
#####
Begitu sampai di apartemen, Aro langsung bergegas menuju dapur. Gue sendiri langsung masuk ke kamar dan berganti pakaian yang lebih nyaman. Saat menemukan keranjang cucian yang tampak penuh, gue akhirnya memutuskan mencuci terlebih dahulu sebelum membantu Aro di dapur. Begitu cucian kelar, gue langsung bergegas menuju dapur.
"Butuh bantuan apa, Ar?" tanya gue sambil berjalan menghampirinya.
Kening Aro mengernyit sambil menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Abis ngapain?" tanyanya seperti curiga.
Gue mengikat rambut dan menjawab, "Nyuci. Kenapa?"
"Siapa yang nyuruh?" tanya Aro terlihat sedikit kesal.
"Ya, enggak ada. Masa nyuci aja harus ada yang nyuruh?" Gue bertanya dengan nada heran.
"Tapi kan kamu lagi hamil," kata Aro terlihat gemas.
Gue menerjap bingung dan semakin heran saat Aro menuntunku keluar dari dapur lalu menyuruh gue duduk di sofa. Gue menatap kepergiannya yang kini malah masuk ke dalam kamar, tak lama setelahnya ia keluar sambil membawa laptop gue. Aro kemudian meletakkan laptop tersebut di atas meja.
"Ini aku disuruh ngapain?" tanya gue bingung.
"Terserah kamu, nonton acara apa gitu kek di youtube. Duduk manis aja di sini, aku balik ke dapur dulu. Aku nggak kasih izin kamu ngapa-ngapain untuk sementara waktu."
"Hah? Kenapa begitu? Kan aku baik-baik aja," ucap gue heran, saat kami periksa tadi gue nggak diwanti-wanti untuk yang gimana-gimana deh perasaan, kenapa sampai sebegini ya si Aro.
"Biar aku lebih tenang. Udah kamu di sini aja, lagian bentar lagi selesai kok," ucap Aro langsung meninggalkan dapur.
Gue hanya mampu geleng-geleng kepala saat melihat punggungnya yang kian menjauh dari pandanganku. Setelahnya gue langsung menelfon Mama.
"Halo, sayang. Assalamualaikum."
"Wa'allaikumusalam, Ma. Gimana kabar Mama sama Papa di sana? Sehat-sehat kan?"
"Sehat, sayang. Kamu sama Aro gimana? Sehat juga kan? Kapan main-main ke sini lagi? Mama kangen tahu sama kamu, akhir pekan nanti ajak suami kamu pulang, ya," pinta Mama.
Gue tersenyum sambil memainkan ujung sisi bantal sofa. "Iya, nanti Anggi coba ajak Aro ya, Ma."
"Jangan cuma diajak dong, tapi dipaksa."
Kali ini gue tertawa sambil mengangguk. "Iya, nanti Anggi paksa deh. Eh, tapi kayaknya sekarang nggak perlu dipaksa deh, Ma."
"Lagi jinak, ya?"
"Hehe, bisa dibilang begitu. Abis dapet berita bagus soalnya."
"Kenapa? Kalian udah mau pindah ke Jakarta?" tanya Mama terdengar penasaran.
Gue tersenyum malu-malu, rasanya masih aneh mau memberitahu Mama tentang kehamilan gue.
"Kalau soal itu masih belum tahu, Ma."
"Terus apa? Kamu hamil gitu?" tebak Mama tepat sasaran.
Seketika gue langsung tertawa. "Kok Mama bisa tahu? Aro udah ngasih tahu Mama?"
"Hah? Jadi kamu beneran hamil? Enggak kok, Aro belum kasih tahu Mama. Udah berapa minggu? Ya, ampun alhamdulillah, akhirnya Mama jadi nenek juga. Makasih, sayang."
Suara Mama terdengar tidak percaya sekaligus senang. Jangankan Mama, gue aja yang hamil masih kurang percaya kalau gue lagi hamil.
"Iya, Ma, alhamdulillah positif beneran. Tadi udah cek ke dokter dan alhamdulillah masuk minggu ke delapan. Doain ya, Ma, sehat-sehat bayinya."
"Iya, pasti dong. Akhirnya, Mama seneng banget dengernya. Terus gimana kondisi kamu? Nggak mual-mualkan?"
"Sesekali, Ma."
"Ini sekarang Aro mana? Mama mau ngomong sebentar. Kamu panggilin sebentar dong, sayang."
Gue kemudian beranjak dari sofa, berjalan menuju dapur menghampiri Aro.
"Mama," kata gue sambil menyerahkan ponselku ke Aro.
Aro mematikan kompornya lalu menerima ponsel yang gue sodorkan.
"Ya, halo, Ma. Ada apa?"
"...."
"Hmm, iya."
"...."
"Kenapa nggak Mama aja?"
__ADS_1
"...."
"Tapi tadi udah bisa makan tanpa mual atau muntah kok, Ma. Iya, nanti kalau butuh bantuan Mama Aro telfon, untuk sementara kayaknya Aro masih sanggup sendiri. Nggak papa lah, Ma. Hamil muda kan wajar mual-mual."
"...."
"Iya."
Aro kemudian menyerahkan ponselku lagi setelah Mama selesai berbicara dengan Aro.
"Kenapa?"
"Biasa, kasih wejangan. Mau makan sekarang?" tanyanya kemudian.
Gue menggeleng sambil mengelus perutku. "Masih kenyang."
"Dikit aja?"
"Enggak," tolak gue tegas, "kamu aja makan sendiri. Aku nanti aja, kamu kan yang belum makan? Dari tadi sibuk di dapur Resto terus barusan dapur kita."
"Nanti deh begitu selesai nyuci perabotan sama mandi."
"Nyuci perabotannya biar aku, sana kamu mandi."
"Tapi--"
Aro hendak memprotes namun gue pelototi. "Aku baik-baik aja, nyuci perabotan nggak akan bikin aku--"
"Kalau mual lagi gimana?"
"Ya, enggak papa. Asal nggak ada yang keluar."
"Yakin?"
Gue mengangguk, meyakinkannya Aro. Ia tampak ragu-ragu, namun pada akhirnya setuju.
"Kalau semisal mual banget ditinggal aja, nanti aku terusin."
"Iya," jawab gue sambil berjalan mendekati wastafel. Aro sendiri langsung bergegas masuk ke kamar.
######
"Ya ampun, Ar, aku lupa belum kasih kabar Ibu."
"Udah aku kasih tahu."
"Kapan?" tanyaku heran.
Seharian ini gue belum melihatnya menelfon seseorang. Jangan menelfon, gue bahkan lupa kapan terakhir dia memegang ponselnya. Begitu sampai di apartemen mungkin, setelah itu gue belum melihatnya lagi.
"Tadi di rumah sakit, pas antri nebus obat kamu."
Gue ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk lalu meletakkan ponselku di atas meja kembali.
"Ngomong-ngomong kamu udah ngerasa ngidam belum?" tanya Aro membuat gue bingung.
Gue menghentikan niatanku untuk menyuap potongan jeruk ke dalam mulut, kemudian menoleh ke arah Aro dengan tatapan penuh tanya.
"Hah? Gimana itu maksudnya?"
"Ya, kamu udah pengen sesuatu apa belum? Semisal pengen makan apa gitu atau pengen aku ngapain."
Kali gue benar-benar tidak bisa menahan tawaku saat mendengar ucapan Aro. Menurut gue pertanyaan Aro terlalu aneh.
"Kenapa malah ketawa?" tanya Aro heran. Padahal kalau dipikir-pikir harusnya yang heran kan gue.
"Ngerasa aneh nggak kamu?"
Dengan wajah polosnya Aro menggeleng. "Enggak," jawabnya santai.
Gue kembali tertawa. "Masa sih? Tapi menurut aku, kamu itu aneh lho, Ar. Masa pengen aku ngidam banget."
"Bukan begitu, aku cuma tanya. Kamu udah mulai ngidam atau belum. Meski pengen ngerasain sesekali tapi aku nggak ngerasa pengen kamu ngidam banget kok. Biasa aja," kilah Aro.
Gue langsung mencibirnya, "Masa? Nggak percaya tuh," godaku kemudian.
"Ya, terserah." Aro menaikkan kedua bahunya acuh tak acuh lalu beranjak dari sofa.
"Mau ke mana?" tanyaku.
"Dapur. Ambil minum. Haus. Kenapa? Pengen sesuatu?"
__ADS_1
Gue menggeleng sambil mengunyah buah jeruk dan kembali fokus menonton. Saat sedang asik-asiknya menonton, ponselku tampak berkedip menandakan ada telfon. Saat kuintip siapa si penelfon, ternyata Bang Riki.
"Woy, bumil. Apa kabar lo?!" seru Bang Riki heboh, begitu sambungan terhubung.
Kebetulan Bang Riki melakukan panggilan video, jadi gue bisa melihat wajah hebohnya.
"Apa sih?" decak gue kesal, "berisik!"
Di seberang Bang Riki tertawa, kemudian berujar, "Sensi amat sih ini bumil satu. Beneran bunting lo?"
"Apaan sih, Rik. Heboh bener," sahut Aro sambil duduk di sampingku dan menutup botol air mineralnya lalu meletakkannya di meja. Baru setelah itu ia mengambil alih memegangkan ponsel.
"Ponakan gue mana, Bang? Kangen nih gue," tanya gue mengabaikan pertanyaannya.
Bang Riki kemudian mengubah sudut kameranya, sehingga menampilkan Vinzi yang tampak sedang menyusui Baby El.
"Tuh, lagi nyusu dia. Gitu terus kerjaannya, sampai bikin gue cemburu. Sengaja banget kayaknya."
Gue tertawa melihat wajahnya yang dibuat senelangsa mungkin, sedang Aro, ia hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Alay lo, masa anak sendiri dicemburuin," cibir gue.
"Emang kurang sehat lo," ujar Aro ikut-ikutan.
Di seberang Bang Riki semakin memasang wajah nelangsanya. "Ah, nggak ngerti aja lo rasanya, Ar, bentar lagi kalau lo ngerasain nggak akan berani bilang begitu. Gue jamin."
Aro mendengkus tak terima. "Enak aja, gue nggak kayak lo, ya. Jangan lo sama-samain. Paham?"
"Halah, belagu!" cibir Bang Riki, "jadi beneran positif?" imbuhnya memastikan.
Aro mengangguk, meyakinkan. "Iya, tadi udah periksa ke dokter juga kok."
"Udah berapa bulan?"
"Delapan minggu."
Bang Riki tiba-tiba berdecak kesal. "Woy, gue tanya berapa bulan kenapa lo jawabnya pake minggu. Sekolah di mana sih lo dulu," protesnya kesal, "gue tanya baik-baik, kenapa malah lo suruh mikir?"
Kali ini giliran gue yang memutar kedua bola mata gue. Ini Abang gue emang sengaja pengen ngetes kesabaran kami atau bagaimana sih.
"Ya elah, Bang, gitu aja pake segala protes. Gue jambak juga rambut lo ya, Bang, kalau deket." Emosi gue tersulut.
Gue menoleh ke arah Aro, karena merasakan seperti sedang dipandangi Aro. Dan benar saja, saat gue menoleh Aro tampak menatap gue serius.
Gue menerjap bingung. "Kenapa?" tanya gue was-was.
Aro menggeleng dengan kedua sudut bibir yang sedikit bergetar, seperti sedang menahan diri agar tidak tertawa. Dan hal ini semakin membuat gue curiga.
"Kenapa sih?"
"Yee, malah ngobrol sendiri pake bahasa kalbu lagi," protes Bang Riki kesal.
Haha. Kali ini Aro tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
"Enggak, aku tiba-tiba ngebayangin kalau kamu ngidam pengen jambak Riki. Kayaknya seru deh, yang," ujar Aro sambil tertawa dan membuat gue ikut tertawa.
Lain dengan Bang Riki yang tampak kesal dan langsung mengumpat keras. Lalu tiba-tiba ada sesuatu yang melayang ke wajahnya. Hal ini tentu saja membuat gue tertawa terbahak-bahak karena puas.
"Astagfirullah, bini gue mau ngamuk kayaknya. Udahan deh, nanti gue telfon lagi. Nggak tahu deh, disuruh ngambil sesuatu nih gue kayaknya."
Setelah mengatakan itu, sambungan langsung terputus begitu saja. "Dasar nggak sopan, masa dimatiin gitu aja," gerutu gue kesal lalu meletakkan ponselku kembali di atas meja.
"Ya, kan lagi buru-buru. By the way, nanti akhir pekan ke Jakarta, yuk. Kira-kira kamu kuat nggak perjalanan jauh?"
Gue berpikir sesaat. "Ya, kalau nggak dicoba, ya nggak bakalan tahu."
"Berani nyoba nggak?"
"Berani dong."
Aro mengacungkan jempolnya sambil mengangguk. "Oke, mau naik apa?"
"Naik apa? Ya, naik mobil lah."
Aro menggaruk kepalanya salah tingkah sambil mencengir, "Hehe, kirain pengen sesuatu yang baru gitu. Naik kereta semisalnya."
Gue menggeleng. Justru kalau harus naik kendaraan umum, membuat gue sedikit was-was.
"Oke."
Tbc,
__ADS_1
Mohon maaf atas kemalasan saya yang kian menjadi😆🙈🤭sehingga kemarin nggak update sama sekali. Maaf, ya, moga-moga abis ini nggak kalah sama godaan setan malas, ya. Aamiin.
See you next part🥰😆🥰🤪😘😋😍🤩