Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (33) Dapat Kejutan


__ADS_3

#####


Ting Tong Ting Tong


Gue mengernyit heran saat mendengar suara bell berbunyi. Gue berpikir sejenak, tamu dari mana coba yang datang pagi-pagi begini. Enggak sopan amat, pagi-pagi kok bertamu. Apa mungkin itu Bang Riki yang lupa bawa kunci makanya harus pake acara pencet bell.


"Lo budek, Wat? Nggak denger ada yang pencet bell?"


Gue langsung menoleh ke asal suara. Ada Bang Riki dengan penampilan kacaunya, pake celana boxer dan kaus tanpa lengan, wajahnya ditumbuhi bulu-bulu samar di sekitar rahang, rambutnya pun acak-acakan.


Gila, kemana wajah kece Abang gue? Kok sekarang berubah macem gembel gitu?


"RONALDOWATI!!!" teriak Bang Riki sambil melotot tajam, "Buka pintu sana! Ada tamu," dengkusnya kemudian.


Gue bergidik ngeri melihat penampilan dan teriakan galaknya. Tanpa menunggu lama, gue langsung berlari keluar rumah untuk membuka gerbang.


"Cari si--"


Gue enggak jadi melanjutkan kalimat gue karena terkejut dengan apa yang gue lihat sekarang. Apa gue sedang berhalusinasi sekarang ini? Atau bermimpi mungkin? Atau...


"Anggita," panggil sesosok pria yang, entah kenapa terlihat sangat mirip dengan Aro.


"Ini..."


"Iya, ini aku."


"Ini beneran kamu, Aro?" tanya gue masih nggak percaya.


"Coba peluk aja, beneran aku apa cuma halusinasi kamu." Dengan wajah tanpa dosanya, Aro merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum.


"Kok bisa?" tanya gue masih shock. Bukannya semalam gue masih disuruh nunggu, kok paginya tahu-tahu di hadapan gue aja.


"Karena kamu udah sabar nunggu, anggap saja ini hadiah," balas Aro masih setia merentangkan kedua tangannya. "Ngomong-ngomong, beneran nggak mau peluk gitu buat mastiin?" goda Aro sambil memainkan kedua alisnya naik-turun.


Wuiissh, kenaikan progress lagi. Aro udah bisa godain gue.

__ADS_1


Gue kemudian terbahak sebentar, sebelum akhirnya menubrukkan tubuh gue ke dalam pelukannya. Ah, gue suka kenyamanan ini. Kalau pun ini mimpi, plis, biarkan gue menikmati sejenak. Jangan bangunin gue dulu.


"Masuk, yuk! Nggak enak sama tetangga, masa mesra-mesraan di depan rumah," bisik Aro, membuat gue secara otomatis melepaskan diri dari tubuhnya, lalu menatapnya tajam.


"Ngerusak suasana banget sih, aku kan lagi mau kangen-kangenan sama kamu," rajuk gue dengan bibir cemberut.


Aro terkekeh lalu mengacak rambut gue gemas. "Kan bisa dilanjutin di dalam. Lagian kalau di dalam bisa lebih intim," bisiknya kemudian.


Sialan. Gue tiba-tiba merinding mendengarnya. Apaan maksudnya tadi? Kalau di dalam bisa lebih intim. Dasar cowok, pikirannya pasti harus ke arah sana.


"Ganjen."


Dengan gemas, gue langsung mencubit lengan Aro sebelum menyuruhnya masuk ke dalam rumah.


"Kamu dari Bandung banget langsung ke sini?" tanyaku, saat kami sedang berjalan beriringan menuju dalam rumah.


"Ya, enggak. Nyampe rumah Mama semalam kok. Kebetulan aku belum sebucin itu sih, yang abis perjalanan lumayan jauh langsung nemuin pacarnya."


Gue langsung cemberut. "Nggak ada manis-manisnya banget," decak gue kemudian.


Gue menghentikan langkah kaki gue dan menoleh ke arahnya, meminta penjelasan. "Eh, bentar! Tadi kamu bilang, kamu udah di rumah Mama kamu semalam? Berarti, yang semalam kamu udah di Jakarta?"


"Iya," jawab Aro seadanya.


"Iiih, jahat," rajuk gue ngambek.


"Ya, awalnya aku pikir kamu udah tahu. Eh, tahunya enggak. Ya udah, lumayan aku bisa kasih kamu kejutan pagi-pagi."


Gue nyengir bahagia lalu memeluk tubuhnya. "Makasih karena udah kepikiran," ucap gue tulus.


Aro hanya mengangguk dan mengajakku segera masuk ke dalam.


"Astagfirullah!" seru Aro tiba-tiba dan bersembunyi di belakang gue.


Gue mengernyit bingung. "Kenapa sih?" tanya gue heran.

__ADS_1


"Itu siapa?" bisik Aro sambil menunjuk ke arah sofa.


Gue langsung mengikuti arah telunjukknya dan menemukan Bang Riki dengan tampilan kacaunya, sedang menegak air mineral dari botol. Di sekitarnya sudah ada beberapa botol air mineral kosong yang berserakan.


"Itu Bang Riki."


"Kok kayak gitu?" tanya Aro seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Lagi galau. Berantem sama Vinzi mungkin. Aku juga nggak tahu, mereka berdua sama-sama aneh dan nggak mau cerita pas aku tanya."


Aro mangguk-mangguk paham dan langsung menghampiri Bang Riki, gue mengekor setelahnya.


"Lo kenapa, Rik? Gitu banget mukanya, kusut banget."


"Kalau mau pacaran sana, pergi jauh-jauh, jangan deket-deket gue! Gue mau mabok," racau Bang Riki seolah-olah sedang mabuk beneran.


"Pake aer mineral banget, Bang, mabuknya? Kalau mau mabuk itu ya, minimal minum Vodka kek, Wiskey, atau Brandy dong. Masa cuma air mineral, payah!" ejek gue, yang sukses membuat gue dapat pelototan mata tajam dari Aro.


"Kok kamu tahu nama-nama alkohol?" tanya Aro dengan kedua mata menyipit curiga. "Kamu suka minum?"


"Ya, enggaklah, minum Sprite aja mabuk, apalagi minum alkohol yang begituan," kelakar gue dengan tawa sumbang.


"Kok nggak aku nggak percaya," sahut Aro masih menatap gue curiga.


"Air mineral lebih sehat dan murah ketimbang alkohol," ucap Bang Riki tiba-tiba, lalu bangkit berdiri.


"Mau kemana?"


"Indomaret. Beli Aqua."


Aro menoleh ke arah gue. "Aku temenin Riki, ya. Kayaknya dia butuh temen curhat deh."


Mau nggak mau akhirnya gue mengangguk dan membiarkan Aro menyusul Bang Riki.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2