Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (42) Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

####


"Eummm.... Ar, kalau ketemu Mama kamu ditunda besok-besok aja gimana?"


Aro menatap gue dengan kedua alis terangkat tinggi-tinggi. "Kenapa emang kalau hari ini?"


"Aku belum siap."


"Lebay lo," sahut Bang Riki sambil melempar gue dengan kulit kacang.


Gue berdecak sambil melotot tajam ke arah Bang Riki. "Apaan sih lo, Bang, sewot aja."


"Lebay sih lo. Ketemu calon Mertua doang, belum tentu Emak Aro mau beneran jadiin lo menantunya."


"Maksud lo?" sewot gue tak terima.


"Nggak usah ngerusuh dulu kenapa sih, Rik. Ini gue lagi usaha biar status gue seimbang sama kalian."


Aro berdecak gemas sambil melotot tajam ke arah Bang Riki, sedang yang dipelototi hanya terbahak. Lalu tiba-tiba berceletuk, "Biar seru, Ar. Biar nggak membosankan buat kita-kita yang menyaksikannya. Iya, nggak, yang?" ia kemudian merangkul pundak Vinzi sambil memainkan alisnya naik-turun.


Dengan menyebalkan, Vinzi mangguk-mangguk setuju sambil mengacungkan jempolnya.


"Emang kampret kalian berdua," umpat gue kesal.


"Bertiga sekarang, Wat," sahut Bang Riki cepat, "udah ada ponakan lo di sini. Ponakan gue kapan ada di perut lo?" sambil mengelus-elus perut Vinzi yang sedikit membuncit.


"Nggak usah didengerin, buruan sana ganti baju! Aku tungguin," ujar Aro tiba-tiba.


Gue cemberut. "Harus banget ke sana, ya, aku. Nggak bisa ditunda besok-besok?"


"Enggak bisa dong, kan, besok-besoknya aku harus ke Bandung. Kamu mau main ke rumah sendiri tanpa aku temenin?"


Mendengar pertanyaan Aro barusan, sontak gue langsung melotot dan menggeleng tidak setuju. Pergi ke rumah Aro tanpa ditemani Aro-nya, mau ngapain gue di sana nanti?


"Ya udah, makanya buruan ganti baju, sayangku."


"Tapi..."


"Kenapa? Enggak berani? Perlu aku temenin?" Aro mengangguk tidak masalah, "ayo!"


Sebuah bantal sofa berhasil melayang dan mengenai wajah Aro.


"Modus aja lo, kerjaannya. Lamar adek gue dulu!" ledek Bang Riki.


Lalu dengan wajah santainya, Aro menyahut, "Gue sih udah siap, Rik, kalau adik lo mau."


"Dih, kek orang bener aja lo, Bang." Gue kemudian beralih ke Aro. "Kamu juga, kenapa ikut-ikutan."


"Emang bener kok. Bener-bener ganteng," ucap Bang Riki narsis sambil menaikkan alisnya naik-turun.


Gue langsung memasang wajah pura-pura ingin muntah. "Iya, bener lo, Bang. Bener-bener minta ditabok," kataku langsung berdiri dan meninggalkan ruang tengah, dan bergegas naik ke lantai atas untuk berganti pakaian.


Saat tiba di kamar, gue membuka lemari gue lebar-lebar. Sambil berkecak pinggang, gue memandangi deretan pakaian gue yang sebenarnya jumlahnya lumayan memenuhi isi lemari gue, tapi terasa kosong di penglihatan gue. Maklum, penyakit perempuan. Baju satu lemari penuh, rasanya nggak punya baju.


"Zi, Vinzi, Kakak ipar gue!" Gue berteriak memanggil Vinzi dari ujung tangga, "naik sini! Bantuin gue," sambung gue kemudian.


Di bawah, Vinzi berdecak kesal. Namun, beberapa detik kemudian, ia tetap menaiki anak tangga dan menghampiri gue.


"Butuh bantuan apa sih?" tanya Vinzi judes.


Ini perempuan sejak hamil, entah perasaan gue, atau memang benar adanya, dia sedikit berubah. Terutama pada emosinya yang suka naik-turun, kadang sensian, kadang sensitif ampun-ampunan, kadang bodo amatan.


"Enaknya pakai baju gimana, ya?" tanya gue, sambil menatap Vinzi yang tengah duduk di tepi ranjang.


"Yang penting sopan, bikin nyaman, dan bukan yang ngutang."


"Eh, kenapa kalau yang ngutang?"


Vinzi menatap gue datar. "Ya, enggak gimana-gimana sih, sebenarnya. Cuma, ngapain lo ngutang baju, kalau lemari lo udah penuh." Ia tiba-tiba berdecak. "Kenapa jadi bahas utang baju sih?" tanyanya heran.


"Kan lo yang mulai," kata gue tak mau kalah.


"Oke. Lupain! Yang penting bajunya sopan dan nyaman, udah gitu aja. Kenapa ribut sendiri sih?"


"Ya, namanya mau ketemu calon mertua. Harus pakai pakaian yang tepat dong, Zi."


Vinzi hanya mangguk-mangguk malas setelahnya. "Ya, ya, ya, terserah lo."


"Gue cari google, ya?"


"Buset! Apa-apa google, dikit-dikit google. Nikah aja sama google sekalian, biar nanti gampang, anaknya tinggal downlod, nggak usah panggil Bidan atau pergi ke rumah sakit."


"Kampret, lo! Malah ngeledek," gerutu gue kesal.


Lalu jari-jemari gue dengan lincahnya menekan-nekan layar ponsel, untuk mencari tips & juga trik dari google.


Tips Pakaian Wanita untuk Bertemu Calon Mertua


Baju yang Nggak Membuatmu Sangat Seksi.


Kemeja Berwarna Polos.


Pilih Warna Hijau, Biru, atau Putih.


Dress yang Sopan.


Nggak Usah Pakai Baju Kerja.

__ADS_1


Gue mengusap-usap dagu gue, sambil berpikir.


"Pakai ini aja! Cantik."


Vinzi kemudian mengambil dress dengan motif garis-garis berwarna biru muda. Memang sih, cantik, simple. Tapi...


"Ini google bilang, suruh pake yang polos aja."


"Percaya sama google. Percaya itu sama Tuhan. Coba sini lihat!"


Gue kemudian menyodorkan ponsel gue.


"Eh, Markonah! Lo buta, apa nggak bisa baca?"


Gue melirik Vinzi takut-takut. "Kenapa?"


"Ini ada tulisan 'dress yang sopan'. Nggak liat lo?"


"Liat. Tapi... masa gue pake itu?"


"Kenapa? Bagus kok. Udah buruan ganti, gue keluar. Keburu gorengan bikinan Chef abis dilahap Abang lo."


"Lah, Abang gue juga suami lo, Munaroh!"


"Nggak usah banyak omong, langsung ganti terus dandan! Nggak usah pake lama."


Lah, kenapa jadi dia yang sewot. Gue hanya mampu geleng-geleng kepala sambil menutup pintu kamar gue, mengambil dress yang Vinzi pilihkan dan bersiap. Setelah selesai berdandan, gue kemudian langsung turun ke bawah. Di bawah, Bang Riki langsung bercie-cie sambil sesekali bersiul untuk menggoda gue. Sedang Aro, dia biasa aja. Langsung berdiri dan menghampiriku.


"Sudah siap?"


Gue menggeleng sambil memegang dada gue yang rasanya, deg-degan luar biasa.


"Kenapa? Dada kamu sakit?"


Gue menggeleng.


"Sesek? Atau bajunya kekecil--Akhh! Kok dipukul?" protes Aro tidak terima.


"Aku nggak gendut, ya," tegas gue kesal.


"Emang yang bilang kamu gendut siapa?" tanya Aro dengan wajah sok polosnya, yang sering kali membuat gue darah tinggi mendadak.


"Kamu."


"Kok jadi aku?"


"Hukum alam, Ar. Terima nasib, ya, kecuali lo ada duit buat operasi kelamin sih," celetuk Bang Riki tiba-tiba.


"Apaan sih? Kenapa jadi bawa-bawa operasi kelamin."


"Gue kasih tahu ya, calon adek ipar gue. Kita hidup di dunia kalau ingin berdebat dengan kaum perempuan itu harus tahu rumusnya."


"Pasal, Bang, yang bener."


"Nah, iya, itu. Benar. Pasal satu perempuan selalu benar, pasal dua perempuan selalu benar, lalu pasal tiga, kalau perempuan salah, balik lagi ke pasal satu. Ngerti?"


Gue memandang Aro dengan antusias, penasaran akan respon yang ia tunjukkan. Namun, sepertinya gue harus kecewa, sekali lagi. Karena ekspresi Aro biasa saja, cenderung malas menanggapi celotehan Bang Riki tadi.


"Apaan sih itu, nggak jelas. Nggak pernah denger tuh, yang begituan. Hoax kali, jangan mau percaya berita hoax, Rik. Jadi, pria dan kepala keluarga itu harus cerdas! Jangan gampang ditipu-tipu begitu." Aro kemudian geleng-geleng kepala dan meraih telapak tangan gue. "Yuk, berangkat sekarang aja!" ajaknya kemudian.


Gue hanya bisa menurut pasrah. ****, dia tinggalnya di planet mana sih, begitu banget, ya Allah!


#####


"Ar, nanti aku harus ngapain, ya?"


Gue menoleh ke arah Aro dengan pandangan gelisah. Serius, rasanya deg-degan banget. Kayak mau kabur aja gue, kalau bisa. Tapi, sepertinya tidak mungkin, karena sekarang gue sudah berada di mobil Aro, menuju kediaman Mamanya.


"Makan malam, sayang. Kok ngapain sih, kan kamu diundang buat makan malam bareng Mama dan juga Papa. Kok, tanya mau ngapain? Ada-ada aja, kamu ini."


Gue berdecak gemas. Ingin sekali gue berteriak dan menjambak rambutnya, biar botak sekalian kayak punya Om Deddy Corbuzier. Heran gue, ditanya apa jawabnya apa?


"Bukan itu maksudnya aku, Ar. Ya, maksud aku, selain makan ngapain aja gitu loh, aku nanti biar nggak bingung."


"Ngobrol," jawab Aro ragu-ragu.


"Selain itu?"


"Minum."


Gue hanya mengangguk pasrah. "Iya, oke. Kamu fokus nyetir aja, aku nggak usah tanya biar kamu nggak usah jawab, terus aku nggak pake emosi."


"Loh, kenapa pakai emosi?"


"Fokus nyetir, Ar!" ketus gue judes.


Aro hanya melirkku sekilas lalu mengangguk dan benar-benar fokus menyetir, bahkan melirik gue pun tidak. Terlalu penurut atau emang nggak peka sih, ini orang?


#####


"Akhirnya, calon menantu dateng juga. Selamat datang, sayang!" sambut Mama Aro, saat kami tiba.


Beliau langsung memelukku dan kami bercipika-cipiki sebentar, sebelum mengajak gue masuk, dan Aro dianggurin begitu saja.


"Gimana tadi, perjalanannya macet enggak?"


"Enggak, Tante, biasa. Khas Jakarta lah," jawab gue agak malu-malu.

__ADS_1


"Aduh, jangan panggil Tante dong, panggilnya Mama juga, kayak Aro."


Hah? Mama?


Gue meringis canggung, namun pada akhirnya tetap mengangguk meski agak-agak ragu.


"Ayo, coba! Ma-ma."


"Iya, Ta--Mama."


"Nah, gitu dong. Duh, Mama seneng banget akhirnya Aro punya pacar. Cantik pula."


"Biasa aja dong, Ma. Mama bikin Anggita takut itu," sahut Aro dari belakang kami.


Mamanya Aro langsung menoleh dengan kedua mata tajamnya. "Apaan sih kamu ini, ngikut aja. Nggak ada yang ngajak kamu ngobrol, ya, Ar."


Aro tidak menjawab apa pun, ia hanya menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi lalu menggeleng setelahnya.


"Langsung ke ruang makan, yuk!" ajak Mamanya Aro.


Gue hanya mengangguk pasrah dan menurut saat diajak Mama Aro. Di ruang makan, sudah ada pria paruh baya, yang gue tebak itu adalah Papa Aro, alias calon Papa mertua gue. ****, Papanya saja segitu ganteng, pantesan Aro ganteng begitu, ya. Bibit unggul ternyata. Fix, harus jadi menantunya nih gue.


"Ini pacar kamu, Ro?" tanya Papa Aro.


Aro mengangguk.


Ekspresi beliau tampak mengernyit, seperti tidak percaya. "Yakin? Kok cantik begini, mau sama yang modelan kaku kayak kamu begini. Kamu nggak pakai semar mesem kan?"


Seketika gue melongo. Apaan itu semar mesem? Baru tahu gue? Kayak ada di lirik lagu nggak sih, itu?


"Ya, enggak lah, Pa. Buat apaan pakai begituan," gerutu Aro dengan wajah tak terimanya.


"Ya, kali saja, kamu nggak percaya diri gitu, makanya butuh yang begituan."


"Enggak," ketus Aro menegaskan.


Papa Aro mangguk-mangguk lalu terkekeh geli. "Namanya siapa, Nak?"


"Anggita, Om."


"Papa," koreksi Mama Aro.


"Nggak usah dipaksa, kalau masih canggung manggil Papa. Om juga boleh kok, nggak masalah."


Aku mengangguk paham. "Iya, Om."


"Ya, sudah. Ayo, duduk! Kita mulai makan malamnya," ajak Papanya Aro ramah.


Gue mengangguk canggung dan duduk di samping Aro. Kalau dipikir-pikir, Aro ini mirip siapa ya? Bukan secara fisik sih, karena kalau secara fisik, sudah jelas, Aro sangat mirip dengan Papanya. Cetakannya benar-benar persis, seperti Aro ini adalah cetakan Papa Aro versi muda, lalu Papa Aro ini sesosok Aro di masa tua nanti. Habis mirip banget sih, mereka berdua. Tapi, sekarang yang jadi permasalahnya adalah sifat Aro ini lho. Secara Mama dan Papanya itu ramah. Kenapa Aronya modelannya kayak kulkas dua pintu begini, dinginnya tahan lama.


"Ayo, Nak Anggi, kalau mau nambah, nggak usah sungkan!"


Tuh, kan! Papanya ramah banget, sedang Mamanya cerewet banget. Terus, kenapa Aro cuek parah begini?


#####


"Papa kamu ramah banget, ya," kata gue saat Aro mengantarkan gue kembali pulang.


Aseli. Tadi, gue diperlakukan dengan sangat baik dan juga hangat, Mama Aro baik banget, Papa Aro pun demikian. Kadang keduanya kalau ribut lucu, terus yang menjadi penengah nya Aro. Mana waktu Aro memisahkan Mama dan Papanya waktu sedang beda pendapat, wajahnya lurus banget lagi.


"Kamu belum pernah ketemu Papa sebelumnya?"


Gue mengernyit bingung, lalu menggeleng. Memang siapa beliau? Apa orang terkenal?


"Belum. Emang siapa beliau?"


"Papaku, yang donorin spermanya hingga terbentuklah calon imammu ini. Beliau juga Calon Papa mertua kamu."


Gue berdecak gemas. "Selain itu?"


"Kamu seriusan nggak tahu?"


Gue mendesah sebal. "Menurut kamu, kalau aku tahu, ngapain aku tanya?"


Aro meringis sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. "Iya, juga, ya."


"Nah, iya. Jadi, beliau itu siapa? Apa orang terkenal?"


"Harusnya terkenal sih kalau di tempat kerja kamu."


Eh, kenapa begitu?


Gue memandang Aro dengan ekspresi wajah kebingungan.


"Kamu kerja di hotel itu udah berapa lama sih? Baru?"


Gue mengangguk. "Dua tahun."


"Hah? Dua tahun sih, udah lama. Masa kamu nggak tahu sih. Karyawan macam apa kamu ini."


"Maksudnya?" tanya gue tak paham.


"Hotel tempat kerja kamu itu adalah hotel milik Papa. Calon mertua kamu."


"Apa?!"


**Tbc,

__ADS_1


__ADS_2