
#####
Tok Tok Tok
Aku menghentikan kegiatanku yang tadinya sedang mengancingkan kemeja batikku, lalu bergegas membuka pintu, dan menemukan Mama dengan kebaya warna merah marun dan rok jarik cokelatnya.
"Kenapa, Ma?" tanyaku bingung.
"Boleh Mama masuk?"
Aku mengernyit sesaat, sebelum akhirnya mengangguk dan mempersilahkan Mama masuk. Mama langsung mengambil posisi duduk di tepi ranjang, sedang aku kembali melanjutkan kegiatanku tadi yang sempat tertunda.
"Ada apa, Ma?" tanyaku pada akhirnya, saat menyadari kalau kalau Mama sedang memperhatikanku.
Aku meraih jam tangan rolexku, lalu memakainya dan berbalik menatap Mama. Beliau tersenyum lalu berdiri dan menghampiriku.
"Mama nggak nyangka, putra kebanggaan Mama bentar lagi jadi suami orang."
Entah karena aku ini anak tunggal atau memang Mama yang sedang sensitif, atau memang sifat berlebihan Mama yang sedang kabuh. Kedua bola mata Mama tiba-tiba memerah.
"Apaan sih, Ma, Aro tetep bakalan jadi Mama. Nggak usah berlebihan, ah."
Aku mengelus pundak Mama dan menyuruh beliau untuk berhenti menangis. Namun, bukannya diam Mama malah memukul pundakku dan menggerutu.
"Kamu ini lho, Mama itu lagi sedih tahu. Anak satu-satunya mau diambil perempuan lain, wajar dong kalau Mama mendadak melow."
"Anggi nggak ambil Aro dari Mama. Justru, Aro lah yang ngambil Anggi dari Ayah dan Ibunya."
"Iya, juga sih. Tapi tetap aja Mama sedih tahu."
"Kurang-kurangin nonton drama Korea deh, Ma, masa Mama sama istri aku nanti, dua-duanya tontonannya itu semua," gerutuku sambil berdecak sebal.
Ekspresi Mama berubah berbinar. "Jadi, calon menantu Mama juga suka drama Korea?"
Wah, kedengerannya nanti Mama dan juga Istriku pasti kompak nih.
Aku mendesah pasrah lalu mendorong tubuh Mama dengan pelan, untuk keluar dari kamarku. "Mending Mama benerin make-up dulu deh, Aro siap-siap terus kita langsung berangkat."
"Make-up Mama luntur, ya?" tanya Mama dengan wajah paniknya.
__ADS_1
Aku kembali mendesah dan menggaruk-garuk bagian belakang kepalaku. "Dikit," jawabku singkat.
"Ya udah, Mama benerin make-up dulu. Bentar kok."
"Iya," jawabku seadanya.
#####
Aku terkejut bukan main saat memasuki mobil, dan Mama mau pun Papa ikut masuk ke dalam mobilku. Keduanya pun dengan kompaknya duduk di kursi belakang, membiarkan aku duduk seperti sopir untuk mereka.
"Kok masuk mobil Aro?"
"Kenapa? Kamu keberatan?"
Aku menggeleng pasrah. "Tapi kenapa duduknya di belakang semua? Kenapa Mama nggak duduk di depan sini bareng Aro?"
"Papa nggak bisa jauh dari Mamamu," sahut Papa membuatku melongo.
"Jadi, nggak ada yang mau duduk di depan?"
"Ada lah, kamu."
Ah, andai aku punya saudara.
"Langsung jalan, Ar!" Papa tiba-tiba menepuk pundakku, "Papa udah nggak sabar ketemu calon menantu dan calon besan. Ya, enggak, Ma?"
"Iya, bener banget, Pa. Mama juga nggak sabar," sahut Mama mengimbuhi.
Mau tak mau, aku pun ikut mengangguk setuju, sambil menyalakan mesin mobil dan langsung menjalankannya, membelah jalanan Ibukota yang kebetulan cukup ramai.
"Apa lagi aku," gumanku kemudian, namun tidak didengar keduanya.
Alhamdulillah. Batinku dalam hati.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, karena momok paling menyebalkan di jalan raya, alias macet. Aku dan kedua orangtuaku sampai juga di rumah Anggita. Perasaan gugup tiba-tiba muncul tanpa kuprediksi sebelumnya. Aku mulai merasakan telapak tanganku berkeringat, kemeja batikku rasanya pun mendadak menyempit dan membuatku seperti kesulitan bernapas.
Astagfirullah! Kenapa aku mendadak setegang ini, lututku rasanya mulai lemas, seperti tidak sanggup berdiri tegak.
"Kok Aro ngerasa mendadak tegang, ya, Pa?" Aku berbisik kepada Papa.
__ADS_1
"Mendadak? Emang tadi enggak?"
Sambil menggeleng polos, aku menjawab, "Tadi biasa aja, Pa."
Papa mengangguk sambil menepuk pundakku. "Nggak papa, dulu waktu Papa melamar Mamamu juga tegang kok. Wajar."
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Aku melakukan beberapa kali sampai agak merasa lega. Setelahnya, aku dan kedua orangtuaku masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
Saat menunggu Anggita keliar dari kamar, perasaaanku makin tidak karuan. Jantungku rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya, pun dengan telapak tanganku, rasanya semakin basah saja.
"Ssst, udah keluar itu."
Aku tiba-tiba merasakan Mama menyenggol kakiku. Aku menatap Mama bingung, apanya yang sudah keluar?
"Calon istrimu," bisik Mama sekali lagi.
Seketika aku tersadar dan langsung mengangkat wajahku dan menemukan Anggita dengan kebaya broklat putihnya dan juga rok lilit batik hitamnya. Ia tampak sangat cantik dan juga manis. Ah, aku benar-benar menyukainya. Tidak sabar rasanya ingin segera menikahinya.
"Langsung kita mulai saja, ya, acaranya," ucap calon Ayah mertuaku mengawali pembicaraan kali ini.
Aku tidak terlalu paham, dan tidak terlalu fokus dengan apa yang diucapkan beliau, karena terlalu sibuk memandang Anggita dengan begitu seksama. Sampai tahu-tahu aku sudah disuruh berdiri dan bertukar vincin dengan Anggita.
Waw, seberapa lamakah aku melamun?
Sambil menggeleng samar, aku berdiri dan langsung menghampiri Anggita.
"Kamu cantik banget," bisikku sebelum acara tukar cincin terjadi.
Anggita hanya tersenyum tersipu malu-malu. "Kamu juga."
"Halah, sok malu-malu segala lo, Gi. Sini foto dulu," seloroh Riki meledek adiknya sambil terbahak puas, "Ar, rangkul aja!"
Ckrek!
"Sip. Jepretan gue emang keren, kayaknya bisa nih gue jadi tukang foto keliling," guman Riki dengan wajah soknya.
Baik aku mau pun Anggita hanya mempu memberinya tatapan datar. Ingin menegurnya pun percuma. Bodo amat lah, yang penting kita sudah resmi bertunangan dan kami akan segera menikah. Mohon doanya semua!!!
**Tbc,
__ADS_1