Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Spesial Part : Pov Aro


__ADS_3

####


"Chef, ada tamu yang mau ketemu sama Chef."


Aku langsung membalikkan badan dan menemukan Arul, Manajer Restoran Gani.


"Kenapa? Komplain?"


"Kayaknya sih enggak, Chef."


"Lalu?"


"Ya, dia mau ketemu sama Chef gitu. Minta tolong suruh panggilin Chefnya."


"Dia kritikus dari mana?" tanyaku pada akhirnya.


"Bukan kritikus sih, Chef, tapi--"


"Bilang tidak bisa. Saya sibuk. Kamu tidak lihat?" ketusku judes.


Meski belum masuk jam makan siang, restoran Gani memang sering kali ramai di jam jelang makan siang. Entah lah, aku rasa orang-orang lebih suka brunch ketimbang makan siangnya, meski menurutku makan jam segitu nanggung.


"Tapi dia selebgram dan juga influ--"


"Kamu pikir saya peduli?" potongku galak.


"Tapi follower Instagramnya banyak, Chef. 2,5juta."


"Saya tidak peduli," kataku acuh tak acuh, lalu kembali ke aktivitasku.


"Tapi, Chef, lumayan buat promosi. Lagian ini selebgram cuantik ban--"


"Pacar saya tidak kalah cantik, tuh."


"Tapi, Chef, kan lumayan, dia selebgram loh. Kan nanti pasti diposting di IG-nya. Nanti restoran makin ramai."


Aku langsung berdecak jengkel, sambil menggeram tertahan. Arul itu tipekal perayu ulung, mau kutolak sebagai mana pun, ia pasti akan terus merayu.


"Ngasih uang tips berapa sih?" tanyaku pada akhirnya.


Arul hanya meringis sebagai respon. Membuatku kembali berdecak dan akhirnya melepas apronku, dan keluar dari arena dapur.


"Ko, kamu awasi dulu Bagas! Saya nggak mau dia masak udangnya kematengan kayak tadi," teriakku sebelum akhirnya keluar dari dapur.


Iko, Sous Chef adalanku langsung mengangguk dan menghampiri Bagas.


Lalu aku sendiri langsung mengekor di belakang Arul. "Yang mana?" tanyaku kemudian.


Arul langsung menunjukkan meja yang si selebgram, yang Arul sebut cuantik tadi. Padahal aslinya, cantik aja. Ya, semua perempuan memang cantik, tinggal bagaimana kita menilainya dari segi mana kecantikan itu.


"Cantik kan, Chef?" bisik Arul.


Aku memandangnya datar, lalu membatin, "Masih cantikan Anggita ke mana-mana sih." Namun, meski dalam hati aku berkata demikian, aku tetap mengangguk pada akhirnya.


"Mbak Nabila Afsheen, ini Head Chef dari restoran kami," kata Arul sambil memperkenalkanku.


Kalau sudah di depan tamu begini. Seketika aku harus memasang wajah ramahku.


"Selamat pagi menjelang siang, Mbak. Saya Aaron Aldric, Head Chef dari Res--"


"Saya Nabila Afsheen. Panggil aja Ila. Duh, ternyata rumor kalau Chef di sini ganteng banget, itu benar, ya," cerocos perempuan yang Arul sebut seorang selebgram tadi. Ia bahkan dengan tidak sopannya, memotong ucapanku yang sedang memperkenalkan diri.


Ck. Pecuma cantik dan punya banyak follower kalau kelakuan minus begini.


"Mohon maaf, apa anda memanggil saya untuk mengutarakan komplain?"


"Tidak. Tentu saja tidak, ya ampun, formal sekali sih obralan kita. Tapi, nggak papa, saya suka."


Tapi saya tidak suka.


"Saya mau minta foto bareng boleh nggak? Duh, saya pengen banget punya foto dengan Chef. Nanti saya bantu promosi, gratis, terus aku kasih review juga. Gimana?"


"Ti--"


"Chef, cuma foto doang lho," bisik Arul tidak sopan.


Aku langsung menoleh dan menatapnya datar.


"Sekali aja kan, Mbak Nabila?"


Selebgram yang bernama Nabila itu mengangguk, mengiyakan pertanyaan Arul. Sedangkan aku, aku hanya berusaha menahan diri agak tidak memutar kedua bola mataku, demi menjaga sopan santun.


"Tuh, sekali aja, Chef. Nggak papa, pacarnya nggak akan marah."


Kali ini, aku tidak bisa menahan diri dan pada akhirnya memutar kedua bola mataku.


"Kalau pacar saya marah, kamu yang tanggung jawab, ya. Enggak mau tau saya."


"Beres, Chef. Aman semua, kalau sama saya."


Kalau sudah seperti ini, aku tidak bisa apa-apa selain pasrah. Ck. Jadi, orang ganteng itu memang susah, ya. Aku yang bukan selebritis saja dimintain foto. Apa ini karena kegantenganku yang sudah berada di luar batas? Kalau iya, berarti wajar, kenapa Anggita begitu posesif saat harus kutinggal bekerja.


#####


"Saya tidak mau yang tadi terulang kembali. Cukup menjadi yang pertama dan yang terakhir kali. Apa lagi kalau sifat dan kepribadiannya begitu," ucapku tegas dan tidak ingin dibantah.


"Loh, emang sifatnya gimana, Chef? Perasaan ramah deh," balas Arul, sambil terus mengekor di belakangku.


Kali ini aku menghentikan langkah kakiku dan berbalik menatap Arul galak. "Dia memotong ucapan saya, dan kamu bilang dia ramah? Kamu bercanda?"


"Baperan sekali sih, Chef," guman Arul.


Meski dengan suara pelan, suaranya masih terdengar cukup jelas di telingaku. "Saya masih bisa dengar, Rul," decakku kesal.

__ADS_1


Arul hanya meringis sambil meminta maaf. "Hehe, bercanda, Chef," imbuhnya kemudian.


Kali ini aku mendengkus, sebelum berjalan meninggalkannya, dan kembali masuk ke dapur, untuk memastikan pekerjaan timku sesuai dengan standar yang sudah kutetapkan.


"Chef, Bos nelfon."


Aku kembali berdecak. Sepertinya, hari ini akan menjadi hari yang berat.


Aku menghentikan niatku untuk kembali ke dapur dan menghampiri, Ajeng, salah satu pelayan di restoran ini.


"Ada apa? Saya sedang sibuk lho," gerutuku kesal.


"Saya juga kurang tahu, Chef," jawab Ajeng seadanya.


Namun, meski demikian, aku tetap menerima ponsel yang Ajeng sodorkan. Lalu menempelkan pada telinga kananku, dan menyuruhnya untuk kembali bekerja.


"Kenapa sih?" tanyaku to the point, dan tak ingin berbasa-basi.


"Ke mana aja sih?"


Aku mengernyit heran, saat mendengar pertanyaan yang Gani tanyakan barusan. Merasa aneh saja, begitu.


"Kerja lah. Lo pikir gue lo, yang sukanya makan gaji buta. Terus kerjanya cuma ongkang-ongkang kaki doang?"


"Kampret lo! Kalau ngomong suka bener, kayak cewek lo."


"Nggak butuh umpatan lo, gue. Buruan ngomong ada apaan? Gue sibuk."


"Riki dari tadi pagi nelfonin lo. Katanya nggak bisa, lo ke mana aja sih?"


"Kerja, Gan."


Terdengar suara decakan dari seberang. "Bodo amat, pokoknya lo nanti telfon Riki. Misuh-misuh mulu itu pengantin baru. Efek DP sebelum nikah, terus nggak dapet honeymon kali, ya?"


"Iya, kali," jawabku seadanya.


"Buruan lo telfon balik!"


"Iya, nanti--"


"Kok nanti sih, Ar? Sekarang dong," decak Gani.


Aku menghela napas pendek. "Kan kalau sekarang, gue lagi telfonan sama lo, Gan. Ya, nanti dong, abis lo matiin telfon lo."


"Eh, iya, iya. Ya udah, gue tutup dulu telfonnya, gue mau nonton."


"Terserah," balasku langsung mematikan sambungan telfon.


#####


Setelah pekerjaanku selesai, baru kemudian aku menghubungi Riki. Butuh waktu cukup lama sanpai akhirnya, telfonku terhubung dengan Riki.


"Sorry, tadi masih rapat. Gimana, kenapa telfon?"


"Yang telfon duluan lo, Rik, gue cuma nelfon balik. Anak lo belum lahir, Rik, masa udah pikun aja."


"Jadi, ada apa?"


"Balik ke Jakarta dong!"


"Ngapain?"


"Bantuin gue bujuk Anggi. Semalam terjadi tragedi kurang mengenakkan, dan sekarang gue pusing cari solusinya. Lo balik ke Jakarta dulu dong, lo kan Head Chef, bisa lah lo tinggal bentar."


"Emang kenapa sama Anggi? Kenapa harus dibujuk segala."


"Kakinya bengkak, jatuh dari pohon. Tapi gue bawa ke dokter nggak mau, gue panggilin tukang urut dia malah histeris. Kan gue jadinya pusing, Ar. Mana Vinzi ikut-ikutan pula, belum urusan kantor. Duh, bisa mendadak kena penuaan dini, kalau lama-lama begini."


"Kok bisa jatuh dari pohon? Lo jangan ngarang cerita, Rik."


Bukan gimana-gimana, Anggita itu tipekal perempuan mageran, ngapain segala pakai naik ke atas pohon? Nggak masuk akal sekali kan? Anggita jelas akan lebih memilih untuk menonton drama Korea kesukaannya dari pada manjat pohon.


"Panjang ceritanya, nanti gue ceritain pas lo nyampe sini. Yang penting lo ke rumah gue dulu."


"Ini lo serius?" tanyaku masih tak percaya.


"Astagfirullah! Gue serius, Ar, masa iya gue bercandain hal penting begini. Senyebelin-nyebelinnya Anggi, dia tetep adek gue."


Aku diam. Jadi, ini beneran?


"Jadi, ceritanya itu Vinzi ngidam. Dia pengen mangga, malem-malem. Nah, gokilnya, anak gue pengennya Anggi yang manjat langsung."


Rahangku seketika langsung mengeras, tidak terima. Istri Riki yang hamil, tapi yang repot pacarku? Enak banget hidup Riki. Dapet enaknya doang.


"Dan lo biarin pacar gue manjat gitu?" tanyaku kesal.


"Ya, kalau gue tahu, mana mungkin gue biarin, Ar. Yang pengen anak gue, masa yang manjat adek gue, mana adek gue perempuan, cewek pula. Gue kebetulan belum jadi Abang yang kejem, ya."


"Emang lo ke mana, sampai nggak tahu kalau bini lo ngidam?" seruku emosi.


"Eumm.... tidur."


"Apa?!"


"Nggak usah teriak, Ar," protes Riki menggerutu.


Namun, aku tidak peduli. Apa-apaan maksudnya itu. Riki enak-enakan tidur, sedangkan Anggita, pacarku repot-repot manjat dan sampai jatuh. Emang Abang kurang ajar Riki itu.


"Lo nggak sadar sama kesalahan lo?!"


"Iya, nggak bisa dibilang salah gue juga dong, Ar. Kan, gue nggak tahu. Kalau tahu, ya--"


"Tahu lah, emang kambing lo!" umpatku kesal, "nggak mau tahu gue, idul adha nanti, pokoknya lo harus gue korbanin."

__ADS_1


"Buset, Ar, serem amat lo. Jahat. Kenapa nggak diganti aja, idul adha nanti gue rela korbanin Anggi buat jadi istri lo. Gimana?"


"Bodo amat, Rik. Gue tutup, on the way ke Jakarta."


"Sip. Gue tunggu, nggak usah beliin oleh-oleh buat calon kakak ipar. Cuma kalau lo maksa dan tetep bawa, insha Allah. Bakalan gue terima dengan tulus ikhlas."


"Pede banget lo! Enggak, nggak sudi gue bawain lo oleh-oleh," ucapku sebelum mematikan sambungan telfonnya.


"Vinzi maksud gue, Ar."


"Ngeles aja lo, kayak anak sekolah mau ngadepin ujian nasional," gerutuku sebal.


"Gue calon Bapak yang sedang menghadapi ujian hidup, Ar. Jadi, perlu ngeles. Biar pint--"


Tanpa membiarkan Riki meneruskan ucapannya, aku langsung menutup sambungan telfon. Karena jika dibiarkan, ia pasti akan terus mengoceh selayaknya burung perkutut.


######


"Itu kejadiannya gimana sih? Kok bisa sampai jatuh segala?" todongku saat aku tiba di rumah Riki.


Riki berdecak. "Gue juga baru nyampe, duduk dulu kenapa sih?"


"Gue penasaran. Terus gimana keadaan Anggita?"


"Sekarang tidur."


"Gue mau lihat keadaannya."


"Ada di kamar."


Riki kemudian mengajakku naik ke lantai atas. Aku langsung mengekor di belakangnya.


Cklek!


Riki membuka pintu kamar Anggita. Lalu aku mengintip dan menemukan Anggita sedang tertidur pulas di atas ranjangnya.


"Dari kemarin nangis mulu. Mau gue bawa ke dokter nggak mau, gue panggilin tukang urut apa lagi. Gue bentak malah tambah mewek. Stres gue, Ar. Mana Vinzi ikut-ikutan mewek dan nggak mau makan pula," bisik Riki menjelaskan, lalu menutup pintu kamar Anggita.


"Kenapa sama Vinzi?" tanyaku heran.


"Ngerasa bersalah katanya. Kan dia yang nyuruh."


"Harusnya yang bersalah kan lo, Rik, kenapa istri lo?"


Kami kembali menuruni anak tangga.


"Kayak nggak tahu bumil aja, lo, Ar. Mereka kan kan suka lebay kalau lagi sensi."


Aku kemudian mengangguk setuju. Meski bukan Gani yang hamil, tapi Gani cukup sensi ampun-ampunan. Ngalah-ngalahin amukan Anggita kalau sensi.


"Eh, lo belum ngehamilin anak orang, ya. Mana ngerti!"


"Sialan, lo!" amukku kesal.


Sedang Riki langsung terbahak puas.


"Makan dulu, yuk! Laper nih gue," ajak Riki yang langsung kuangguki setuju.


Perutku juga mulai terasa lapar dan perih.


"Lo yang masak?"


Aku langsung menatap Riki tajam. "Gue baru aja abis nyetir jauh, Rik, dan lo tega nyuruh gue masak?"


"Biasa aja, woy, nggak usah ngegas!"


"Lo yang mancing," balasku tak mau kalah.


Riki hanya terkekeh geli setelahnya, dan mengajakku untuk ke dapur.


"Mbok Ru masak sop sama goreng ikan. Gue nggak tahu deh, masakannya memenuhi standar kualitas lo apa enggak," kata Riki sambil menarik kursinya.


"Apaan sih, gue ini tukang masak, bukan kritikus yang kerjaannya ngomentarin masakan orang."


Aku kemudian ikut menarik kursi dan duduk di sana.


"Yakin, masakan bawahan lo, nggak lo komentarin?"


"Itu beda cerita."


"Spin-off, ya, apa sekuel?"


"Bodo amat!" decakku sebal.


Riki kembali terkekeh, sebelum menyendok nasinya.


"Nanti nginep, ya? Besok bujukin Anggi buat dianter ke dokter."


Aku menggeleng tidak setuju. "Enggak. Gue tetep balik, besok pagi gue ke sini pagi-pagi."


"Kenapa nggak nginep aja sih? Ribet, Ar."


"Nggak papa. Males kalau harus lapor pak RT, kalau nggak lapor, takut digrebek."


"Buruan nikahin adek gue, Ar, gue setuju lo jadi adek ipar gue."


"Kalau sudah saatnya tiba," jawabku penuh keyakinan. Riki hanya mangguk-mangguk setelahnya.


**Tbc,


huaaaaaa


ku update penuh dengan pemaksaan. mon maap, ya, klo rasanya garing, krik krik krik, dan juga hambar, aku cukup kesulitan membangun mood nulis cerita mereka 😭😭😭😭😭😭😭😭😭

__ADS_1


aku menerima semua jenis kritikan dan juga saran. jika ada yg berkenan, boleh kok ngasih masukan. akan ku terima dengan senang hati.


ku tunggu masukannya πŸ€—πŸ™ƒπŸ™„πŸ˜πŸ˜—πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜˜πŸ˜š**


__ADS_2