Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Spesial Part : Pov Aro


__ADS_3

#####


Aku menatap Riki dengan pandangan ngeri. Selama sepuluh tahun lebih aku mengenalnya, ini pertama kalinya aku melihatnya sekacau ini, apalagi cuma gara-gara wanita. Padahal biasanya perempuanlah yang akan dibuat galau oleh Riki. Tapi kali ini, lihatlah betapa kacaunya Riki saat ini. Sama sekali tidak terlihat seperti manusia hidup, melainkan seperti zombie yang lupa waktu, ya lupa waktu, karena berkeliaran di pagi hari. Eh, sebentar, zombie itu berkeliarannya siang atau malam sih?


Astaga, kenapa jadi bahas zombie.


Oke, oke, sekarang kita fokus ke Riki lagi.


"Lo ada masalah apa sih, Rik? Berantem sama Vinzi?"


Riki menggeleng. "Gue juga nggak tahu. Vinzi aneh akhir-akhir ini. Setiap gue tanya kenapa dia cuma bilang nggak papa. Kalau gue paksa buat cerita dia malah marah-marah. Dan sekarang gue nggak bisa hubungi dia. Gue bingung, Ar. Apa salah gue sampai Vinzi giniin gue?"


Banyak. Salah lo banyak, Rik. Keseringan mainin cewek sih lo. Kan, kena batunya sekarang.


"Udah minta bantuan Anggita?"


Riki membuka botol air mineral ketiganya sebelum menjawab, "Enggak. Ini masalah gue sama Vinzi. Anggita nggak usah ikut campur," ucapnya lalu meneguk air mineralnya hingga setengah.


Tanpa sadar aku meringis melihatnya. Ini si Riki enggak takut kembung atau beser gitu, minum air mineralnya sebanyak itu.


"Lagian dia sendiri udah cukup galau lo tinggal," imbuh Riki, kembali meneguk air mineralnya hingga habis.


Aku mengangguk, mencoba untuk memahami situasinya. Sebrengsek- brengseknya Riki, dia tipekal Abang yang sayang adeknya. Awalnya, aku ragu sih, tapi setelah mendengar pengakuan dari Anggita dan melihatnya sekarang. Aku jadi percaya betapa sayangnya Riki dengan Anggita.


"Tapi masa begini cara lo menghadapi masalah kalian. Gue rasa ini nggak bener, Rik. Lo sebagai pihak pria harus lebih berusaha."


Mendengar ucapanku Riki mendadak langsung berdecak dan melirikku tajam. "Lo kata gue, lo, yang dikit-dikit nyerah. Enggaklah! Gue udah usaha ini-itu, ya, cuma lagi apes aja gue. Makanya usaha yang gue lakuin belum cukup membuat Vinzi mau diajak baikan."


Lah, kok malah ngatain?


"Kan, diem. Masalah beginian gue lebih ahli, nggak mempan sama saran orang nggak berpengalaman macem lo."


"Iya, iya, lo emang lebih pengalaman. Tapi, percuma sih. Pengalaman nggak cukup membuat lo tegar, buktinya lo jadi sekacau ini. Gue kemarin waktu ngegalauin adek lo, nggak gitu-gitu amat. Gue masih rajin mandi dan cukuran tuh. Masih selalu wangi tiap hari pula. Lah, lo? Udah macem gembel, untung lo nggak diusir tadi sama Mbak-mbaknya."


Riki mendesah sambil memainkan botol mineralnya yang sudah kosong. "Tapi, Vinzi itu beda, Ar. Dia itu terlalu spesial, wajar kalau bikin gue jadi sekacau ini."


"Jelas beda lah. Perempuan baik-baik lo samain sama cewek-cewek yang berhasil lo tidurin," gerutuku sambil geleng-geleng kepala.


Riki tiba-tiba berdehem sambil membenarkan posisi duduknya. Aku mengernyit sejenak, sambil memandangi perubahan ekspresi Riki.


Tunggu sebentar!


"Lo nggak tidurin dia kan, Rik?"

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Riki dengan wajahnya, yang kali ini lebih dikuasai untuk bersikap santai.


"Gila! Vinzi udah lo tidurin?" bisikku sambil memajukan wajahku, agar pertanyaanku tidak didengar oleh pengunjung yang lain.


Dengan wajah santainya, Riki mengangguk. "Yang bukan pacar gue aja, gue tidurin, Ar. Masa pacar gue sendiri nggak gue ajak tidur bareng, rugi dong."


Emang udah nggak waras ini orang. Nyesel aku bilang tadi dia Abang yang baik.


"Berarti Vinzi marah karena lo rebut kesuciannya," ujarku kesal.


"Sialan," umpat Riki tidak terima. "Gue ajak dia ya, bukan perkosa dia. Lo jangan ngejudge orang sembarangan dong. Kita melakukannya atas dasar suka, sama-sama suka. Mau, sama-sama mau. Gue nggak maksa dia, sedikit pun. Gue mungkin sangat membutuhkan kebutuhan biologis yang satu itu, Ar, tapi gue bukan penjahat kelamin yang hanya butuh kepuasan pribadi tanpa memikirkan patner gue."


Aku mendesah panjang, sambil menyandarkan punggungku di kursi. Kemudian melirik Riki dengan perasaan bersalah. Riki benar, dia hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, meski gue akui caranya salah, tapi aku tetap tidak punya hak untuk mengejudge-nya. Pilihan hidup orang beda-beda, dan aku tidak boleh menghakiminya.


"Tapi lo main aman kan, kayak biasanya?"


Dengan wajah sendunya, Riki mengangguk, membenarkan.


"Yakin?" desakku tidak percaya.


"Kok lo nggak percaya sama gue, Ar?"


"Buat mastiin segala kemungkinan, Riki. Siapa tahu lo pernah kelepasan." Aku mengangkat kedua bahuku secara bersamaan.


Gue mangguk-mangguk paham. "Ya, semoga aja beneran nggak kelepasan deh. Serem aja kalau lo sama Gani sama-sama mau jadi Bapak, sedangkan gue ada tanda-tanda ke arah sana. Males diteror nyokap gue nanti."


"Eh, bininya Gani udah hamil?"


Aku mengangguk.


"Njjir, tokcer juga si Gani."


Aku kembali mengangguk. "Kayaknya gitu. Tapi sifat Gani jadi sensitif ampun-ampunan. Nggak sanggup gue ngadepinnya."


"Serius?" tanya Riki tak percaya.


"Duarius."


"Jadi, pengen Vinzi cepet-cepet hamil," celetuk Riki sambil nggak jelas.


"Sembarangan!" Aku langsung melemparinya menggunakan botol kosongnya. "Nikahin dulu, baru hamil. Jangan ngikuti trend!"


"Njiir, lo kata hamil duluan itu sebuah trend."

__ADS_1


"Bukan sih. Tapi banyak yang ngikutin, kalau bukan trend apaan?"


"Budaya baru."


"Orang gila!"


Riki terkekeh geli saat mendengar umpatan gue, dan langsung berdiri.


"Mau ke mana?"


"Beli Aqua."


"Miskin banget deh, beli yang lain kenapa." Aku kemudian mengeluarkan dompetku dan menyerahkannya pada Riki. "nih, pake duit gue. beli yang lain. Haus juga gue lama-lama."


"Nah, kalau gini kan enak," ucap Riki sambil menerima dompetku dengan ekspresi girang.


Aku hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Tak berapa lama kemudian, Riki kembali sambil menenteng dua plastik besar berisi berbagai jenis cemilan dan minuman soda.


"Gila! Mborong lo?"


Dengan wajah polosnya, Riki mengangguk. "Iya, mumpung gratis," cengirnya sambil mengembalikan dompetku.


Aku mendengkus saat menerima dompetku.


"Hape lo bunyi, tuh!" kata Riki sambil menunjuk ponselku yang ada di meja.


Nama Anggita yang tertera di sana. Tanpa menunggu lama, aku langsung meraih ponselku dan mengeser tombol hijau, sebelum menempelkannya di telingaku.


"Ya, hallo. Ada apa, Anggita?"


"....."


"Apa?!"


"...."


"Oke, kamu jangan panik dulu! Aku sama Riki langsung pulang."


"...."


Tbc,


hehe, ini salah satu alasan kenapa part tadi pendek. aku tipekal yg nggak suka satu part pake dua pov. tkut dinyinyirin 😆

__ADS_1


koreksi jangan lupa, ya!


__ADS_2