
Beberapa bulan kemudian
Gue menggeliat sambil membenarkan selimut yang agak melorot. Pagi ini entah kenapa tubuh gue terasa berat untuk diajak berkompromi, sebenarnya sudah sejak kemarin sih, tapi pagi ini rasanya benar-benar berat sehingga gue enggan untuk bangun. Tadi setelah selesai melaksanakan salat subuh, gue memutuskan kembali tidur. Untuk jatah sarapan kami, gue meminta Aro untuk memasak sendiri. Untung Aro tidak keberatan dengan permintaan gue.
"Yang, bangun dulu, yuk! Sarapan. Meski nggak enak badan nggak boleh dimanjain buat tiduran terus. Ayo, bangun cuci muka, sikat gigi, terus kita sarapan!"
"Mager," rengek gue sambil memperkuat genggaman pada selimut.
Karena gue yakin Aro pasti bakalan narik selimut gue. Dan, benar saja, tak lama setelahnya, ia duduk di tepi ranjang sambil menarik selimut hingga batas perut. Tangannya kemudian terulur memegang dahi gue.
"Enggak panas kok."
"Ya, emang enggak panas, Ar."
"Tapi aku capek, badannya kayak sakit semua. Pusing juga." Gue memegangi kepala sambil memasang wajah memelas agar dikasiani Aro.
Tapi kali ini Aro terlihat tidak perduli dengan wajah memelas gue. Ia bahkan dengan segera menyibak selimut dan menarik tubuh gue dengan lembut.
"Ayo, bangun!" perintahnya tidak ingin dibantah.
"Enggak mau!" rengek gue masih menolak.
Aro memberikan tatapan datarnya, lalu secara tidak terduga ia mengangkat tubuh gue begitu saja. Buset, gue beneran kaget.
"Aro! Kamu mau ngapain?" jerit gue spontan.
Aro mengabaikan jeritan gue dan malah membawa gue masuk ke kamar mandi. Begitu sampai kamar mandi, ia mendudukkan gue di kloset duduk. Lalu, ia menyalakan kran air dan membasuh wajah gue dengan tiba-tiba. Jujur, gue lebih kaget dari pada terharu.
"Mau pake sabun muka kamu nggak?" tawarnya kemudian.
Gue terkekeh geli lalu mengangguk. Kali ini hati gue tersentuh mendapat perlakuannya. Duh, manisnya suami gue.
Aro mengangguk paham, lalu membuka tube face wash gue yang sudah kempes, karena memang sudah saatnya beli lagi. Dengan telaten dan penuh perhatian ia menuangkannya pada telapak tangan Aro, mengosoknya perlahan hingga berbusa. Baru setelah itu ia meratakan di wajah gue dengan hati-hati. Dalam kondisi ini gue rasanya mau tertawa dengan tingkah kami. Maksudnya begini, gue nggak ngerasa sedang sakit separah itu sampai harus dibantu Aro sampai sebegininya. Dan Aro pun sadar kalau gue sebenernya nggak lagi sakit dan cuma nggak enak badan, tapi entah kenapa kok perlakuannya begini banget.
"Kalau kena mata bilang," ucap Aro.
Gue mengangguk dengan kedua mata terpejam. Mulai menikmati pijatan lembut pada wajah gue. Wah, sepertinya lain kali bisa nih gue minta tolong Aro bersihin wajah kalau lagi males. Haha, kok gue jadi istri kurang ajar begini sih? Astagfirullah, maafkan hamba ya Allah. Hamba khilaf.
Tak lama setelahnya, gue merasakan Aro mulai membasuh wajah gue menggunakan air.
"Netesin ke celana nggak airnya?"
"Dikit aja kok. Aman. Terusin!" balas gue sambil mengacungkan jempol.
Setelahnya, gue merasakan wajah gue dilap menggunakan handuk dengan lembut, baru setelahnya gue membuka mata. Gue dapat melihat wajah serius Aro yang kini terlihat benar-benar sabar dan telaten mengurus gue. Gila! Kalau begini gue yang keterlaluan pemalasnya atau Aro yang terlalu baik sih?
"Udah segeran?"
Gue mengangguk puas sambil mengacungkan kedua jempol gue. "Hehe, makasih loh, sayang. Padahal kamu nggak harus sampai sebegininya."
Aro mengabaikan kalimat gue, ia hanya menyampirkan handuk ke pundaknya. Lalu meraih sikat gigi gue dan pasta gigi. Gue menertawakannya dan berdiri, merebut sikat gigi dan pasta gigi yang Aro pegang dengan lembut.
"Kamu sarapan deh dulu, Ar, biar aku sikat gigi sendiri."
Aro mengangguk setuju, tidak protes atau pun meninggalkan gue begitu saja.
Gue menoleh ke arahnya dengan kedua alis terangkat. "Kenapa masih di situ?" tanya gue heran.
"Enggak boleh?" Aro balik bertanya.
Gue menahan napas. Speechles dengan pertanyaan Aro. Lalu, mau tidak mau gue akhirnya mengangguk.
"Iya, boleh, kan ini juga apartemen kamu," balas gue lebih mirip kepada gumanan. Tapi gue yakin seratus persen, Aro mendengar semuanya.
Gue baru saja menggosok gigi gue bagian depan, hendak pindah pada gigi bagian samping. Tapi rasa mual tiba-tiba menyerang
Hoek
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Aro khawatir.
Gue menggeleng lalu membasahi mulut gue dengan air. "Enggak papa, cuma agak mual. Dikit." Gue kemudian meneruskan kegiatan sikat gigi gue yang sempat tertunda. Dengan Aro yang menatap gue khawatir.
"Yakin nggak papa?"
Gue mengangguk lalu menarik handuk yang ada di pundak Aro, untuk mengelap bibir gue yang basah.
Aro terlihat tidak percaya. Tangannya kembali terulur dan meraba dahi gue.
"Kamu beneran sakit, ya?" tanya Aro terdengar benar-benar khawatir.
"Emang panas?" Gue ikut meraba dahi gue dan tidak merasakan hawa panas sedikit pun, "enggak kok."
"Tapi kamu mual," balas Aro.
Gue mengembalikan handuk ke tempat semula lalu merangkul lengan Aro. "Masuk angin doang paling."
"Mau ke dokter?" tawar Aro masih khawatir.
Gue menggeleng sebagai tanda penolakan. "Belum separah itu untuk ke dokter, Ar."
"Ya, mumpung belum parah kan. Antisipasi dulu takutnya nanti malah kenapa-kenapa. Bisa digantung Riki aku nanti."
Gue menertawakan sikap berlebihan Aro yang kadang-kadang terlalu over ini.
"Nggak usah aneh-aneh. Aku cuma nggak enak badan kok, nggak sakit parah. Tenang aja, yuk, sarapan!" ajak gue kemudian.
Aro terlihat masih kurang puas dengan jawaban gue. Namun, meski demikian ia tetap menurut saat gue ajak sarapan.
"Aku perlu izin enggak?" tanya Aro sambil menarik kursi untuk gue duduki.
Entah hanya perasaan gue saja, pagi ini Aro benar-benar beda dari biasanya. Seperti suami yang sedang over protectif terhadap istrinya yang sedang hamil begitu loh.
"Mau ngapain?" Gue balik bertanya.
"Enggak. Plis deh, Ar, jangan biasain manjain istri deh. Nanti aku ngelunjak." Gue menggeleng tidak setuju dengan sikap Aro kalau sudah begini.
Aro dengan wajah santainya duduk sambil mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Kenapa enggak? Manjain istri sendiri ini, bukan istri orang. Lagian aku nikahin kamu juga biar bisa manjain kamu loh, kodratnya istri katanya untuk dimanja suami kan?"
"Ya, cuma jangan lebay sampai bikin diabetes mendadak begini lah. Serem."
Kening Aro mengerut bingung. "Bikin diabetes mendadak? Maksudnya gimana tuh?" tanyanya tak paham.
"Ya, perlakuan kamu tadi itu manisnya kelewatan, Ar. Nyadar enggak sih?"
Dengan gerakan polos, Aro menggeleng. "Enggak."
Astaga! Kok enggak pekanya Aro kumat lagi begini sih?
Gue meliriknya galak, sedang Aro masih dengan sikap cueknya. Ia meraih entong nasi dan mengambilkan nasi untuk gue.
"Segini cukup?"
"Kok malah kamu yang ngelayanin aku, Ar?" protes gue, mengabaikan pertanyaannya.
"Oke, cukup," jawab Aro sendiri karena gue tak kunjung menjawab pertanyaannya. "Kan kamu lagi sakit, jadi biar aku yang ngelayanin kamu." Ia kemudian menyerahkan piring berisi nasi ke gue, lalu ia mengambil mangkuk kecil untuk wadah sup ayam buatannya.
Gue berdecak melihat kelakuannya. Ngabis-abisin wadah aja, kalau begini kan bikin cucian piring gue nanti banyak.
"Eneg enggak? Perlu aku buatin yang lain?" Aro kemudian menyerahkan semangkuk sup ayam ke gue, gue menerimanya sambil menggeleng.
"Enggak kok. Keliatannya enak." Gue menghirup aroma kuah sop buatan Aro, wangi seperti biasa kok.
Gue pun juga nggak merasa mual atau pun eneg seperti yang Aro takutkan. Bahkan dengan semangat gue langsung menyendok kuah sup dan menyeruputnya dengan penuh nikmat. Emm... Enak seperti biasa, masakan Aro selalu enak.
"Gimana?"
__ADS_1
Gue mengangguk semangat sambil mengacungkan jempolku. "Seperti biasa. Super duper enak."
"Nggak perlu diganti yang lain?" tanya Aro dengan wajah khawatirnya.
Gue langsung menggeleng. "Jangan dong, aku suka pake banget kok sama masakan kamu. Selalu bikin orang lupa yang namanya apa itu kenyang. Bawaannya bikin orang ngunyah terus."
"Syukur deh kalau kamu suka. Takutnya kamu nggak suka."
"Kapan aku nggak suka sama masakan kamu?" Gue bertanya sambil menyendok nasi beserta kuah sup, lalu memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya penuh penghayatan.
Aro mengangkat kedua bahunya sebagai tanda jawaban. Kemudian ia menyendok nasinya sendiri dan mulai menghabiskan sarapannya. Tak perlu waktu lama, kami akhirnya menghabiskan sarapan kami dengan singkat. Dengan sigap Aro menumpuk piring kotor kami dan membawanya ke wastafel.
"Piring kotornya nggak usah dicuci, nanti pulang kerja aku cuci. Kamu istrirahat aja sambil drakoran," pesan Aro. Gue hanya mengangguk sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Aro mengangguk sambil mengusap kepalaku, kemudian masuk ke dalam kamar. Untuk mandi dan bersiap-siap berangkat kerja. Sementara gue membereskan sisa sarapan kami dan mencuci piring. Setelah selesai, gue langsung bergegas menuju ruang tengah, menunggu Aro menyelesaikan mandinya.
Tak lama setelahnya, Aro keluar. Penampilannya kini jauh lebih rapi dan segar, ia langsung menghampiri gue.
"Yakin aku berangkat kerja? Nggak izin aja?" tanya Aro tiba-tiba.
Gue menoleh ke arah Aro dengan tatapan galakku. "Nggak usah aneh-aneh! Langsung berangkat sana!" Gue kemudian merebahkan kepala gue pada bahu sofa.
Aro mengulurkan telapak tangannya laku meraba dahi gue. "Yakin aku tinggal?"
"Astagfirullah, iya, Ar. Sana deh kamu berangkat. Aku baik-baik aja. Oke?"
Aro mengangguk lalu berdiri dan masuk ke dalam kamar. Lalu saat keluar, ia tampak membawa selimut kami.
"Dingin enggak?"
"Enggak," jawab gue judes.
Aro mengangguk, lalu meletakkan selimut yang dibawanya di atas meja. "Buat jaga-jaga kali aja nanti kamu mendadak kedinginan."
Gue mengangguk. "Iya, makasih, sayang."
"Inget! Istrirahat aja, nggak usah nyuci piring atau ngerjain pekerjaan rumah lainnya," kata Aro memperingatkan.
Gue hanya mengangguk, meyakinkan Aro agar segera berangkat. Namun bukannya demikian, Aro malah duduk di samping gue. Astagfirullah! Ini suami gue kenapa sih?
"Yakin nggak papa aku tinggal?"
Kali ini gue meradang. Dengan kesal, gue bangun dari posisi berbaring dan menarik tangan Aro agar ikut berdiri. Kuping gue rasanya mulai bosan, bahkan saking gemasnya gue sampai harus mendorong-dorong tubuh Aro agar segera keluar dari apartemen. Karena kalau tidak begini, kayaknya Aro nggak bakalan berangkat kerja.
"Yakin enggak papa aku tinggal?" ulang Aro untuk kesekian kalinya.
Astaga! Berikan aku kesabaran ya Allah. Bagaimana pun juga ini suamiku.
"Iya, Ar, aku oke. Kamu buruan kerja sana! Nggak perlu khawatirin aku sampai sebegininya."
"Tapi nanti kalau kamu kenapa-kenapa, janji, langsung telfon aku, ya?"
Gue mengangguk patuh. "Iya."
"Kamu nggak usah ngapa-ngapain dulu, istirahat aja. Biar nanti aku yang kerjain pulang kerja."
"Iya, Ar. Iya. Udah kamu sana berangkat!" usir gue gemas, "lebaynya kamu ngalahin suami over protectif yang lagi ngasih wajengan ke istrinya yang lagi hamil tahu."
"Biarin," balas Aro dengan cueknya, "inget semua pesen aku tadi. Nanti aku telfon."
"Iya."
Gue akhirnya baru bisa bernapas lega begitu tubuh Aro masuk ke dalam pintu lift. Kelakuan Aro benar-benar berlebihan kali ini dan menurut gue nggak wajar sama sekali. Ini gue cuma nggak enak badan aja, sebegini khawatirnya Aro. Gimana nanti kalau gue hamil? Buset, perasaan ini bukan pertama kalinya gue nggak enak badan setelah menikah. Tapi kenapa sekarang begini banget?
Tbc,
Astagfirullah, itu Babang Aro kesambet apaan deh? Apa jangan-jangan dia punya firasat kalo Anggi mau hamidun makanya over protectif begitu? Ckckck, bener-bener deh. Gue muak liat kelakuan Babang Aro di part ini. geli sendiri, cuy. setengah baper juga sih. Hasyem bener deh itu penganten lawas😏😏😏 akhhhh,akyu syebel😑😐
__ADS_1
Ya udah, segini aja cuap-cuap unfaedah dari saya. Doain semoga mau rajin-rajin up lagihhh. see you bubay😘😍🥰🥰🥰🥰