Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (50) Baikan


__ADS_3

#####


"Gi," panggil Bang Riki.


Gue langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan galak. "Apa?!" semburku kemudian.


"Ya elah, Gi, gini-gini gue tetep Abang lo. Lo kalau lagi marahan sama Aro tapi belum bisa nyembur orangnya langsung, ya jangan dilimpahin ke gue dulu dong. Nggak nampung yang yang begitu-begituan," keluh Bang Riki kemudian.


Gue memilih mengabaikan dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Gue memilih bangku penumpang bagian belakang karena malas mendengar ceramahnya.


"Enak aja, lo pikir gue supir lo," sembur Bang Riki galak, ia kemudian langsung membuka pintu mobil dan nenyuruhku keluar, "keluar lo!" teriaknya emosi.


"Enggak. Lo berisik, Bang, gue males denger nyanyian lo," balas gue kembali menutup pintu.


Bang Riki mendengkus sambil berkecak pinggang, wajahnya sedikit terangkat. Ia kembali membuka pintu. "Keluar sendiri atau gue seret. Pindah depan atau lo berangkat sendiri. Pilih sendiri!" Bang Riki menyilangkan kedua tangannya di depan dada, memandangku sengit.


Gue berdecak pasrah. Sekarang lagi tanggal tua, mana mampu gue berangkat kerja sendiri. Duit ngepres kalau akhir bulan. Dengan ekspresi wajah tidak rela, gue akhirnya turun dan pindah ke depan.


"Numpang aja belagu," cibir Bang Riki saat gue keluar dari mobil.


Setelah memastikan gue masuk ke dalam mobil dengan benar, baru ia masuk setelahnya.


"Makanya jangan macem-macem lo sama gue. Nyaho kan?"


"Tauk, ah," balas gue judes.


Bang Riki menghela napas pendek. Menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobil meninggalkan halaman rumah.


Suasana mendadak hening beberapa saat, sebelum akhirnya Bang Riki berceletuk, "Kemarin hapenya mati, Wat, lupa ngecas dia, makanya nggak bisa lo hubungin."


"Udah tahu," balas gue ketus.


"Kalau udah tahu kenapa masih ngambek, Anggita? Astaga, astagfirullah, gini amat deh gue punya adek satu. Susah banget dibilanginnya."


Gue langsung menatapnya garang. "Ya, gue kesel, Bang."


"Kesel kenapa? Gara-gara foto kemarin?"


"Iya, lah, mana masuk akun berlambean lagi," gerutu gue makin kesal.


"Astaga, kan semalem Nabila udah kasih klarifikasi kalau dia nggak ada hubungan apa-apa sama Aro. Lo posesif banget sih jadi cewek?"


"Tahu dari mana lo?" tanya gue heran.


Bang Riki bukan tipekal yang kurang kerjaan hingga akan rela menghabiskan malamnya untuk stalking akun seseorang. Apalagi hanya akun selebgram yang tidak berurusan langsung dengannya.


"Coba lo cek, deh!" perintah Bang Riki.


Mau tak mau, gue akhirnya mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Lalu mencari-cari akun milik Nabila Afsheen.


"Gimana? Udah percaya?"


Gue langsung menoleh ke arah Bang Riki dengan ekspresi takjub. "Kok bisa?" tanya gue terheran-heran.


"Iya, bisa, gue nge-DM dia."


"Apa?!" teriak gue spontan.


Bang Riki berdecak sambil mengusap telinganya. "Nggak usah teriak, gue masih mau denger anak gue panggil gue Papa. Masih pengen denger bini gue--"


"Coba ulangi kalimat lo yang tadi!"


"Kalimat yang mana?" tanya Bang Riki, "yang, kalau gue masih pengen de--"


"Bukan," sahut gue cepat.


"Terus?"


"Yang sebelumnya."


Bang Riki malah garuk-garuk kepalanya. "Yang... gue nge-DM Nabila Afsheen?"


"Lo serius?"


"Emang wajah-wajah innocent kayak gue begini, ada bakat-bakat bercanda?"


Gue menatap Bang Riki malas.


"Ya, ada sih," sambung Bang Riki tiba-tiba, "cuma gue sekarang nggak lagi pengen bercanda kok. Nih, kalau lo nggak percaya, bisa dicek sendiri," kata Bang Riki sambil mengeluarkan ponselnya dari saku kantungnya.


Dengan wajah wajah penasaran, gue langsung merebut ponsel Bang Riki.


"Biasa aja, keleus," sindir Bang Riki.


Gue tidak peduli. Lebih memilih untuk fokus mengutak-atik ponsel Bang Riki. Betapa terkejutnya gue saat menemukan riwayat Direct message yang sempat Bang Riki kirimkan. Bang Riki benar-benar mengirim pesan untuk Nabila Afsheen. Astaga, kok bisa?


"Bang," panggil gue, masih sedikit tidak percaya sekaligus tidak menyangka.


Namun, dengan wajah soknya Bang Riki malah berkata, "Iya, gue emang keren sih. Kalau gue bukan Abang lo, lo pasti langsung jatuh cinta sama gue."


Gue memutar kedua bola mata datar. Ingin sekali gue mengumpatinya, namun, berhubung dia sudah berbuat baik, ya udah, umpatannya gue tahan dulu untuk beberapa menit ke depan.


"Rese lo, Bang, perusak suasana number wahid. Gue kesel sih, pengen ngumpat, tapi, gue tahan deh. Makasih Abangku sayang. Bulan ini gue mau ditransfer duit dong," kedip gue genit.


"Lah, kok malah ngelunjak?"


"Nggak papa, sama adek sendiri ini," cengir gue sambil memainkan alis naik-turun.

__ADS_1


Bang Riki mendengkus. "Adek sialan lo! Makanya buruan kawin lo, nikah! Biar ada yang transfer tiap bulan, nggak harus LDR-an juga kan lo."


"Ah, malesin lo, Bang," rajuk gue bete.


"Emang kenapa sih? Nikah itu enak, Wat. Apa-apa bisa berdua--"


"Lo pup bareng istri lo, Bang?"


"Astagfirullah!" seru Bang Riki sambil menatap gue galak, "jorok banget deh, masa iya, begituan yang lo tanyain."


"Lo bilang apa-apa bisa berdua," balas gue cuek.


"Ya, tapi kan nggak... pu--astaga! Punya adek satu kok begini amat. Udah tungguin aja, nanti malem Aro juga ke Jakarta, lo nggak usah galau. Tungguin aja! Nggak usah mikir dan ngomong aneh-aneh kayak barusan," ucap Bang Riki frustrasi.


Gue hanya meliriknya sambil terkekeh geli. Maksud gue tadi kan, juga cuma bercanda, kenapa responnya begitu banget deh. Heran gue.


"Makan apa sih lo tadi? Perasaan sama kayak yang gue makan deh."


"Beda."


"Beda apanya? Orang kita tadi sarapan nasi goreng Vinzi."


"Gue makan ati juga, Bang."


"Bodo amat," balas Bang Riki ketus.


#####


Malam harinya, Aro benar-benar datang ke Jakarta dan ke rumah. Wajahnya terlihat letih, lengan kemeja panjang yang digulung hingga siku, tapi masih terlihat rapi.


"Hai," sapa Aro sambil melambaikan sebelah tangannya kaku.


Gue hanya meliriknya sekilas, lalu pura-pura sibuk menonton televisi.


"Duduk, Ar, minta dirayu itu. Tapi ngerayunya nanti aja, sekarang duduk dulu, minum-minum dulu gitu. Abis perjalanan jauh pasti capek," ucap Bang Riki sambil menunjuk sofa.


Aro kemudian duduk di sofa single dekat denganku. "Aku ke sini mau minta maaf."


"Lo baru nyampe langsung ke sini, Ar?" celetuk Bang Riki tiba-tiba, padahal tadi gue baru mau bersuara, membalas ucapan Aro.


Emang, ya, ini Abang gue tuh, selalu sengaja bikin gue kesel begini.


Tanpa menoleh ke arah Bang Riki, dan masih fokus menatap gue, Aro mengangguk.


"Bucin amat lo, Ar. Putus aja deh kalian, nggak cocok--"


"Bang Riki!!" seru gue menatap Bang Riki galak.


Sedangkan Bang Riki hanya tersenyum mengejekku. "Kenapa, nggak terima? Kalau nggak mau diputusin, ya, jangan ngambekan mulu dong."


"Rik, jangan ngerecok dulu, oke? Ini gue lagi usaha biar malem ini gue bisa tidur nyenyak." Aro menoleh ke arah Bang Riki dengan wajah memelasnya. Ia kemudian sedikit menjauhkan wajahnya dariku. "lagian lo nggak lihat, gue yang langsung ke sini abis dari restoran Gani yang ada di Bandung, cuma disuguhi wajah judes. Gimana kalau gue pulang dulu, bisa-bisa digantung gue," bisiknya kemudian, namun masih terdengar cukup jelas di telingaku.


Bang Riki dan juga Vinzi hanya terkekeh, sedang gue. Gue sudah mengubah ekspresi gue menjadi semakin galak.


Aro mencengir lalu meraih telapak tanganku. "Udahan dong ngambeknya, aku kan udah di sini. Udah minta maaf juga, kan aku udah jelasin juga kenapa kemarin nggak angkat telfon dari kamu karena hapeku lupa nggak aku cas. Pulang dari Resto langsung ke rumah sakit, nggak sempet buat ngecas hape dulu. Pulang dari RS--"


"Eh, siapa yang sakit?" sela Bang Riki memotong kalimat Aro.


"Istri Gani, si Anya melahirkan."


"Eh, udah lahiran?" tanya Bang Riki.


Aro mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Cewek apa cowok?"


"Cowok."


"Mirip siapa?"


"Belum tahu gue. Belum lihat."


"Besok jenguk, yuk, mumpung minggu," ajak Bang Riki tidak tahu tempat.


Ck. Gue jadi dicuekin.


"Gampang, bisa diatur."


"Niat kamu ke sini tadi mau ngapain sih, Ar?" tanya gue sewot.


"Kok mau ngapain? Ya, jelas baikan sama kamu lah."


"Terus kenapa aku malah dicuekin, terus kamu malah ngobrol sama Bang Riki?"


"Makanya, Gi, Aronya jangan dicuekin terus dong," sahut Vinzi dengan wajah menyebalkannya.


Gue semakin cemberut dan akhirnya memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan mereka. Tak lama setelahnya Aro menyusul gue.


"Yang, asli aku itu lagi capek banget, pengen rebahan. Kamu udahan dong ngambeknya, plis!" bujuk Aro, "jangan bikin aku frustrasi. Aku bingung harus ngapain. Serius, jangan diem aja."


Seketika, iman gue lemah. Apa lagi melihat wajah lelahnya. Gue jadi semakin tidak tega. Gue kemudian merentangkan kedua tanganku, bermaksud untuk mengintruksi agar Aro memelukku. Namun, bukannya segera memeluk gue, Aro malah menaikkan kedua alisnya. Terlihat sekali kalau ia sedang bingung.


"Apa sih?" tanya Aro masih belum paham.


Gue mendesah gemas. "Peluk, Ar. Peluk! Aku butuh kamu peluk sekarang," seru gue frustrasi.


Dengan wajah menyebalkannya, Aro malah tersenyum menggoda gue, sebelum akhirnya maju dan memelukku. "Tinggal bilang pengen dipeluk aja pake acara ngambek segitunya. Bikin takut tahu nggak kamu ini."

__ADS_1


"Kamu yang bikin aku takut," balas gue sambil mengeratkan pelukanku.


Aro merenggangkan pelukannya. "Kenapa kamu yang takut?" tanyanya keheranan.


Gue menggeleng, lalu kembali memeluk Aro.


"Aku bikin ulah, ya, yang bikin kamu kesel?"


Mau tak mau, gue akhirnya menangguk.


"Apa itu?"


"Foto kamu sama Nabila Afsheen sempet masuk akun perlambean."


"Hah? Apaan itu? Aku nggak paham."


Gue menatap Aro datar. "Nggak usah dibahas, males aku."


"Emang apaan sih? Aku penasaran deh."


"Kamu tanya sekali lagi, aku ngambek, ya, Ar," ancam gue kesal, dan untungnya membuat Aro langsung menggeleng tegas.


"Oke, aku nggak tanya lagi."


"Sip," kata gue sambil mengacungkan kedua jempolku.


Aro hanya tersenyum lalu mengangguk. Kemudian mencium keningku.


####


Pagi harinya kami langsung berangkat ke Bandung untuk menjenguk bayi Mas Gani.


"Kamu udah move on kan dari Gani?" celetuk Aro tiba-tiba.


Gue yang tadinya sedang sibuk mengunyah sambil memperhatikan jalanan dari kaca mobil, kini langsung menoleh ke arah Aro dengan pandangan bingung.


Apa tadi katanya?


"Tadi kamu tanya apaan? Aku kayaknya salah denger deh."


Aro langsung berdecak. "Kamu udah move on dari Gani kan," ulangnya kemudian.


Dahi gue mengkerut tanpa bisa dicegah. Maksud Aro apaan sih?


"Kenapa tanya begitu?"


"Kepo," jawab Aro seadanya.


Gue mendengkus lalu memasukkan keripik kentang ke dalam mulut Aro. Meski terlihat sedikit enggan dan ingin protes, ia tetap mengunyah.


"Aku kalau belum move on dari Mas Gani, nggak bakalan sudi kamu pacarin, Ar. Pacaran sama kamu itu sering makan ati, kalau bukan karena sayang, udah aku putusin kamu entah dari kapan hari," ucap gue, kembali menyodorkan kripik kentang ke mulut Aro, yang kali ini ditolak.


"Udah, kamu aja yang makan. Aku udah kenyang."


"Kripik dua biji begini nggak bikin kamu tambah kekenyangan, Ar."


"Kamu kenapa manggil Gani, pake embel-embel Mas, sedangkan sama aku enggak. Padahal kita seumuran," gerutu Aro.


"Ini serius kita mau bahas ini? Kita baru baikan kemarin kan?" balas gue sedikit kesal, "lagian, aku pernah bilang kan alesannya."


"Apa? Karena aku lebih spesial?"


"Itu inget."


Aro hanya mendengkus, seolah tak percaya. Lalu ia tak bersuara lagi dan lebih memilih untuk fokus menyetir, sehingga tahu-tahu kami sampai di rumah sakit.


"Langsung masuk, yuk!" ajak Aro sambil merangkul pundakku.


"Nggak nunggu Bang Riki dulu?"


"Nanti biar nyusul. Kalau nyasar nanti aku jemput," kata Aro meyakinkan gue.


Mau tak mau gue akhirnya hanya mampu mengangguk pasrah, dan menurut pada Aro. Kami berjalan beriringan, sesekali kami melempar candaan, menggoda, dan bahkan saling mengejek. Sampai akhirnya gue tak sengaja menabrak seorang perempuan.


"Astaga, Maaf, Mbak, maaf! Saya tidak sengaja," ucap gue penuh penyesalan. Beberapa kali gue menunduk karena perasaan bersalah.


Si perempuan itu tersenyum lalu mengangguk. "Tidak masalah, saya juga salah karena kurang memperhatikan jalan. Saya juga minta maaf."


Gue memperhatikan penampilan perempuan yang sempat gue tabrak tadi. Gila! Cantik banget, cuy. Penampilannya elegan dan juga menawan. Seketika, gue merasa minder karena berada di dekatnya. Buset, pake skincare apaan, ya, ini Mbak-mbaknya, cantik banget.


Eh, tunggu, sepertinya ada yang aneh.


Gue melirik Aro, lalu melirik Mbak-mbaknya, kemudian kembali melirik Aro. Loh, kok mereka tatap-tatapan kayak orang kenal? Apa mereka saling kenal?


"Hai, Ar, sudah lama tidak bertemu," sapa si Mbak-mbaknya dengan senyuman super manisnya.


Loh, kok dia tahu nama Aro? Mereka saling kenal? Apa jangan-jangan ini salah satu mantan Aro? Kalau iya, udah jelas gue kalah telak.


**Tbc,


hah, siapa itu perempuan? apakah benar mantan pacar Aro? πŸ€”πŸ€”πŸ˜―πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜±


biasa aja, Thor! πŸ˜ͺ


πŸ™„πŸ˜† haha, gk bakat saya bikin kalian penasaran, ya? ya udh. tetep semangat deh buat kalian semua. semoga gk bosen bacanya. yg katanya lembur kerja akhir tahun, terus yg lagi sibuk bikin target list buat target tahun depan. semangat, ya, semoga targetnya tercapai semua. aamiin. udah segini aja, gk usah bikin A/N panjang2, takutnya nanti kalian males πŸ˜†πŸ˜‚


see you next part πŸ€—πŸ˜πŸ˜—πŸ˜™πŸ˜˜πŸ˜šπŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2