Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (46) Bujuk Aro Yang Ngambek


__ADS_3

#####


"Ar," panggil gue sambil menoel-noel lengan Aro.


Sejak pulang dari rumah sakit tadi, dia tak banyak bicara, hanya bicara seperlunya saja, meski biasanya memang begitu, tapi kali ini tetap saja berbeda karena sikapnya yang mendadak jutek.


"Hmm," respon Aro seadanya.


"Masa dipanggil pacar jawabnya cuma hmm doang?" protes gue kemudian.


"Emang harusnya gimana? Kayak Nissa Sabyan gitu, pake nada?"


Gue berdecak. "Ya, enggak gitu-gitu juga dong."


"Terus maunya gimana?"


"Ya--" kalimat gue harus terpotong karena Vinzi yang tiba-tiba muncul sambil mengelus perutnya.


"Ar, bisa bikin lasagna?" tanya Vinzi setelah duduk di samping gue.


Aro mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Boleh minta tolong?" tanya Vinzi berbasa-basi.


"Mau lasagna apa emang?"


"Enakan lasagna daging apa ayam?"


"Dua-duanya enak, tergantung selera. Ngidam?"


Vinzi menggeleng di sela cengirannya. "Pengen aja kok, nggak ngidam."


"Di kulkas, adanya apa?"


"Nggak tahu." Dengan polosnya, Vinzi menggeleng.


"Gue cek dulu deh."


Aro langsung berdiri dan berjalan menuju dapur. Gue hanya menatap punggungnya yang kian menjauh dengan ekspresi sedih.


Hmmm, masih ngambek sepertinya.


"Enak ya, kalau punya laki pinter masak gitu," celetuk Vinzi tiba-tiba.


Gue langsung menoleh ke arah Vinzi lalu tersenyum miris. Enak dari mana. Batin gue mendumel.


"Tapi kenyataannya, yang terlihat tidak selalu sesuai dengan kenyataan, Zi."


"Kenapa? Masih mau ngeluh? Aro kurang apa, Gi?"


"Kurang perhatian dan juga kurang peka," jawabku cepat.


"Lah, kurang perhatian dari mana sih, Gi? Aro meski cuek-cuek begitu, dia tetep perhatian. Dari pada Bang Riki terlalu perhatian dan ramah yang kelewatan. Lo tahu kan, Gi, cewek kalau diramahin, disenyumin dikit, apa lagi yang senyumin cowok ganteng, langsung baper tingkat dewa. Nah, kalau menurut gue, masih enak yang sejenis Aro. Enak, nggak banyak tingkah, nggak capek-capek kasih teguran biar matanya nggak jelalatan."


"Mau tukeran?" tanya gue sambil terkekeh geli.


"Gue sih nggak masalah. Lo sendiri emang kuat ganti judul, bukan lagi 'Pacarku Sedingin Es Batu' tapi 'Pria Mesum itu Abangku dan juga Suamiku'. Kuat ganti begitu?"


Gue langsung terbahak, mendengar celetukan konyol Vinzi, yang terinspirasi dari sinetron yang tayang di salah satu stasiun televisi, yang sering kali digandrungi para Ibu-ibu.


"Bukan sedingin es batu, Zi, tapi, sedingin kulkas dua pintu," koreksi gue kemudian.


"Ya, apa pun itu deh. Tapi yang penting dingin. Tapi gue suka heran, dia makan favoritnya apaan sih? Es batu, ya? Kok dingin gitu pembawaannya?"


Gue mengangkat kedua bahu gue secara bersamaan. "Nggak tahu, iya kali. Hobinya nyemilin es batu mungkin."


"Lo kenapa sih, perasaan sensi gitu?"


"Gimana nggak sensi, gue dari tadi dicuekin, Zi," gerutu gue menahan sebal.


Ekspresi Vinzi langsung berubah antusias. Ia bahkan sampai mengubah posisi duduknya agak lebih condong ke arah gue.


"Dicuekin gimana?"


"Aro ngambek."


"Ngambek gimana?"


"Cemburu mungkin. Lo tahu sendiri kan, Aro tuh, nggak ngambek aja jarang ngomong, gimana kalau ngambek? Auto dicuekin kan gue?"


"Emang abis ketemu siapa tadi? Mantan lo?"


"Bukan. Tapi tadi pas kita ke RS, kita ketemu dokter ganteng banget, Zi. Gila, sumpah! Putih, tinggi, terus auranya seger banget, Zi, suer. Kayak Mas-mas masjid yang abis wudhu. Serius. Nah, kan gue sebagai cewek normal jelas terpana dong," cerita gue dengan menggebu-gebu. Bayangan dokter ganteng tadi kembali menyapa ingatan gue. "mana murah senyum pula, gimana gue nggak meleleh," sambung gue kemudian.


Lalu dengan tidak berperasaan, Vinzi tiba-tiba mendorong dahi gue. "Lo yang ****! Ada pacar sendiri di samping lo, tapi lo malah sibuk mengagumi wajah tampan orang. Ya, jelas Aro ngambek. Lo ini ada-ada aja deh, suka ngaco."


"Ya, kan spontanitas aja itu, Zi. Gue kan cewek normal," kata gue membela diri.

__ADS_1


"Iya in deh, biar cepet," balas Vinzi malas.


"Tapi seriusan, Zi, cowoknya tuh bening banget, kayak air zam-zam. Rasa-rasanya gue nyaris lupa sama sakit di kaki gue saking terpananya sama kegantengan itu dok--"


Ehem ehem


Mampus! Gue masih ingat betul, deheman ini persis waktu gue khilaf memandangi wajah tampan dokter tadi.


"Di kulkas nggak ada ayam mau pun daging. Biar gue cari, lo pengennya lasagna daging apa ayam?" tanya Aro, berusaha tetap tenang meski kedua matanya sempat melirik gue sinis.


"Ayam aja deh, Bang Riki lagi nggak suka makan daging katanya."


"Lah, yang ngidam lo apa Bang Riki?"


Vinzi berdecak. "Gue cuma pengen, nggak ngidam, dikasih tahu kok ngeyel banget sih. Lagian ya, Gi, gue kasih tahu, kalau kita udah nikah itu, kalau kita punya apa-apa pasti bawaannya jadi inget suami. Terus pengen nyisain buat suami."


"Suami lo, lo kasih sisa lo?" sindir gue bercanda.


"Masih mending begitu, meski jauh dari suami, tapi masih selalu ingat sama suami. Dari pada lagi bareng pacar, tapi lupa sama pacarnya sendiri gara-gara lihat cowok lain. Masih mending mana?"


Itu barusan nyindir gue?


Setelah mengatakan unek-uneknya, Aro langsung keluar rumah tanpa pamit. Vinzi langsung terbahak puas, setelah memastikan Aro benar-benar pergi, sedangkan gue hanya bisa manyun.


"Itu kode, Anggita, kode! *****, lucu juga yang yang sejenis Aro kalau ngambek."


"Lucu dari mananya, Vinzi?"


"Ya, itu barusan. Ngegemesin banget tahu, iiih, gue ngiri deh. Bang Riki kalau ngambek, mah, apa-apa dikeluarin. Marah-marah, sumpah serapah, makian, sampai penghuni kebun binatang nggak kelewat disebut. Serem gue dengernya."


Gue memeluk bantal sofa sambil mengangguk setuju. "Nasib kita beda-beda. Kita nggak bisa memiliki sesuai yang kita inginkan, tapi Allah lebih tahu yang kita butuhkan."


"Cakep!!"


"Tapi gimana nanti bujuknya?" tanya gue mulai gelisah.


"Lo temenin masak. Masak berdua romantis tuh, kayak di drama-drama Korea tontonan lo. Terus ntar lo lempar-lemparan tepung. Terus, terus, nanti gue videoin biar bisa lo post di instastory. Keren kan ide gue? Nah, satu lagi, nanti lo kasih caption 'abis jinakin yang abis ngambek' duh, otak gue kok jenius, ya?"


Gue hanya menatap Vinzi dengan tatapan datarku. Membiarkan ini bumil bermonolog sendiri. Gila! Hormon kehamilannya begini banget deh. Apa karena bayi yang dikandung Vinzi, bayi Bang Riki, jadi begitu banget kan bawaannya.


"Gimana menurut lo?"


"Menurut lo sendiri?" Gue memasang wajah sekalem mungkin.


"Menurut gue bagus sih."


Gue mengangguk, membenarkan. "Iya, bagus, Zi. Tapi lihat kaki gue dong!"


Lah, gue juga enggak bakalan jatuh kalau lo enggak nyuruh gue manjat, Vinzi!! Ingin sekali gue meneriakinya begitu, tapi, berhubung dia sedang hamil dan yang dia kandung pun keponakan gue, jadi gue mengalah saja deh. Biarkan dia sesuka hatinya sendiri. Iya in saja lah.


#####


Begitu pulang dari berbelanjanya, Aro langsung masuk ke dapur begitu saja. Bahkan untuk sekedar melirikku pun, segan ia lakukan. Ingin protes tidak bisa, ingin menyusulnya apa lagi, kaki gue susah buat jalan. Ini juga si Vinzi, malah tidur. Padahal dua menit yang lalu, kita baru saja ngobrol, eh, tahu-tahu dianya merem dan enggak menyahut waktu gue tanya.


Karena bingung mau ngapain dan enggak enak marahan sama Aro lama-lama, gue memutuskan untuk menyusul Aro di dapur. Meski harus dengan susah payah, sambil menahan ngilu dan juga nyeri yang kian mendera.


"Kamu ngapain ke sini?"


Aro buru-buru menghampiri gue dan merangkul pundak gue, membantu gue untuk duduk di salah satu kursi.


"Kamu marah, ya, sama aku?"


"Enggak."


"Terus? Kesel? Bete? Sebel?"


Kali ini Aro diam, membuat gue langsung menyimpulkan kalau Aro memang marah.


"Kan, kamu marah."


"Enggak, cuma agak kesel, dikit kok. Abis kamu nyebelin sih."


"Iya, iya, aku minta maaf."


"Dimaafin."


"Senyumnya mana?" goda gue, karena Aro menjawab ucapan gue dengan wajah datarnya, seperti tidak ikhlas begitu.


Aro kemudian tersenyum tipis. "Udah?"


Meski ingin protes, tapi sebisa mungkin gue mengangguk. Jadi, orang harus tahu caranya bersyukur, Aro bukannya tidak murah senyum, hanya saja hemat senyum.


"Vinzi ke mana, kok kayaknya tadi anteng, nggak ada suara kalian?"


"Tidur. Makanya aku ke sini, nyusulin kamu. Gabut juga di sana."


"Mau bantuin?" tawar Aro, namun sebelum bibir ini terbuka untuk menjawab, Aro tiba-tiba kembali bersuara, "eh, jangan deng! Kamu duduk manis aja. Biar aku kerjain semua, kamu tinggal makan aja nanti."

__ADS_1


"Takut banget aku recokin?" tanya gue pura-pura memasang wajah tersinggung.


Namun di luar dugaan, Aro malah mengangguk dengan polosnya.


"Aku paling anti kalau harus masak bareng orang yang nggak bisa bedain ketumbar sama merica. Big no! Nggak peduli seberapa sayangnya aku sama kamu, aku milih aman."


*****, kok pedes banget sih omongannya. Rasanya pengen nangis gue. Gini-gini, gue ngerti kali bedain ketumbar sama merica.


"Ar, kamu nggak suka makanan manis, ya?"


Kening Aro mengkerut. "Kenapa emang? Iya, aku nggak terlalu suka sama makanan manis." tak lama memudian, ia mengangguk, membenarkan.


"Pantesan, omongan kamu nggak ada manis-manisnya."


#####


"Kenapa nggak ikut makan?"


Gue hanya menggeleng, sebagai tanda jawaban atas pertanyaan Aro barusan. Melihat cara makan Vinzi, mendadak membuat gue kenyang dan tidak ingin makan apa pun.


"Kamu nggak suka lasagna? Mau aku buatin yang lain? Kamu pengennya apa?"


"Enggak. Aku doyan kok, cuma mendadak kenyang aja lihat Vinzi makan begitu."


"Eh, bisa gitu, Gi? Keren.


Apa buat makan malam nanti, lo nggak usah makan, cukup liatin gue makan. Lumayan kan, jadi hemat beras," gurau Vinzi di sela kunyahannya.


Gue hanya mendengkus setelahnya, sedang Aro hanya menatap Vinzi datar, khas Aro sekali.


"Bosen di sini? Mau pindah?" tawar Aro.


Gue menggeleng. "Enggak, nanti aja. Di sini, nonton Sea Games dulu."


"Emang lo ngerti?"


Gue menggeleng. "Tapi Mbak Mawar suka banget cerita tentang Sea Games, kan gue jadi kepo. Lagian sebagai warga Indonesia yang baik dan benar, memang sudah sepatutnya kita beri dukungan untuk para atlet kita yang sedang berjuang di Philipina."


"Tapi denger-denger sambutan dari mereka nggak bagus, ya? Ada beberapa atlet kita mau pun luar yang diterlantarin, malah ada yang salah anter ke hotel. Terus, kita yang harusnya dapet dua medali di satu cabang olahraga itu nggak boleh, ya? Itu bener, ya?"


Gue menggaruk-garuk kepala gue bingung. Mbak Mawar memang sempat bilang beberapa hal yang tidak mengenakkan sih dari ajang olahraga itu.


"Simpang siurnya sih, begitu, tapi faktanya, entah lah juga, Zi. Tapi, kayaknya bener deh."


"Kalian mau ngomongin kejelekan orang lain atau mau dukung atlet kita yang sedang berjuang?" tanya Aro dengan wajah datarnya. Terlihat sekali kalau dia tidak suka dengan pembahasan kami.


Namun dengan ekspresi santainya, seolah lupa pernah berbuat dosa, Vinzi langsung menjawab, "Dua-duanya. Sebagai Istri dan juga calon ibu yang baik, gue itu harus multitasking, Ar."


Lah, apa hubungannya? Kok sekarang Vinzi jadi mirip Bang Riki begini? Ngaco. Faktor bawaan bayi kah?


"Kenapa ekspresinya begitu?" tanya Aro tiba-tiba, sambil terkekeh geli.


Gue menggeleng. "Itu si Vinzi, kok sekarang gitu sih? Perasaan dulu nggak deh."


"Makanya, jangan pake perasaan. Katanya bikin baper lho."


"Gue mendadak ngantuk nih, naik ke atas dulu ya, gue. Kalian kalau mau ngapa-ngapain jangan berisik, ya," pesan Vinzi lalu berdiri dan meninggalkan kami.


Masih dengan ekspresi kebingungan, gue menatap punggung Vinzi yang kian menjauh.


"Itu maksudnya apaan sih? Ambigunya mirip banget Bang Riki."


"Biarin, mungkin Vinzi sedang berupaya jadi istri yang baik."


Gue menoleh ke arah Aro yang kini sudah berpindah tepat di sebelahku. "Maksudnya?" tanya gue tak paham.


"Menurut pada suami," jawab Aro tanpa beban, "itu gimana keadaan kaki kamu?"


"Ya, enggak gimana-gimana."


"Belum ngerasa enakan?"


Gue menggeleng. "Kan baru pulang, Ar, masa langsung sembuh. Kita tadi periksa ke dokter loh, bukan ke tukang sihir," ketusku sinis. Sedang Aro malah tertawa.


"Nah, kalau ketawa, tuh, sering-sering begini," imbuh gue kemudian.


"Kenapa?"


"Sedep dipandang."


Kedua alis Aro terangkat. "Kalau enggak?"


"Bia... tetep ganteng kok," ralat gue kemudian. Bisa berabe urusannya kalau gue bilang biasa aja. Bukan perkara takut Aro ngambek atau yang lainnya. Gue cuma takut dosa, kan, Aro emang beneran ganteng. Kalau gue bilang biasa aja, berarti, gue bo'ong dong?


"Bilang biasa aja juga nggak papa kok, mungkin emang aku kalah ganteng sama dokter tadi," gerutu Aro dengan wajah kesalnya.


Gue menggeleng. "Bukan perkara takut kamu ngambek atau marah, Ar. Cuma takut dosa."

__ADS_1


Aro tidak berkata apa-apa setelahnya, ia hanya menatapku selama beberapa detik, sebelum akhirnya merangkul pundak gue dan melupakan topik obrolan kami tadi. Oke, harap maklum, Aro memang begitu. Kamu yang sabar, ya, wahai hati dan perasaan! Mari kita berjuang untuk beberapa tahun ke depan, agar mulai benar-benar terbiasa.


Tbc,


__ADS_2