Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
(not) Perfect Couple : {23} Pamitan


__ADS_3

Double-up ya pura²nya😁🤪🤭


#######


Hari ini kami akan pindahan, beberapa barang keperluan kami sudah dikirim ke Jakarta. Karena kebetulan apartemennya akan disewakan, jadi semua barang-barang kami kecuali perabot elektronik dan lainnya harus gue bawa.


"Udah kan? Nggak ada yang ketinggalan?" tanya Aro memastikan semua barang kami tidak ada yang tertinggal.


Gue mengangguk sambil mengacungkan jari membentuk huruf O. "Udah semua kok. Tinggal pamitan ke Hana dan staf Resto-nya Mas Gani, abis itu kita bisa langsung berangkat. Soalnya tetangga yang lain kan udah kita pamitin kemarin. Kemarin Hana masih ngampus, jadi belum sempet pamitan. Moga-moga aja dia belum berangkat juga sekarang."


Aro mengangguk setuju lalu mengajakku untuk segera berangkat. "Ya udah, ayo langsung pamitan aja. Soalnya nanti keburu siang juga. Takutnya nanti di Resto anak-anak pada nyiapin farewel party dulu kan jadinya lama."


"Dih, kepedean," cibirku meledeknya.


"Bukan gitu, mereka itu paling suka yang begituan, sayang. Apa lagi aku Head Chef kesayangan mereka, udah pasti pada bikin farewel party."


"Iya, deh, iya, yang jadi kesayangan anak buah. Aku mah apa atuh."


"Nggak usah cemburu gitu."


"Dih, makin kepedean."


Aro hanya tertawa, tidak menjawab apa-apa lalu memencet bell unit apartemen Hana.


Butuh waktu sedikit lebih lama, pintu apartemen Hana terbuka.


"Eh, Mas Aro, Mbak Anggi. Tumben, Mbak, pagi-pagi udah rapi. Pada mau ke mana?" Hana bertanya heran sambil menarik jilbab instannya yang agak melorot ke belakang, "masuk, Mbak!"


"Eh, nggak usah, makasih, Han. Kita cuma mau pamitan aja kok. Nggak lama-lama, takut keburu siang soalnya."


Ekspresi Hana tampak kebingungan mendengar kata kami hendak berpamitan.


"Eh, pamit, Mbak? Mau ke mana memangnya?"


"Kita mau pindah ke Jakarta, Han. Jadi kita mau pamitan gitu. Soalnya kita bakalan jarang banget ketemu."


"Ya ampun, padahal aku seneng banget punya tetangga Mbak Anggi. Eh, tahunya Mbak Anggi malah mau pindah. Kenapa pindah sih, Mbak?" Hana membuka pintunya lebih lebar, "ayo masuk dulu deh, Mbak,"ajaknya kemudian.


"Enggak usah, Han, kita juga harus ke--"


"Siapa Han?"


Ucapanku terhenti karena ada suara pria tiba-tiba terdengar, lalu tak lama setelahnya Randu muncul. Ekspresinya tampak terkejut saat melihatku dan juga Aro, namun hal itu tak berlangsung lama, karena tak lama setelahnya ia menyapa kami dengan gaya cukup santai. Meski sedikit canggung sih tetap saja. Sedikit ya.


"Hai, Ran, kita mau pamit juga deh sekalian sama kamu."


"Eh, pamit? Pada mau pindah ke mana? Mau pindah ke perumahan komplek, ya? Kamu hamil, Gi? Se--"

__ADS_1


Ehem Ehem


Aro tiba-tiba berdehem dengan ekspresi tidak sukanya. Mungkin ia takut kalau gue masih sensitif soal kata hamil. Meski sempet terasa agak ngilu-ngilu gimana, tapi gue tetap tidak boleh tersinggung. Randu tidak tahu menahu tentang keadaanku, jadi ya gue nggak punya hak untuk tersinggung dan kesal dengan pertanyaannya.


"Sorry," sesal Randu sambil memegang bibirnya secara reflek.


"It's okay, Ran. Iya, kita emang mau pindah ke perumahan tapi nggak di Bandung juga. Kita pindah ke Jakarta dan aku nggak sedang hamil."


Randu ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Oh, pindah ke Jakarta. Kalian naik apa? Aku kebetulan juga mau balik ke Jakarta nih, apa mau bareng sekalian?"


"Thanks, Ran. Tapi nggak u--"


"Sorry, kita harus segera berangkat. Soalnya saya mau pamitan sama rekan-rekan saya. Takut kesiangan. Mari, Han, sehat-sehat, ya."


Dengan segera dan sedikit mengabaikan sopan santun, Aro tiba-tiba merangkul pundakku dan memintaku agar segera menjauh. Gue hendak protes, tapi Aro malah terlihat seperti tidak suka.


"Apa-apaan sih kamu, Ar?" decakku kesal. Kebetulan sekarang rangkulannya sudah terlepas dan kamu sudah masuk ke dalam lift.


"Kamu yang apa-apaan? Nggak sadar kalau dia tadi lagi berusaha modusin kamu?"


Gue melongo. "Apa kamu bilang?"


"Tahu lah. Nggak usah bahas yang tadi, bikin kesel aja."


Kali ini gue tertawa. "Kamu cemburu, Ar?"


"Iya," jawab Aro secepat angin.


######


"Nanti jangan kaget, ya," ucap Aro tiba-tiba saat kami sudah sampai di depan Resto-nya Mas Gani.


Gue mengerutkan dahi bingung. "Kenapa emang?"


"Anak-anak kalau ngadain party agak alay dan norak," komentar Aro pedas lalu turun dari mobil.


Buru-buru gue membuka mobil dan ikut turun. Mendadak gue merasa penasaran dengan kata alay dan norak versi Aro. Emang karyawan Mas Gani sealay apa? Perasaan karyawan di Jakarta biasa-biasa saja kok.


"Pokoknya siap-siap aja," bisik Aro sambil menggenggam sebelah tanganku dan mengajakku masuk ke dalam Restoran yang tampak sepi.


Tumben amat Restoran Mas Gani sepi begini. Masa iya, Restoran tutup cuma demi melepas kepergian Aro meninggalkan Resto? Rasa-rasanya nggak mungkin bukan?


Cklek!


Duar!!!! Duar!!!!


Gue terkejut sumpah. Asli. Pandanganku kemudian mengedar ke seluruh ruangan. Astaga. Gue ingin tertawa saat membaca tulisan balon berbentuk huruf yang dipajang di langit-langit bertuliskan 'Chef, Jangan Tinggalkan Kami! Kami Semua Juga Mencintaimu.'

__ADS_1


"Udah tahu kan betapa alay nya mereka." Suara Aro tiba-tiba berbisik dan membuatku tidak bisa menahan tawaku saat ini.


"Yakin masih mau resign nih? Gue belum acc surat pengunduran diri lo, Ar. Nih, kalau masih mau berubah pikiran boleh lo sobek sekarang."


Mas Gani tiba-tiba mewakili karyawannya, maju sambil menyodorkan amplop surat pengunduran diri ke Aro.


Aro menghela napas sambil menerima amplop itu.


"Tetep bareng kita, Chef. Kami janji nggak akan nakal," seru salah satu dari mereka.


Gue kembali tertawa. Dan semakin terbahak saat Aro tiba-tiba memukul wajah Mas Gani menggunakan amplop tersebut.


"Nggak usah mengada-ada. Ini gue mau pamitan, jangan lo persulit."


"Kalau lo nggak kerja buat gue, nanti mantan gue mau lo kasih makan apa?" gurau Mas Gani. Aro langsung mengumpat kesal saat mendengarnya.


"Gue nggak semiskin itu, Gan. Sialan lo!"


Mas Gani tertawa puas diikuti karyawan dan gue setelahnya. Gue suka keakraban mereka.


"Sudah lah, kalian jangan terlalu berlebihan deh. Kita mau pamit nih." Aro berdecak kesal saat melihat balon huruf bertuliskan tadi, "astaga. Kenapa pakai pasang balon begitu segala sih?" protesnya kemudian, "norak."


"Sesekali Chef. Kali aja Chef mau berubah pikiran."


"Itu tidak akan terjadi," balas Aro yakin.


"Ah, gue pengen banget nahan Chef Aro biar nggak keluar dari Resto. Tapi gimana dong, gue kebetulan lagi sadar diri kalau gue nggak secantik dan seglowing Mbak Anggi. Jadi, gue diem aja deh," canda salah satu karyawan wanita yang tidak gue hafali nama mereka.


Gue tertawa saat mendengarnya. Kebetulan perempuan tadi sebenernya cantik juga kok, manis. Cuma kurang tinggi saja, dikit.


"Baik-baik ya kalian di sana. Jangan lupa sering main-main ke sini." Mas Gani menepuk pundak Aro dan memeluknya.


Mas Gani kemudian beralih padaku, sedang Aro berpamitan pada karyawannya. "Sehat-sehat, ya, Gi. Mas tahu kamu kuat kok."


"Iya, Mas, makasih."


"Bentar," gue mengerutkan dahi bingung. "Ar, boleh peluk bentar nggak istri lo?"


"Enggak. Berani lo sentuh, gue bakar Restoran lo," ancam Aro terlihat tidak main-main.


Gue menggeleng. "Lagi agak sensi, Mas. Enggak usah, ya, Mas."


Mas Gani tertawa. Aro kemudian mendekat ke arah kami dan memeluk pinggangku secara posesif. Kedua matanya melototi Mas Gani dengan tajam.


"Dasar posesif! Sana lo, pergi! Gue pecat lo. Nggak butuh gue punya karyawan posesif macem lo."


"Gue emang resign, Gan!" seru Aro kesal.

__ADS_1


Tbc,


Dikit lagi menuju end ya😉


__ADS_2