Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
(not) Perfect Couple : {22} Memulai Hidup Baru


__ADS_3

######


Akhirnya, setelah dibujuk Ibu gue dan Aro memutuskan untuk mengambil penerbangan hari ini. Sebelum memutuskan untuk menetap di rumah kami yang berada di Jakarta, kami ke Bandung terlebih dahulu. Kalau dipikir-pikir kasian juga Aro kalau harus membereskan barang-barang kami yang ada di apartemennya sendirian meski berat, gue memutuskan untuk ke Bandung dahulu.


"Yakin kamu mau ikut ke Bandung dulu? Nggak langsung ke Jakarta aja? Kalau cuma beresin barang-barang kita, aku sendiri juga bisa lho, sayang. Kamu nggak usah ikut."


Suami gue itu emang kadang-kadang lucu. Orang jelas-jelas kami sudah ada di bandara tinggal menunggu waktu keberangkatan saja. Masih aja ditanya begitu. Kebetulan Ibu sudah pulang sekitar lima belas menit yang lalu. Gue yang menyuruhnya, karena nggak tega membiarkan Ibu menunggu kelamaan.


"Ar, kita tinggal nunggu waktu keberangkatan, nggak usah aneh-aneh deh. Iya, aku yakin kok. Nggak baik juga kalau harus lari dari kenyataan terus. Aku harus berani hadapi. Lagian kan ada kamu, jadi semua pasti akan baik-baik saja. Bukannya gitu?"


Aro terkekeh lalu mengangguk, lengkap dengan dua acungan jempolnya. "Istriku sekarang makin pinter ya," pujinya kemudian.


Gue tertawa sebentar lalu pura-pura memasang wajah cemberut. "Jadi kemarin-kemarin aku bodoh?"


Aro menjepit hidung gue gemas, lalu menggerutu, "Aku bilang 'makin' pinter," ulangnya penuh penekanan pada kata makin, "kalau makin itu artinya dulu udah pinter. Paham?"


Gue meringis malu. "Iya, juga ya."


Aro kembali menjepit hidungku. "Uuu, dasar. Butuh Aqua apa butuh kasih sayang nih?" godanya sambil menyenggol pundakku pelan.


"Butuh kamu," balasku membuat Aro terbahak.


"Dasar," decak Aro sambil memasang wajah pura-pura kesal, meski demikian ia tetap merangkul pundakku dan memberi kecupan pada pelipisku. "Ah, mendadak aku pengen cepet-cepet sampai rumah," gumannya tiba-tiba.


Gue mengerutkan dahi. Apa itu maksudnya barusan?


"Kenapa?" tanya Aro sambil mengendurkan rangkulannya.


Gue berkedip dan menggeleng. "Bukannya harusnya aku yang tanya begitu. Kamu kenapa pengen cepet-cepet sampai rumah."


"Oh."


"Cuma oh?"


"Enggak papa."


Aneh. Batinku sambil geleng-geleng kepala.


######


"Istirahat dulu, Ar. Packingnya bisa besok lagi," kataku menyuruh Aro untuk istirahat lebih dahulu. Pasalnya kami baru saja tiba di apartemen sekitar sepuluh menit yang lalu. Dan sekarang ia sudah sibuk untuk mencari kopernya.


"Lebih cepat lebih baik."


"Mana ada. Aku capek lihatnya. Ayo, istirahat dulu. Baru besok packingnya. Kayak nggak ada hari esok aja," gerutu gue sambil berdecak.

__ADS_1


Aro ini terlalu antusias atau bagaimana sih. Begitu banget.


"Emang kamu nggak papa?"


Sebelah alisku terangkat. "Maksudnya?" tanyaku tak paham.


"Di apartemen kan kamu punya lumayan banyak kenangan masa kehamilan kamu. Aku takut kamu keinget terus sedih, sayang. Makanya aku pengen--"


"I will gone be fine, sayang. Kamu jangan terlalu khawatir. Kamu nggak liat betapa baik-baik saja-nya aku?"


Aro mengangguk dengan wajah yang tidak bisa kutebak.


"Hei, kenapa?"


Gue turun dari ranjang dan menghampiri Aro, yang kini tengah duduk di lantai sambil memegang kopernya.


Aro menggeleng. Buru-buru ia mengganti ekspresi sedihnya dan tersenyum lebar. "Kamu pengen nyemil sesuatu dulu nggak? Masak, yuk!" ajaknya mengalihkan pembicaraan.


Gue tersenyum, mencoba memakluminya dan mengangguk. "Mau bikin apa emang? Kita nggak punya cukup bahan lho."


Sekali pun di dalam kulkas masih ada sesuatu untuk diolah. Tapi gue yakin semua itu sudah tidak cukup layak untuk dimasak. Karena kemarin kami meninggalkan apartemen untuk waktu yang cukup lama. Dan benar saja, begitu selesai membongkar isi kulkas, satu-satunya yang masih bisa dimasak hanya telur.


Gue tertawa. "Mau bikin cemilan apaan dari telur?"


Aro berpikir keras. Gue diam memperhatikannya. Setelah selama beberapa saat sama-sama terdiam, Aro membuka suara.


"Gado-gado," jawabku spontan.


Aro melotot tidak setuju. "Bahannya cuma telur dan kamu pengen aku bikin gado-gado? Jangan bercanda dong, sayang. Aku cuma Koki bukan penyihir," ujarnya sewot.


Gue tertawa. "Aku juga nggak minta kamu bikin itu, Ar."


"Lha terus?"


"Turun, yuk, cari sendiri. Sambil jalan-jalan gitu, biar kayak orang pacaran," ajak gue mendadak antusias.


"Enggak pesen Go-Food aja?" tawar Aro terlihat enggan. Mungkin ia sedikit malas untuk keluar di saat cuaca sedang lumayan panas begini.


"Jangan mageran," paksaku sambil menarik lengannya.


Aro tampak sedikit ogah-ogahan, namun tetap pasrah. "Iya, bentar dulu dong. Aku ganti dulu."


Gur berhenti menarik lengan Aro dan menatapnya bingung. "Ganti apa?" tanyaku heran.


"Baju sama celana."

__ADS_1


Gue mengibaskan sebelah tanganku. "Enggak usah. Pake ini aja, kayak mau kencan atau cari cewek aja. Udah, sana ambil dompet aja."


"Ya, emang kenapa? Ganteng kok. Nanti kalau ganti cuciannya malah banyak."


"Emang mau nyari di mana sih?"


"Ya, sekitar sini aja kalau nemu. Kalau enggak?"


"Jajan di indomaret," jawabku cepat.


"Mau jajan apaan di indomaret?"


Astaga, banyak tanya banget sih suami gue.


"Ya apa aja lah, Ar. Udah deh, sana ambil dompet," suruh gue sambil berdecak gemas.


Aro tampak seperti enggan, namun akhirnya ia tetap melangkah pasrah masuk ke kamar dan mengambil dompetnya. Tak lama setelahnya ia keluar sambil memainkan kunci mobil yang ia lempar ke udara dengan pelan dan pendek.


"Nggak usah bawa mobil," komentarku.


"Buat jaga-jaga. Aku males kalau seumpama nanti kamu suruh naik tiba-tiba. Mending bawa sekalian buat jaga-jaga. Nggak berat juga kok di kantong, itu celana kamu ada kantongnya enggak? Kalau ada kamu aja yang bawa."


"Enak saja," responku tidak setuju, "kalau mau bawa kunci cuma mobil buat jaga-jaga, mending bawa sendiri. Aku nggak mau."


Aro mengangguk tak masalah dan merogoh sakunya, lalu mengeluarkan dompet dari dalam sana.


"Nitip dompet kalau gitu."


Gue berdecak lalu menggeleng. "Nggak usah bawa kunci mobil, Ar. Kita cuma mau turun ke bawah, nggak pergi ke mana-mana kok. Ngapain bawa kunci mobil segala sih. Bikin ribet."


Aro memajukan bibirnya sedikit lalu mangguk-mangguk. Lalu akhirnya ia pasrah dan meletakkan kunci mobilnya di atas meja.


"Taruh aja sembarangan! Biar nanti pusing yang nyariin," sindirku agak kesal.


"Kan biasanya emang suka ditaruh sini, sayang. Kamu aja yang suka mindahin."


"Ya emang menurut kamu pantes gitu kunci mobil di taruh meja? Bikin rapi?"


"Iya, iya, aku pindah ke kamar. Bawelnya kumat," gerutu Aro sambil berjalan masuk ke dalam kamar. Gue hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Dasar laki-laki!


"Udah. Sekarang apa lagi?"


"Ya, berangkat emang apa lagi."


Tbc,

__ADS_1


ku bagi jdi dua part ya, bentar. tungguin. tinggal dipost kok, tpi bentar dulu😂


__ADS_2