Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Spesial Part : Pov Aro


__ADS_3

######


Aku terkejut sekali saat menemukan Anggita sedang menangis tertunduk di kursi depan ruangan Ayah. Jantungku mendadak berdegup kencang saat ini juga, dengan langkah tergesa-gesa, aku langsung menghampiri Anggita. Aku langsung meletakkan kantung kresek belanjaanku di bawah dan merengkuh tubuh Anggita.


"Hei, kenapa nangis di sini?"


"Ayah," isak Anggita menangis di pelukanku.


Ayah? Ayah kenapa? Jantungku semakin berdegup kencang. Prasangka buruk kembali hadir di otakku, cepat-cepat aku langsung beristigfar demi menghilangkan prasangka burukku.


"Ayah kenapa? Cerita sama aku!"


"Ayah ngomong aneh, Ar, aku nggak suka."


Aku bisa akhirnya menghela napas lega. Setidaknya yang terjadi bukan prasangka burukku. Mungkin Anggita sedang sensitif saja, jadi bersikap berlebihan. Aku tidak bisa menyalahkannya, namanya hormon kehamilan kan.


"Ya udah dong, masa gitu aja nangis. Mau keluar?" tawarku sambil merenggangkan pelukan kami. Aku lalu mengelap kedua pipinya yang basah, "aku beliin es krim deh. Mau?" bujukku kemudian.


Bukannya terhibur apa lagi terbujuk, Anggita malah memasang wajah merengutnya. "Emangnya aku anak kecil, ngambek dikit dibujuk pake es krim langsung nurut."


"Ya, kali aja namanya juga orang usaha. Nggak mempan, ya?"


Anggita menggeleng. "Mau dua tapi, ya," ucapnya tiba-tiba. Tak lupa dengan puppy eyes yang dibuat-buat.


Aku tertawa lalu mengangguk. "Ya udah, masuk dulu yuk. Kamu perlu cuci muka nih kayaknya, masa mau keluar matanya sembab begini," bujukku sambil menyingkirkan anak rambut Anggita yang sedikit menutupi wajahnya.


"Enggak mau," tolak Anggita mentah-mentah.


Aku menghela napas pendek lalu membawa kantung kresek belanjaanku masuk ke dalam. Kondisi sensitif Anggita begini susah dibujuk, jadi aku tidak akan memaksanya.


"Assalamualikum," sapaku saat masuk ke dalam ruangan Ayah.


"Wa'allaikumussalam. Anggi-nya ke mana, Ar? Nggak ada di luar?"


"Ada, Bu, di luar. Agak jelek sih moodnya, makanya ngambekan."


"Itu kamu beli apa to? Kok banyak begitu?"


"Cemilan. Bingung mau beliin Anggi apa, ya udah Aro beli semua, biar nanti Anggi-nya tinggal milih."


Mendengar jawabanku, Ayah langsung tertawa. Ibu sendiri pun ikut tersenyum.


"Bu, kayaknya menantu-mu terlalu royal sama anakmu," komentar Ayah bercanda.


Aku mengusap tengkuk karena merasa malu.


"Terus ini pada mau ke mana? Pulang?" tanya Ibu.


Aku menggeleng. "Mau keluar sebentar, cari angin biar nggak sumpek, Bu."


"Ajak pulang sekalian saja. Mungkin dia itu mulai capek makanya uring-uringan," saran Ayah.


Aku menggeleng tidak setuju. Menurutku itu bukan ide yang bagus, kecuali kalau aku ingin membuat mood Anggita semakin memburuk.


"Enggak, Yah, nanti malah tambah ngambek. Repot."


"Ya, udah terserah kamu saja gimana baiknya. Emang itu anak kalau bukan maunya sendiri susah diatur," ungkap Ayah.


Aku diam-diam mengangguk setuju. Meski kadang-kadang masih bisa kuatur, tetap saja sering kali Anggita susah diatur. Dan itu cukup melelahkan.


"Ya, anak Ayah to," sahut Ibu.


"Loh, loh, yang bawa ke mana-mana selama sembilan bulan sama ngeden siapa? Ayah? Ibu sendiri to? Gimana to?"


"Ya, sudah Aro pamit nyusul Anggi dulu, Yah, Bu. Takut keburu ngambek."


"Iya, hati-hati."


######


"Lama banget sih?" sambut Anggita begitu aku keluar dari ruang inap Ayah.


Aku tersenyum lalu merangkul pundaknya, lalu mendaratkan kecupan ringan pada pelipis Anggita.


"Kenapa? Udah kangen?"


"Saya rasa anda terlalu percaya diri Tuan Muda," ledek Anggita, "anak kamu sudah pengen es krim, tapi Papa-nya kelamaan. Nanti keburu ngambek siapa yang tanggung jawab?"


"Jadi beli es krimnya?" tanyaku memastikan.


Dengan wajah semangatnya, Anggita mengangguk yakin. "Jadi dong, kamu jangan coba-coba php-in aku, ya."


Aku mengangguk patuh lalu mengajaknya segera berangkat untuk membeli es krim permintaannya.


"Eh, kamu sadar nggak setelah pulang ke Solo kamu jadi agak sensitif. Sensian, ngambekan," celetukku tiba-tiba.


"Terus kenapa? Kamu keberatan?"


"Ya, enggak. Cuma heran aja, di Bandung kemarin enggak kan? Termasuknya stabil, aku jadi kangen manjanya kamu. Tapi pas balik agak manja, sensi begini kok rasanya agak-agak gimana gitu."


Anggita tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan melotot ke arahku. Rangkulan tanganku kini ikut terlepas karena Anggita yang tiba-tiba menjaga jarak.

__ADS_1


"Maksudnya agak-agak gimana itu apa?"


Aku meringis. Sepertinya aku tidak boleh main-main dengannya untuk sementara waktu, karena mood Anggita sepertinya benar-benar sedang tidak bagus.


"Enggak gimana-gimana. Yuk, langsung beli es krimnya, nanti boleh ambil tiga deh," bujukku mengalihkan pembicaraan. Dengan cepat aku langsung meraih pundaknya kembali lalu kami melanjutkan langkah kaki kami.


Anggita akhirnya benar-benar membeli tiga es krim, satu jenis cup, satu jenis stik, dan satu jenis cone. Aku berdecak samar dan geleng-geleng kepala melihat kelakuannya kali ini.


"Abis semua itu?" tanyaku memastikan, kalau-kalau dia tidak abis aku siap menampungnya, setidaknya sebelum es krimnya cair.


Dengan wajah penuh keyakinan, Anggita mengangguk. Tangannya sibuk menyendok es krim dengan lahap, aku bahkan sampai harus meneguk air liurku. Astaga, kenapa ekspresinya terkesan sedikit berlebihan?


"Kamu mau?" tawar Anggita sambil menyendok es krimnya.


Tanpa keraguan, aku mengangguk. Dan dengan wajah mengesalkannya Anggita malah menyuruhku membeli sendiri. Aku menggeleng, tidak setuju dengan idenya. Masalahnya nanti kalau Anggita tidak benar-benar bisa menghabiskan, kalau aku ikut membeli sendiri.


"Yang ini mau enggak?" tawar Anggita sekali lagi. Kali ini ia sedang membuka es krim berbentuk cone-nya.


Aku menggeleng sambil memainkan ponselku. "Nggak mau, pasti nanti kamu suruh beli sendiri."


Anggita tertawa sambil menjilat es kirm cone-nya. "Enggak kok, yang ini beneran. Kan yang tadi kecil masa tega mau kamu minta." Ia kemudian menyodorkan es krim ke arah mulutku, "enak?" tanyanya menarik es krimnya lagi, lalu kembali menjilatinya sendiri.


"Lumayan. Seenggaknya nggak kecampur lipstik kamu," candaku.


Aku kemudian meraih botol air mineral dinginku, membuka tutup botolnya dan meneguknya. Untuk menghilangkan rasa manis coklat yang tersisa.


"Yang stik buat kamu aja kalau kamu mau," tawar Anggita sambil terus menjilati es krimnya penuh nikmat.


"Kamu udah nggak mau?"


"Kalau kamu mau," ulang Anggita penuh penekanan.


"Jadi kamu masih mau?"


Anggita mengangguk. "Tapi kalau kamu mau buat kamu aja."


Aku menggeleng. "Enggak usah, buat kamu aja semua."


"Yakin? Kamu kayak pengen gitu? Ya udah kamu beli sendiri aja, aku tungguin."


Aku kembali menggeleng lalu menyuruhnya segera menghabiskan es krim miliknya. Anggita mengangguk setuju lalu mulai menghabiskan es krim miliknya, bahkan es krim stiknya kini sudah ikut abis.


"Alhamdulillah, kenyang."


Anggita menyandarkan punggungnya sambil mengelus perutnya yang kini mulai terlihat sedikit membuncit.


"Mau nambah?" tawarku kemudian.


Aku melotot terkejut. "Masih kurang?" tanyaku tak percaya.


Anggita tertawa lalu menggeleng. "Bercanda. Udah kenyang, nggak baik juga makan es krim banyak-banyak. Nanti kamu ngomel-ngomel. Yuk, balik ke kamar Ayah. Aku kayaknya mulai ngantuk deh."


Anggita langsung berdiri sambil mengulurkan tangannya. Aku langsung meraih dan menggenggam telapak tangannya setelah membuang bungkus es krim Anggita ke tong sampah. Baru setelah itu kami kembali ke kamar inap Ayah.


####


Setelah sampai di kamar inap Ayah, Anggita langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Ia hanya menyapa Ayah dan Ibu bahkan kerabat yang tidak begitu kuingat, seadanya. Aku meminta maaf karena sikapnya dan untungnya dimaklumi. Tak lama setelahnya Anggita benar-benar langsung terlelap.


"Abis dari mana kalian, kok sampai begitu?" tanya Ayah, kedua bola matanya memperhatikan putrinya yang sedang terlelap nyenyak dari jauh.


Aku meringis. "Nggak dari mana-mana kok, Yah, cuma dari indomaret depan. Beli es krim."


Kali ini Ibu tertawa. "Abis berapa dia?"


Aku menerjap bingung. "Hah? Maksudnya gimana, Bu?"


"Tadi dia makan berapa es krim?"


"Tiga."


Ibu mendesis samar. "Pantesan." Ibu terkikik geli lalu berujar, "mirip Ibu waktu hamil Anggi juga begitu."


"Kan, kan, anak ibu banget kalau sudah begini. Masa nggak mau ngakuin," sahut Ayah cepat-cepat.


Aku tertawa melihat keduanya.


"Loh, Anggi sudah isi to?" tanya Bu Oki, salah satu kerabat jauh Ibu.


Aku tersenyum lalu mengangguki. "Alhamdulillah sudah, Bu."


"Sudah berapa bulan? Kok belum kelihatan?"


"Bentar lagi masuk empat bulanan ya, Ar?" Ibu bertanya padaku, aku kemudian menjawabnya dengan anggukan kepala, "jadi di empat bulani di sini?"


Aku baru hendak membuka suara, tapi Ayah tiba-tiba menyahut, "Ya, ndak to, Bu, Masa mau ngadain empat bulanan di sini. Ndak boleh to, bisa dimarahi petugas to."


Ibu berdecak kesal. "Maksud Ibu itu di sini itu, ya di Solo. Di rumah kita, bukan di Jakarta rumah Mama-nya."


"Lha Ibu ngomong ndak jelas. Kalau kata anak muda jaman sekarang apa itu abigu?"


"Ambigu, Yah," kataku mengoreksi ucapan Ayah.

__ADS_1


Ayah mangguk-mangguk. "Nah, ya itu maksud Ayah. Abigu."


"Anbigu, Yah," koreksi Ibu ikut-ikutan, padahal Ibu juga salah.


Aku tertawa melihat kedua mertuaku. "Ambigu, Yah, Bu," koreksiku kemudian.


"Susah banget," komentar Ibu yang langsung diangguki Ayah dengan setuju.


Bu Oki ikut tersenyum lalu tak lama setelahnya beliau berpamitan. Aku bertugas mengantar beliau sampai masuk lift, setelah mengantar Bu Oki aku masuk kembali ke ruang inap Ayah. Aku menghampiri Anggita dan membenarkan posisi tidurnya lalu menyelimuti tubuh Anggita. Tapi bukannya merasa nyaman dengan selimut yang kuberikan, Anggita malah bergerak gelisah sampai menjatuhkan selimutnya.


"Gerah mungkin, Ar."


Aku mengangguk, sependapat dengan Ibu. Sepertinya demikian, aku kemudian berinisiatif untuk mengipasi Anggita. Ia terlihat menikmati kipasanku, membuatku tersenyum puas.


"Digedein aja AC-nya, Ar," saran Ayah.


Aku menggeleng dan terus mengipasi Anggita. "Enggak papa, Yah, dari pada nganggur."


"Tidur saja, Ar, kalau gitu."


Kali ini Ibu yang menyarankan. Aku mengangguk, namun tidak benar-benar mengiyakan saran Ibu.


"Menantumu terlalu bucin ya, Bu. Tapi Ayah seneng liatnya, bikin tenang. Kalau-kalau nanti Ayah pergi duluan, Ayah nggak perlu khawatir karena putri kesayangan Ayah sudah dijagain orang yang bisa kita percaya," ucap Ayah tiba-tiba.


Jujur, mendengar Ayah bicara begitu. Ada perasaan takut yang terselip di hatiku. Bukan apa-apa, sejak Riki menghubungiku malam itu perasaanku sebenarnya sedikit kacau, apa lagi ditambah Ayah yang bicara begitu. Apakah ini yang dimaksud dengan omongan Ayah yang aneh oleh Anggita?


"Memang Ayah mau ke mana to? Ayah mau ninggalin Ibu sendirian begitu?"


"Ibu kan sekarang sudah punya dua anak, dua menantu, dan bentar lagi dua cucu. Masih kurang?"


"Maksud Ayah apa sih?"


Kali ini Ibu benar-benar terlihat kesal dan tidak bisa mengontrol emosinya. Siapa pun yang mendengar apa yang diucapkan Ayah barusan, pasti jadi berpikir yang tidak-tidak. Terlebih lagi kondisi Ayah yang menurutku kurang baik. Awalnya Ayah memang cuma kesleo, tapi sekarang? Entahlah, aku bahkan tidak yakin kalau dari awal pun beliau hanya mengeluh sakit itu.


"Kita kan sebagai manusia cuma bisa berencana, Bu. Takdir maut semua itu urusan Gusti Allah, meski masih rahasia, alangkah baiknya kita mempersiapkan diri terlebih dulu. Iya, to, Ar?"


Aku gelagapan. Bingung harus merespon kalimat Ayah. Sebenarnya memang benar, tapi tetap saja masa iya mau ku iyakan? Kasian Ibu dong. Ibu bisa semakin sedih.


"Lah, malah diam saja."


"Ayah memang sudah niat ninggalin Ibu? Ayah ndak sayang sama Ibu, sama anak, menantu, dan cucu-mu?"


"Kalau Ayah ndak sayang, mana mungkin masukin nama kalian ke daftar penerima warisan."


"Ayah!" jerit Ibu terlihat benar-benar marah.


Beliau tidak bisa menahan tangisnya kali ini. Bahkan Anggita sampai terbangun mendengar jeritan Ibu.


"Hah?" tanya Anggita kebingungan, "ada apa?"


"Enggak papa, tidur lagi, gih!" ujarku agar Anggita kembali berbaring.


Namun bukannya menurut, Anggita malah berdiri dan menghampiri Ayah lalu memeluk beliau.


"Ini kenapa lagi yang satu?" tanya Ayah kebingungan.


Anggita mengurai pelukannya, wajahnya pun terlihat kebingungan. Ia menggaruk-garuk rambutnya dan kembali ke sofa. Kali ini ia tidak berbaring, hanya duduk bersandar namun dengan kedua mata terpejam. Aku kemudian duduk di sisi kirinya lalu meraih kepala Anggita agar bersandar padaku.


"Capek? Mau tidur di rumah saja? Pulang sekarang?"


"Nanti kalau Bang Riki sudah nyampe aku mau pulang."


Aku mengangguk paham lalu menyuruh Anggita kembali tidur. Tak lama setelahnya Anggita kembali terlelap. Sepertinya memang benar-benar kelelahan Anggita.


"Ajak pulang saja nanti, Ar, dari pada begitu. Nanti malah kenapa-kenapa kan kalian juga yang repot."


Aku mengangguk setuju dengan saran Ayah kali ini. Anggita memang hari ini terlihat cukup kelelahan. Meski nanti menolak, aku akan mencoba membujuknya. Ayah benar, nanti kalau terjadi apa-apa sama dia atau bayi kami, siapa yang repot? Kami juga kan. Jadi, sebagai suami yang baik seenggaknya aku harus menentukan apa yang baik buat istriku atau tidak. Meski harus berdebat dahulu.


Tok Tok Tok


"Permisi, wali Pak Rahmat bisa ke ruangan dokter Beni, ya. Hasil pemeriksaan sudah keluar, nanti langsung dijelasin dokter Beni perihal kondisi Bapak."


Aku melongok ke arah pintu, lalu masuk lah seorang perawat sedikit bertubuh gampal namun memiliki kulit putih.


"Sekarang, Sus?"


"Iya, sekarang. Sudah ditungguin soalnya."


Aku mengangguk lalu mencoba merebahkan tubuh Anggita pada sofa dengan hati-hati.


"Bentar ya, Sus, saya panggil Ibu saya."


"Oh, iya, Mas, saya tunggu di depan."


Tbc,


Alhamdulillah, hari ini bisa double-up seneng banget rasanya. Doain besok gk males up atau tubuh saya gk nackal-nackal lagi minta diboboin terus🤣🤣🤣🤣🤪


Ya udah, cukup sekian basa-basi, cuap-cuap unfaedahnya. Semoga bisa bertemu kembali. See you next part😍🥰😘🤩❤️


oh ya, jan protes sama pov-nya yang berubah-ubah ya. bukan karena gk konsisten, cuma emng hrusnya kmrn tuh pov-nya diselang-seling. makanya Aro lumayan ambil adil deh jadinya di bagian pov. hehe, maaf ya🤭

__ADS_1


__ADS_2