
######
"Hape kamu bunyi kayaknya, ya."
Gue langsung merogoh ke dalam tas gue dan mengeluarkan benda pipih keluaran negeri Gingseng itu dari dalam sana. "Bukan punyaku." Gue menggeleng lalu menunjukkan layar ponsel gue yang padam.
"Oh, mungkin punyaku. Coba kamu cek!"
Gue mengangguk patuh, memasukkan kembali ponsel gue ke dalam tas lalu mencari keberadaan ponsel Aro di dalam dashboard.
"Mas Gani yang telfon," kata gue setelah mengambil ponsel Aro. Gue kemudian menunjukkan layar ponselnya ke Aro.
"Jawab aja! Dispeaker sekalian."
Gue mengangguk paham. Menggeser tombol hijau pada layar ponsel, lalu menekan tanda speaker setelahnya dan mendekatkan pada Aro.
"Lo batal lamaran?" Suara Mas Gani mulai terdengar
Aro langsung melirik gue, kemudian berdehem sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "Bukan batal, cuma ditunda."
"Kenapa?"
Aro kembali berdehem dan bertanya, "Kenapa nelfon pagi-pagi? Tumben?" tanya Aro mengalihkan pembicaraan.
"Enggak, gue dapet perintah dari calon Kakak ipar lo. Ini lho masih di apartemen apa udah jalan balik ke Jakarta?"
"Udah di jalan balik ke Jakarta, ini udah masuk tol."
"Yah, sayang banget, ya. Padahal gue sama Gavin udah dandan ganteng begini, eh, malah batal pergi. Ya udah, siapin diri lo aja yang penting!"
"Kenapa?" tanya Aro heran.
"Lo bakalan diamuk Riki, karena bawa adeknya tanpa sepengetahuan dia. Lo harus tahu, Ar, Riki brengsek-brengsek begitu kalau udah menyangkut urusan Anggi, jadi posesif parah! Hati-hati lo! Gue pernah ada pengalaman sama dia."
"Itu kan lo, bukan gue."
"Yah, dikasih tahu juga ngeyel. Lo lupa dulu waktu lo dilarang macarin Anggi?"
Aro kali ini tidak menjawab, ia kembali melirik gue.
Lalu Mas Gani pun kembali bersuara, "Ya udah, kalau gitu, gue matiin. Ati-ati di jalan, ya! Sorry, gue nggak ngikut acara lamarannya. Katanya privat kan?"
"Hmm."
Klik!
Tak lama setelahnya, Mas Gani langsung mematikan sambungan telfonnya. Lalu gue kembali meletakkan ponsel Aro ke tempat semula.
"Menurut kamu, aku nanti bakalan diapain Riki?"
"Paling dinyanyiin," jawab gue sambil meringis.
Aro ikut meringis lalu mengangguk setuju. "Kayaknya sih, kemungkinan besarnya itu."
"Tapi, kamu tenang aja, nanti aku nyanyiin balik."
Aro tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidur aja, nanti aku bangunin kalau udah sampai," kata Aro saat mendapati gue menguap.
Gue menggeleng sebagai tanda jawaban, lalu membekap mulut gue sendiri saat kembali menguap.
"Tapi kamu kayak ngantuk gitu kok. Tidur aja! Nanti aku bangunin."
Gue kembali menggelengkan kepala. "Enggak, ah. Masa aku tega ngebiarin kamu nyetir sendiri sementara aku tidur."
"Ya, enggak papa."
"Enggak, ah," tolak gue kembali menggeleng.
"Dari pada ngantuk, sayang."
Gue hendak menjawab, namun tidak jadi karena kembali menguap.
"Tuh, kan! Ngantuk ini kamunya, mending tidur deh. Nggak papa."
Gue kembali menggeleng. "Ngobrol aja deh."
"Tidur."
"Enggak."
"Tidur, sayang!"
Gue berdecak lalu mengeluarkan ponselku dari dalam tas. Mencari video yang bisa gue tonton sementara, untuk menghilangkan rasa kantuk gue.
Duh, ini mata nggak sopan banget sih. Masa jam segini ngantuk.
"Tidur aja sayang, nggak papa."
Bibir gue maju beberapa senti. "Yakin?"
__ADS_1
Aro kemudian mengangguk yakin.
"Aku tidur beneran, ya?"
"Iya, sayang, kan emang aku suruh tidur kan dari tadi."
Gue menoleh ke arah Aro. "Tapi aku nggak enak deh."
"Nggak enak kasih kucing."
"Kok kamu sekarang makin pinter ngomong sih, Ar?"
Tanpa menoleh ke arah gue, Aro memainkan alisnya. "Iya, dong. Hebat kan?"
Gue menggeleng. "Enggak. Aneh. Bukan kayak Aro-ku banget."
Aro hanya terkekeh geli mendengar gerutuan gue, lalu mengacak rambut dan berkata, "Udah buruan tidur!"
"Kenapa sih? Emang aku seberisik itu ya, sampai kamu giniin aku banget?"
"Astagfirullah! Enggak, sayang, kamu keliatan ngantuk lho. Makanya aku suruh kamu tidur, dari pada kengantukan?" Aro menoleh ke arah gue sekilas, lalu fokus kembali pada jalan di hadapan kami dan berkata, "ya udah, deh, terserah kamu," ucapnya final.
Gue tersenyum puas sambil mengacungkan jempol gue, sedang Aro hanya geleng-geleng kepala.
#####
"Yang, bangun!"
Gue langsung tersentak kaget saat merasakan tepukan pelan di lengan gue. Gue menerjap bingung, lalu memperhatikan ke sekeliling gue. Eh, udah sampai? Gue barusan ketiduran?
Gue langsung memalingkan wajahku ke arah Aro. Aro menaikkan kedua alisnya heran, lalu melepas seatbelt-nya dan bertanya, "Kenapa?"
"Aku tadi ketiduran?"
"Enggak," jawab Aro.
"Nggak ketiduran gimana? Orang barusan aku bangun, dan tahu-tahu nyampe. Kamu jangan bercanda dong, Ar."
Aro tersenyum, lalu mendekat ke arah gue dan membantu melepas seatbelt-ku. Jujur, gue agak kaget dengan perlakuannya barusan.
"Kamu nggak ketiduran, cuma emang harusnya kamu tidur."
"Apa?"
"Udah, ah, ayo buruan turun!" ajak Aro sambil membuka mobil dan keluar dari sana.
Lalu gue melakukan hal yang sama, membuka mobil dan turun dari sana, baru setelahnya aku mengekor di belakang Aro. Seolah-olah saat ini gue sedang berkunjung ke rumahnya, padahal sebaliknya. Aro yang sedang berkunjung ke rumah gue, eh, sorry, gue ralat. Berkunjung ke rumah Bang Riki maksudnya.
"Assalamualaikum!" seru Aro saat masuk ke dalam rumah.
"Wa'allaikumussalam!" koor mereka kompak.
"Eh, udah pada nyampe. Sini, duduk! Gimana tadi di jalan? Rame?" tanya Ayah berbasa-basi.
"Ya, rame lah, Yah, namanya jalan," balas gue langsung mengambil posisi duduk di sebelah Ayah, lalu menyandarkan kepalaku di pundak beliau dan memeluk Ayah dengan erat. "Ah, Anggi capek, Yah," keluh gue kemudian.
"Katanya sudah mau nikah masih manja sama Ayah, nggak malu sama calon suami kamu?" sindir Ayah sambil menepuk lengan gue, mengintruksiku agar melepaskan tanganku yang memeluk beliau.
"Nggak papa, justru mau nikah, Yah, kan abis itu nggak bisa."
Ayah mendengkus samar lalu berkata, "Bisa saja nyari alasannya."
"Bisa dong," balas gue tak mau kalah.
Namun, beberapa detik setelahnya, gue melepaskan pelukan gue, dan menyandarkan kepalaku di sofa.
"Bu, ini ada calon menantunya lho, bukannya dibikinin minum malah sibuk nonton tv. Ayah jual ya, tv-nya lama-lama."
"Nggak usah, Om, ini juga sudah mau pulang," jawab Aro sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Gue mengernyit bingung. "Loh--"
"Kok buru-buru? Bentar ini mumpung sinetron kesukaan Ibu lagi iklan, Ibu ambilin dulu."
"Nggak usah, Tante. Terima kasih, nanti malam saya ke sini lagi kok," tolak Aro sopan.
"Ya, beda, nanti kan sama Mama-Papa kamu, Ar," sahut gue.
"Enggak, nanti sendiri kok."
Ekspresi Ibu langsung berubah panik. "Kenapa? Mama-Papa kamu nggak ngizinin kamu nikahin anak Tantenya? Hubungan kalian ditentang, sampai kamu ingin datang melamar anak Tante sendirian?"
"Hah?" respon Aro spontan.
Gue dan Ayah menata Ibu datar. "Ibu! Ini bukan sinteron yang Ibu tonton barusan," sahut Ayah kemudian.
Aro meringis. "Alhamdulillah tidak, Tante. Mama sama Papa welcome, cuma kenapa nanti ke sini sendirian, karena Riki yang menyuruh."
"Hah? Maksudnya? Bang Riki ngapain?"
Aro merogoh saku celananya, dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sana, lalu menyerahkannya pada gue. Gue menerimanya dengan ekspresi bingung, lalu mengutak-atik ponsel Aro hingga menemukan pesan yang Bang Riki kirimkan..
__ADS_1
Riki:
nanti malam gue tunggu di rumah. Nggak usah ajak nyokap bokap lo dulu. Cukup bawa diri lo sendiri. gue mau introgasi lo dulu. Paham? 😏😒
Riki:
eh, gue ralat. jangan cuma bawa diri sendiri, tapi bawa kantung plastik, ya. minimal isinya martabak.
Astaga, Abang gue!!!!
######
"Mana kantung plastik pesenan gue?" todong Bang Riki saat bergabung di antara kami.
Benar-benar di antara kami, karena ia memilih duduk di tengah-tengah kami, dengan tidak sopan pula. Hih, kalau bukan Abang gue, udah gue jambak rambutnya pasti.
"Dimakan Ibu," jawab Aro kalem.
"Gue nggak lo kasih jatah?" ketus Bang Riki judes.
"Dikasih, cuma udah dimakan anak lo," jawab gue mewakili."
Bang Riki berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Pelit amat lo, Ar, jadi calon adek ipar."
"Lo aja yang mandinya kelamaan."
"Kok nyalahin gue?" protes Bang Riki tidak terima. Namun gue abaikan.
Gue juga tidak terima pacar gue diginiin.
"Langsung ke inti, Rik, dari pada kalian beruda makin lama berantemnya."
Bang Riki mengangguk setuju, lalu melirik gue. "Lo pergi sana! Gue mau ngomong sama Aro."
Gue menggeleng tegas. "Enggak, gue mau di sini."
"Tapi ini urusan laki-laki," decak Bang Riki kesal.
"Enggak papa, gue harus berhubungan dengan laki-laki, Bang, dan selamanya begitu. Jadi, gue rasa, gue emang perlu tahu urusan para laki-laki," jawab gue sambil tersenyum puas, saat mendapati wajah cemberut Bang Riki.
Abang gue satu-satunya ini pun, kembali mendengkus dan melirik gue sinis. "Adek siapa sih lo, Gi. Astagfirullah!"
"Adek lo, Rik, dan sekaligus pacar gue," jawab Aro sambil tersenyum ke arah gue.
Gue pura-pura tersipu malu dan mengacungkan jari gue membentuk tanda hati sambil mengedip genit, menempelkan pada bibir lalu membuat gerakan seolah-olah gue baru saja menerbangkan tanda kecupan ke udara. Lalu, masih dengan wajah sinisnya Bang Riki mendorong kepala gue.
"Alay lo," cibirnya pedas.
"Sirik aja lo, Rik," balas Aro dengan santai.
"Lo juga, kenapa ketularan gilanya adek gue?"
Bang Riki berdecak lalu menoleh ke arah Aro dengan wajah sinisnya tadi.
"Karena cinta, Rik. Cinta itu gila."
"Astagfirullah! Jijik gue dengernya, Ar, nggak lo banget deh." Bang Riki menatap Aro seperti mau muntah, sedang Aro hanya memasang wajah santainya. Gue tahu sih, Aro hanya ingin menggoda Bang Riki saja.
"Udah deh, Bang, langsung ke inti!" kata gue kemudian.
"Semalam kalian ngapain aja?"
"Tidur/Banyak."
Bang Riki melongo beberapa saat, mendengkus kasar, lalu menoleh ke arah gue dan Aro secara bergantian.
"Ar, gue tahu lo pria jujur. Kalau pun lo apa-apain adek gue, gue... oke, gue coba maklum. Jadi, lo kemarin ngapain adek gue?"
"Banyak, Rik. Cuma yang jelas dan pasti, sesuatu yang ada di otak kotor lo, nggak kita lakukan. Gue tahu batasan, Rik. Gue mungkin bukan pria suci yang begitu menaati aturan nggak boleh pegang-pegang atau yang lainnya. Tapi, bukan berarti gue sembarang pegang dan lainnya kan? Gue tahu yang mana bisa dimaklumi dan yang mana nggak bisa diampuni. Gue masih bisa tahan diri dengan baik, berkat kerja sama dengan adek lo."
Gue tersenyum bangga mendengar jawaban Aro. Sedang Bang Riki malah melongo beberapa saat. "Jadi, lo sempet... pengen?"
Kali ini Aro berdecak. "Bukan pengen, tapi sempat hampir goyah."
"Sama aja lah!"
"Ya jelas beda dong, Bang," balas gue tidak terima.
"Lo diem dulu kenapa sih, Wat?" protes Bang Riki, melirik gue sinis.
"Bang, menurut gue, lo berlebihan. Aro pria baik, dan menurut gue dia yang terbaik. Tapi, lo malah seenaknya beginiin dia? Ya, jelas gue kesel lah."
"Gue melakukan ini karena gue sayang lo, lo adek gue satu-satunya. Salah kalau gue pengen ngejagain lo?"
Kali ini gue mendengkus kasar. "Bang, lo lupa kalau lo pernah ngerusak anak gadis orang? Dan parahnya lagi, orang itu sahabat gue sendiri! Lo lupa sama itu semua?!"
"Justru karena gue pernah begitu, gue nggak mau temen gue ngerusak adek kesayangan gue. Gue tahu bagaimana rasa bersalah itu terus ada dan nggak bisa gue lupain dengan mudah. Gue nggak mau Aro ngalamin apa yang gue alamin juga. Gue ngerasa bertanggung jawab karena kalian sama-sama pentingnya di hidup gue. Gue cuma nggak mau kalian hancur hanya karena nafsu sesaat," seru Bang Riki emosi.
"Tapi kita nggak begitu, Bang!"
Gue membalas seruan Bang Riki tak kalah keras.
__ADS_1
"Ya, biasa aja, nggak usah ngegas! Gue tadi cuma tanya, karena khawatir. Aissh, perhatian gue sia-sia ternyata, nggak kalian anggep sama sekali pun," dengkus Bang Riki ngambek lalu meninggalkan kami.
**Tbc