
#####
Kehamilan Anggita sudah hampir memasuki bulan ke tiga, ia masih mengalami morning sick seperti orang hamil pada umumnya. Bahkan kadang hal ini tidak hanya terjadi di pagi hari, kapan pun kalau indera penciumannya menangkap aroma yang tidak berkenan biasanya ia akan langsung mual-mual, atau bahkan muntah. Hal ini sering kali membuatku tak tega melihatnya.
Apalagi Anggita termasuk yang tidak bisa diam setelah positif hamil. Iya, ini memang aneh. Dulu sebelum hamil ia termasuk tipekal yang sedikit pemalas kalau kusuruh. Tapi kalau sekarang malah sebaliknya, saat kusuruh duduk diam saja ia malah bersikeras ingin melakukan sesuatu.
Seperti sekarang ini. Tadi pagi-pagi sekali begitu kami bangun tidur, ia meminta untuk ditemani pergi ke pasar. Dan setelah kami tiba di pasar ia hanya membeli usus ayam tanpa yang lain, saat kutanya untuk apa. Anggita menjawab ingin makan usus goreng crispy buatannya sendiri. Ia bahkan menegaskan kata buatannya sendiri. Hal ini tentu saja sedikit melukai harga diriku.
"Tanpa bantuan aku?"
"Ya, enggak dong. Kamu tetep bantuin."
"Kenapa nggak aku sekalian yang bikin? Kamu nggak percaya masakan aku?"
"Bukan begitu, tapi anak kamu kayaknya pingin Mama-nya belajar memasak," balas Anggita saat kuprotes.
Sebenarnya bagus sih, Anggita jadi banyak belajar dan tidak melakukan kegiatan monoton setiap harinya. Tapi yang jadi masalah adalah kondisi Anggita sering kali tak bisa diajak kerja sama. Seperti mendadak mual setelah kami pulang dari pasar, lalu saat dia harus mencuci usus yang dibelinya pun dia sampai mual-mual lagi. Tapi meski sudah begitu, Anggita jarang kapok. Setelah sudah tidak mual lagi, ia pasti akan melanjutkannya kembali. Meski sudah kulanjutkan pekerjaannya itu.
"Aku aja yang bikin kenapa sih?" decakku gemas.
Serius. Aku benar-benar tidak tahan melihat Anggita yang begini. Ini benar-benar siksaan berat. Lebih baik Anggita ngidam pengen makanan aneh-aneh dari pada begini. Aku tidak tahan.
"Enggak papa. Aku udah mulai terbiasa kok sama mualnya. Makin hari udah nggak seberat pas awal-awal."
Astaga, hatiku rasanya ngilu mendengar Anggita berbicara begitu. Dia sudah terbiasa dengan rasa mualnya, yang bahkan sering kali berujung memuntahkan makanannya. Kalau begini aku semakin terlihat seperti suami yang tidak berguna. Dan lucunya aku justru merindukan sifat manja dan kadang menyebalkannya itu.
"Kenapa harus begini banget sih?" gumanku sedih.
Anggita tersenyum sambil memainkam jari-jemariku. Sebelah tangannya yang menganggur kemudian menarik kepalaku untuk disandarkan pada pundaknya.
"Nggak usah sedih gitu, kan kalau dikerjain bareng-bareng jadi lebih enak."
"Kenapa kamu nggak ngidam yang aneh-aneh aja sih? Kalau begini aku tuh nggak tahan liatnya, sayang. Kasian kamu, kayaknya tuh menderita banget," rengekku frustasi.
Anggita tersenyum. "Aku pengen sesuatu, tapi pengen bikin sendiri aja menurutku itu aneh lho, Ar."
Benar juga sih. Ini juga termasuk yang aneh. Anggita ngidamnya ingin makan sesuatu yang ia masak sendiri, meski sebenarnya bisa dibilang aku juga yang membuatnya, Anggita hanya membantu. Kalau begini bukankah jelas lebih efektif kalau hanya aku sendiri yang mengerjakannya, Anggita tinggal duduk manis. Nggak perlu ngerasa mual atau capek-capek. Seajaib-ajaibnya kelakuan ibu hamil, aku rasa Anggita terlalu ajaib.
Aku kemudian meraba perut Anggita. "Sayang, kamu nggak kasian sama Mama? Nanti deh kalau kamu udah lahir Papa janji bakalan ajarin Mama kamu masak sampai pinter. Tapi untuk sementara waktu biar Papa sendiri ya, yang urus makanan yang kamu pinginin. Oke? Bantuin Papa dong, sayang, jangan begini."
"Ar," panggil Anggita tiba-tiba.
"Hmm."
"Kamu tersiksa banget ya, aku recokin kalau masak sesuatu?"
Aku menghela napas sambil menggeleng. "Bukan itu, cuma nggak tega aja gitu lho liat kamu mual-mual terus."
"Jadi kalau aku pengen sesuatu tinggal minta kamu? Aku nggak usah bantuin?"
Tanpa keraguan sedikit pun, aku langsung mengangguk membenarkan.
"Iya, emang harusnya begitu kan?"
"Kasian kamu dong nanti. Udah capek-capek kerja masih harus nurutin kemauan aku."
Aku mendengkus samar. "Lebih capek liat kamu mual-mual setiap waktu," balasku hampir mirip gerutuan, "lagian kodrat suami kan emang begitu. Nggak sebanding lah dengan penderitaan ibu hamil yang mual-mual terus terus harus mengandung sembilan bulan."
Anggita lalu memeluk lenganku, kedua matanya menatap mataku dengan intens. "Jadi, aku harus gimana biar kita sama-sama enak."
"Kalau kamu pengen sesuatu, langsung bilang dan minta. Aku pasti buatin, tapi kamu nggak usah bantuin."
Anggita langsung memprotes, "Kenapa begitu? Masak berdua kan romantis, Ar."
Aku langsung berdecak. "Romantis gimana kalau kamu tiba-tiba mual?" Aku geleng-geleng kepala, "mending aku sendiri yang bikin," imbuhku kemudian.
"Terus aku ngapain?"
Aku mengangkat kedua bahuku secara bersamaan. "Nonton drakor atau acara kpop kesukaan kamu."
Anggita menggeleng. "Bosen. Anak kamu nggak bisa aku racunin Hallyu, mulai agak males soalnya kalau mau nonton."
Kali ini aku tertawa puas. "Anak Papa emang pinter," pujiku sambil menunduk dan mencium perut Anggita.
"Mending bantuin kan?"
Aku menggeleng. "Liatin aku masak aja. Kalau liatin aku nggak mungkin bosenkan?"
"Emang belum bosan, tapi kalau nanti-nanti bosan gimana? Kan gawat," gurau Anggita.
Aku hanya memberikan tatapan datarku setelahnya.
######
Drrrt Drrrt Drrrt
Aku memaksakan kedua mataku agar terbuka, meraba ke atas meja nakas untuk mencari keberadaan ponselku. Aku sedikit menjauhkan tubuhku dari pelukan Anggita dengan hati-hati, agar tidak membangunkannya. Kemudian menjawab panggilan telfon, yang ternyata dari Riki.
"Kenapa Rik?" tanyaku to the point.
Bukannya apa-apa, sekarang sudah pukul setengah sebelas malam. Kalau tidak ada yang penting, tidak mungkin Riki menelfonku tengah malam begini.
"Lo udah tidur?"
Aku menguap. "Udah tadi, sekarang kebangun gara-gara telfon lo. Kenapa sih telfon malem-malem begini?"
__ADS_1
"Anggi udah tidur juga?"
Ini kenapa sih Riki, kok malah muter-muter begini pertanyaannya. Tidak langsung ke intinya saja. Tidak tahu apa kalau aku sedang mengantuk.
"Udah lah. Ini udah tengah malem. Ada apa sih?" tanyaku mulai kehilangan kesabaran.
"Gue tadi dapet kabar dari keluarga di Solo."
Jantungku mendadak berpacu dengan cepat. Ada apa ini?
"Kenapa?" tanyaku mulai khawatir.
"Kalau Ayah masuk rumah sakit. Besok lo ngeusahain pulang ke Solo bisa nggak? Gue soalnya masih harus ngurus kerjaan kalau besok."
"Iya. Besok gue sama Anggita ke Solo. Sakit apa katanya?"
"Gue juga belum dikasih tahu. Udah gitu aja, ya, lo kasih tahu Anggi-nya pelan-pelan aja. Soalnya kan dia lagi hamil, takutnya nanti kaget malah kenapa-kenapa. Kan malah ribet."
"Iya."
"Ya udah gue matiin."
Tut Tut Tut
Tanpa menunggu balasanku, Riki langsung mematikan sambungan telfonnya begitu saja. Dasar Kakak ipar nggak tahu sopan santun.
Aku menghela napas cemas setelah meletakkan kembali ponselku, lalu mengintip apakah Anggita terbangun dari tidurnya atau tidak.
Setelah memastikan Anggita tampak masih tertidur pulas. Aku bernapas lega dan turun dari ranjang, dan hal itu langsung dirasakan Anggita.
"Mau ke mana?" tanya Anggita dengan suara serak, khas orang bangun tidur.
"Ambil air wudu. Mau salat tahajud."
"Masih jam setengah sebelas lebih dikit, Ar."
Aku tersenyum. "Ya, enggak papa. Yang penting tadi udah tidur, mumpung bangun. Dari pada nanti malah kelewat?"
Anggita mengangguk setuju sambil mengucek sebelah matanya. "Aku mau ikut."
"Boleh. Yuk, ambil air wudu dulu."
Anggita mengangguk antusias dan turun dari ranjang.
Aku mempersilahkan Anggita mengambil air wudu terlebih dahulu, baru setelahnya aku. Setelah kami sama-sama selesai berwudu, kami langsung bersiap-siap melakukan salat tahajud dengan aku sebagai imamnya.
"Abis mimpi buruk?"
Anggita bertanya sambil melipat mukenanya. Aku mencoba memaksakan diri untuk tersenyum, entah kenapa perasaanku mendadak tidak enak sejak Riki mengabariku tadi.
"Enggak," jawabku singkat.
Aku menimang sesaat. Kalau kukasih tahu Anggita sekarang tidak apa-apa kan?
"Ada yang ganggu pikiran kamu?" tebak Anggita.
Aku mengangguk ragu. Anggita mengangguk paham, lalu membawa mukena, sarungku, beserta sajadah kami ke tempat semula. Tak lama setelahnya ia kembali.
"Mau cerita sekarang?" tawar Anggita, ikut duduk di tepi ranjang.
Aku kembali menimang dan kali ini aku menggeleng. "Kalau nanti-nanti aja boleh?"
Anggit tampak mengangguk tak masalah, lalu mengajakku kembali tidur. Aku mengangguk setuju, setelahnya kami sama-sama kembali merebahkan tubuh di atas ranjang. Karena merasa tidak tenang, aku kemudian meraih ponsel dan mengetik pesan untuk Riki.
Riki:
Ayah nggak sakit parah kan? Cuma masuk angin biasa?
Riki:
Tanyain ke keluarga di Solo! Nanti kalau udah dapet kabar, langsung kabari gue.
Setelah selesai mengirimkan pesan tersebut, baru lah aku kembali tidur.
*****
Aku akhirnya bisa bernapas lega saat Riki mengabariku, kalau Ayah hanya kesleo pada kakinya karena terpleset di kamar mandi. Dan kenapa sampai dirawat karena tekanan Ayah sedikit tinggi, Ibu memaksa Ayah untuk dirawat saja biar beliau bisa istirahat, karena kalau hanya di rumah sudah pasti Ayah tidak akan bisa duduk diam atau beristirahat dengan baik. Itu tandanya sakitnya Ayah mertuaku tidak ada hubungannya dengan sakit jantung yang dideritanya dulu. Menurut info yang Anggita bagikan, Ayahnya dulu pernah melakukan operasi pemasangan ring pada jantung beliau saat Anggita masih duduk di bangku SMA.
"Nanti kita ke Solo, ya. Kondisi kamu baguskan?" Aku bertanya pada Anggita sambil menyuap sarapanku.
Anggita mengangguk. "Ayah sakit apa? Nggak sakit parahkan?"
Aku melebarkan kedua mataku karena terkejut. "Kamu sudah tahu?"
"Nggak sengaja denger pas kamu ditelfon Bang Riki semalem."
"Oh, katanya kepleset di kamar mandi. Ibu ngotot pengen Ayah dirawat."
Anggita mangguk-mangguk paham. "Ayah emang nggak bisa diem, pasti Ibu ngotot karena cemas Ayah nggak bisa istirahat dengan bener kalau di rumah."
Aku tersenyum lalu menganggukinya. Persis dengan Apa yang Riki bilang.
"Iya, Riki juga bilang gitu."
"Ayah emang ngeyelan."
__ADS_1
"Iya, persis kamu."
Anggita merengut. "Kapan aku ngeyelan?" protesnya tidak terima.
Aku tertawa. "Sering. Kalau aku sebutin satu-satu nggak akan kelar sampai besok."
Anggita semakin memasang wajah cemberutnya. Ia kemudian berdecak samar lalu pura-pura memasang wajah merajuknya.
"Nyebelin kamu."
Aku tertawa sambil mengangkat kedua bahuku secara bersamaan.
"Bang Riki ikut pulang?" tanya Anggita mengalihkan pembicaraan.
Aku kemudian menggeleng sebagai jawaban. "Enggak tahu, katanya sih masih ada kerjaan gitu--"
"Eh, bentar, kayaknya ada telfon. Hape kamu bukan sih?" Anggita menyela ucapanku sambil mengangkat sebelah tangannya.
Aku ikut mendengarkan sambil mendorong kursi yang kududuki ke belakang, lalu mencari sumber suara. Dan benar saja memang ponselku yang berbunyi, yang ternyata Riki yang menelfon.
"Ada apa?"
"Jadi ke Solo nggak?"
"Jadi."
"Anak istri gue ngikut lo dong. Kalian ke sini dulu deh, jemput Vinzi. Dia katanya pengen ikut, cuma gue masih ada kerjaan yang nggak bisa gue tinggal. Masa lo tega ngebiarin ipar sama ponakan lo ke Solo berduan doang."
"Anggita lagi hamil, Rik, masa gue ajak muter-muter dulu gitu. Nanti kalau dia kecapekan gimana? Enggak! Udah suruh di sana aja, lagian kan kata lo nggak parah."
"Lo kayak nggak ngerti kalau perempuan punya kemauan itu kayak apa sih, Ar?" decak Riki dari seberang, "tanyain ke Anggi dulu deh."
"Tanya apaan?" tanyaku sewot.
Anggita tiba-tiba menghampiriku sambil bertanya, "Siapa?"
"Riki," jawabku singkat.
"Ya elah, masa sama ipar begitu sih lo, Ar? Lo lupa kalau bukan karena peran berjasa gue, lo nggak mungkin bisa sampai kenal apa lagi nikahin adik gue."
"Sialan," umpatku tertahan menahan geram.
"Udah, lo kasih dulu hape lo ke Anggi. Nanti kalau dia nolak gue nggak akan maksa. Gue janji."
Aku berdecak samar, lalu menyerahkan ponselku pada Anggita.
"Ya, kenapa Bang?"
"....."
"Vinzi mau ikut?"
"...."
"Jangan bercanda dong, Bang. Masa kita suruh ke Jakarta dulu baru ke Solo?"
Syukurin lo, Rik. Omelin aja terus, yang.
"...."
"Enak aja! Lo mau ngerjain suami gue? Udah lah, Vinzi di rumah aja. Nggak ikut ke Solo nggak papa. Ayah sama Ibu juga ngerti kok, bawa anak kecil perjalanan jauh juga lumayan ribet."
"...."
"Ya, lo bujuk lah. Udah gue matiin."
"...."
Tut Tut Tut
"Kakak ipar kamu kok aneh-aneh aja sih?" gerutu Anggita sambil menyerahkan ponselku.
"Yee, Kakak ipar aku kan berarti Kakak kandung kamu."
"Nah, iya, itu fakta yang sering kali pengen aku sangkal. Cuma nggak bisa."
Anggita menggeleng sambil pura-pura memasang wajah pasrahnya. Membuatku tertawa saat mendengarnya. Ada-ada saja deh.
Aku kemudian merangkul pundak. "Yuk, mandi terus siap-siap."
Anggita langsung menjawabnya dengan gelengan kepala. Mengundang kernyitan pada dahiku.
"Kenapa?" tanyaku heran, "nggak jadi ke Solo?"
"Sarapan belum abis, sayang. Belum beres-beres dapur."
Aku meringis malu sambil mengusap tengkukku. "Hehe, lupa."
"Dasar tua!" cibir Anggita seperti tidak main-main.
Astaga, kalau sudah begitu aku tidak bisa menjawab apa-apa.
Tbc
Mon maap baru sempet up, semalem ketiduran,🤣🤣🤣🤣 semoga nanti enggak gtu lagi ya. Aamiin.
__ADS_1
Ohya, kyknya aku punya feeling typo nama Aro deh. Cuma belum aku cek, entah cuma perasaanku atau enggak😂 soalnya kadang kayak lupa klo ini pake sudut pandang Aro. Klo beneran ada, kasih tahu ya.
Udah gitu aja. See you bubay🥰😍😘