Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
(not) Perfect Couple : {24} The Last Part


__ADS_3

#####


Beberapa bulan kemudian


Gue berdecak menatap Aro yang kini masih tertidur pulas di atas ranjang. Gue tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini memang Aro sedang gemas sekali tidur dan susah sekali dibangunkan. Padahal kalau dipikir-pikir dia jarang begadang kok, kalau jelang pembukaan Restorannya sendiri memang dia sering lembur. Tapi setelah Restorannya sudah dibuka pola tidurnya kembali normal, tapi anehnya akhir-akhir ini susah sekali dibangunkan.


"Ar, jangan tidur terus dong. Ayo, bangun! Hari ini kita mau dateng ke pesta ulang tahunnya Baby El. Ayo, bangun!" Gue berseru kesal sambil menarik selimut dengan kasar.


Aro terlihat kesal, namun masih enggan untuk membuka kedua matanya. "Bentar lagi, kasih tambahan sepuluh menit."


"Enggak ada," tolak gue tegas. Gue kemudian menarik tangan Aro secara paksa.


"Jam berapa sih ini emang?"


"Sembilan," jawab gue asal.


Padahal gue sendiri juga tidak tahu jam berapa. Karena gue baru saja selesai memasak dan berniat membereskan kamar. Eh, tahunya Aro masih tertidur pulas.


Aro menatap gue tidak percaya, lalu meraba meja untuk mencari keberadaan ponselnya.


"Masih jam delapan, nih," protes Aro sambil menunjukkan layar ponselnya.


"Ya, biar kamu cepet bangun," balasku tak mau kalah.


Aro merengganggkan kedua tangannyanya sambil menguap. "Masih ngantuk lho aku. Tidur lagi ya, bentar kok," pintanya kemudian.


Gue menggeleng tegas. "Enggak ada. Ayo, cepetan bangun!"


Aro mengangguk pasrah. "Kamu udah masak?"


"Udah."


Ekspresi Aro berubah senang. "Oke, aku cuci muka sama sikat gigi dulu." Dengan langkah antusias, dia berjalan masuk ke kamar mandi.


"Mandi sekalian," teriakku kemudian.


Aro menyempulkan kepalanya dari kamar mandi. "Weekend, sayang. Mandinya agak siangan aja nanti."


"Kenapa sekarang jadi pemalas gitu?" protesku kesal.


Dengan wajah sok polosnya, Aro mencengir. "Hehe, dalam rangka penghematan, sayang. Hemat air, hemat sabun, dan hemat waktu. Tuh, ada tiga manfaat luar biasa kalau kita nggak mandi pagi, sayang." Setelah mengatakan itu Aro kembali masuk dan menutup kamar mandi.


Gue tercengang. Itu barusan beneran suami gue bukan? Kok agak beda perasaan.


Tak lama setelahnya, Aro keluar dengan wajah yang basah namun jauh lebih segar.


Gue langsung menyerahkan handuk kering untuknya. Aro menerimanya dengan senang hati, tak lupa sambil berterima kasih. Gue kembali melanjutkan kegiatan merapihkan kasur.


"Sayang, kamu udah dapet belum bulan ini?"


Gue menoleh ke arah Aro dengan ekspresi bingung. "Kenapa?"


"Udah apa belum?" ulang Aro terlihat sedikit kesal karena bukannya gue jawab, gue malah balik bertanya.


"Belum. Nggak usah aneh-aneh, ini masih pagi."


"Ya, justru masih pagi," balas Aro mulai melantur, "bercanda," imbuhnya kemudian saat gue memelototinya.


"Enggak, cuma heran aja. Tumbenan stok pembalut kamu masih utuh," celetuk Aro tiba-tiba.


Gue terdiam. Benar juga ya, gue bahkan hampir lupa kapan terakhir datang bulan, karena memang akhir-akhir ini ikut sibuk mengurus Restoran kami. Karena takut kesepian di rumah, Aro memang memberi gue izin untuk ambil adil di Restoran barunya.


"Berasa telat kan? Nanti pulang dari rumah Riki jangan lupa beli testpack, kali aja udah jadi," kekeh Aro lalu berjalan keluar kamar, ia kemudian berbalik tiba-tiba, "kenapa diem aja? Nggak mau nemenin aku sarapan?"


"Iya, bentar lagi nyusul. Aku beresin ini bentar."


"Oke." Aro mengacungkan jari membentuk huruf O lalu keluar kamar.


#########


"Udah rame kayaknya ya," komentar Aro sambil melepas seatbeltnya.


Gue melakukan hal serupa. "Iya lah, kamu lama sih."


"Kok aku? Dandan kamu lebih lama lho," protes Aro tidak terima.


Gue memilih diam. Berdebat dengan Aro sekarang cukup menantang, jadi lebih baik gue diam dan segera turun dari mobil.


"Kadonya jangan lupa dibawa, Ar," kataku memperingatkan, saat Aro hendak masuk begitu saja ke dalam rumah.


Aro menghentikan langkah kakinya tiba-tiba lalu berbalik menuju mobil. Gue sendiri memilih untuk langsung masuk ke dalam, karena tampaknya tamu undangan Bang Riki sudah pada berdatangan. Dan benar saja, saat gue memasuki pekarangan rumah, yang kebetulan dijadikan tempat menyelenggarakan pestanya sudah ramai. Tidak hanya anak-anak kecil sekitar komplek yang diundang, tapi beberapa rekan kantornya sepertinya juga diundang.


Gue langsung menghampiri yang punya acara. "Sorry, telat," sesak gue sambil mencium kedua pipi Vinzi secara bergantian.

__ADS_1


"It's okay, Aro mana? Nggak ikut?" tanya Vinzi.


"Ikut kok, masih di depan."


"Masih cari tempat parkir?"


"Enggak. Cuma ambil sesuatu kok."


Vinzi ber'oh'ria sambil mengangguk paham. "Ya udah sana, cari makan sendiri dulu."


"Iya, nanti gampang. Ini yang ulang tahun mana? Kok nggak sama lo?"


"Agak rewel tadi, itu diajak main Ibu."


Tak lama setelahnya Aro menyusul gue.


"Loh, El-nya ke mana? Kok nggak sama lo?" Aro menyerahkan kado kami ke Vinzi dengan kedua mata celingukan mencari keberadaan Baby El.


"Ya ampun, repot-repot. Thanks ya, Ar, Gi. Itu El ikut Ibu. Agak rewel sih, nggak tahu deh malah diajak ke mana. Kalian cari makan dulu sana, ambil sendiri. Gue sapa tamu yang lain dulu."


"Iya, Zi, santai. Nanti kalau udah laper juga nyari sendiri."


Vinzi tersenyum sambil mengangguk dan langsung pamit meninggalkan kami.


"Mau makan dulu?" tawar Aro, "aku ambilin."


"Nanti deh, aku mau nyari Baby El dulu. Kangen nih."


"Ya udah, aku ke stand catering dulu kalau gitu."


"Tapi kan kamu tadi sudah sarapan, Ar."


"Cuma liat-liat dulu kok--"


"Kalau ada menu yang kamu pengenin tapi nanti tetep dimakan," sahutku memotong kalimatnya.


Aro meringis malu. "Ya, enggak papa asal perut masih muat."


"Nanti kamu gendut."


"Enggak papa. Nanti tinggal olahraga yang rajin, kalau seandainya males juga nggak papa sih. Kan udah laku," jawab Aro dengan santainya.


Gue melongo. Kenapa sikap Aro semakin aneh begini sih? Jangan-jangan gue hamil beneran, makanya Aro aneh begitu.


#####


Aro tiba-tiba menghentikan mobilnya, gue mengerutkan dahi bingung dan menatap ke arah sekitar.


"Kenapa berhenti?" tanya gue heran.


"Nggak coba mau beli testpack?" Aro bertanya sambil melepas seat beltnya.


"Harus hari ini?"


"Kalau bisa hari ini kena harus nunggu besok?"


Tanpa menunggu jawabanku, Aro langsung membuka pintu dan turun dari mobil. Yang gue lakukan hanya mengikuti langkah kakinya memasuki sebuah apotek dari dalam mobil. Lama menunggu, akhirnya Aro keluar dari apotek sambil menenteng kantung plastik kecil.


"Langsung pulang?" tanya Aro sambil menyerahkan kantung plastik kecil itu padaku.


Gue mengangguk sambil mengintip isi kantung plastik itu. Yang ternyata berisi beberapa jenis testpack. Asaga! Kenapa beli segini banyak?


"Kamu mau nyuruh aku jualan online?"


Aro menoleh ke arahku sambil memutar stir. "Kenapa aku harus nyuruh kamu begitu?" tanyanya heran.


"Ya, ini kenapa kamu belinya sebanyak ini. Kalau cuma buat aku kebanyakan, kecuali kalau kamu pengen jual lagi."


"Oh."


Cuma oh?


Gue memejamkan kedua mataku. Guna meredam emosi.


"Kok cuma oh?" protesku kesal.


"Ya, terus kamu pengen jawab apa? Lagian aku cuma beli enam kok," balas Aro seolah tidak bersalah.


"Enam dan kamu bilang cuma?" sindirku kesal.


Aro mengangguk dengan wajah santainya. Gue memilih diam dan memalingkan wajah, dari pada semakin emosi.


Begitu sampai di rumah, Aro meminta gue untuk segera mencobanya. Gue awalnya menolak karena katanya kalau kita menginginkan hasil yang lebih akurat kita bisa melakukan tes tersebut di pagi hari. Tapi kata Aro dia sudah sangat penasaran. Alhasil, gue mencoba tes itu saat ini juga.

__ADS_1


"Gimana sayang? Dua garis bukan?" seru Aro sedikit berteriak dari luar kamar mandi.


Gue keluar sambil menyembunyikan hasil testpack gue di belakang punggungku.


"Gimana?" tanya Aro penasaran.


Gue tidak menjawab pertanyaannya, hanya menyerahkan hasil testpackku kepada Aro. Aro menerimanya, lalu mengamati hasil testpack tersebut dengan serius. Ia kemudian tersenyum puas.


"Apa aku bilang, kamu hamil. Bener kan?"


Gue mengangkat kedua bahuku secara bersamaan. "Ya, mana tahu. Kan belum ngecek--"


"Aku cek ya?" potong Aro tiba-tiba.


Gue melotot tajam. "Caranya?"


Aro tidak menjawab, ia hanya menampilkan senyum jahil sambil memainkan kedua alisnya naik-turun.  Gue langsung menepuk pipinya pelan.


"Enggak ada."


"Besok kita cek ke dokter kandungan, Ar."


"Iya. Aku reservasi ke temen aku aja ya, biar cepet."


"Terserah kamu."


######


Setelah diperiksakan ke dokter kandungan alhamdulillah. Gue beneran hamil, bahkan usia kandungan gue sudah memasuki bulan ke tiga. Gila gue udah hamil tiga bulan dan gue baru nyadar. Emang gue nggak ngerasain apa-apa sih di kehamilan kedua gue ini. Nggak ada pengen yang aneh-aneh atau mual muntah pun enggak. Gue bersyukur akan hal itu. Tapi memang sih, Aro yang agak aneh-aneh.


Ada hal yang lebih menggembirakan lagi selain gue positif hamil. Kalian tahu apa? Gue hamil anak kembar. Jujur gue seneng karena setelah sempat kehilangan bayi bahkan Ayah gue juga, kini gue dikasih kesempatan untuk hamil bayi kembar. Tapi di balik kegembiraan gue ini, ada perasaan takut, khawatir dan juga was-was. Gimana tidak? Gue hamil bayi satu aja gagal jagain, gimana dua? Tapi gue nggak boleh berprasangka buruk. Segala sesuatunya sudah ada yang atur, gue cuma perlu berusaha untuk menjaga keduanya. Aamiin. Semoga bisa ya Allah.


"Sayang, sini turun! Aku punya kejutan buat kamu."


Gue baru hendak membersihkan wajahku, lalu tiba-tiba mendengar Aro berteriak. Gue mengurungkan niat tersebut dan keluar dari kamar. Menuruni anak tangga dengan langkah hati-hati.


Gue mengerutkan dahiku bingung saat menemukan Aro dengan tiga orang yang tidak gue kenal berdiri berjejer dengan rapi. Ada apaan ini? Batinku bertanya-tanya keheranan.


"Perkenalkan ini istri saya, namanya Anggi."


Aro tiba-tiba memperkenalkan gue ke tiga orang yang tidak gue kenal ini.


"Selamat siang, Bu. Nama saya Darmi, saya asal Purwakarta. Mohon bimbingannya." Seorang Ibu paruh baya dengan pakaian daster batik memperkenalkan diri.


Lalu yang lebih muda juga ikut memperkenalkan diri. "Saya Lastri, Bu. Ponakan Budhe Darmi. Mohon bimbingannya."


Gue semakin mengerutkan dahi bingung. Gue nggak lagi buka bimbingan, kenapa pada minta bimbingan dari gue.


"Sarja Tarjo, Bu. Asal Sidoarjo. Siap mengantar Ibu ke mana pun Ibu pergi."


Gue kemudian menoleh ke arah Aro, bermaksud meminta penjelasan. "Ini maksudnya apa, Ar?" bisikku pelan.


"Mereka ini yang bakalan bantuin kamu beres-beres rumah dan lainnya, sayang. Lalu Pak Tarjo bakalan jadi supir pribadi kamu."


Gue melotot terkejut. "Supir pribadi?"


Aro mengangguk dengan antusias sebagai jawaban.


"Tapi kita cuma punya satu mobil, Ar. Dan biasanya juga kamu yang nye--"


"Enggak dong. Aku juga beli mobil baru buat kamu."


"Apa?!" Gue melotot terkejut. Antara kesal, marah dan juga gemas. Buat apaan coba beli mobil baru segala.


"Buat nganterin kamu kalau pengen pergi-pergi dong. Apa lagi sekarang kamu lagi hamil baby twins, jadi harus dapet perlakuan spesial, sayang."


"Tapi... Tapi, Ar." Gue kehilangan kata-kata menghadapi sikap Aro kali ini.


"Enggak papa sayang. Lagian aku sibuk di Resto kurang bisa perhatiin kamu, kalau ada yang nemenin kan enak. Terus rumah kita terlalu kebesaran kalau kamu sendiri yang urus, apa lagi kamu hamil."


Gue diam. Astaga! Kenapa begini banget deh. Lebay an Aro atau Mas Gani coba. Kok kayaknya lebayan Aro ya? Ya Allah, semoga semakin usia kehamilanku bertambah tua, sikap Aro tidak semakin menjadi. Aamiin.


The End.....


Kalau sekarang beneran end ya, no tipu-tipu. No hoax.


Kok cuma begini aja thor. Kurang puas lah.


Ya enggak papa, kepuasan anda bukan kewajiban saya utk memenuhinya🤣🤣🤣 tapi hak dan kewajiban pasangan anda masing² hahahaha


Peace✌️🤭


Oke, oke, jan ngamuk ya. Emang aku tuh pengen endingnya biasa aja sih. Gk usah yg gmn². Ya emang mau gimana lagi. Udah lah, yg penting Anggi udah positif hamil kan. Requestnya gitu kan? Udah sekian aja cuap²nya. Thanks ya buat kalian semua tanpa terkecuali yg udah ngikutin ini cerita dari jaman di platform oren sampai pindah ke sini, hiatus dan kulanjut lagi. Maaf kalau banyak salah kata yg kuperbuat selama cerita ini berlangsung. Karena kuhanya manusia biasa yang penuh dosa. Abis ini kita fokus ke cerita Mas Bule Jawa yg di platform oren ya, yg di sini gk kulanjut. Yg pengen baca bisa mampir ke platforn orenku. Utk username sama kok. Lin_iin. Di platform ungu yg ikonnya bentuk kuda poni jg. Ada cerita Mamas Gani yg pindah ke sana. Udah ya sekian terima kasih buat kalian semua. Semoga kita masih dipertemukan di tulisan saya selanjutnya. Aamiin.

__ADS_1


Bubayyyy kesayanganku semua..... Kangenin aku ya😉🤭🤪🥰😘😍


__ADS_2