"


"Iya, Aro yang itu, Yah." eh, Ayah tadi bilang apa? Calon Menantu Ayah?


Gue kemudian memfokuskan pandangan gue ke Ayah. Ekspresi Ayah masih sama kalemnya dengan yang tadi, malah kini bertambah sumringah karena beliau tersenyum.


Di luar dugaan, Ayah tiba-tiba merangkul pundak Ibu dan berkata, "Biar to, Bu, mereka kan cuma pelukan. Kayak dulu Ibu ndak begitu saja sama mantan-mantan Ibu, kalau ngiri sama anaknya, ya nanti pas wayah sungkeman deh, Ibu pasti dipeluk. Cuma ya, dinikahin dulu anaknya."


"Lah, si Ayah ini lho. Malah ngomong apa to? Ndak jelas banget, bawa-bawa mantan Ibu pula. Kenapa, Ayah cemburu?"


"Loh, ngapain Ayah cemburu sama sesuatu hal yang sudah jelas? Ibu kan sudah jelas milik Ayah, sedangkan mantan Ibu, hanya masa lalu Ibu," balas Ayah dengan percaya diri.


Seketika gue melongo. Lah, kenapa malah pada bahas masa lalu? Ini gue batal diomelin, begitu?


Baiklah, gue tidak boleh menyia-yiakan kesempatan emas ini. Gue harus segera melarikan diri, kalau masih ingin aman atau pun tidak ingin mendadak baper melihat Ayah dan Ibu berbagi kemesraan dan juga nostalgia masa lalu mereka.


"Kenapa?" sambut Vinzi, saat gue masuk ke dalam kamar.


Penamilan Vinzi sudah cantik kalau boleh gue jujur, hanya saja gue sedikit bingung. Kenapa acara make-up nya belum selesai juga? Memang mau diapakan lagi itu wajah temen gue, dicoret-coret terus perasaan. Apa itu hanya perasaan gue saja?


"Enggak, tadi gue ke-gap lagi pelukan sama Aro, terus diomelin Ibu."


"Eh, kenapa bisa gitu? Terus-terus lo diapain?"


"Dijewer. Salah si kulkas sih, sebel gue. Abis modus gitu dia. Tapi, asemnya tuh, gue diomelin tapi dia yang dibaik-baikin. Kan gue jadinya kesel, Zi."


Mendengar curhatan gue bukannya iba, Vinzi malah tertawa.


"Ah, Kakak ipar jahat lo," rajukku sebal.


Vinzi hanya tertawa setelahnya, baru kemudian menyuruhku untuk segera bersiap-siap, karena Mbak MUA-nya sudah siap mendandaniku.


####


"Nggak pengen juga."


Gue langsung merinding, saat mendengar suara bisikan Aro. Detik berikutnya, gue langsung melotot tajam ke arahnya, sebagai tanda protes. Ini orang tidak sadar atau bagaimana, kalau efek dari suara bisikannya barusan tidak hanya membuat bulu kudukku meremang, tapi juga nyaris membuat jantung gue melompat dari tempatnya. Bukan, bukan hanya karena kaget, tapi juga karena gue tidak tahan mendengar suara seksinya barusan. Masha Allah, ini kenapa otak gue mendadak norak begini? Ijab qobul Bang Riki masih berlangsung, tapi kenapa otak gue malah melantur ke mana-mana begini?


"Ssst, jangan bikin aku gagal fokus gara-gara denger suara kamu." Gue kemudian ikut, berbisik.


"Hah?" respon Aro dengan wajah sok polosnya, seperti biasa.


"Ssst!"


Baru hendak menjawab, sesorang tiba-tiba mengingatkan agar kami tidak banyak berbicara. Gue kemudian mengangguk dengan ekspresi tidak enak dan kembali fokus pada Bang Riki yang kini tengah mengucapkan ijab qobulnya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Vinzi Oktaviani Binti Hari Lasmana dengan maskawinnya uang tersebut diatas tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah!!"


"Alhamdulillah."


Alhamdulillah, Abang gue sudah resmi jadi istri orang, lalu Vinzi resmi jadi Kakak ipar gue. Senangnya hati gue, terima kasih ya Allah.


"Udah pengen, ya? Mau aku tanya ke penghulunya sekarang, syarat apa aja yang dibutuhin untuk nikah?"


Gue menerjapkan kedua mataku beberapa kali. Serius, gue gemas rasanya. Gue tahu sih, Aro itu sedang mencoba untuk menggoda gue. Tapi, tapi kenapa ekspresinya datar begitu?


"Yang, mumpung penghulunya belum pulang," sambung Aro kemudian. Kedua alisnya kemudian terangkat tinggi, mendesakku agar segera menjawab pertanyaannya.


Gue mendengkus, lalu geleng-geleng kepala.


"Kalau udah pengen bilang aja, nggak usah malu," ucap Aro, kali ini ia terkekeh.


Dengan wajah jutek, gue langsung mendorong pipinya. "Gombalan kamu nggak cukup bikin aku tersipu malu, Ar." Gue kemudian berdiri dibantu Aro.


Aro kemudian tertawa samar. "Dih, siapa yang ngegombal? Kamu itu nggak cocok digombalin, asal kamu tahu."

__ADS_1


Gue langsung melotot tidak terima. "Maksud kamu apa?" sewot gue judes.


"Kamu itu nggak cocok digombalin, sayang, nggak pantes," kata Aro, seolah lupa atau pun tidak tahu kalau perempuan kesal menakutkan.


"Terus pantesnya diapain?" tantang gue masih sewot.


"Diseriusin. Lalu dicintai dengan sungguh-sungguh," ucap Aro sambil memainkan kedua alisnya naik-turun.


Mampus!!!


Pipi gue mendadak panas. Digombalin spesies sejenis Aro yang minim ekspresi, kok rasanya beda, ya. Serasa makan indomie pake telor plus cabe rawit tiga biji, tapi makannya pas lagi hujan malem-malem. Kan spesial banget.


"Gimana? Udah berbunga-bunga belum hati kamu?"


"Udah. Serasa pengen nyeret kamu ke hadapan pak penghulu dan Ayah, biar kita diijab qobilin sekalian," ucap gue sambil tertawa.


Lalu di luar dugaan gue, Aro tiba-tiba menarik tangan gue. Membuat gue panik seketika. Aro itu kadang suka kelewatan kalau bercanda. Tapi, kalau diajak bercanda kadang koneknya minta diseriusin.


"Yuk, langsung aja, kayaknya penghulunya masih di depan. Ayo, lari, kita kejar!" kekeh Aro, benar-benar mengajak gue berlari keluar dari ballroom hotel.


Membuat gue langsung menjerit dan memukul pundaknya. "Aro!!!" Sedangkan Aro hanya terbahak dan masih mengajak gue berlari, entah ke mana tujuannya.


Dasar kulkas dua pintu!


#####


"Serius, kamu ngajakin aku ke tempat beginian, tapi bajuku begini? Kamu itu sebenarnya minta diapain sih?"


Dengan wajah sok polosnya, Aro menoleh ke arahku dengan ekspresi antusiasnya. "Serius kalau aku bilang, nanti dikabulin?"


Perasaan gue mendadak tidak enak.


"Minta apa emang kamu?" tanyaku mulai was-was.


Aro terkekeh lalu menggeser gelas berisi es cendol kami. Ya, ya, ya, setelah kabur dari acara nikahan Bang Riki, Aro memang membawa gue ke penjual es cendol. Iya, cendol dawet. Romantis banget kan pacar gue, tidak ada tandingannya memang. Mana kita masih menggunakan pakaian lengkap tadi, gue masih memakai baju kebaya gue tadi, sedang Aro kini hanya mengenakan kemeja dan celana kainnya saja, karena jasnya kini sudah ia lepas dan disampirkan di salah satu bangku.


"Minta kamu aja udah cukup kok."


Gue langsung berdecak setelah menyesap es cendol gue. "Nggak usah sok manis deh, Ar, nggak cocok. Ya, kecuali kalau ekspresi wajah kamu agak dikondisiin, mungkin masih bisa."


Aro menggulung lengannya dan menoleh ke arahku. "Emang kenapa sama wajah aku?" tanyanya heran.


"Gantengnya kelewatan."


Aro kembali menaikkan kedua alisnya dan menopang dagunya, dengan kedua mata terfokus menatapku. "Kamu juga," ucapnya tiba-tiba.


"Juga apa?" tanyaku penasaran.


"Juga kelewatan."


"Kelewatan apanya? Cantiknya?"


Aro menggeleng.


"Terus?"


"Kelewatan galaknya."


Astagfirullah! Ada toko yang bisa tukar tambah pacar baru tidak, sih? Darah tinggi gue lama-lama pacaran sama yang beginian. Perasaan, bawaannya ingin istigfar terus-terusan.


Tanpa gue duga, Aro tiba-tiba mencubit hidungku dan berkata, "Bercanda doang, sayang. Ekspresinya biasa aja. Nggak usah pasang ekspresi pengen dikasih sodaqoh begitu." Ia kemudian berdecak dan geleng-geleng kepala. Membuat mulut gue langsung menganga tanpa bisa dicegah.


Astagfirullah! Kuatkan iman yang kian melemah ini, duh, Gusti! Tidak sanggup jika harus lama-lama begini. Gue pengen menjinakkan sekarang juga. Kesel!!!


"Jangan cemberut aja dong, kan aku cuma bercanda."


"Kalau mau bercanda itu, ekspresinya dikontrol. Jangan dibikin serius gitu, bisa?"


Dengan wajah polosnya, seperti biasa Aro menggeleng. "Susah, yang, tapi aku usahain deh ke depannya biar bisa disesuaikan."


Hah? Harus banget, ya, jawabannya seperti itu?


"Anggita!" panggil Aro sambil menyentuh lenganku.


Gue menatap Aro datar selama sekian detik, lalu memalingkan wajah setelahnya.


"Ngambek, ya?"


"Tahu lah, kamu ngeselin."


"Loh, kan emang dari awal pertemuan kita, aku emang begitu. Lagian ini kencan spesial kita, loh. Masa kamu malah ngambek."


Apa tadi katanya, kencan spesial?


Gue langsung menatapnya sengit. "Kencan spesial kamu bilang?"


"Loh, emang nggak spesial, ya?"


"Cuma sama cendol dawet?"


"Emang kenapa kalau cuma sama cendol dawet? Kan cendol dawet minuman khas Indonesia, ada lagunya juga kan? Sempet viral malah, ya, meski sekarang udah enggak sih."


Gue langsung berdecak kesal. Karena bingung harus merespon bagaimana. Duh, lemah iman kan jadinya kalau sudah begini.


"Lagian, minumnya bareng aku, kurang spesial, ya?"

__ADS_1


Kan, kan, ambyar sudah iman gue kalau udah begini.


"Iya, iya, minumnya bareng kamu emang terasa spesial, karena kita pasangan ldr-an. Tapi, lihat dong pakaian kita? Aku masih pake kebaya lalu kamu masih pake kemeja dan celana bahan begitu. Kita itu udah kayak calon penganten yang kabur dari acara nikahannya tahu."


Aro terkekeh lalu mengipasi wajahku menggunakan kedua tangannya dan bertanya, "Panas banget, ya? Duh, apa kita balik ke hotel sekarang aja? Kayaknya kita mainnya juga kejauhan lho."


Gue menggeleng tidak setuju. "Enggak, nanti aja. Aku masih pengen ngobrol sama kamu."


"Di dalem kan masih bisa ngobrol."


"Tapi suasana dan hawa-hawanya beda."


"Jelas, beda. Di dalem sana ada AC, sedangkan di sini panas."


"Ada AC alami tapi," balasku kemudian.


Aro mengangguk setuju. "Iya, panasnya juga luar biasa alami," kekehnya kemudian, "eh, bentar, ini Abang kamu nelfon."


"Ya, hallo, Rik?"


"..."


"Santai, aja, nggak usah ngegas!"


Aro berdecak tidak suka dan sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga. Kalau gue tebak sih, di seberang sana, Bang Riki pasti sedang berteriak atau mungkin malah memaki. Emang hobi Abang gue sih, itu. Ck. Kasian amat gue sama si Vinzi, dapet suami yang modelnya begituan. Casingnya sih, bagus, ganteng, manis, dan juga menawan. Dompet juga aman, tapi kelakuan aslinya itu loh, suka membuat miris. Sedih gue.


"..."


"Iya, ini sama gue. Dia aman sama gue, santai aja. Gue mah, bertanggung jawab, ya, tahu batasan juga, nggak kayak lo."


"..."


"Iya in deh, biar cepet. Jadi, kenapa nelfon? Gue masih mau pacaran ini, jangan ganggu dong."


"..."


"Kalau adek lo nggak mau gue ajak balik sekarang gimana?"


"..."


"Astagfirullah! Jahat bener lo, ya kali gue nyeret pacar gue sendiri."


"..."


"Iya, iya, kita balik sekarang."


Aro kemudian mematikan sambungan telfonnya, lalu memasukkan ke dalam saku celananya dan mengajakku berdiri, namun gue tolak.


"Kenapa? Kita disuruh balik lho, nanti aku diomelin lagi sama Riki, yang."


Gue mengangkat kedua bahu gue acuh tak acuh. Lalu memilih menikmati segelas es cendol gue yang tinggal setengah.


"Yang, jangan gitu dong! Nanti aku beneran kena omel Riki lho."


Aro mendesah gemas. Ekspresinya terlihat lucu, karena ia terlihat seperti sedang merengek.


"Aku sama Bang Riki, galakan mana?"


Aro berdecak sambil memutar kedua bolanya, lalu berkata, "Sama galaknya, seimbang. Nggak ada yang mending salah satunya, bikin ngeri dua-duanya pul--a. Hehe, aku cuma mau jujur, yang."


Gue kemudian langsung berdiri dan menatapnya sengit. "Jujurmu marai atiku ajor, Mas."


"Eh, apa kamu bilang? Mas? Coba kamu ulang, aku mau denger sekali lagi."


Gue berdecak kesal. "Mas!! Udah puas?" ulang gue sedikit berteriak, membuat Mas-mas penjual cendol menoleh ke arah kami.


Aro tersenyum cerah, lalu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dan langsung menyodorkan pada Mas-mas penjualnya.


"Kembaliannya buat Masnya aja, soalnya saya lagi seneng," ucap Aro lalu merangkul pinggang gue tanpa permisi.


"Yang bener, Mas?" tanya si penjual tidak percaya.


Aro mengangguk yakin, sebagai tanda jawaban.


"Alhamdulillah, semoga buat Mas sama Mbaknya segera dapet restu dari kedua orangtuanya."


"Hah?" respon gue spontan.


"Mbaknya sebenarnya mau dinikahinkan sama orangtuanya, tapi Mbaknya nggak mau. Makanya kabur sama Masnya? Begitu kan?"


Baik gue dan Aro langsung terbahak dan geleng-geleng kepala. Duh, otak Mas-masnya korban ftv banget deh.


"Eh, salah, ya?"


"Iya, Mas, salah, cuma nggak papa. Semua orang pernah salah, asal kita tidak mencintai orang salah, itu tidak masalah."


Gue langsung mencubit pinggang Aro, dan melotot tajam ke arahnya. "Apa-apaan sih, kamu ini?"


"Bercanda doang, sayang."


"Dasar kamu, ihh!"


"Kegantengan, ya?"


"Dih, narsis!"

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2