
#######
Setelah berbaikan dengan Aro kemarin, gue benar-benar berniat menata hidup kembali. Sebisa mungkin gue tidak menangis saat mengingat kalau Ayah benar-benar sudah tidak ada di antara kami, meski itu sulit. Karena pada kenyataannya sering kali gue tiba-tiba menangis saat teringat. Aro tidak berkata apa-apa saat melihatku kembali menangis, yang ia lakukan biasanya hanya memelukku untuk menenangkan gue.
"Mau balik ke Bandung?" tawar Aro.
Gue berpikir sejenak. Kembali ke Bandung menurutku bukan ide yang baik, gue memiliki banyak kenangan tentang kehamilanku di sana.
Secara spontan, gue menyentuh perutku yang rata. Kalau saja kamu nggak ninggalin Mama secepat ini sayang, mungkin Mama nggak sehancur ini. Kamu mungkin bisa jadi penyemangat buat Mama, kenapa kamu juga pergi sayang.
"Hei, kenapa?" tanya Aro khawatir, ia kemudian menyentuh pipiku dan menghapus air mataku. Membuatku tersadar kalau gue baru saja menangis.
Aku menggeleng sambil meminta maaf. "Di Bandung aku takut kesepian dan keinget anak kita, Ar."
Aro mengangguk paham lalu memelukku. "Maaf, aku nggak akan ajak kamu ke Bandung. Kamu mau kita tetep di sini aja nemenin Ibu?"
Jujur, tetap di Solo juga bukan pilihan baik. Di rumah ini gue memiliki banyak kenangan dengan Ayah, lagian pekerjaan Aro tidak di sini. Akan ribet kalau kita memutuskan untuk menetap di Solo.
"Di sini banyak kenangan sama Ayah, lagian kerjaan kamu di Bandung."
"Masalah kerjaan gampang, sayang. Aku bisa resign dari Resto Gani, yang penting kamu nyaman dulu. Kamu mau-nya di mana, aku ikut," ucap Aro sambil menyingkirkan anak rambutku ke belakang telinga.
Gue terkekeh sambil memukul pipi Aro pelan. "Bisa aja kamu."
"Aku serius sayang," ucap Aro bersungguh-sungguh.
Kali ini, gue mengangguk lalu menoleh ke arahnya. "Keberatan kalau kita menetap di Jakarta?"
"Enggak sama sekali. Aku juga nggak keberatan kalau kamu mau kita tinggal di rumah Riki, untuk sementara."
Gue tersenyum penuh haru. Aro terlalu berkorban banyak buat gue akhir-akhir ini.
"Aku baik-baik saja, sayang. Kita nggak perlu tinggal di rumah Bang Riki karena kita punya rumah sendiri," ucap gue sambil mengelus pipi Aro.
"Tapi mungkin kamu juga akan kesepian kalau di rumah sendiri."
"Aku bisa main ke rumah Mama atau cari kesibukan. Kamu nggak usah terlalu khawatirin aku."
Aro mengangguk setuju lalu mengecup pelipisku. "Kamu hebat sayang. Aku bangga sama kamu."
"Lebay. Oh ya, soal Ibu gimana? Kita ajak ke Jakarta, kamu keberatan nggak?"
Aro menggeleng. "Ya, enggak. Kasian juga kalau Ibu sendirian di Solo."
Iya, meski rumah Ibu dan Bu Lek berdekatan, tapi tetap saja Ibu pasti akan kesepian kalau gue dan Aro kembali ke Jakarta. Apa lagi Bang Riki beserta keluarganya sudah kembali ke Jakarta terlebih dahulu.
"Ya udah, aku coba tanya sama Ibu dulu deh."
Aro mengangguk lalu membiarkan gue keluar kamar. Setelah keluar dari kamar, gue mencari keberadaan Ibu, yang ternyata sedang duduk di tepi kolam ikan sambil melamun. Meski sebelah tangan beliau tampak memegang wadah pakan ikan. Gue kemudian menghampiri Ibu dan memanggilnya.
"Bu, lagi ngapain?"
Ibu tersenyum sambil menunjukkan wadah pakan ikan. "Kasih makan ikan Ayahmu. Kenapa? Kamu butuh sesuatu?"
__ADS_1
Gue menggeleng dan memeluk beliau. Gue tahu betul Ibu masih sangat kehilangan Ayah, hanya saja beliau tidak memperlihatkannya pada kami. Dan itu membuat gue semakin sedih, kadang-kadang.
"Maafin Anggi ya, Bu."
"Ada apa to?" tanya Ibu kebingungan.
"Harusnya Anggi tahu kalau Ibu juga sedih, tapi Anggi egois banget pengen semua orang ngertiin Anggi."
"Ngomong apaan sih kamu ini, Nduk. Ndak usah aneh-aneh." Ibu kemudian mencoba mengalihkan pembicaraan, "ke mana suamimu? Tumbenan ndak ngintilin kamu. Biasanya aja ndak mau jauh-jauh sama kamu, takut banget kamu ilang," candanya kemudian.
Mau tidak mau gue tertawa. Sebenarnya apa yang dikatakan Ibu memang benar adanya. Apa lagi setelah Bang Riki mengusulkan untuk membawa gue ke RSJ, Aro jadi semakin intensif memperhatikan gue dan nyaris selalu mengikuti ke mana pun gue pergi. Emang sialan itu Abang gue, masa ngusulin ide begituan. Ya, gue tahu sih kemarin itu gue terpuruk pake banget. Bahkan gue sampai sempat kepikiran untuk mengakhiri hidup gue saja. Serius. Bohong kalau gue nggak pernah kepikiran begitu. Karena memang gue sempat kepikiran beneran. Dan beruntungnya gue cuma kepikiran dan sadar kalau gue punya keluarga dan suami yang sayang banget sama gue. Jadi, gue tidak boleh melakukan hal demikian.
"Dia lagi nelfon Mas Gani," jawab gue.
Ibu tampak terkejut mendengar jawaban gue, namun buru-buru ia menutupinya.
"Kalian udah mau balik ke Bandung?" tanya Ibu hati-hati. Seperti ada perasaan tidak rela ditinggal, kalau gue perhatikan wajah Ibu.
Gue menggeleng. Jujur, gue belum siap kembali ke Bandung. "Kita mau memulai hidup baru di rumah kita yang di Jakarta, Bu. Anggi belum siap kembali ke Bandung."
"Oh, ya bagus. Kalian masih muda, memang harusnya begitu. Lagian mubazir juga, masa punya rumah sendiri ndak ditempatin."
"Ibu ikut kami, ya," bujukku sambil memegang telapak tangan Ibu. Entah kenapa gue punya feeling kalau Ibu tidak akan setuju kami ajak ke Jakarta.
"Kalau Ibu ikut, siapa yang mau urus rumah? Ndak papa, Ibu bisa tinggal di sini saja," tolak Ibu sambil mengangguk.
Gue menggeleng. "Masa Ibu sendirian di sini. Rumah ini terlalu besar buat ditempati sendirian, Bu. Nanti Ibu kesepian."
Gue mana tega membiarkan Ibu tinggal di sini sendirian, sedangkan gue mau pun Bang Riki tinggal di Jakarta.
Gue berdecak samar dan menggeleng tidak setuju dengan ide Ibu. "Ibu ikut kami ke Jakarta saja. Nanti kan lebih enak kalau tinggal sama kita, kalau Ibu kangen sama El ya tinggal main ke rumah Bang Riki kan deket," ucapku masih berusaha membujuk Ibu.
Ibu menggeleng tegas. "Ibu lebih suka di sini, Nduk. Kalian boleh ke Jakarta tanpa Ibu. Ibu ndak papa."
Ibu mungkin enggak papa. Tapi gue yang kenapa-kenapa. Masa iya, gue tega membiarkan Ibu tinggal sendirian.
"Ibu boleh pikir-pikir dulu kok, nggak usah bikin keputusan buru-buru. Anggi sama Aro siap nunggu Ibu bikin keputusan." Gue kemudian berdiri, "Anggi masuk dulu," imbuhku lalu meninggalkan Ibu.
"Tapi Ibu ndak perlu mikir-mikir dulu," balas Ibu sedikit berseru karena gue sudah berjalan menjauh darinya. Dan gue mengabaikannya, bukan karena tidak ingin bersikap sopan. Hanya saja, gue ingin Ibu benar-benar berpikir kembali, makanya gue berpura-pura untuk mendengarnya.
######
"Gimana?" sambut Aro begitu gue masuk kembali ke dalam rumah.
Gue menggeleng lemah dan menampilkan wajah sedihku.
"Ibu nggak mau kita ajak ke Jakarta?"
Gue mengangguk sambil menyilangkan kedua tangannya. "Aku udah nyuruh Ibu buat mikir-mikir dulu, tapi kayaknya Ibu kekeuh banget nggak mau ikut kita deh, Ar. Gimana ya? Nggak mungkin kita biarin Ibu tinggal sendirian. Kalau kita yang ngalah buat pindah ke sini lebih nggak mungkin lagi. Aku bingung deh."
Aro menggaruk-garuk kepalanya, ikut bingung. "Ya, gimana dong, yang, Ibu punya banyak kenangan sama Ayah di rumah ini. Mungkin itu bisa jadi salah satu alasan Ibu enggan ninggalin rumah ini."
"Terus kita harus gimana? Aku pusing deh jadinya," keluhku frustasi.
__ADS_1
Aro kemudian menuntunku menuju ruang tengah. "Nggak usah terlalu dipikirin, nanti malah sakit. Nanti aku coba cari solusi."
Gue menggeleng tegas. Kalau Aro yang mencari solusi, pasti dia akan mengorbankan segalanya. Ia bahkan akan nekat mengalah dan memutuskan untuk tinggal di Solo saja. Jelas itu ide yang buruk, karena kami punya rumah di Jakarta. Terlebih lagi Aro sudah membangun tempat untuk membuka restoran sendiri. Rasa-rasanya akan kacau semua kalau kami tetap tinggal di Solo.
"Enggak. Nanti kamu kasih ide buat tinggal di Solo lagi."
"Kenapa? Solo juga kota yang bagus kok, nggak semacet Jakarta lho, yang," balas Aro.
Gue kembali menggeleng tegas. "Terus rumah kita gimana? Restoran kamu gimana?"
"Gampang. Aku bisa bolak-balik Solo-Jakarta," balas Aro dengan santainya.
Gue berdecak kesal. Itu tidak terlalu efisien juga. Lalu gue kembali menggeleng tidak setuju.
"Lho itu lebih baik ketimbang ngebiarin Ibu tinggal di rumah ini sendirian, sayang. Kamu nggak kasian sama Ibu?"
Ya, kasian. Cuma aku kasian sama kamu juga, Ar. Batin gue gemas. Aro sudah berkorban banyak untuk hidup gue, meladeni sikap manjaku dan segala kerewelanku akhir-akhir ini sudah cukup berat untuk Aro. Masa gue egois banget membiarkan semua rencana Aro hancur begitu saja. Gue nggak rela. Gue sayang sama Aro.
"Ya aku kasian sama Ibu, nggak tega biarin Ibu tinggal sendirian. Tapi--"
"Ndak papa, Nduk, Nak. Ibu nggak papa di tinggal sendirian, mungkin awalnya berat. Tapi lama kelamaan nanti juga semakin terbiasa. Kalian ndak perlu merubah susunan rencana hidup kalian hanya demi Ibu," potong Ibu tiba-tiba muncul dari dapur.
Beliau tersenyum meyakinkan kami sambil mengangguk. Lalu duduk di salah satu sofa.
"Kalau Ibu bosan dan kangen kalian, nanti Ibu bisa ke Jakarta. Main ke rumah kalian. Tapi kalau buat ninggalin rumah ini, Ibu berat, Nduk. Ibu ndak bisa."
Gue dapat merasakan suara Ibu yang bergetar. Seperti sedang menahan tangisnya. Secara spontan, gue langsung bersimpuh di hadapan Ibu.
"Tapi nanti Ibu sendirian di sini dong. Nanti Ibu kesepian."
"Kan bisa telfon. Sekarang zaman makin canggih to?"
Gue mengangguk, membenarkan tapi hati gue tetap berat untuk meninggalkan Ibu sendirian. Seperti ada perasaan tidak rela.
"Kodrat perempuan itu mengikuti suaminya, Nduk. Imam-mu ya, suami kamu. Ibu ndak mau jadi penghalang buat masa depan kalian."
Tak terasa air mataku tiba-tiba mengalir. "Ibu ngomong apa sih? Nggak ada yang bilang Ibu itu penghalang buat masa depan kami."
"Lha kalau kalian masih begini-begini saja dan nggak berani ninggalin Ibu, itu namanya apa?"
Gue terdiam. Sungguh ini keputusan sulit. Gue memang ingin Aro kembali menjalani kehidupan sehari-harinya. Bekerja dan lainnya, tidak hanya mengurusi gue dan Ibu begini. Tapi kalau harus meninggalkan Ibu sendirian, rasanya juga tidak rela. Kenapa sih manusia dibekali sifat egois dan serakah. Gue mau Ibu dan Ayah.
"Ibu ikhlas kalian kembali ke Jakarta atau Bandung. Justru kalau kalian tetap di sini, Ibu jadi ndak enak. Kesannya Ibu membebani kalian."
"Kenapa Ibu nggak ikut kami aja sih?" Gue masih bersikekeuh agar Ibu ikut kami ke Jakarta saja, dari pada di sini sendirian.
"Ibu ndak bisa, Nduk."
Gue merasakan usapan lembut tangan Aro pada pundakku. "Jangan paksa Ibu, sayang. Ibu punya hak buat memilih."
Mau tidak mau gue menganggu setuju. Memang benar, Ibu memang punya hak untuk pilihannya tetap di sini. Tapi tetap saja, lagi-laguu gue tidak begitu rela meninggalkan Ibu sendirian. Anak Ibu cuma gue dan Bang Riki.
Tbc,
__ADS_1
part-part menuju ending ya๐๐๐๐ siap-siap
see you next part๐๐๐๐ฅฐ