
########
Satu kata untuk menggambarkan perasaan gue saat ini yaitu. Takut. Gue tak tidak tahu perasaan apa yang lebih tepat untuk menggambarkan perasaan gue saat ini kecuali rasa takut. Iya, gue takut, takut apa yang gue lihat barusan benar-benar Aro, tapi Aro berbohong padaku. Kalau itu benar-benar Aro kenapa dia harus berbohong? Kenapa dia tidak jujur dan mengatakan kalau ia sedang bersama mantannya itu, kalau dia menjelaskan, gue akan mencoba mengerti, karena mungkin saja mereka punya masalah yang perlu mereka selesaikan di masa lalu. Tapi kalau begini, otak gue bahkan tidak bisa berpikir jernih. Gue harus bagaimana?
"Anggita?"
Gue secara otomatis langsung menoleh ke asal suara dan menemukan Luki. Ah, Luki?
Iya, Luki itu. Astaga, gue harus bagaimana ini?
"Are you okay? Lo keliatan pucet. Sakit?"
Iya, gue sakit. Sakit hati lebih tepatnya. Pacar gue lagi jalan sama mantannya, tapi dia nggak kasih tahu gue? Dan dia bahkan berbohong? Lantas gue harus bagaimana sekarang? Bersikap seolah-olah tidak tahu dan menunggu penjelasan dari Aro, atau berlari masuk ke dalam dan melabrak mereka? Astaga, pilihan kedua terdengar buruk, tapi kalau harus menunggu Aro menjelaskannya, sepertinya tidak mungkin. Aro tipekal orang yang kalau tidak ditanya, maka ia tidak akan bercerita.
Arrrgghh! Gue pusing!!
"Anggita, lo bisa denger gue?"
Gue kembali melirik Luki, yang kini sedang memasang wajah cemasnya. Astaga, berlebihan sekali sih orang ini.
"Indera pendengaran gue masih normal, Luki, kebetulan masih sehat. Belum terganggu sama sekali, alhamdulillah."
Luki menghela napas lega. "Syukurlah, gue pikir lo mau pingsan. Lega gue dengernya."
Gue menggeleng. "Kebetulan gue nggak tertarik untuk pingsan dan lo tangkep sih," jawab gue ngaco.
Harap maklum, hati gue sedang resah dan gelisah, dan gue butuh pertahanan diri.
"Bisa aja lo."
"Jelas. Jangan panggil gue Anggita Rahmawati, kalau gue nggak serba bisa. Ambyarin hati lo pun, gue sanggup."
Luki meringis. "Itu terdengar luar biasa. Tapi, sorry, gue nggak tertarik sih."
Gue kemudian terkekeh geli. "Bercanda gue. Lo ini mau ke mana?"
Sepertinya, kali ini gue tertarik untuk menebeng Luki. Dari pada hati gue yang ambyar. Ck, kenapa dari tadi gue ngomong ambyar mulu deh. Apa jangan-jangan hati gue sekarang ini sudah ambyar melihat Aro jalan dengan mantannya di belakang gue?
"Balik sih, abis makan sama anak-anak tadi. Lo sendiri?"
"Lo udah nikah? Udah punya anak? Ya, ampun gue kira--"
"Anak-anak staff marketing maksud gue, Gi," potong Luki dengan wajah kesalnya.
Gue terkekeh geli. Dalam hati, gue sangat bersyukur dengan kemunculannya yang tiba-tiba ini. Setidaknya, gue masih bisa tersenyum meski senyum yang gue pasang saat ini hanya senyuman palsu.
"Jadi, lo sendiri mau ke mana? Balik atau masih ada acara lain?"
"Balik," jawab gue cepat.
"Keberatan kalau gue anter?"
Yes, memang ini yang gue tunggu-tunggu.
"Kalau lo maksa, gue mau. Tapi kalau lo cuma nawarin secara cuma-cuma, enggak deh. Thanks."
Jaga harga diri! Meski lo sangat membutuhkan bantuannya, lo tetap harus jaga diri dan hati. Apa lagi sama yang modelan Luki begini. Astaga, model seperti Luki begini, tuh, benar-benar berpotensi membuat seseorang tergiur untuk berselingkuh.
"Kalau gitu, gue maksa."
Gue mengangguk. "Oke, berhubung lo maksa, gue ikut lo."
"Tapi gue bawa motor hari ini, nggak masalah?"
Gue mengangguk yakin. "Nggak papa, gue juga biasanya naik ojek kok."
Luki memandang gue ragu, selama dua detik. Namun, detik berikutnya ia mengangguk dan mengajakku ke tempat ia memarkir motornya.
Sesampai di tempat parkir, gue langsung melongo. Gue pikir tuh, motor Luki, tuh, hanya sejenis motor honda sejenis vario, atau sejenis satria, bukan motor sport ninja kawasaki super besar begini. Astaga, ini gimana gue naiknya? Ini si Luki juga, badan kecil begini masa motornya segede ini. Astaga!
"Ini motor lo?" tanya gue masih diliputi rasa tak percaya.
Dengan wajah penuh keyakinan, Luki mengangguk. "Ada yang salah?"
"Enggak sih, tapi..."
Gue kehilangan kata-kata, perasaan waktu itu gue lihat Luki naik Honda Vario 150 warna hitam, tapi kenapa ini ganti Ninja Kawasaki begini?
"Vario 150, mana?" tanya gue spontan.
Luki menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi. "Vario?" beonya tak yakin.
Gue mengangguk.
"Yang warna hitam itu?"
Sekali lagi, gue mengangguk sebagai tanda jawaban.
"Itu punya adek gue. Waktu itu gue minjem, motor gue lagi diservis, mau bawa mobil males macet. Ya udah, gue pinjem punya adek gue, kebetulan waktu itu dia dijemput temennya."
"Ah, begitu."
__ADS_1
Luki mengangguk, lalu menyerahkan helm ke gue. Gue menerima dengan ragu-ragu, haruskah gue menolak tawarannya?
"Lo keberatan buat naik ini?" tanya Luki.
Gue meringis. "Sedikit sih, cuma nggak papa deh. Kan yang maksa orang ganteng," ujar gue lalu memakai helm.
Luki tersenyum, ikut memakai helmnya dan naik ke atas motor. Ia kemudian menoleh ke arah gue.
"Bisa nggak naiknya?" godanya sambil terkekeh geli, sengaja sekali sedang menggodaku.
Gue mendengkus. "Gue nggak pendek, ya. Naik beginian, mah, bisa."
Luki kembali tersenyum, lalu mangguk-mangguk. "Gue suka cewek tegas kayak lo."
"Tapi gue nggak suka cowok manis tapi agresif kayak lo," balas gue lalu menepuk pundak Luki, "ayo, jalan!"
Luki langsung menstarter motornya. "Sesuai aplikasi, ya, Mbak?"
"Cocok lo jadi Abang-abang ojol. Besok coba daftar deh," kata gue menyarankan, membalas candaannya.
"Boleh dicoba. Tapi gue pengennya jadi Abang-abang ojol buat lo, kira-kira gue harus daftar ke mana?"
"Abang gue. Berani lo?"
"Lo nantangin?"
"Iya, lah, berani nggak lo?"
"Kalau gue berani, kemungkinan besar, bakal diterima?"
"Ya, enggak lah. Keputusan diterima atau enggak, itu urusan Abang gue dong."
"Oke, gue berani. Tunggu besok, ya?"
Hah? Luki nggak serius kan ini? Duh, semoga aja cuma bercanda deh. Kalau serius, bisa-bisa gue digorok Bang Riki nih. Hih, bayanginnya aja serem. Gimana kalau beneran.
#####
Hingga pagi hari, Aro belum juga menghubungi gue lagi. Tangan gue rasanya sudah gatal untuk menghubunginya lebih dulu, mulut gue juga rasanya tak kalah gatal ingin mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang mengganggu pikiran gue, atau bila diperbolehkan, gue ingin sekali mengumpatinya, karena membuat gue semalam uring-uringan tidak jelas.
Astaga, Aro, lo kenapa hobi banget mengacaukan hari-hari indah gue. Apakah ini pertanda kalau kita ini tidak cocok, sesuai tebakan Bang Riki sejak awal?
"Gi, sarapan, Gi!" seru Vinzi dari luar kamar gue.
"Ya, bentar lagi gue turun," balas gue ikut berteriak.
"Nggak usah lama-lama, nanti keburu ditinggal Bang Riki."
"Bawel banget sih lo jadi Kakak ipar sama temen."
"Abang lo yang bawel," balas Vinzi tak terima.
Gue mendengkus. "Lo sama aja."
"Lo juga gitu."
"Bodo amat," jawab gue tak peduli sambil mengangkat kedua bahu gue secara bersamaan.
"Jadi, semalem lo kenapa?"
Gue menghentikan langkah kaki gue secara tiba-tiba, karena pertanyaan yang Vinzi lontarkan. Hati gue rasanya seperti kembali diremas, bayangan Aro denagn bersama mantannya semalam kembali berputar di otakku. Hati gue kembali takut dan juga khawatir dengan segala spekulasi yang gue pikirkan. Gue tidak suka berasumsi sendiri, tapi, gue cukup takut untuk mencari kebenaran yang mungkin saja melukai perasaan gue. Sebut gue pengecut, tapi gue benar-benar takut saat ini.
"Gi, kok malah ngelamun sih?"
"Gue..." Kedua mata gue langsung memanas seketika. Lidah gue rasanya kelu untuk sekedar berkata-kata.
"It's okay, Gi. Kalau lo belum siap cerita, nggak usah cerita dulu."
Gue mengangguk paham, lalu kami melanjutkan langkah kaki kami turun ke bawah.
"Aro..." bisik gue tiba-tiba.
"Kenapa? Kenapa sama Aro? Kalian berantem?" tanya Vinzi penasaran, ia kemudian mengajakku untuk duduk di sofa. "Duduk dulu! Kalau lo siap cerita sekarang, cerita aja."
Gue mengangguk. "Gue... gue semalem lihat Aro sama mantannya turun dari mobil yang sama."
"Hah? Lo yakin itu Aro?"
Gue mengangguk yakin. "Gue langsung nelfon dia, dan dia jawab. Tapi lo tahu, apa yang dia katakan?"
"Apa?"
"Dia bilang dia di apartemennya yang ada di Bandung, padahal jelas-jelas gue lihat mereka."
"Kenapa lo nggak bilang ke kita semalem, Gi."
"Gue bingung. Gue takut kalau itu beneran Aro."
"Lo yakin itu Aro, tapi lo takut itu beneran Aro?"
Gue mengangguk, membenarkan. Lalu menangis. Entahlah, hari ini hati gue lemah banget, pengennya nangis.
__ADS_1
Vinzi langsung memeluk gue dengan sigap, untuk menenangkanku.
"Terus rencana lo?"
"Enggak tahu," ucap gue pasrah.
Tak lama setelahnya, Bang Riki berteriak, "Sayang, Anggi, ini kalian malah pada ngopi apa gimana sih? Ditungguin juga, astaga! Malah syuting teletabies yang sedang berpelukan ternyata."
"Plis, jangan kasih tahu Bang Riki dulu," bisik gue pada Vinzi.
Vinzi mengangguk paham, lalu mengajakku berdiri. "Yuk, kita sarapan dulu, masalah ini nanti kita pikirin lagi."
Gue mengangguk setuju, lalu berdiri.
"Udahan nih?"
"Udah, yuk, langsung sarapan!" ajak Vinzi pada Bang Riki.
"Itu adik iparmu kenapa?" bisik Bang Riki samar-samar.
"Udah, nggak usah kepo," balas Vinzi ikut berbisik.
Gue di belakang meraka hanya tersenyum miris saat mengupingnya.
#####
"Mas, di luar ada tamu," lapor Mbok Ru menghampiri meja makan.
Bang Riki menghentikan niatnya untuk menyendok nasi, dan menoleh ke arah Mbok Ru lalu bertanya, "Siapa, Mbok?"
"Kurang tahu, Mas, cuma bilang mau ketemu sama Kakaknya Mbak Anggi."
Uhuk Uhuk Uhuk
Seketika gue langsung tersedak. Mampus, itu yang nyariin bukan Luki kan? Kalau iya, mampus lah gue.
Tanpa membuang waktu, gue langsung berdiri dan berlari meninggalkan dapur, lalu keluar rumah. Gue tidak bisa menyembunyikan wajah terkejut gue saat menemukan Luki dengan kemeja slimfit-nya tengah tersenyum manis ke arah gue.
"Hai, gue sedang berusaha menepati janji gue kemarin," ucap Luki, seolah ia adalah makhluk paling suci di dunia ini, seakan tidak punya dosa gitu loh. Pasang wajah polos tanpa perasaan bersalah sama sekali.
"Astaga, gue kemarin cuma bercanda, Ki. Nggak usah lo tanggepin beneran, lagian gue--"
"Siapa, Wat?"
Ucapan gue langsung terhenti saat mendengar suara Bang Riki dari belakang. Mampus gue!
Ini juga si, Luki, kenapa malah menyodorkan telapak tangannya dan mengajak Bang Riki bersalaman.
"Saya Luki, Bang, temen kerjanya Anggi."
"Terus ada urusan apa lo nyari gue? Adek gue punya hutang sama lo?"
"Tidak. Tidak begitu, saya ke sini mau minta izin untuk menjemput Anggi."
"Jemput adek gue?" ulang Bang Riki sambil mendengkus geli, "sorry, nggak perlu. Thanks atas niat baik lo buat nganter adek gue, tapi, gue masih bisa dan mampu nganterin adek sendiri. Jadi, silahkan lo pergi, bisa?"
Luki tergagap, menatap gue dan Bang Riki secara bergantian, lalu mengangguk pasrah saat gue mengucapkan kata 'sorry' tanpa suara.
"Ya udah, kalau gitu gue duluan, Gi. Mari, Bang!"
"Hmm."
Bang Riki kemudian menoleh ke arah gue. "Bisa lo jelasin yang tadi itu apa? Mau jadi cewek sok cakep dan belajar selingkuh?"
"Apaan sih, gue nggak selingkuh, ya," sanggah gue tak terima.
"Tapi lo bisa aja tergiur untuk selingkuh. Gue nggak buta ya, Gi, cowok tadi naksir lo berat. Jangan kasih kesempatan sama orang yang berharap lebih."
"Gue--"
Ucapan gue harus terhenti karena tiba-tiba, gue mendengar suara Aro dan memelukku dari belakang. Seketika tubuh gue menegang. Gue harus bersikap bagaimana sekarang ini?
"Kok kamu nggak kelihatan seneng?"
Aro sedikit memiringkan wajahnya untuk menatap wajah gue. Di hadapan gue, Bang Riki mendengkus.
"Gimana mau seneng kalau hampir ketahuan," gerutu Bang Riki di sela dengkusannya.
Darah gue seketika mendidih, tidak terima dengan sindirannya barusan.
"Maksud lo apa, Bang?" tanya gue sewot.
"Menurut lo sendiri lah."
"Kalau lo nggak tahu apa-apa, mending diem deh. Lalu lo tanyain sebenernya yang selingkuh di sini itu siapa?"
"Hah, selingkuh? Ini kalian pada bahas apa sih? Siapa yang selingkuh?"
"Pacar lo/sohib lo! " seru gue dan Bang Riki bersamaan. Gue berseru untuk Bang Riki, sedang Bang Riki berseru untuk Aro, dan Aro sendiri saat ini sedang kebingungan.
Tbc,
__ADS_1