
Hubungan gue sama Bang Riki masih merenggang sampai detik ini. Gue nggak ngerti dengan jalan pikirnya, sedangkan Bang Riki sendiri nggak mau ngertiin perasaan gue. Sebenernya, gue juga agak bingung sih, di sini siapa yang salah dan siapa yang benar. Meski pada kenyataannya tetep nggak ada yang salah atau benar sih, ini kan tentang sudut pandang masing-masing.
"Masih belum baikan?"
Gue memilih untuk mengabaikan pertanyaan Vinzi, saat melihat wajahnya terlihat bersinar, setelah mengantarkan seorang klien penting, membuat gue langsung menebak kalau ia baru saja mendapatkan uang tip.
"Gede, ya?"
Vinzi mengernyit heran. "Apanya? Orangnya? Iya, sih, badannya gede tinggi terus ganteng. Cuma ya, gue tetep nggak tahu 'punya' dia itu gede apa enggak. Meski katanya, kalau kebanyakan bule emang anu-nya ge--"
Tanpa menunggu Vinzi menyelesaikan kalimatnya, gue langsung menonyor dahinya gemas. "Gue nggak tanya begituan, kampret!" umpat gue kesal.
Dengan wajah sok polosnya, Vinzi malah menerjap bingung. "Terus lo nanyain apaan dong?"
"Duit tip, Zulkifli!"
Vinzi ber'oh'ria sambil menggaruk tengkuknya. "Ya, sorry, gue nggak tahu. Lo sih, nggak jelas juga."
"Otak lo yang kotor, pake nyalahin ora--"
"Permisi, Mbak!"
Gue langsung menghentikan obrolan kami, dan menyambut seorang tamu dengan stelan jas mahalnya. Masih muda, cuyy. Ganteng pula. Pengen gue panggil Mas atau sayang sih, cuma, berhubung dilihat dari stelan jasnya, jadi gue kudu puas manggil Pak.
"Iya, ada yang bisa kami bantu, Pak," tanya gue.
"Saya belum setua itu untuk dipanggil Pak," kata pria itu, terlihat sedikit tersinggung.
Gue mengernyit heran. Kok kayaknya mukanya mulai agak familiar?
"Sudah inget sepertinya," kekeh pria itu tiba-tiba.
"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Pria itu mengangguk yakin, sementara gue kebingungan. Di mane gue pernah ketemu pria ganteng begini, tapi nggak gue inget-inget. Rugi banget, cuyy.
"Lo kenal?" bisik Vinzi tiba-tiba.
Gue menoleh ke arahnya lalu menggeleng tak yakin. Emang kayak familiar sih, tapi gue tetep nggak inget gitu lohh. Gimna dong? Boleh telfon teman nggak sih, biar tahu jawabannya. Eh, temen gue kan lagi di samping gue, ya. Kalau gitu, telfon orang rumah...
"Belum inget?" tanya pria itu, tanpa sungkan memamerkan senyum cerahnya.
__ADS_1
Dalam hati gue mengumpat kesal. Ini orang sok asik, sok misterius banget sih. Untung ganteng, coba kalau enggak.. beuhhh, udah pasti gue...
"Saya pria yang di mall kemarin," celetuk pria itu tiba-tiba.
Gue menerjap bingung. Pria yang di mall kemarin??
Gue mengangkat wajah gue, menatapnya sekali lagi. Membuat pria itu mengangguk.
"Saya Prasta Wijaya," kata pria itu yang kini justru malah memperkenalkan diri secara tiba-tiba. Tangan kanannya terulur, bermaksud mengajak gue bersalaman. Namun berhubung gue lagi masih agak dalam proses loading, ya, gue anggurin itu tangan. "kok malah bengong?"
"Eh?"
Gue tersadar lalu menjabat tangan pria yang memperkenalkan diri bernama Prasta itu.
"Gue... eh, maksudnya saya Anggita. Anggita Rahmawati."
"Lo-gue juga nggak masalah kalau kamu lebih nyaman begitu."
Gue meringis, lalu mengangguk ragu.
"Malah godain cewek. Ayo, kita udah ditunggu Mr. Lucas nih."
Gue melongo sesaat karena tiba-tiba ada pria yang ngomel-ngomel pada pria yang tadi memperkenalkan diri sebagai Prasta.
Prasta mendengkus samar, lalu menggerutu pelan, sebelum akhirnya berpamitan pada gue.
"Gue duluan, ya, udah dicariin. Nanti kita tukeran nomor hape. Oke?"
Pria itu mengedipkan sebelah matanya sebelum berjalan menjauhi gue. Lalu secara tiba-tiba Vinzi menyenggol lengan gue sambil bercie-cie nggak jelas.
"Ganteng, ya."
Gue mengangguk setuju.
"Mendadak gue tiba-tiba punya ide," celetuk Vinzi dengan ekspresi sok seriusnya.
Perasaan gue nggak enak nih.
"Kenapa ekspresinya gitu?"
"Gue yakin lo mampu nebak sih," ujar Vinzi, masih dengan ekspresi sok seriusnya tadi.
__ADS_1
Gue memutar kedua bola mata gue sambil mendengkus. "Nggak usah kayak main kuis deh. Tebak-tebakan segala. Ngomong, ya ngomong aja," gerutu gue dengan wajah kesal.
Vinzi nyengir lalu berbisik, "Udah saatnya lo move on."
"Hah? Maksudnya?"
Vinzi berdecak gemas. "Gue rasa cowok ganteng tadi naksir lo deh."
"Ngaco!" sahut gue cepat sambil menggeleng tak habis pikir. Gue sama cowok tadi baru ketemu dua kali, ya kali itu cowok udah naksir gue. Gila aja si Vinzi ini.
"Loh, lo nggak denger dia tadi itu cowok minta tukeran nomor tadi."
"Dengeri, Zi, gue belum budek."
"Nah, kalau lo denger, kenapa lo mikir gue ngaco?"
"Serah lo, Zi."
Gue pasrah ngadepin Vinzi. Nyerah deh.
"Lho, cowok ganteng tadi itu minta nomor lo secara nggak langsung, Ta. Itu tandanya--"
"Bisa aja dia sales yang mau nawarin dagangannya," celetuk gue asal, memotong ucapannya. Daripada makin ngaco omongannya.
"Iiih, lo patah hati kok jadi nggak peka gini sih," gerutu Vinzi kesal.
"Apaan sih, nggak nyambung banget."
Vinzi berdecak sekali lagi, "Gue kasih tahu ya--"
"Bodo amat, Zi. Gue nggak perduli," potong gue mulai kesal.
"Loh, gue cuma pengen bantuin ini lho, mumpung ada sesosok potensial yang kayaknya naksir lo--"
"Move on nggak segampang itu, Zi. Jatuh cinta lagi itu bukanlah obat untuk patah hati, tapi mengikhlaskan adalah obat terbaik patah hati."
Vinzi diam sejenak, menatap gue ragu. Lalu secara tiba-tiba ia memeluk gue.
"Mungkin ini berat, tapi percayalah gue akan selalu ada buat lo. Jangan ngerasa sendiri, oke?"
Gue tersenyum lalu mengangguk setuju. Lalu membalas pelukannya.
__ADS_1
Tbc,