
########
Sudah tepat dua minggu gue dan Aro kembali ke Bandung. Hari-hari gue kembali sepi saat Aro pergi ke bekerja, bosan, sudah tentu iya gue rasain. Pengen balik ke Jakarta? Apalagi itu, ditambah lagi sekarang kalau di Jakarta gue udah punya keponakan yang cantik dan juga gemesin. Ah, rasanya gue kayak mulai nggak betah di Bandung, mana Aro makin sibuk lagi akhir-akhir ini. Nggak paham gue, katanya gegara sibuk nyiapin resep masakan baru yang mau dibukuin. Tahu lah, masa bodoh dengan pekerjaan dia, yang penting jatah uang bulanan gue lancar, itu yang paling penting.
"Mau ngapain lagi nih."
Gue bermonolog sambil menggaruk-garuk kepala gue, yang mendadak gatal. Beres-beres sudah, nyuci piring dan perabot sudah, masak sudah, nyuci baju udah, nyetrika juga udah. Apa main ke rumah Mas Gani? Eh, jangan! Nanti Aro ngambek gue pergi ke rumah Mas Gani tanpa dirinya. Big NO!
Terus gue musti ngapain? Bosen juga kalau nonton acara televisi yang isinya itu-itu aja. Nonton drakor? Lagi nggak mood. Baca novel, stok bacaan gue udah abis. Terus ini gue musti ngapain?
Karena bingung mau ngapain, akhirnya gue memutuskan menghubungi Vinzi melalui video call.
"Kakak ipar!! Mana ponakan lucu gue?" sambut gue, begitu sambungan terhubung. Sebenarnya butuh waktu sedikit agak lama, sampai akhirnya telfon gue dijawab olehnya.
"Apa sih adek ipar? Tuh, ponakan lo lagi pules bobok. Baru aja pup, jadi telat deh jawabnya. Sorry." Vinzi mengarahkan ponselnya ke sisi kirinya, menunjukkan keberadaan Baby El, yang kini tengah tertidur pulas. Duh, jadi kangen Baby El.
"Baru pup, kok udah pules gitu, Zi?" tanya gue keheranan.
"Namanya bayi. Tadi pas pup udah ngantuk berat, tapi nggak bisa tidur tenang dianya. Nah, pas selesai gue ngegantiin langsung tidur deh. Untung nggak rewel. Capek, Gi. Sini dong, bantuin gue jaga Baby El."
"Kalau aja deket, gue ke sana tiap hari, Zi. Ini gue juga gabut banget jam segini udah nganggur dan bingung mau ngapain," kata gue malah curcol.
"Makanya, lo tempatin dong rumah kalian. Heran deh gue, kalau akhirnya mau kerja di Bandung kan harusnya nggak beli rumah di Jakarta."
Gue memeluk bantal sofa sambil memasang wajah sedih gue. "Gue juga heran, Zi. Padahal dulu gue seneng banget pas dikasih surprize rumah itu, serasa kayak di tv-tv. Eh, tahunya abis nikah malah diboyong ke Bandung. Lah, sama aja bo'ong kan kalau begini."
Kali ini Vinzi tertawa. "Haha, sabar, Bu, sabar! Ini yang disebut dengan ujian."
"Tapi kalau inget gue tuh suka kesel, Zi," curhat gue.
Dengan wajah santainya, Vinzi membalas, "Ya, kalau gitu jangan diinget-inget."
Gue merajuk. "Ah, rese lo!"
"Jadi, gimana?" tanya Vinzi tiba-tiba.
Gue tidak paham. "Gimana apanya?" tanya gue bingung. Ini pertanyaannya menjurus ke arah mana sih?
"Halah, pura-pura nggak paham," balas Vinzi sambil memainkan kedua alisnya naik-turun.
Tapi gue masih tidak paham. Lalu, tiba-tiba Vinzi mengarahkan ponselnya ke perutnya. Saat itu gue baru paham.
"Nah, paham kan?"
"Belum," jawab gue pendek.
"Heh, masa nggak belum paham sih?"
Gue berdecak. "Bukan belum paham, Vinzi. Tapi emang belum mau punya anak."
Ekspresi Vinzi berubah serius. "Gi, sorry, lo beneran nunda kehamilan?" tanyanya hati-hati.
Tanpa keraguan sedikit pun, gue mengangguk. Karena kenyataannya begitu, selama gue berhubungan intim dengan Aro, sebisa mungkin kami melakukannya dengan pengaman. Karena gue belum siap hamil. Gue tidak peduli sih orang mau mengjudge gue atau apa, tapi gue melakukan itu semua demi kebaikan kami. Bukan demi orang-orang yang mengjudge gue.
"Kalau boleh tahu, apa alasannya, Gi?"
"Gue belum siap, Zi. Gue masih perlu waktu."
"Tapi, Gi, lo--"
"Zi, gue punya alasan sendiri atas keputusan gue itu."
__ADS_1
Vinzi menghela napas, lalu mengangguk pasrah. Ia tidak berkomentar apapun selanjutnya. Senangnya berteman dengan Vinzi ya begini, ia enak kalau dicurhatin. Nggak sembarangan ngejudge orang.
"Ya udah, iya. Jadi kapan main ke sini lagi?"
"Belum tahu, gue cuma bisa nurut sama Aro bisanya kapan."
"Udah, nggak usah manyun. Tidur siang, gih! Ngantuk juga nih gue, takut nanti malam diajak begadang Baby El."
Sebenarnya gue masih ingin mengobrol dengan Vinzi, tapi melihat wajah ngantuknya membuat gue akhirnya mengangguk setuju, saat Vinzi mengajak gue mengakhiri panggilan video ini.
"See you bye-bye! Salam buat Bang Riki dan Ibu, ya."
"Iya. Dadah!"
Tut Tut Tut
"Ah, sepi lagi deh. Bingung mau ngapain, tidur aja deh," ucap gue lalu berbaring di sofa. Mungkin karena suasana apartemen sepi, sehingga gue yang tadinya nggak ngantuk akhirnya mengantuk dan tertidur dengan pulas. Begitu bangun sudah adzan Azhar aja. Mana perut mulai keroncongan lagi.
Gue kemudian menegok jam dingin. Baru pukul setengah empat sore. Kalau makan sekarang nanggung, pasti nanti waktunya makan malam males.
"Cari apaan ya buat ngeganjel dulu." Gue berguman sambil berdiri, lalu berjalan menuju dapur. Membuka kulkas namun tidak ada sesuatu yang akan menbuat gue kenyang sampai waktu makan malam tiba.
Gue kemudian bergeser tubuh gue lalu membuka lemari gantung. Berharap masih ada sebungkus mie instan. Namun sayang, harapan gue sirna. Gue tidak menemukan yang gue cari. Benar, Aro mana mau menyetok mie instan. Dia juga tidak memperbolehkan jika gue hendak menyetoknya. Ah, Aro sungguh payah dan juga menyebalkan. Padahal kalau dipikir-pikir itu makanan terendos sepanjang masa, apalagi dimakan pas lagi hujan dengan suasana syahdu. Wah, nikmat dunia yang tidak boleh kita sia-siakan.
Karena sudah terlanjur ngiler, gue akhirnya ke kamar untuk mengambil dompet. Sepertinya, gue perlu membeli mie instan dan beberapa cemilan di minimarket bawah nih.
******
Begitu sampai di mini market, gue langsung bergegas menuju rak khusus mie cup. Gue mengambil dua cup, satu goreng, satu kuah. Gue memilih varian rasa yang ada pedas-pedasnya itu. Tidak perlu gue sebut merek, ya. Ya, pokoknya yang itu lah.
Setelah selesai mengambil dua cup mi instan, gue kemudian melipir ke rak bagian makanan ringan. Begitu dirasa keranjang gue mulai agak penuh, baru kemudian gue berjalan menuju kasir untuk membayar.
"Maaf, Mbak, saya buru-buru nih. Boleh tuker antrian nggak?"
"Atau dibarengin punya saya aja, biar cepet. Boleh?" imbuh pria itu.
Mendadak gue terkesima. Selain manis dia juga punya lesung pipit. Oh, astaga!
Tanpa sadar gue kemudian mengangguk mempersilahkan. Susah sih jadi cewek, lihat yang bening dikit bikin dada mendadak kembang kempis.
"Terima kasih," balas pria itu dengan suara merdunya.
Astagfirullah!
Gue beristigfar dalam hati, setelah tersadar betapa ganjennya gue barusan. Kalau Aro sampai tahu keganjenan gue barusan, bisa-bisa ngamuk dia.
"Mau sekalian dibarengin aja?" tawar pria itu setelah menyerahkan belanjaannya. Yang gue ketahui ternyata pembalut dan dua botol kiranti.
Hah? Pembalut?
Kedua mata gue secara spontan melotot. Pria itu meringis.
"Hehe, kalau bukan karena beli itu saya pasti nggak akan nyerobot antrian Mbaknya."
Benar juga.
"Sama punya dia sekalian, Mbak. Dipisah, tapi saya sekalian yang bayar," kata pria itu kepada Mbak-mbak kasir. Ia bahkan dengan sigap dan cekatannya mengangkat keranjang belanjaan gue dan menyerahkannya pada Mba-Mbak kasir.
"Sebagai tanda terima kasih karena Mbaknya sudah bersedia ngasih antriannya buat saya."
Gue kemudian tersenyum sok malu-malu. "Ya ampun, nggak usah repot-repot. Saya ma--"
__ADS_1
"Plis, jangan ditolak! Saya nggak enak lho beneran."
Ah, kalau udah memohon begitu gue bisa apa selain mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
"Saya yang harusnya berterima kasih," ucap pria itu saat gue mengucapkan terima kasih.
Gue tertawa. "Ya udah, sama-sama terima kasih aja deh," kata gue menengahi sambil tertawa.
Duh, jadi enak nih. Ketemu cowok ganteng dibayarin pula. Nikmat mana yang harus kudustakan?
"Kalau gitu saya duluan ya, Mbak. Udah ditungguin yang mau make. Terima kasih sekali lagi, semoga bisa bertemu lagi."
Gue hanya mampu dadah-dadah, sambil menatap pria manis, yang bahkan belum gue ketahui namanya itu. Bodo amat sih, yang penting dia ganteng dan gue dibayarin. Senyumnya itu loh, manis banget. Tipekal kayak Luki yang manis-manis ngegemesin, cuma bedanya pria tadi kayaknya lebih muda dan senyumnya lebih bikin diabetes mendadak. Haha. Oke, oke, lupakan cowok ganteng tadi karena gue sudah jadi istri orang. Saatnya pulang!
######
"Assalamualaikum!" sapa Aro saat memasuki apartement. Seperti biasa, ia hanya mengganti sepatunya dengan sandal rumah dan langsung masuk ke dalam kamar.
"Wa'alaikumussalam."
Gue hanya menjawab salam Aro sambil meliriknya sekilas, lalu fokus pada layar laptop dan juga keripik kentang yang ada di tangan gue. Begitu sampai di apartement gue langsung mandi dan bersih-bersih, setelah itu gue menyeduh mi cup gue dan menyalakan laptop untuk menonton acara ragam Korea yang berjudul Knowing Brother. Sumpah ini acara tuh, gokil dan nggak ngebosenin, siapa pun bintang tamunya acaranya pasti seru dan meriah. Meski harus nonton tayangan ulang, lucunya masih tetap dapet.
"Kamu nggak masak, yang?" tanya Aro begitu keluar dari kamar. Wajahnya sudah segar dan tentu saja wangi. Ia kemudian duduk di sampingku, mencomot sepotong keripik kentang dan memakannya.
"Masak kok. Kenapa?"
"Itu kenapa tadi di tempat sampah ada bekas mi cup?"
"Buat ganjel perut. Tadi soalnya laper."
"Kalau laper ya tinggal makan, kenapa malah jajan ciki-ciki begini?"
"Sesekali doang, Ar. Jangan posesif-posesif amat deh, lama nggak nyemil tahu."
"Kan nyemil nggak harus ciki yang banyak micinnya begitu."
"Tapi yang banyak micinnya ini, yang paling enak," balas gue lalu menyuapi Aro. Maksud hati biar dia nggak ceramah lagi, begitu.
Aro hanya menatap gue datar. Pandangannya kemudian beralih ke layar laptop yang gue letakkan di atas meja.
"Nonton apaan sih itu?"
"Knowing Brother."
"Drakor, ya?" tebak Aro sok tahu.
"Bukan." Gue menggeleng sambil menjilati jari gue yang terkena sisa bumbu keripik.
"Iya, deh, bahasanya kayak Korea kok," kekeuh Aro merasa yakin.
"Kalau bahasanya emang Korea, tapi itu bukan drama."
"Terus apaan?"
"Acara ragam. Kayak variety show gitu. Lucu, Ar, gokil."
Aro kemudian ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Kirain adanya cuma drama sama orang joget-joget aja."
"Ya, enggak lah. Namanya dunia hiburan, ya ada banyak jenisnya."
"Iya, iya. Itu udah ngemilnya, nanti waktu makan malam keburu kekenyangan."
__ADS_1
"Iya, tinggal dikit, nanggung."
Tbc,