
######
Kondisi Anggita benar-benar masih belum stabil, tidak hanya dari segi kesehatan fisik tapi mentalnya pun demikian. Sepanjang hari, yang ia lakukan hanya menangis sambil memeluk bingkai foto Ayahnya dan itu jelas membuatku hancur. Anggita cukup sulit untuk ditenangkan akhir-akhir ini, dan itu cukup membuat kami kewalahan.
"Makan dulu sana, Ar, lo butuh banyak tenaga buat ngehandle Anggi yang makin sulit dikendalikan begini."
Riki menepuk pundakku lalu duduk di sampingku. Aku mencoba untuk memaksakan diri agar tersenyum lalu mengangguk.
"Gue tahu sih ini berat buat Anggi, tapi jujur gue nggak nyangka kalau dia akan sampai sebegininya."
Aku mengangguk setuju dengan ucapan Riki. Aku pikir sedikit demi sedikit Anggita akan belajar buat mengikhlaskan Ayah, bukannya terus menyangkal begini.
"Kalau kondisi Anggi nggak kunjung bisa kita kendalikan gimana, Ar?"
Riki menoleh ke arahku dengan ekspresi seriusnya. Aku menyipitkan kedua bola mataku tak paham.
"Maksud lo?"
Riki menghela napas pendek. "Gue ngerasa Anggi nggak cukup kuat nanggung semua ini, Ar. Ini terlalu berat buat dia, dia nggak cuma kehilangan bayinya tapi Ayah juga. Kalau kondisinya begini terus, apa lo nggak kasian liat dia? Anggi butuh pertolongan, Ar."
Aku semakin menajamkan tatapanku. "Maksud lo apa sih, Rik, ngomong begitu?" Meski sebenarnya aku dapat menebak apa maksud di balik kalimat Riki, aku masih butuh penjelasan lebih.
"Kita harus bawa Anggi ke rumah sakit kejiwaan, paling enggak kita bawa ke psikiater."
Aku langsung berdiri dan menarik kerah kemeja yang Riki kenakan. Aku tidak terima. "Istri gue nggak gila, ya, Rik. Lo jangan sembarangan, dia adek lo!"
Riki terlihat lebih tidak terima, ia menyingkirkan cengkraman pada kerah kemejanya dengan kasar. "Karena Anggi itu adek gue, Ar, gue sayang sama dia. Gue nggak mau liat dia begini terus. Sialan!" umpatnya tak kalah emosi, "lo pikir gue bilang begini karena apa? Huh?!"
"Tapi nggak harus bawa Anggi ke rumah sakit jiwa!" teriak gue emosi.
Riki tak kalah emosi. "Gue bilang minimal kita bawa Anggi ke psikiater! Lo mau biarin istri lo terus-terusan begini? Ini udah hari ke berapa, Ar. Kita nggak bisa kayak gini terus, kita harus bantu Anggi. Anggi butuh pertolongan."
Aku menarik rambutku dengan kuat, melampiaskan seluruh emosiku. Aku frustrasi.
"Gue tahu ini juga berat buat lo, ini juga berat buat gue, Ar. Tapi kita nggak bisa ngebiarin Anggi begitu terus."
"Tapi, Rik, gue rasa itu bukan--"
"--solusi terbaik?" sahut Riki cepat.
Aku terdiam, tidak menjawab apa pun. Pikiranku kacau. Ini juga berat untukku, ya Tuhan.
"Gue masuk duluan," ucapku sambil berjalan melewati Riki begitu saja. Aku bahkan mengabaikan teriakan Riki yang terus-terusan memanggil namaku.
Aku kemudian memutuskan untuk mencari keberadaan Anggi, yang ternyata kini tengah duduk lantai samping ranjang. Aku kemudian berlari menghampirinya.
"Hei, kok duduknya di bawah, naik ke atas, yuk, sini dingin, sayang."
"Ayah, Ar."
"Ayah udah tenang di sana, sayang, kamu nggak boleh begini."
Bibir Anggita kembali bergetar, seperti sedang menahan tangisnya. Lalu tak lama kemudian ia benar-benar menangis.
"Ayah udah tenang? Kenapa Ayah tega sama aku, Ar? Aku di sini gelisah nggak karuan sementara Ayah udah tenang?"
Aku kemudian langsung menarik tubuh Anggita ke dalam pelukanku. "Kamu juga harus tenang, sayang, nggak boleh begini. Aku di sini buat kamu, kamu nggak boleh begini. Kita harus melanjutkan hidup, kita harus bangkit dan kuat."
Secara tidak terduga, Anggita tiba-tiba mendorong tubuhku dan nyaris membuatku terjungkal karena tidak siap. Aku terkejut.
"Tapi aku mau Ayah, Ar. Sekali aja, aku peluk Ayah. Aku nggak pengen yang lain. Aku cuma mau Ayah, sekali aja."
"Kamu bisa peluk aku sepuasnya, sayang. Aku di sini ada buat kamu, plis kamu jangan kayak begini."
Aku mulai takut jika Anggita terus begini, Riki benar-benar akan membawa Anggita ke rumah sakit jiwa. Aku tidak rela.
Anggita menggeleng tegas. "Aku mau Ayah. Aku mau peluk Ayah!"
Kali ini aku meradang saat mendengar rengekan Anggita yang terus-terusan menginginkan Ayah. Perpaduan putus asa, frustasi, dan lelah membuatku tidak dapat mengendalikan diri.
"Anggita aku bilang berhenti kayak begini," teriakku emosi.
Kedua mata Anggita membulat terkejut mendengar perubahan nadaku yang tiba-tiba meninggi. Jujur aku pun sendiri cukup terkejut.
__ADS_1
"Aro! Kamu ini apa-apaan?" seru Mama lalu berlari menghampiri Anggita dan memeluknya, tak lama setelahnya Anggita menangis tersedu-sedu. "Nggak papa, sayang. Maafin Aro, ya, nanti Mama omelin Aro. Kamu tenang, ya."
"Aro udah nggak sayang sama Anggi, Ma. Aro pasti marah sama Anggi karena udah bikin dia kehilangan bayinya," isak Anggita sambil memeluk Mama erat.
Aku menggeleng kuat. Itu tidak benar. "Enggak, sayang. Aku tetep sayang sama kamu. Aku bilang aku nggak--"
"Bohong! Buktinya tadi kamu barusan bentak aku," seru Anggita marah, aku kembali menggeleng tegas.
"Aku nggak maksud begitu, aku tadi cuma khilaf, sayang. Maafin aku! Maafin aku karena nggak bisa--"
"Kamu nggak perlu bersandiwara lagi, Ar. Aku tahu kamu marah, kecewa bahkan benci sama aku kan karena bikin kamu kehilangan bayi kamu. Iya, kan? Ngaku aja kamu, Ar?" bentak Anggita menyudutkanku.
Aku semakin pusing dibuatnya. Aku tidak pernah punya pikiran begitu, sama sekali enggak pernah, bahkan terbesit sedikit pun enggak.
"Aku nggak bersandiwara, sayang. Aku beneran sayang sama kamu, aku nggak pernah ngerasa marah atau kecewa sama kamu. Sama sekali nggak pernah, sayang, aku justru--"
"Berhenti berbohong!"
Aku semakin frustasi. "Aku bilang aku berkata jujur, Anggita!" seruku kembali meradang.
"ARO!!" Kali ini Mama yang membentakku, kedua matanya menatapku nyalang. "Lebih baik keluar kamu dari pada begini, jangan kembali masuk sebelum kamu cukup tenangin diri kamu," imbuhnya kemudian. Beliau terlihat emosi denganku lalu mencoba menenangkan Anggita.
"Ada apa sih? Gue denger suara ribut dari luar?"
Tak lama setelahnya Riki masuk dengan wajah bingungnya. Mama melirikku tajam.
"Rik, mending kamu bawa Aro keluar. Mama nggak tahan liatnya," perintah Mama.
Kening Riki mengerut heran lalu menatapku. "Abis ngapain lo?"
Aku memilih mengabaikan pertanyaan Riki dan berjalan melewatinya begitu saja. Saat ini aku perlu menenangkan diri.
Aku kemudian memutuskan pergi ke teras rumah. Kebetulan di sana ada kolam kecil tempat mendiang Ayah memelihara ikan koi.
"Nak."
Aku langsung menoleh ke asal suara dan menemukan Ibu tengah tersenyum lalu duduk di sebelahku.
Aku langsung berdiri dan bersimpuh di depan beliau.
Setelah lama kutahan-tahan, kini aku akhirnya bisa mengeluarkan sesuatu yang terasa sesak di dalam rongga dadaku. Tak lama setelahnya, aku merasakan belaian lembut pada belakang rambutku.
"Ndak papa, Nak, Ibu paham kondisi kamu. Ibu juga minta maaf atas Putri Ibu yang membuat kamu susah beberapa hari terakhir, Anggi memang cukup dekat dengan Ayahnya wajar kalau sampai sekarang dia masih belum bisa terima keadaan. Ini masa-masa sulit untuk dia hadapi, Nak. Ibu minta kamu untuk lebih bersabar lagi."
Aku mengangguk lalu mencium punggung tangan beliau. "Sekali lagi maafin Aro karena sempat mengecewakan Ibu dan almarhum Ayah. Mungkin ini bukan yang Ibu dan Ayah harapkan."
Ibu kemudian menepuk punggungku. "Ndak papa, Nak. Semua orang pernah melakukan kesalahan, tidak ada manusia yang sempurna. Yang penting kita sama-sama mau belajar memperbaiki diri."
Aku mengangguk setuju, lalu mengucapkan terima kasih banyak. Kalau bukan karena beliau, entahlah gimana nasib statusku ke depannya. Dicap sebagai menantu tidak tahu diri mungkin.
########
Setelah merasa cukup tenang, aku akhirnya memutuskan kembali masuk ke dalam rumah. Aku harus segera meminta maaf pada Anggita karena sempat membentaknya tadi. Namun, belum sempat aku sampai melangkahkan kaki meninggalkan teras, Riki datang menghampiriku dengan ekspresi menahan marah. Sebelah tangannya pun terlihat terkepal kuat, membuatku bisa menebak kalau itu adalah hadiah yang akan diberikan untukku. Dan benar saja, saat ia sudah berada tepat di depanku, satu pukulan cukup keras berhasil mendarat pada ujung bibirku.
"Brengsek lo!" seru Riki berteriak dengan emosi, "apa maksud lo bentak-bentak adik gue, sialan! Lo pikir setelah lo udah jadi suaminya, lo bisa seenaknya gitu sama adek gue. Enggak! Lo salah besar. Sekali lo nyakitin adek gue, habis lo di tangan gue. Jangan karena lo sahabat gue dari jaman SMA gue jadi nggak tega buat ngehajar lo. Kalau lo sempet berpikir begitu, lo benar-benar salah besar, Bro. Gue nggak sebaik itu."
Kali ini ia menarik kerahku dan kembali melayangkan pukulan dan mengenai pipiku. Aku merasakan periu dan ngilu di saat bersamaan.
"Gue nggak main-main sama ucapan gue, Ar." Riki menarik kerahku dan mendorong tubuhku hingga terjatuh, aku ingin melawan tapi aku sadar betul posisi dan apa yang telah kulakukan tadi, jadi aku hanya pasrah menerima semua pukulan yang Riki berikan.
"Kenapa lo pasrah aja, sialan!" teriak Riki emosi.
Aku mengelap ujung bibirku yang terasa berdarah. "Lo mau gue lawan? Sorry, gue mau simpen tenaga gue buat bujuk istri gue ketimbang berantem sama lo. Sorry, gue beneran nggak tertarik buat berantem sama lo."
Riki berteriak kesal sambil melepaskan cengkraman kerahku. "Seenggaknya lo harus ngehindar, bodoh!"
Aku memaksakan diri untuk tersenyum sekalipun terasa sedikit perih. "Kalau gue ngehindar, yang ada lo tambah emosi."
"Sama aja. Gue juga makin emosi liat lo pasrah dan bonyok begini."
"Seenggaknya, emosi lo tersalurkan meski dikit. Lo masih mau nonjok lagi nggak? Kalau enggak gue mau masuk, gue perlu minta maaf sama Anggi, Rik."
Riki mengeram kesal dan meraih kerah kemejaku lagi, sebelah tangannya kembali terkepal dan bersiap memukulku lagi. Aku memalingkan wajah sambil memejamkan kedua mataku, berniat menghindari pukulan dari Riki. Namun, yang Riki lakukan hanya mengumpat kesal dan melepaskan cengkramannya, lalu membantuku berdiri.
__ADS_1
"Thanks," ucapku tulus sambil menepuk kemeja dan celanaku yang kotor.
Riki berdecak lalu memalingkan wajahnya. "Minta obatin Vinzi dulu baru minta maaf ke Anggi."
Aku tersenyum, kemudian mengucapkan terima kasih dan meminta maaf karena sudah membuat Riki kecewa. Menepuk pundaknya dan meninggalkan Riki begitu saja.
"Astaga, itu kenapa muka lo, Ar?"
Saat masuk ke dalam rumah, aku langsung disambut Vinzi dengan wajah paniknya.
"Nggak diamuk Papa-nya El kan?"
Aku mengangguk sambil mencoba untuk tersenyum. "Minta tisu dong, Zi."
"Nggak cuma tisu ini yang lo butuhin. Ayo, ke ruang tengah dulu. Gue obatin luka-luka lo, kalau Anggi tahu lo diambuk Bang Riki gue bisa kena omel."
"Nggak usah, lebay deh lo, Zi. Gue baik-baik saja kok."
"Baik-baik aja gimana, itu luka lo kalau nggak segera diobati nanti bisa berbekas, wajah ganteng lo ilang suami gue bisa dituntut istri lo. Nggak usah sok kuat, ayo, gue obatin. Tenang aja, gue nggak akan curi kesempatan dalam kesempitan kok. Lo santai aja, gue bukan tukang modus," cerocos Vinzi panjang lebar dan terdengar lucu.
Aku kembali tersenyum dan mengangguk, menyakinkannya agar tidak perlu khawatir.
"Gue seriusan nggak papa, santai aja, Zi. Gue justru kenapa-kenapa kalo nggak segera minta maaf sama Anggi."
Vinzi menghela napas. Ia terlihat tidak bisa berkata-kata kali ini.
"Ya, udah deh. Terserah lo, yang penting gue tadi udah nawarin, ya."
"Iya, thanks ya, Zi, buat tawarannya. Tapi boleh nggak kalau gue minta diambilin tisu bentar?"
Vinzi menepuk dahinya. "Oh, iya, lupa. Bentar deh, gue ambilin dulu." Lalu pergi meninggalkanku begitu saja, tak lama setelahnya ia kembali sambil membawa sekotak tisu.
"Banyak amat," kekehku berkomentar, aku kemudian menarik tisu selembar dan berterima kasih, "doain gue, ya, semoga nggak kena amuk adik ipar lo."
"Iya, pasti. Semoga sukses, ya. Jangan lupa bismilah dulu, Ar. Anggi serem kalau mode ngambek."
Aku meringis dan mengangguk setuju, apa lagi kondisi psikis Anggi yang sedang tidak menentu begini. Siap-siap saja deh.
Setelah dirasa sudah siap dengan segala amukan yang mungkin akan kuterima. Aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar, kali ini Anggi sendirian. Mungkin Mama tahu kalau aku sudah cukup tenang, makanya beliau tenang meninggalkan Anggi.
"Aro, itu wajah kamu kenapa begitu? Kamu abis berantem?"
Tidak ada sorot kemarahan yang tersirat di kedua mata Anggita, yang ada kini sorot mata penuh kekhawatiran.
Aku menggeleng. "Diamuk lebih tepatnya."
"Siapa yang berani ngamuk kamu?"
"Abang kamu."
"Bang Riki? Kok dia tega bikin wajah ganteng suami aku jadi begini?"
"Kamu sudah nggak marah?"
"Emang itu penting? Wajah kamu lebih penting, Ar. Di mana Bang Riki sekarang? Aku mau bales."
"Enggak usah!" tahanku sambil menggeleng tegas.
"Tapi wajah kamu sampai begini, Ar. Bang Riki harus dikasih pelajaran. Emang nggak ada akhlak itu orang," gerutu Anggita dengan wajah kesal.
Aku menggenggam kedua tangan Anggita dan menatapnya intens. "Aku minta maaf soal yang tadi. Aku nggak maksud begitu sayang. Maafin aku, ya."
"Kamu nggak sepenuhnya salah, Ar. Aku juga salah. Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghibur aku, tapi akunya malah begini. Aku tahu aku salah, tapi, plis, kasih aku waktu buat terima kenyataan kalau Ayah udah nggak ada, Ar. Aku perlu waktu. Aku benar-benar belum siap buat ngikhlasin gitu aja."
"Iya, aku tahu ini berat. Tapi kamu nggak boleh terus-terusan larut dalam kesedihan, kasian Ayah juga, sayang."
Kali ini Anggita mengangguk sambil menahan tangisnya kembali. "Iya, aku tahu. Aku mau belajar pelan-pelan, tapi, plis, jangan paksa aku buat bisa jadi kuat, Ar. Aku nggak sekuat itu."
Aku mengangguk paham, lalu menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Aku tidak berkata apa-apa lagi selain mengatakan kalau aku sangat mencintainya dan tidak akan pernah meninggalkannya untuk selama-lamanya.
The End......
Enggak, enggak, masih ada lanjutannya lagi kok. Bercanda aja, cuy, biar lemes sedikit,😂
__ADS_1
Udah ya, cuap-cuapnya, see you next part😍🥰🤩