
#####
"Zi, kok gue deg-degan, ya?"
"Kalau lo nggak deg-degan, kita udah adain tahlilan buat lo, Gi."
Gue langsung berdecak gemas, saat mendengar jawaban yang Vinzi lontarkan barusan. Meski sebenarnya tidak sepenuhnya salah, tapi tetap saja kurang tepat dong.
"Zi, serius sedikit dong, ah. Gue beneran tegang tahu rasanya. Rasanya kayak mau pingsan," keluh gue, memasang wajah cemberut.
"Biar nggak tegang, Gi, ah, lo mah. Santai aja, lah, lemesin, say. Lagian acara lamarannya kan baru nanti malem, ini masih pagi, dan lo udah tegang serasa ingin pingsan?" Vinzi geleng-geleng kepala sambil berdecak tak habis pikir, "alay lo!" cibirnya kemudian.
Gue menopang dagu gue penasaran. "Lo emang nggak deg-degan dulu, Gi?"
"Ya, deg-degan, ya kali lo, kalau nggak deg-degan udah ketemu sama dr. Vito Damay gue."
"Hah?" respon gue spontan, "siapa itu, Gi?"
"Hostnya acara di TV One, entah apa judulnya gue lupa. Yang jelas doi dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dan yang paling pentingnya lagi, dia ganteng," kelakar Vinzi sambil memegangi perut buncitnya.
Gue mendengkus lalu memukul wajah Vinzi menggunakan bantal.
"Anggi, itu Kakak iparmu kamu apain? Astagfirullah! Kakak ipar kamu itu lagi hamil, kenapa kamu pukul begitu, nanti kalau ada apa-apa sama kandungan gimana? Kamu mau tanggung jawab," omel Ibu yang tiba-tiba nongol entah dari mana.
Perasaan tadi Ibu ada di dapur deh, kenapa tiba-tiba muncul begini? Mana main tangan lagi, jewer-jewer kuping, mentang-mentang yang bayar fitrah gue masih suami beliau.
"Anggi kan cuma mukul wajah Vinzi, Bu, bukan yang lain. Ibu jangan berlebihan deh!" balas gue tidak terima, sambil mengusap-usap telinga gue yang bekas Ibu jewer.
"Tapi kalau sampai jatuh gimana? Mbokyo mikir! Masa begitu saja harus dibilangin, kamu itu udah mau nikah. Apa perlu lamarannya Ibu batalin lagi?" ancam Ibu tiba-tiba.
Gue melotot tajam sambil menggeleng tegas. "Jangan dong, Bu. Aro udah ngebet tahu," gerutu gue dengan bibir manyun.
Tanpa gue duga, Ibu tiba-tiba melayangkan tangannya, bersiap memukul gue, namun dengan gesit gue menutupi wajah gue dengan kedua tangan gue, lalu mencengir saat mendapati Ibu sudah menurunkan tangannya.
"Ayo, bantuin Ibu masak."
"Ah, Anggi males, Bu," rengek gue ogah-ogahan.
"Malesan begitu kok minta dinikahin," ketus Ibu, hendak memukulku kembali, namun tidak terjadi.
Gue meringis sambil mengacungkan jari membentuk huruf V.
__ADS_1
"Astagfirullah! Punya anak gadis satu begini amat," keluh Ibu sambil mengusap dadanya prihatin, "nggak ada yang bisa dibanggain. Suruh sekolah tinggi nggak mau, belajar masak pun nggak mau. Njalokmu ki opo?"
Gue meringis lalu berdiri dan memeluk Ibu. "Anggi cuma minta Ayah dan Ibu sehat selalu kok, hehe. Nggak minta uang lagi, nanti uang Anggi kalau abis minta Bang Riki aja."
Dengan gerakan gemas, Ibu menyentil dahi gue. Membuat gue mengaduh kesakitan.
"Abangmu sudah punya istri dan tanggung jawab, nggak usah minta-minta Abangmu lagi. Mending minta ke Ayahmu."
"Boleh, Bu?" Ekspresi gue berubah senang.
"Boleh, nanti kalau kamu sudah butuh uang untuk beliin anakmu mainan."
"Kalau buat anak Anggi nanti, ya, itu urusan Bapaknya dong, Bu. Kenapa jadi minta ke Ayah," gerutu gue kesal.
"Sudah, Ibu mau lanjut masak. Sana, mending beres-beres atau bebersih ruang tengah," suruh Ibu.
Bibir gue kembali maju tanpa bisa dicegah. "Katanya suruh bantuin masak, eh, sekarang udah disuruh beberes ruang tengah juga. Duh, Ibuku yang paling cantik ngalahin Tante Dona Harun, jiwa dan raga Anggi cuma satu, nggak bisa ngerjain banyak pekerjaan dalam satu waktu dong."
"Ya, maksud Ibu kamu beberes ruang tengah, bantuin Ibu masaknya nggak jadi. Kan tadi kamu bilang nggak mau, piye to?"
Gue ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk paham. "Oh, seperti itu."
"Iya, seperti itu," Balas Ibu sedikit ketus.
"Nggak usah, kamu duduk manis aja. Nanti malah kecapekan, kan udah dibantu Mbok Ru."
"Giliran menantunya disuruh duduk manis, anak sendiri disuruh-suruh," kata gue menyindir Ibu.
"Makanya hamil, biar Ibu manis-manisin kamu. Nggak Ibu suruh-suruh terus."
"Loh, Ibu pengen aku hamil duluan padahal belum nik... ah."
******! Bibir gue kok nggak bisa dikontrol banget sih? Kenapa jadi bahas hamil sebelum menikah coba?
Gue kemudian menoleh ke arah Vinzi dengan perasaan tidak enak. Wajah Vinzi agak menegang, tapi ia tetap memaksan diri untuk tersenyum dan mengangguk.
"Zi, gue... tadi gue..."
"It's okay," kata Vinzi sambil mengangguk.
Ibu hanya berdecak sambil geleng-geleng kepala saat melirikku.
__ADS_1
Huh, gue menjadi semakin bersalah.
#####
Malam yang gue tunggu-tunggu, sekaligus seperti ingin gue undur akhirnya tiba. Perasaan gue sekarang tidak karuan, antara ingin cepat terjadi, tapi serasa ingin ditunda lagi. Astagfirullah! Baru juga acara lamaran, gimana nanti ijab qobul dan resepsi? Beneran pingsan kali, ya, gue.
"Gue bilang apa sih tadi pagi, Gi? Santai aja, lemasin, nggak usah tegang! Ini baru acara lamaran. Lagian acaranya juga keluarga sendiri, nggak pakai acara ngundang-undang. Santai aja lah!"
Gue menggeleng tidak setuju, lalu meraih telapak tangan Vinzi dan meremasnya. "Gue rasanya mau pingsan ini lho, Zi. Deg-degan banget."
"Tarik napas dalam-dalam lalu buang!"
Gue mengangguk, lalu mengikuti saran Vinzi. Menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Gue melakukannya berulang-ulang sampai suara pintu kamar gue terbuka, baru gue berhenti melakukannya.
"Udah selesai belum sih? Itu Aro sama rombongan udah nyampe di bawah."
"Hah?! Rombongan? Aro bawa rombongan, Bang?" pekik gue terkejut.
Karena menurut rencana, acara lamaran ini hanya melibatkan keluarga inti saja. Lalu kenapa ini tiba-tiba ada rombongan segala? Ini Bang Riki bercanda kan?
"Hehe, istilah aja, Wat, biar rasanya kayak mau lamaran beneran gitu loh."
"Loh, emangnya ini cuma lamaran settingan saja kayak artis-artis Ibu kota? Ini lamaran beneran, Bang, adikmu beneran mau dilamar ini lho, masih bercanda aja," balas Vinzi sedikit menggerutu.
"Iya, iya, sayang, maksudnya aku tuh, biar serasa beda gitu lho rasanya."
"Sama aja," kata gue menyahuti.
"Ya, udah, ayo, buruan turun!" ajak Bang Riki.
"Bentar, Bang, gue masih tegang."
"Halah, pake segala tegang segala. Gue liat bini gue cantik makin bohay begini, kaga tegang," sahut Bang Riki tanpa dosa.
Gue mendengkus bosan, lalu menatap Vinzi datar. "Zi, lo ridho enggak kalau seumpama suami lo gue lempar sepatu hak gue?"
"Hmm, gue ridhoin, Gi. Ridho istri memang paling mujarapkan?"
"Astagfirullah, yang, jahat banget sih, sama suami sendiri juga," rajuk Bang Riki dengan ekspresi sok memelasnya.
Gue dan Vinzi hanya saling memandang dengan tatapan datar, lalu kami berdiri dan keluar dari kamar, membiarkan Bang Riki dengan wajah cemberutnya.
__ADS_1
Tbc,
hehe, setengah bab dulu, ya. abis ini ganti pov-nya Aro ππ, tapi tetep, harus bersabar! oke? see you next part π€πππππ**