Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (27) Kencan Yang Gagal


__ADS_3

#####


"Bang, minta duit dong," rengek gue sambil menarik-narik ujung kaos yang Bang Riki kenakan. "Eh, enggak, pinjem aja deh. Nanti kalau gue udah dihalalin Aro, gue ganti."


Bibir Bang Riki mencabik sambil menatap gue jengkel. "Pede banget lo, kalau nanti bakalan dihalalin Aro."


"Harus dong," balas gue yakin. "pinjemin dulu deh, Bang. Enggak banyak kok, cuma lima ratus ribu aja."


Wajah Bang Riki menatap gue galak. "Orang gila! Lima ratus ribu itu sama aja setengah juta, Wat! Mau buat apaan duit segitu banyak?"


"Beli baju. Gue mau kencan sama Aro, Bang. Ini tuh kencan pertama kita, jadi gue harus--"


Belum selesai gue melanjutkan kalimat gue, Bang Riki tiba-tiba menjitak kepalaku dengan penuh penghayatan, sehingga menimbulkan sensasi sakit yang luar biasa.


Gue melotot tak terima. "Sakit, Bang!" rengek gue kesal, sambil mengelus-elus kepala gue yang dijitak olehnya.


"Alay banget sih lo! Cuma kencan sama Aro aja sampai harus beli baju baru dan mahal, emang mau diajak kencan ke mana lo? Kayangan? Atau Surga?"


Kini giliran gue yang memukulnya. "Iih, Bang Riki ah, mulutnya!" pekik gue kesal.


"Kenapa? Minta ditabrak pa--"


"Ya, minta banget ditabrak pake truk lindas," sela gue memotong ucapannya.


"Sialan lo! Udah sana! Gue mau telfonan sama pacar gue, lo nggak usah ganggu," usir Bang Riki sambil menendang pinggang gue pelan.


"Duitnya?"


"Enggak ada. Lo pake baju yang ada di lemari kan banyak, kenapa pake beli baju baru segala sih. Cowok itu nggak perduli sama apa yang lo pake, mau lo gambar alis lo pake garis katulistwa pun, kita para cowok juga nggak peduli. Bodo amat, mau pake baju kayak apa pun, atau mau telanjang seka--"


"BANG RIKI, MULUTNYA!!" jerit gue mengamuk.


Dengan sekuat tenaga gue memukulinya menggunakan bantal sofa. Sementara Bang Riki hanya terbahak setelahnya.


"Cuma perumpamaan, Wat. Gue nggak nyuruh lo buat telanjang juga kali. Maksud gue tuh begini, mau lo dandan secantik Irene Red Velvet pun, belum tentu nanti lo bakalan dapat kaliamat begini dari Aro 'kamu hari ini tampak berbeda, jauh lebih cantik dari biasanya yang cantik aja' enggak, lo nggak akan dapat kalimat begitu dari Aro." Bang Riki menjeda kalimatnya sambil menggeleng tegas, sebelum kembali melanjutkan, "Nggak akan pernah. Aro itu kulkas dua pintu, kalau lo lupa. Jadi, nggak usah usaha terlalu keras, B aja, biar nantinya lo nggak kesel sendiri. Aro itu nggak bisa ngasih pujian atau jokes receh kayak Gani bikin lo senyum-senyum salah tingkah, jangan lo sama-samain."


Gue mendadak langsung kincep. Iya juga, ya. Kenapa gue nggak mikir ke sana. Aro kan kakunya ngalahin kanebo kening, mau gue sewa MUA buat dandanin gue sekalipun, si Aro kemungkinan besar nggak akan puji gue.


"Tumben lo bener, Bang."


"Lo kata yang bener cuma kaum kalian doang," balas Bang Riki dengan gerutuan.


Gue menatap Bang Riki ragu. "Terus sekarng gue harus gimana?"


"Bikinin gue mie rebus gih, laper gue."


Gue berdecak jengkel, lalu memukul wajahnya menggunakan bantal sofa.


"Bodo amat, Bang!" ketus gue lalu meninggalkan Bang Riki begitu saja.


"Lah, gue serius, masakin mie gue dulu. Abis itu nanti gue kasih tips&trik buat ken--"

__ADS_1


"Udah nggak butuh!" ketus gue lalu memilih naik ke lantai atas.


Begitu sampai di kamar, gue langsung membongkar isi lemari gue. Mencari baju yang cocok untuk kencan dengan Aro. Setelah hampir dua jam memilih baju, gue akhirnya menemukan gaun yang cocok. Sebuah dress yang panjangnya seluntut dengan warna dasar merah jambu dan motif bunga-bunga berwarna hijau teska. Dengan hiasan pita berwarna hijau toska yang melilit di pinggang. Hehe, jangan bully gue dengan baju yang gue pilih barusan. Gue sengaja milih motif bunga-bunga itu biar terkesan agak girly gitu.


###


"Ronaldowati! Buruan turun, Aro udah dateng! Gue juga mau kencan, nanti kalau pulangnya duluan lo, jangan cariin gue, ya!"


Teriakan dari Bang Riki hanya gue balas dengan 'Ya', tidak ada niatan lain untuk membalas yang lain, karena saat ini gue sedang ribet nyari flat shoes gue. Perasaan kemarin udah gue siapin deh, ngumpet di mana lagi tuh. Nggak tahu aja kalau gue lagi buru-buru begini.


Setelah hampir lima belas menit mondar-mandir enggak jelas, gue akhirnya dapat menemukannya. Ternyata ngumpet di kolong meja rias gue. Gue juga enggak tahu sih kenapa bisa ngumpet di sana, enggak mau tau juga sih kenapa bisa gitu, karena nggak penting juga. Turun ke bawah dan menemui Aro jauh lebih penting.


Begitu sampai di bawah, gue menemukan Aro yang sedang sibuk dengan ponselnya. Dia tampak keren dan juga ganteng dengan kaos polo yang ditutupi jaket, dan celana jeans panjang berwarna biru dongker yang membungkus kedua kaki panjangnya. Lalu untuk alas kaki, ia lebih memilih mengenakan sneaker putih. Duh, idaman banget style pacar gue. Meski tingkat kepekaannya sedikit mengkhawatirkan, contohnya seperti sekarang ini, gue yang bahkan sudah berada di dekatnya saja, tidak bisa langsung disadari. ****, payah banget deh tingkat kepekaannya.


"Aro!"


Aro menoleh sambil tersenyum samar. "Ya? Sudah selesai, ya? Berangkat sekarang?" tanyanya sambil berdiri.


Gue tersenyum malu-malu sambil mengangguk. Membuat Aro ikut mengangguk dan meraih telapak tangan gue dan menggenggamnya.


Duh, kok Deg-degan, ya?


"Mau kemana dulu?" tanya Aro, saat kami sudah masuk mobil dan duduk anteng di kursi masing-masing.


"Terserah kamu. Kan kamu yang ngajak."


Cie elah, ini bibir kenapa ganjen banget ya, pake kata kamu segala lagi. Tapi nggak papa juga sih, sama pacar sendiri ini. Hehe.


Wowww, peningkatan, cuy. Aro ikutan pake panggilan aku-kamu, udah nggak saya-kamu lagi. ****, gue mendadak pengen jerit.


"Tapi aku juga nggak tahu mau kemana, Ar, kan kamu yang ngajak."


"Terus gimana? Apa di rumah aja?" saran Aro, yang langsung gue tolak tentu saja.


Gila aja, gue nyari baju aja sampai dua jam lamanya dan cuma berakhir di dalam rumah? Malu-maluin banget.


"Terus gimana? Nonton?"


Gue menggeleng. "Nonton terlalu mainstrem, Ar. Ini kencan pertama kita loh, masa cuma pergi ke bioskop dan nonton. Nggak asik, ah."


"Ya, nanti nggak cuma nonton, abis nonton kita ma--"


"Aku mau yang agak spesial dan tidak terlupakan," kata gue memotong ucapannya.


"Contohnya?"


"Ke taman hiburan?" usul gue tiba-tiba.


"Hah? Mau ngapain di sana? Ke taman hiburannya enggak kalau kita udah punya anak aja?"


Mendengar jawaban Aro yang tiba-tiba bawa-bawa anak, secara otomatis gue langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan horor.

__ADS_1


"Kenapa harus nunggu punya anak dulu, kalau kita bisa pergi sekarang juga?" tanya gue heran. "lagian kita baru pacaran dua hari, Ar."


Aro garuk-garuk kepala salah tingkah, melirik gue ragu sebelum akhirnya berujar, "Ya, sudah kalau kamu maunya ke sana."


Gue langsung bersorak girang dan mengedip genit ke arahnya. "Makasih pacar!"


"Iya," balas Aro singkat dan setengah tidak rela.


####


"Tunggu sebentar, kepalaku pusing," keluh Aro setelah kita selesai menaiki sebuah wahana roller coster. Wajah Aro terlihat pucat dan jalannya sampai sempoyongan.


Gue meringis tak enak saat melihat keadaannya. Perasan bersalah tiba-tiba menyusup di dalam diri gue. Kalau tahu begini harusnya tadi gue nggak maksa dia buat naik.


"Sorry, aku nggak tahu kalau kamu bakalan sampai sebegininya cuma gara-gara wahana tadi," sesal gue sambil mengipasi wajahnya, gue kemudian mencari tisu dari dalam tas dan membantu menyeka keringat Aro.


Dengan kedua mata terpejam Aro menggeleng. "Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, gara-gara fobia-ku kencan pertama kita gagal."


"Ya udah, mau bagaimana lagi," kata gue pasrah.


"Maaf, ya," sesal Aro dengan wajah pucatnya.


Gue tidak bisa apa-apa selain ngangguk, menenangkannya.


"Terus kita sekarang gimana? Pulang?"


"Iya, kalau kamu nggak keberatan. Tapi tunggu pusingku agak reda, ya. Nggak papa kan?"


Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.


"Maaf," bisik Aro sambil menyelipkan jari jemarinya di antara jemari gue. Kepalanya tiba-tiba disandarkan di pundak gue.


****, berat banget ternyata, cuy!


"Ar, kita pulang sekarang aja, yuk, biar aku yang nyetir," usul gue kemudian.


Aro membuka kedua matanya secara reflek dan menatap gue ragu.


"Emang kamu bisa nyetir?"


"Pernah belajar sih, cuma daripada kamu yang makin nggak nyaman. Di sini kan panas."


"Aku nggak nyaman sih nggak masalah, Anggita. Tapi nanti kalau nanti di jalan kenapa-kenapa gara-gara kamu yang nggak biasa bawa mobil gimana? Iya, kalau yang kenapa-kenapa cuma aku sih nggak masalah, tapi kalau pas lagi apes terus cuma kamu yang kenapa-kenapa? Enggak! Enggak rela aku. Bentar, tunggu lima menit, abis itu kita cari makan terus pulang," tegas Aro tak ingin dibantah. "enak aja, baru pacaran dua hari juga mau diajak cari mati," gerutunya kemudian.


Gue mendadak bingung. Aro itu sebenarnya sifatnya kayak gimana sih? Kadang cuek ampun-ampunan, nggak pekaan, tapi kadang bisa berubah cerewet kayak barusan. Yang ngomong panjang lebar tanpa jeda. Benar-benar nggak bisa ditebak.


**Tbc,


hellawwwwww


saya up lagi!!!!!

__ADS_1


cuma seadanya aja, ya πŸ˜‚πŸ˜† soalnya tangan saya lagi syahdu2 gimana gtu rasanya, antara pegal bercampur ngiluπŸ™πŸ˜«πŸ˜“ maklum otak saya tercemari dengan kata2 'menulislah sampai jari-jemarimu sakit' tapi kalau saya tangannya yang sampai sakit. mohon maaf ya πŸ™ sayang kalian πŸ€—πŸ˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜**


__ADS_2