Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Spesial Part : Pov Author


__ADS_3

#####


Samar-samar Vinzi mendengar suara Anggita memanggil Aro. Semakin ia menajamkan indera pendengarannya, semakin terdengar jelas suara Anggi memanggil Aro. Vinzi segera berdiri dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi dekat dapur.


Tok Tok Tok


"Ar, lo lagi ngapain?" tanya Vinzi sambil mengetuk pintu.


"Bentar lagi kelar. Lo kebelet juga?" balas Aro sedikit berteriak.


"Enggak. Tapi kayaknya Anggi manggil lo deh."


"Iya, bentar. Ini udah kelar kok." Tak berselang lama, Aro keluar sambil mengibas-kibaskan kedua tangannya yang basah. Ia kemudian mengeringkan kedua alas kakinya. "Kenapa?" tanyanya kemudian.


"Anggi kayaknya teriak-teriak manggil kamu deh."


"Kenapa teriak-teriak?"


"Ya, enggak tahu juga."


"Kenapa nggak lo cek dulu?"


"Kan lo udah selesai. Sana sekarang lo cek sendiri, keburu ngamuk ntar dia," saran Vinzi.


Aro mengangguk setuju, lalu berlari menaiki anak tangga dengan langkah cepat. Takut kalau-kalau Anggita benar-benar akan mengangguk karena ia datangnya lama.


"Ada apa?" tanya Aro panik, napasnya terdengar ngos-ngosan. Ia berdiri di depan pintu kamar mandi sambil mengatur napas.


Anggita terlihat kacau. Ia kemudian menunjuk darah segar yang mengalir di antara kedua pahanya.


Aro terkejut dan berlari mendekati istrinya. "Astagfirullah! Ini kenapa bisa begini? Kamu abis jatuh?"


Anggita menggeleng lemah sambil menangis tersedu-sedu. "Aku takut, Ar," bisiknya pelan, sambil mengigit bibir bawahnya.


Meski sebenarnya panik, Aro tidak ingin terlalu memperlihatkan kepanikannya. "Nggak papa-papa, insha Allah nggak papa," ucapnya sambil mengecup dahi Anggita, mencoba menenangkannya. "Bentar, aku ambilin tisu sama celana buat kamu ganti. Abis ini kita ke rumah sakit. Kamu jangan panik," imbuhnya kemudian lalu bergegas keluar kamar mandi.


Aro bergerak kebingungan karena panik. Ia langsung menarik tisu dan mengobrak-obrik isi lemari mereka karena panik. Setelah menemukan yang dicari, ia kembali masuk kamar mandi. Kedua tangan Aro terasa bergetar saat mengelap darah yang seakan tak mau berhenti.


"Ar, ini gimana? Kenapa keluar terus? Aku takut," bisik Anggita sambil meremas pundak suaminya.


Jujur, saat ini Aro sendiri bingung dan juga panik. Ia bahkan tidak bisa berpikir jernih. Dengan gerakan tiba-tiba ia berdiri dan langsung mengangkat tubuh Anggita.


"Kita langsung ke rumah sakit," ucap Aro.


Anggita mengangguk pasrah sambil mengalungkan kedua lengannya pada leher Aro.


"Anggi kenapa, Ar--astagfirullah! Itu Anggi-nyq kenapa?" jerit Vinzi terlihat terkejut saat menemukan celana Anggita berdarah, "abis jatuh?" Ia bertanya dengan khawatir sambil menahan ngilu, entah karena apa.


Anggita menggeleng. "Gue nggak abis jatuh," bisiknya menahan tangis.


Vinzi kemudian berjalan mendahului mereka dan bergegas menuju garasi mobil dan membukakan pintu mobil untuk Anggita.


"Gue ikut deh, tungguin bentar, ya," ucap Vinzi hendak berlari masuk dan berganti pakaian, namun ditahan Aro.


"El mau lo tinggal?" Aro menutup pintu belakang lalu membuka pintu bagian depan.


Vinzi menepuk dahinya gemas. Mendadak ia lupa kalau ia punya bayi yang tidak bisa diajak pergi ke sembarang tempat, apa lagi rumah sakit.


"Lupa gue. Terus ini gimana? Lo bawa Anggi sendiri gitu?"


Aro mengangguk. "Terpaksa. Nanti lo telfon Riki aja ya, suruh nyusul gue. Gue agak takut juga nih, soalnya."


Vinzi mengangguk paham lalu menyuruh Aro segera berangkat. "Ya udah, sana buruan berangkat. Hati-hati! Nanti gue telfonin Bang Riki biar nyusul lo."


"Thanks, Zi."


Aro mengangguk paham lalu segera masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Anggita masih terus menangis, hal ini tentu saja membuat Aro semakin panik.


"Sayang, bertahan bentar ya, kita bentar lagi nyampe."

__ADS_1


"Aku takut, Ar."


"Kamu nggak boleh mikir yang aneh-aneh dulu. Kalian pasti baik-baik saja. Insha Allah, kamu berdoa."


######


Begitu sampai di rumah sakit paling dekat rumah, Aro langsung mengangkat tubuh Anggita dan membawanya masuk ke dalam IGD.


"Sus, tolong istri saya, Sus," teriak Aro panik.


Seorang perawat pria langsung menghampiri Aro. "Ini Mbaknya kenapa, Mas?" lalu menunjuk salah satu brankar yang kosong, "dibaringin dulu, Mas."


"Istri saya pendarahan."


"Sedang hamil? Saya cek tekanan darahnya dulu, ya." Perawat itu menjauh dari brankar untuk mengambil alat tensinya dan memberitahu dokter jaga.


"Pasien nomor bed 6 ibu hamil pendarahan dok."


"Hamil muda?" tanya dokter berhijab ungu itu.


"Kayaknya gitu dok, belum terlalu ketara soalnya."


"Oke, kamu cek tensinya dulu." Dokter itu kemudian beralih pada perawat di sampingnya, "hubungin departemen obgym suruh turun ya, Sus, ada pasien ibu hamil."


"Siap dok."


Dokter yang terlihat cukup muda itu kemudian menghampiri brankar Anggita.


"Selamat siang ibu, gimana keluhannya?" tanyanya ramah.


Anggita menggeleng sambil terus menangis. "Tolong selamatkan bayi kami," isaknya tersedu-sedu.


Aro menggenggam telapak tangan Anggita, berharap mampu menyalurkan kekuatan untuk istrinya.


Dokter itu tersenyum. "Saya periksa dulu, ya. Sambil nunggu dokter kandungannya."


Tak lama setelahnya, dokter kandungan pun tiba. "Gimana?"


"Gimana dok? Bayi saya baik-baik saja kan?" tanya Anggita dengan suara bergetar.


######


Aro merasakan seluruh persendiannya melemas. Ia baru saja mengurus administrasi untuk perawatan Anggita yang mengharuskan dirawat. Otaknya terus mengulang kalimat yang sama, seperti kaset rusak.


"Mohon maaf, Pak, kami harus memberitahukan berita buruk ini. Kalau istri anda mengalami keguguran dan harus segera dilakukan proses kurete."


Kalimat itu terus berputar di otaknya, Aro sedih dan bersalah. Tapi hal yang paling ia takutkan adalah Anggita yang mungkin sulit untuk menerima kegugurannya. Anggita mungkin sempat merasa takut dan belum siap tentang kehamilannya, tapi lama kelamaan Anggita mulai terlihat semakin siap menjadi ibu. Tapi kenapa sekarang semuanya begini?


Aro mengusap rambutnya dengan frustrasi. Otaknya berpikir keras, bagaimana cara ia memberitahu Anggita. Ia butuh bantuan, mungkin kalau kondisi Ayah mertuanya sedang tidak sakit, setidaknya Ibu mertuanya mungkin akan membantunya. Tapi kalau sekarang? Mamanya sedang tidak di sini, jelas ia tidak bisa meminta bantuan kepada wanita yang telah melahirkannya dulu.


Sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, Aro merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana. Setidaknya ia perlu mendengar suara Mamanya. Setelah tamat sekolah dasar, ini pertama kalinya Aro begitu merasa merindukan pelukan Mamanya di saat-saat kalut begini.


Butuh waktu sedikit lama, akhirnya sambungan telfonnya terhubung.


"Halo, Ma," sapa Aro dengan suara bergetar. Perpaduan antara sedih, khawatir, cemas dan bersalah. Semua bercampur aduk.


"Ya? Halo? Gimana kondisi mertua kamu? Sudah mendingan belum? Maaf nih, Mama belum sempet jenguk. Nanti deh sekalian pas acara empat bulanan Anggi sekalian Mama ke Solo-nya. Menantu sama Cucu Mama sehat kan?"


Aro mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya. "Mama langsung ke Solo hari ini aja, Aro butuh Mama. Acara empat bulanannya nggak jadi diadain."


"Loh, nggak jadi gimana? Gara-gara kondisi kesehatan Mertua kamu? Kondisinya memburuk apa gimana, Ar?"


Aro menggeleng, meski ia sadar betul sang Mama tidak dapat melihatnya. "Anggi, Ma." Ia menjeda kalimatnya, tak kuasa untuk meneruskan kalimatnya kali ini.


"Anggi kenapa? Cucu Mama baik-baik saja kan, Ar? Kamu jangan bikin Mama takut deh, Ar."


"Anggi keguguran, Ma."


"APA?! KAMU JANGAN BERCANDA, AR. MAMA NGGAK SUKA."

__ADS_1


"Ma, masa iya kayak beginian Aro bercandain. Aro serius, Ma. Anggi keguguran, tadi dia sempet pendarahan di rumah. Nanti kalau masih dapet antrian buat kuret, bakalan kuret hari ini."


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Cucu Mama. Terus kondisi Anggi sendiri gimana?" Suara Mama Aro terdengar terkejut dan juga panik.


Aro sebisa mungkin kembali menguasai dirinya. "Kita masih di IGD, bentar lagi masuk kamar."


"Ya udah, sekarang juga Mama telfon Papa kamu, terus kita berangkat sekarang. Kamu jaga Menantu Mama baik-baik. Mama tutup."


"Hmm, pasti, Ma. Hati-hati."


Setelah mengakhiri telfon dengan sang Mamanya, Aro segera bangkit dan berdiri. Hendak kembali menemui Anggita, namun langkahnya terhenti saat ponselnya kembali bergetar. Nama Riki yang tertera pada layar.


"Ya, gimana, Rik, lo sampai mana?" sambut Aro begitu sambungan terhubung.


"Gue masih di depan kamar inap Ayah. Gimana kondisi Anggi sama ponakan gue, baik-baik saja kan? Kata Vinzi tadi Anggi sempet pendarahan?"


Aro kembali duduk. "Iya, dia tadi sempet pendarahan. Tapi--"


"Tapi apa?" desak Riki terdengar tidak sabar.


"Anggi keguguran. Kita kehilangan bayi kami, gue gagal jagain anak gue, Rik. Plis, lo ke sini dong temenin gue. Anggi belum tahu tentang kondisinya, gue takut dia histeris pas gue kasih tahu ini."


Hening. Tidak ada sahutan dari seberang, membuat Aro berpikir kalau sambungan telfon mereka sudah terputus. Aro kemudian memutuskan mengintip ke arah layar ponselnya. Masih terhubung kok. Batin Aro, kembali menempelkan ponselnya pada telinga kirinya.


"Rik, lo masih di sana?"


"Ar, kenapa cobaan kita begini banget, ya?" tanya Riki tiba-tiba dengan suara yang terdengar berbeda.


Aro tidak paham. "Maksud lo?"


"Gue bingung harus ngasih tahu ini apa enggak ke kalian."


Aro berdecak kesal. Kepalanya saat ini sudah cukup pusing dengan berita keguguran Anggita, kenapa sekarang Riki malah berbicara melantur tidak jelas begini.


"Rik, jangan bertele-tele deh. Lo bikin gue tambah pusing nih," seru Aro kesal. Ia tidak main-main kali ini.


"Ayah nggak ada, Ar."


"Maksud lo?"


"Ayah meninggal, Ar."


"Rik, bercanda lo nggak lucu sumpah. Gue baru saja kehilangan bayi gue, sekarang istri gue juga lagi down. Lo kok malah kasih lelucon nggak jelas begitu?"


Aro kesal sendiri, antara takut dan ingin menyangkal ucapan Riki saja.


"Lo pikir gue udah nggak waras?" Riki ikut-ikutan kesal, "ini masalah nyawa Ayah gue, Ar. Gue memang masih suka kurang ajar jadi anak, tapi gue nggak sekurang ajar itu untuk jadiin kematian Ayah gue sendiri sebagai bahan lelucon. Gue baru aja kehilangan Ayah gue, brengsek!"


Deg. Aro merasa dunianya kali ini benar-benar runtuh saat ini juga. Ia kehilangan bayi dan juga Ayah mertuanya di saat yang bersamaan. Bolehkah ia berteriak pada alam detik ini juga. Kenapa semua ini harus terjadi di saat yang bersamaan.


#######


"Kita kehilangan bayi kita, ya?" lirih Anggita dengan suara paraunya.


Wajahnya pucat dan kedua mata yang terlihat sembab. Aro memilih untuk tidak langsung menjawabnya, ia lebih memilih untuk memeluk tubuh Anggita yang kini sudah berbalut baju pasien rumah sakit.


"Maafin aku nggak bisa bantu jagain bayi kita," isak Aro menahan tangis.


Tidak. Tangis Aro kali ini sepertinya sudah tidak terbendung lagi, pikirannya benar-benar sudah berkecamuk. Membayangkan kesedihan yang harus dipikul sang istri, kehilangan anak dan ayah di saat yang bersamaan jelas akan terasa berat. Dan Aro tidak sanggup untuk membayangkannya.


Anggita mengurai pelukannya, ia mencoba memaksakan diri untu tersenyum di balik bibir pucatnya. Kedua telapak tangannya kemudian memegang pipi Aro.


"Kamu nggak perlu nyalahin diri kamu, mungkin emang belum rejeki kita. Meski rasanya berat, kita belajar sama-sama buat ikhlasin, ya?!" ucap Anggita sambil berusaha menahan tangisnya, meski pada akhirnya ia gagal dan tetap saja menangis.


Aro mengangguk setuju lalu memeluk tubuh Anggita. Ia sedikit bisa bernapas lega karena Anggita jauh lebih tabah dari yang ia perkirakan.


"Jangan kasih tahu keluarga yang lain dulu, ya. Terlebih Ayah, aku nggak mau beliau khawatir."


Aro mengangguk setuju. Karena memang pada kenyataanya ia tidak akan mungkin bisa memberitahu Ayahnya karena beliau sudah tiada.

__ADS_1


Aro tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang ia lakukan hanya memeluk dan menciumi pucuk rambut Anggita. Ia benar-benar merasa serba salah, memberitahu Anggita tentang kematian Ayahnya tentu akan membuat kondisi mental Anggita terguncang, apa lagi keduanya cukup dekat. Tidak memberitahu, kasian Anggi juga. Bagaimana pun juga cepat atau lambat Anggita akan tahu. Tapi tetap saja ia bingung harus mengambil keputusan apa.


Tbc,


__ADS_2