Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
(not) Perfect Couple : {20} Kehilangan Sosok Ayah


__ADS_3

########


Gue menatap ke arah sekelilingku dengan tatapan bingung. Merasa aneh dan juga asing dengan tempat ini, semua serba putih dengan aroma melati khas. Gue menatap gaun gue yang ternyata berwarna putih, sedang berada di mana gue? Kenapa semuanya serba putih.


Gue terlonjak kaget saat tiba-tiba merasakan pundakku ditepuk. Buru-buru gue menoleh dan menemukan Ayah dengan wajah cerahnya, tersenyum lalu duduk di sisiku. Ayah juga mengenakan pakaian serba putih. Membuat gue bertanya-tanya, sebenarnya kami sedang di mana.


"Ayah," desisku sebenarnya merasa lega karena bertemu dengan orang yang gue kenal di tempat asing.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ayah.


Gue mengangguk ragu. Karena jujur gue masih bingung dengan tempat ini.


"Ayah sendiri gimana? Udah sehat? Kenapa bisa keluar dari rumah sakit? Ayah kabur?"


Mendengar pertanyaan gue yang berbondong, Ayah tertawa sambil mengelus rambutku.


"Ayah sudah tidak merasakan sakit lagi. Udah sehat kan?"


Ayah merentangkan kedua tangan, memamerkan betapa bugarnya tubuh Ayah sekarang. Gue mengamati Ayah dengan serius, memang benar sih Ayah benar-benar terlihat jauh lebih bugar jika dibandingkan terakhir kali aku berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguknya. Karena senang Ayah sudah sehat kembali, gue langsung memeluk beliau.


"Anggi seneng Ayah udah nggak ngerasain sakit lagi. Makasih ya, Yah."


Ayah mengangguk sambil membalas pelukanku, kecupan ringan beliau daratkan pada pucuk rambutku.


"Ayah bangga karena kamu begitu tegar setelah kehilangan calon bayi kalian."


Tubuhku seketika menegang. Pelukan kami mengendur secara spontan, gue menatap Ayah penuh tanya. Dari mana Ayah tahu tentang keguguranku. Bukankah Aro sudah berjanji akan merahasiakan dari keluarga yang lain, terlebih kepada Ayah.


"Ayah tahu dari mana?" tanyaku gugup.


"Ayah tahu semuanya."


"Kok bisa?"


"Karena Ayah hebat."


Gue menatap Ayah curiga. "Jawab jujur, Yah! Siapa yang ngasih tahu Ayah."


"Itu nggak penting, yang penting kamu harus dengerin Ayah."


"Apa? Anggi nggak suka, ya, kalau Ayah ngomong yang aneh-aneh lagi."


Ayah mengangguk yakin. "Kamu tahu kan kalau Ayah sayang banget sama Anggi?"


Gue mengangguk. Dari kecil kami cukup dekat meski gue lebih dekat dan ingin menempel pada Bang Riki.


"Apa pun berita yang nanti bakalan Anggi terima, Anggi nggak boleh sedih, ya. Janji sama Ayah?"


Gue menatap Ayah marah. "Maksud Ayah apa sih?"


"Anggi harus mengikhlaskan Ayah juga ya. Meski berat Anggi bisa belajar pelan-pelan. Anggi sa--"


"Kenapa Ayah ngomong gitu sih?" tanyaku ketakutan.


Gue tidak suka momen ini. Ini terlalu menyakitkan buat gue.


"Ayah yakin Anggi bisa. Kan sekarang Anggi punya Aro, dia sayang banget sama Anggi kan? Jadi Anggi nggak akam kesepian."


Gue menggeleng tegas. "Enggak. Anggi masih butuh Ayah, Anggi belum kasih cucu yang lucu-lucu buat Ayah. Ayah nggak boleh pergi, Ayah harus nunggu Anggi hamil lagi, ya, Yah. Plis, Yah, jangan tinggalin Anggi, Yah. Anggi nggak mau. Anggi sayang Ayah."


Ekspresi Ayah terlihat serius, beliau menggeleng tegas. Seolah permintaanku begitu sulit dikabulkan.


"Ayah nggak bisa, Nduk. Sudah saatnya."


"Ayah tega sama Anggi?"


"Ayah sayang Anggi, tapi tetap saja Ayah harus pergi."


Kali ini giliran gue yang menggeleng tegas. "Enggak boleh!" tolakku tegas.


"Jaga diri kamu baik-baik. Jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan," pesan Ayah lalu berdiri dan berjalan menjauhiku perlahan.


Gue ikut berdiri dan langsung mengejar Ayah, namun baru beberapa langkah kaki gue berlari tiba-tiba gue terjatuh. Ayah seolah jauh dari jangkauanku, tersenyum damai sambil melambaikan tangannya lalu tiba-tiba menghilang.


"Ayah!!" jerit gue lalu terbangun.

__ADS_1


Napas gue terdengar ngos-ngosan, kedua mataku mengelilingi ke arah sekitar. Ini rumah sakit, batinku saat menyadari nuasa serba putih khas rumah sakit dan bau obat-obatan. Di sampingku ada Aro yang terlihat kuyu tengah menatapku penuh khawatir, lalu ada Mama dan juga Papa yang terlihat tak kalah khawatir. Bahkan Mas Gani pun ada di antara mereka.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar. Gimana kondisi kamu, sayang? Aku khawatir banget tadi."


Gue menatap kosong ke arah sekitar, sebelah tanganku kemudian meraba perutku yang terasa rata. Ingatanku kembali, gue baru saja mengalami keguguran. Jadi wajar kalau gue sedang berada di rumah sakit dengan jarum infus yang menancap di punggung tangan kananku.


"Ayah gimana kondisi kesehatannya, ya? Aku pengen ketemu deh. Anterin aku, yuk."


Gue menyibak selimut, bersiap turun dari ranjang namun ditahan Aro.


"Hei, kamu baru saja sadar abis kuret, belum boleh langsung pulang."


Gue tiba-tiba teringat mimpi gue bersama Ayah. "Aku tadi mimpi buruk, Ar, Ayah aneh. Masa Ayah minta aku ikhlasin Ayah. Maksudnya apa itu coba? Aku mau ketemu Ayah, aku mau ngomel karena udah bikin aku panik." Gue bersikekeuh ingin bertemu Ayah.


Aro menggeleng dan memelukku erat. Pandanganku lalu beralih pada Mama, yang terlihat sedang membelakangi kami sambil menahan tangis. Mas Gani terlihat menatap gue iba, Papa terlihat paling tenang memang, tapi tatapan beliau pun terlihat mengandung kesedihan. Ini sebenarnya ada apa sih? Kenapa semua orang membuat gue bingung.


"Nanti kita temui Ayah setelah kamu sembuh," bisik Aro dengan suara bergetar.


"Tapi aku maunya ketemu Ayah sekarang. Aku udah baik-baik aja. Aku cuma mau mastiin kalau Ayah baik-baik aja, Ar. Aku janji nanti abis itu aku akan nurut. Plis, aku pengen ketemu Ayah, sekarang," rengekku penuh permohonan. Tapi Aro masih bersikekeuh untuk tidak mengabulkan permintaanku.


"Ma," panggilku pada Mama, berharap Mama akan mengabulkan permintaanku, "Anggi mau ketemu Ayah, ya. Mama bujuk Aro dong."


Mama kemudian berjalan menghampiriku, sebelah tangannya kemudian menggenggam telapak tanganku.


"Sayang, kami ngelakuin ini semua buat kamu. Nurut dulu, ya, nanti kalau kondisi kamu udah diizinin pulang sama dokter. Kita pulang. Oke?"


Karena Mama juga tidak mengizinkan, gue akhirnya bisa mengangguk pasrah.


"Maafin Anggi ya, Ma," ucapku tulus, "Anggi belum bisa jaga cucu Mama. Ang--"


"Nggak papa, ini bukan salah kamu. Mungkin memang belum rejekinya. Sekarang kamu istirahat dulu, ya. Biar cepet pulih terus bisa pulang. Oke?"


Gue mengangguk ragu. "Anggi boleh meluk?"


Tanpa menjawab pertanyaanku, Mama langsung memelukku. "Yang sabar, ya, sayang. Yang kuat!"


Gue kembali mengangguk ragu. Karena gue sendiri tidak yakin kalau gue cukup kuat, gue masih takut dengan mimpi ditinggal Ayah tadi.


#######


"Abang!"


"Kenapa udah kangen gue, lo?" gurau Bang Riki.


Gue mengangguk tanpa menyangkal. "Ayah gimana keadaannya, Bang? Udah sehat beneran kan? Ayah nggak tahu kalau gue keguguran?"


Bang Riki mengangguk, wajahnya terlihat menyembunyikan sesuatu yang tak bisa gue tebak.


"Iya, Ayah udah nggak ngerasain sakit lagi. Lo yang penting pulihin kondisi lo dulu, nggak usah mikir yang lain."


Bagaimana gue bisa berpikir demikian sementara hati gue sedang tak karuan begini.


"Gue pengen ketemu Ayah, Bang. Gue kangen."


"Iya, nanti ketemu setelah lo udah sehat. Sorry, Vinzi nggak gue ajak jenguk lo soalnya El lagi agak rewel. Ibu pengen ikut sih, cuma gue larang dulu. Lo cepetan sembuh ya, biar Ibu nggak khawatirin terus-terusan."


"Sebenernya ada apa sih? Kalian nyembunyiin sesuatu dari aku, ya? Aro nggak mau jujur. Abang pun ikut-ikutan?"


Gue menatap Bang Riki dan juga Aro secara bergantian. Kebetulan Mama dan Papa sedang keluar, gue tidak terlalu yakin ke mana perginya beliau dan memang tidak terlalu ingin tahu juga.


"Kita belum bisa bilang, Gi. Bukannya nggak mau bilang, tapi memang belum bisa karena kita tahu kondisi lo belum cukup stabil."


"Maksud Bang Riki?" Gue menatap Bang Riki tidak paham.


"Lo nggak perlu tahu dulu, yang penting sekarang lo fokus sama pemulihan lo dulu."


Gue merasakan tubuhku bergetar. "Apa ini ada hubungannya dengan Ayah?" tebakku.


Baik Bang Riki dan Aro hanya memasang wajah diam masing-masing. Gue semakin frustrasi melihat keduanya.


"Sebenernya kenapa sih?" jeritku menuntut penjelasan dari Aro mau pun Bang Riki.


Aro langsung merengkuh tubuhku untuk menenangkanku. Gue memberontak, yang gue butuhkan saat ini ada penjelasan.


"Aku mau dengar berita apa pun itu, asal kalian jujur."

__ADS_1


"Tapi sayang." Aro menggeleng tak yakin.


"Ayah udah nggak ada," ucap Bang Riki tiba-tiba.


Aro langsung menatap Bang Riki tajam. Gue mematung. Apa yang barusan gue dengar?


"Ayah udah meninggal, Gi."


"Maksud lo apa Bang? Meninggal gimana? Ayah baik-baik saja, Ayah nggak sakit separah itu sampai bisa--"


"Tapi kenyataannya Ayah udah nggak ada di dunia ini lagi. Ayah udah meninggal, Gi. Bahkan beliau sudah dimakamkan."


Gue merasakan seluruh gue melemas seketika. Gue tidak salah dengar, mimpi yang gue alami tadi benar adanya? Ayah meninggal dunia? Pergi untuk selama-lamanya?


"Sayang," panggil Aro khawatir, "kamu baik-baik saja?"


Tidak. Jerit gue dalam hati. Ayah gue meninggal, gue baru saja kehilangan bayi gue. Masuk akal kalau gue baik-baik aja?


"Aku mau pulang."


"Enggak bisa dong. Kamu boleh pulang setelah da--"


"AKU MAU PULANG SEKARANG, AR! AKU MAU PULANG!" jeritku histeris, "aku mau buktiin kalau yang dibilang Bang Riki itu bohong. Ayah nggak mungkin ninggalin aku, Ar."


"Enggak, sayang. Riki nggak bohong, dia berkata jujur. Kamu nggak boleh begini, kamu harus kuat."


Gue langsung menarik tubuhku dari pelukan Aro. "Kuat kamu bilang? Kamu bercanda, Ar? Aku baru kehilangan bayiku dan sekarang aku harus kehilangan Ayahku juga. Dan kamu memintaku untuk kuat? Kamu pikir aku ini apa? Enggak. Aku nggak bisa. Aku sudah belajar terima bayiku untuk pergi, Ar, aku ikhlasin. Tapi kalau Ayah, aku nggak bisa. Aku nggak mau. Aku mau Ayah. Aku mau Ayah."


Aro mencoba merengkuhku kembali tapi gue terus menberontak. "Rik, tolong lo panggilin suster atau dokter. Kayaknya gue nggak bisa tenangin Anggi deh."


Samar-samar gue mendengar Aro menyuruh Bang Riki, gue tidak terlalu memperdulikannya karena pikiran gue saat ini sedang kacau. Lalu tak lama setelahnya seorang perawat datang.


Gue masih menangis histeris meminta bertemu Ayah. Lalu tak lama setelahnya, gue merasakan sesuatu mengalir melalui selang infusku secara tiba-tiba. Gue tidak tahu pasti apa yang disuntikan ke dalam cairan infus, yang jelas suntikan itu akhirnya membuatku merasa sedikit tenang, lalu lama kelamaan gue melemas dan tertidur. Sepertinya ini obat penenang atau obat tidur semacamnya.


########


Hari ini gue sudah diperbolehkan untuk pulang. Gue tidak banyak bicara selama perjalanan dan bahkan cenderung banyak diam. Pikiranku masih kacau, gue masih belum bisa mempercayai kepergian Ayah. Begitu pulang dari rumah sakit, gue ngotot untuk mampir ke makam dulu. Aro dan juga Mama melarangku tapi gue bersikeras. Mereka akhirnya membawaku ke makam dengan catatan gue tidak boleh menangis histeris. Gue mengangguk patuh.


Gue dibimbing Aro menuju pusaran makam Ayah yang masih basah. Pada batu nisan, terukir nama Ayah, membuat gue tidak bisa menahan tangisku saat membacanya.


"Ayah, ini Anggi Ayah. Kenapa Ayah beneran ninggalin Anggi? Anggi baru aja kehilangan bayi Anggi, Yah, kenapa Ayah ikutan pergi? Ayah nggak sayang lagi, ya, sama Anggi? Anggi janji bakalan jadi anak dan suami yang baik, Yah. Tapi kenapa Ayah malah pergi ninggalin Anggi."


Gue menangis tersedu-sedu sambil memeluk pusaran makam Ayah. Aro berusaha menenangkanku tapi kali ini tak cukup membuat gue tenang. Gue semakin menangis tersedu-sedu dan tahu-tahu semua gelap. Gue tidak yakin apa yang terjadi, karena saat gue membuka mata, gue sudah berada di kamar dengan Ibu yang menemaniku kali ini.


"Ibu," panggilku langsung bangun dan memeluk beliau.


Wajah Ibu terlihat sedih dan kuyu, gue bisa merasakan kalau Ibu ikutan menangis sambil memelukku.


"Yang kuat ya, Nduk, Ibu tahu ini berat. Tapi insha Allah kita bisa ngelewatinnya."


Gue menggeleng tegas dan kembali menangis. "Ini nggak adil buat Anggi, Bu. Anggi baru aja kehilangan bayi Anggi, kenapa Allah tega ambil Ayah juga. Kenapa, Bu?"


Ibu mengelus punggung. "Ssst, kamu ndak boleh bicara begitu, ndak baik, Nduk. Ini semua sudah jalannya, kamu harus ikhlas."


"Anggi sayang Ayah, Bu. Anggi nggak mau kehilangan Ayah. Anggi masih mau peluk Ayah, Anggi belum siap, Bu."


"Istigfar, Nduk. Kita harus ikhlas."


"Anggi nggak mau, Anggi mau Ayah, Bu. Anggi belum peluk Ayah, kenapa Anggi nggak dikasih tahu dari awal, Bu. Seenggaknya Anggi bisa peluk Ayah dulu sebelum Ayah benar-benar pergi."


"Maafin kita sayang. Kondisi kamu kemarin belum memungkinkan untuk kita kasih tahu, kamu juga harus menjalani proses kuret dulu."


Kali ini gue diam. Air mata gue terus menetes, Ibu bahkan sampai harus mengambil beberapa tisu untuk menghapus air mataku.


"Istigfar, Nduk! Jangan begini," ucap Ibu sambil mengelus punggungku.


"Astagfirullah al'adzim," bisikku lirih, pandanganku masih kosong. Gue seakan kehilangan semangat hidup gue.


"Kamu harus kuat, Nduk. Gusti Allah nggak mungkin ngasih cobaan buat yang ndak bisa dilalui umatnya."


Gue masih diam. Pikiran gue kacau. Gue belum bisa terima kepergian Ayah. Kalau boleh memilih, gue lebih memilih ikut pergi bersama Ayah.


Tbc,


Gilaaaaaa, pertama kalinya saya nulis terus bikin saya nangis sampai tersedu-sedu. Part ini beneran bikin aku banjir air mata, nggak cuma netes aja, tpi bnrn nangis. Ahh, nggak bisa bayangin gimana jadi Anggi dia pasti hancur banget. Doakan semoga story ini berakhir happy ending dan bukan sad ending. Karena jujur, saya sendiri masih menerka-nerka bakalan dapet kejutan apa nanti😂

__ADS_1


Ya uwes, segini aja curcolnya. See you again. Moga² gk lama-lama up nya. Hehehe.


So sorry fo typo yang makin hari makin membrudhak,🤣🤣🤣🙉


__ADS_2