
######
Gue menuruni anak tangga dengan langkah riang. Semenjak Vinzi dan Bang Riki menikah, gue langsung terbebas dari tugas rumahan pun melayani Bang Riki. Bang Riki, kini menyewa asisten rumah tangga untuk bantu-bantu membereskan rumah mau pun memasak. Tugas gue, ya, jadi ringan gitu, enggak ribet ngurusin kerewelan Bangnya.
"Ceria amat," sindir Vinzi sambil menyendok nasi goreng ke dalam piring.
Gue menoleh ke arah Vinzi sebelum akhirnya memarik kursi dan duduk di sana. "Ceria gimana?"
"Lo kan biasanya udah kayak manusia setengah hidup, setengah mati kalau ditinggal Aro. Ini tumben lo biasa aja, abis diapain lo sama Aro kemarin pas perpisahan."
Gue langsung menoleh ke arah Bang Riki dengan tatapan horor. "Maksud lo apaan itu barusan?"
Bang Riki mengernyit. "Gimana apanya?" tanyanya pura-pura tak paham.
"Halah, gue tahu otak ngeres lo, Bang."
"Sok tahu lo."
"Yee, emang gue tahu, ya," balas gue tak mau kalah.
"Udah, ribut-ributnya, makan dulu! Nanti pulang kerja dilanjut lagi," ucap Vinzi menengahi perdebatan gue dan Bang Riki. Ia kemudian langsung menyerahkan piring berisi nasi goreng dan juga telur ceplok untuk Bang Riki.
Dengan ekspresi sok manisnya, Bang Riki tersenyum dan berkata, "Terima kasih istri dan juga calon Ibu dari anak-anakku tersayang, sarapan ini akan kuhabiskan dengan penuh penghayatan. Karena kutahu kau membuatnya penuh dengan cinta dan juga kasih sayang, spesial untukku."
"Alay lo, Bang! Najis," cibir gue sambil memasang wajah pura-pura ingin muntah.
"Sirik tanda tak mampu," balas Bang Riki dengan wajah menyebalkan khas miliknya, "makanya nikah sana, biar bisa bermesraan setiap saat."
"Nggak usah didengerin, Gi!"
"Suami lo itu, lho, nyebelin banget sih. Berasa pengen gue kirimi karangan bunga turut berduka cita."
"Kampret! Lo kata gue udah mati," umpat Bang Riki tidak terima.
Gue mengangkat kedua bahu gue, tanda tidak peduli. Lebih memilih menyendok nasi goreng ke dalam mulut gue dan memasukkannya ke dalam mukut, lalu mengunyahnya secara perlahan.
"Tapi emang bener sih--"
"Maksud kamu apaan?" Bang Riki menatap istrinya, dengan kedua mata melotot tajam, karena kesal, "jadi, aku emang bener udah pantes dikirimin bunga turut berduka cita?"
Vinzi berdecak. "Apaan sih, baperan banget. Kamu cuma ngehamili aku, nggak ikutan hamil. Nggak usah ikut-ikutan sensi dong. Aku kan belum selesai ngomongnya," serunya kesal.
Gue langsung terbahak sambil mengejeknya. "Mampus lo! Bumil lo lawan, keok kan?"
"Iya, iya, maaf," sesal Bang Riki dengan wajah agak menunduk.
"Aku tuh, mau ngomong sama Anggi. Kalau kamu bener, biasanya kan Anggi galau kalau ditinggal Aro, Bang." Vinzi lalu menoleh ke arah gue. "Jadi kenapa?"
"Sedang membiasakan diri," ucap gue sekenanya.
Sebenarnya, sampai detik ini, gue tuh masih suka nggak rela harus LDR-an begini. Tapi mau bagaimana lagi, nasib berkata begini, ya udah, gue bisa apa selain terima kenyataan?
"Ikhlas nggak lo?" celetuk Bang Riki mengompori.
"Bukan urusan lo," ketus gue judes.
"Lah, lo masih numpang di rumah gue. Jelas, semua urusan lo, masih menjadi urusan lo. Ya, kecuali lo udah nikah gitu sama Aro."
Seketika gue langsung kincep, tidak tahu harus membalas apa. Emang kampret ini Abang gue!
#####
"Gi, Anggi!" panggil Vinzi sambil mengetok pintu kamar gue.
Gue langsung melirik ke arah jam dinding. Pukul sepuluh malam lewat lima menit. Itu Ibu hamil kenapa deh, ketok-ketok pintu malem-malem begini. Dengan perasaan sedikit tidak rela, gue akhirnya menyibak selimut dan meletakkan buku novel gue, setelah memberi tanda, sampai mana gue membacanya. Lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Kenapa, Zi, malem-malem bukannya tidur kok malah ketok-ketok pintu kamar orang?"
"Lo udah tidur?"
"Lo nggak liat mata gue lagi melek begini?" decak gue gemas.
"Maksud gue, tadi, Gi."
Gue menggeleng sebagai tanda jawaban.
"Mau minta tolong, boleh?"
"Bang Riki ke mana?"
"Lembur."
Gue menyipitkan kedua mata gue curiga. Perasaan gue tadi udah lihat dia pulang deh.
"Abis lembur maksudnya, sekarang tidur."
"Terus?"
"Gue kayaknya ngidam deh."
"Lah, kalau lo yang ngidam, kan harusnya nyuruh Bang Riki. Kan dia yang bikin lo hamil, bukan gue. Kenapa nyari gue?"
Dengan wajah polosnya, Vinzi memasang wajah memelas sambil mengusap-usap perutnya yang sedikit membuncit. "Tapi ini kemauan ponakan kamu, Gi."
Kampret!
Gue lemah iman, ya Tuhan!
"Ya udah, gue harus bantuin apa?"
"Gue pengen mangga deh," cicit Vinzi, masih sambil mengusap-usap perutnya.
Seketika gue langsung menatap Vinzi dengan pandangan ngeri. Sumpah, perasaan gue nggak enak, nih.
__ADS_1
"Lo nggak minta gue nyolong mangga di tetangga kan?"
Vinzi menggeleng kuat. "Enggak kok, ya kali lo, masa anak gue mau gue kasih mangga hasil nyolong. Kita minta mangganya Pak Sopyan, ya?"
Gue mangguk-mangguk pasrah, lalu menutup pintu kamar. "Ya udah, ayo, bangunin Bang Riki."
"Jangan! Dia kayaknya lagi capek banget, lagian dia besok ada metting pagi-pagi, Gi. Gue nggak tega banguninnya."
"Enggak papa, gue tega."
"Tapi gue enggak," ujar Vinzi dengan ekspresi sok melasnya.
Sumpah, hormon kehamilan Vinzi kok senyebelin ini sih?
Selanjutnya, gue hanya mampu menatapnya datar dan pasrah mengikuti semua maunya.
"Oke, terserah lo. Jadi, sekarang kita harus gimana?"
"Langsung ke rumah Sopyan."
"Oke."
Sesampainya di rumah Pak Sopyan, Vinzi kembali berulah. Ia ingin buah mangganya dipetik langsung oleh tangan gue. Detik berikutnya, gue langsung mengumpat jengkel. Kalau begini ceritanya, udah jelas lagi dikerjain nih, gue.
"Mbak, biar saya aja yang petikin, ya. Kasian Mbak Angginya kalau harus manjat. Mana ini udah malem banget lho, kalau jatuh gimana?"
Gue langsung mengangguk setuju sambil mengacungkan kedua jempolku, mendengar ucapan Pak Sopyan.
Tapi, dengan menyebalkan Vinzi malah menjawab, "Nggak papa, Pak, kalau jatuh juga paling ke bawah."
Apa?! Kok kurang ajar ya, ini Kakak ipar gue. Berasa pengen banget gue tarik rambutnya, atau gue botakin deh sekalian. Kalau jatuh, ya, iya lah ke bawah, masa iya jatuh ke atas. Itu mah, namanya bukan jatuh, tapi terbang.
Ekspresi Pak Sopyan hanya meringis salah tingkah. Sedangkan gue sudah cukup muak. Pengen balik.
"Ayo, Gi, manjat. Ambilin sebiji aja, nggak usah banyak-banyak," bujuk Vinzi dengan ekspresi memelasnya.
"Lo nggak lagi bercanda kan ini, Zi?"
Gue masih memandang Vinzi tak percaya.
"Ponakan lo yang pengen, Gi."
"Lo kalau mau ngerjain gue, nggak gini-gini banget lah, Zi," kata gue memelas.
Di luar dugaan, Vinzi tiba-tiba menangis. "Ya udah, kalau emang nggak mau. Nggak usah! Aku manjat sendiri."
"Jangan dong, Mbak. Mbaknya kan lagi hamil, masa mau manjat. Biar saya petikin, ya, Mbak," bujuk Pak Sopyan.
Yang langsung ditolak Vinzi dengan tegas. Alhasil, gue hanya bisa mendesah pasrah dan mengalah.
"Ya udah, oke. Gue manjat," kata gue pada akhirnya. Membuat Vinzi langsung berubah girang. Persis seperti anak kecil yang akan dibelikan mainan oleh Ibunya.
"Yang bener, Gi?" tanya Vinzi antusias.
"Iya, bener."
Sial. Seperti gue salah. Harusnya enggak gue iya in tadi.
Akhirnya, dengan modal nekat, gue memanjat pohon mangga milik Pak Sopyan yang ada di samping rumah beliau. Gue agak takut sebenarnya, cuma gue abaikan rasa takut gue sejenak dan terus memanjat, sampai akhirnya gue sampai di atas.
"Ini gue mesti metik yang gimana?"
"Yang gimana aja, yang paling deket lo juga nggak papa. Itu juga nggak papa," kata Vinzi sambil menunjuk buah mangga yang berada dekat dengan jangkauan gue.
Gue mengangguk, lalu memetik buah itu. Setelah dapat, langsung gue jatuhkan.
"Udah, ini aja cukup. Turun! Kita pulang," kata Vinzi setelah memengut buah mangganya.
"Kalau Mbak Anggi juga mau, boleh petik lagi, Mbak," seru Pak Sopyan.
Gue menggeleng. "Iya, Pak, makasih," balas gue agak berteriak.
"Gi, buruan turun!" seru Vinzi menyuruh gue untuk segera turun.
Namun gue hanya menggaruk-garuk kepala gue bingung. Ini bagaimana caranya gue turun?
"Gue nggak berani turun, Zi, gimana ini gue turunnya. Gue takut."
"Loncat!"
"Gila aja lo, tinggi ini. Nanti kalau gue kenapa-kenapa, lo mau tanggung jawab?" balas gue kesal.
"Lebay lo! Paling kalau lo jatuh, cuma kesleo atau yang paling parah retak tulang lo, nggak bakal bikin lo patah tulang."
*****, kesleo sama retak tulang juga sakit loh. Kok gue dibilang lebay?
"Aduh, gimana, Mbak, saya nggak ada tangga. Tangga saya rusak."
Gue makin menggaruk-garuk kepala gue bingung. Masa iya, gue mau loncat? Nanti kalau gue kenapa-kenapa gimana?
"Turun pelan-pelan, Mbak!" seru Pak Sopyan memberi intruksi.
"Saya takut, Pak, nggak berani. Kayaknya tinggi banget lho," balas gue takut-takut.
"Enggak, Mbak, nggak tinggi kok. Turunnya jangan sambil lihat bawah."
"Kalau nggak sambil liat bawah, nanti saya jatuh dong, Pak?"
"Ya, jangan sampai jatuh, Mbak," balas Pak Sopyan.
"Gi, ayo buruan, turun! Gue udah nggak sabar ini makan mangganya. Tinggal turun aja, apa susahnya sih," decak Vinzi, menggerutu kesal.
Ingin sekali rasanya, gue kembali memetik buah mangga dan melemparkan mangga itu hingga mengenai wajah atau kepalanya. Nyebelin banget sih, ini bumil. Heran gue.
__ADS_1
"Anggi!"
"Iya, iya, bawel amat deh, lo," balas gue sambil berdecak kesal.
Akhirnya, dengan asal-asalan, gue mencoba untuk turun. Ia, benar-benar mengasal sekali saat gue mencoba untuk turun, karena gue tidak berani melirik ke bawah.
"Hati-hati, Mbak!"
"Diusahakan, Pak!"
Namun, emang sepertinya gue yang sedang apes. Saat gue rasa jarak tanah sudah berada dekat dalam jangkauan gue, gue memutuskan untuk loncat, lalu tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu.
Krek!
Mampus, bunyi apaan tuh?
"Mbak Anggi tidak papa?" tanya Pak Sopyan khawatir, lalu membantu gue berdiri.
Gue mengangguk. "Kayaknya, enggak, Pak." Gue kemudian langsung berdiri dan merasakan ngilu yang amat sangat. "Aduh, Pak, kaki saya kok sakit," rintih gue sambil menahan ngilu.
Pak Sopyan meringis. "Kayaknya Mbak Anggi salah mendarat, kakinya keceklek jadinya. Bisa jalan, Mbak?"
Meski rasa ngilu yang gue rasakan cukup serius, gue mencoba untuk tetap mengangguk.
"Enggak papa, kayaknya masih bisa jalan meski ngilu."
"Lo sih, Gi, kenapa tadi tiba-tiba loncat? Mana posisi loncat lo begitu lagi," gerutu Vinzi sambil merangkulkan lengan gue di pundaknya.
"Gue pikir udah deket tadi. Terus tiba-tiba keinget suara lo nyuruh gue loncat."
Vinzi mendengkus saat melirikku. Lalu menoleh ke arah Pak Sopyan. "Makasih sebelumnya, Pak, udah diizinkan metik mangganya. Maaf merepotkan dan bikin gaduh malem-malem, kita langsung pamit, ya, Pak."
"Enggak papa, Mbak, iya, sama-sama. Ini yakin nggak perlu saya antar, ya, meski jarak rumah deket, tapi kasian kaki Mbak Angginya."
Vinzi melirik gue. "Gimana, lo masih kuat jalan enggak?"
Sambil menahan ngilu, gue mengangguk. "Masih lah, deket ini."
"Enggak usah, Pak, terima kasih untuk tawarannya."
"Ya udah, Mbak, hati-hati!"
"Iya, Pak, makasih. Assalamualaikum!"
"Wa'allaikumussalam."
######
"Bentar, lo duduk sebentar di sini. Gue bangunin Bang Riki dulu," ujar Vinzi setelah membantu gue duduk di sofa.
Gue mengangguk pasrah. Karena merasakan ngilu yang gue rasa makin enggak karuan ini. Saking enggak karuannya, gue rasanya seperti mau menangis. Lalu tak lama setelahnya, Bang Riki dan Vinzi turun. Vinzi langsung berbelok ke dapur, sedang Bang Riki duduk di samping gue dengan ekspresi mengantuknya.
"Ini mau ngapain sih, kok gue dibangunin malem-malem begini?" tanya Bang Riki sambil garuk-garuk lehernya. Kedua matanya menyipit, masih enggan terbuka.
"Nih, liat kelakuan istri lo!" gue berdecak sebal sambil menunjuk kaki gue yang mulai membengkak.
Bang Riki melotot spontan. "Itu kenapa bisa kayak gitu?"
"Jatuh."
"Jatuh dari mana?"
"Pohon."
"Sarap lo! Ngapain tengah malem begini naik ke pohon, mau ngegantiin Mbak Kunti jaga malam?"
Gue mendengkus sebal. Nasib kaki gue udah begini, dan gue malah dikatain sarap? Emang perlu dijedotin ke tembok gue rasa, itu kepala.
"Bini lo ngidam, Sompret! Lo yang enak, gue yang dapet apesnya."
"Ngidam? Ngidam apa? Kok gue nggak dibangunin?"
"Mangga di rumahnya Pak Sopyan."
"Lah, emang Pak Sopyan punya mangga."
Gue mengangguk, sambil menunjuk mangga di atas meja.
"Terus lo manjat gitu?"
"Lha iya, bini lo nyuruh begitu. Gue kan sebagai hamba Allah yang lemah iman hanya bisa pasrah."
"Ya ampun, Wat, harusnya lo bangunin gue dong. Sok-sokan sih lo."
"Mau gue juga gitu, tapi bini lo nggak ngebolehin. Katanya kasian, nggak tega. Apa lah, emang sengaja mau ngerjain gue itu bini lo."
Di luar dugaan, Bang Riki tiba-tiba terkekeh. "Ya, kalau niatnya mau ngerjain lo. Gue nggak masalah sih."
"Bangke!" umpat gue kesal, lalu melemparkan bantal sofa ke arah Bang Riki.
Bang Riki hanya terbahak, sebagai respon.
Tak lama setelahnya, Vinzi keluar dari dapur sambil membawa Handuk kecil dan juga es batu.
"Dikompres pake es batu dulu, ya, Gi." Vinzi kemudian menyerahkan handuk kecil dan juga es batu ke Bang Riki. "Kamu yang ngompres, Bang."
"Kok aku?" protes Bang Riki tidak terima.
"Lha emang siapa? Aro gitu? Kan Aro lagi nggak di Jakarta, Bang. Lagian, Anggi jatuh gegara anak kamu."
"Kan yang ngidam kamu, kenapa nyalahin anak kita?"
"Aku ngidam gegara anak kamu. Udah, buruan kamu kompres dulu, kasian itu si Anggi udah kayak mau nangis. Aku mau makan mangganya dulu."
__ADS_1
"Lah?"
Tbc,