
####
Pagi ini gue dan Aro akan berangkat ke Jakarta, gue sudah siap dengan dress di bawah lututku yang bermotif garis-garis. Aro sendiri masih berada di kamar yang entah masih melakukan apa saat ini. Pemandangan baru, ya, biasanya Aro yang nungguin gue beres dandan, eh, sekarang gue yang nungguin dia dan--eh, tunggu! Masa iya Aro dandan segala, kayak mau ketemu siapa aja.
Karena penasaran dengan apa yang sedang Aro lakukan, gue memutuskan untuk mengeceknya langsung ke dalam.
"Masih lam--" secara spontan gue langsung menutup hidung dan mulut gue, "bau apaan ini, Ar?" tanya gue panik.
Pasalnya, saat penciuman gue menangkap aroma ini. Perut gue mendadak bergejolak kacau dan menuntut ingin dikeluarkan.
Aro mendekat ke arahku dan itu membuat perut gue semakin bergejolak hebat. Dengan gerakan spontan, gue dorong tubuhnya agak menjauh.
"Kamu pakai apa sih?" seru gue lalu berlari ke kamar mandi.
"Bau apa sih? Aku wangi lho," protes Aro tak terima, ia hendak ikut masuk ke dalam kamar mandi namun gue larang.
"Menjauh, Ar!" teriak gue.
Hoek Hoek Hoek
Samar-samar gue melihat Aro mencium kemejanya. "Wangi lho. Aku pake parfum baru, dapet hadiah dari temen aku yang kerja di California. Ini parfum mahal lho, yang."
Gue tidak peduli dan berusaha mengeluarkan sesuatu yang bergejolak dari dalam perutku. Yang tak lama setelahnya berhasil gue keluarkan. Astaga, sarapan gue harus keluar semua cuma gara-gara nyium parfum.
Gue menyandarkan tubuh pada dinding tembok sambil mengatur napasku yang sedikit ngos-ngosan.
"Ganti, Ar, aku nggak tahan sama baunya. Nggak cuma bikin mual tapi sampai bikin aku muntah ini lho. Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu harus buang parfum itu. Aku tunggu di luar."
Gue kemudian keluar kamar mandi dengan langkah sompoyongan. Gue langsung melototinya sambil menutup hidung, saat Aro hendak membantu gue keluar dari kamar.
"Ganti!" gertakku kesal.
Ia hanya mengangguk pasrah sambil menggaruk kepalanya bingung.
Begitu sampai di ruang tengah, gue langsung merebahkan tubuh di sofa, masa bodoh dengan dress atau tatanan rambut gue yang rusak. Gue butuh istirahat.
Tak lama setelahnya Aro keluar, pakaiannya kini sudah berganti. Tapi gue masih sedikit merasakan aroma parfum yang tadi.
Secara reflek, gue menutup hidung kembali. Belum selesai gue membuka suara untuk menyuruhnya mandi, Aro menyahut lebih dahulu.
"Kenapa lagi?" tanya Aro.
Gue menjepit hidung. "Mandi sekalian, Ar. Aku masih bisa nyium baunya sekarang."
"Hah? Mandi? Aku baru mandi lho, Anggita. Kamu jangan bercanda, ya?"
"Siapa yang bercanda, kamu nggak liat aku sekarang lemes begini?"
Aro menghela napas putus asa. "Mau aku ambilin air minum atau bikinin teh?" tawarnya kemudian.
Gue menggeleng cepat, masih dengan tangan yang menjepit hidung.
Aro menghela napas pasrah, lalu berjalan gontai masuk kembali ke kamar. "Astaga, Nak, kenapa begini banget kamu ngerjain Papa kamu."
Gue melepas jepitan pada hidungku lalu berteriak, "Maafin kita, sayang!"
Duh, nggak tega juga sebenernya gue. Tapi gimana dong, anak kami benar-benar enggan mencium bau parfum baru Aro.
Gue bernapas lega begitu Aro keluar dari kamar. Kali ini seluruh pakaiannya benar-benar berganti, aroma parfumnya tadi kini benar-benar hilang dan berganti dengan aroma sabun wangi lemon.
Gue langsung merentangkan kedua tangan dan minta dipeluk. Aro mendengkus samar sebelum akhirnya berjalan ke arahku dan memeluk tubuh gue. Kecupan ringan mendarat pada pucuk rambutku.
"Berarti aku nggak perlu pakai parfum sekarang?"
"Kalau pake yang biasa boleh kok."
"Tapi yang biasa udah habis."
Gue ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Ya udah, nggak usah. Begini juga udah wangi kok."
"Jadi gimana? Ditunda pergi ke Jakartanya?"
"Jangan dong! Tunggu badanku biar nggak lemes dulu deh."
Aro mengangguk tak masalah, kedua tangannya masih setia memelukku. Lalu sebelah tangannya beralih meraba perutku.
"Sayang, jangan nakal nanti ya di rumah Pakde. Kalau mau nyusahin Pakde boleh kok tapi. Tapi jangan Mama sama Papa, ya," ujar Aro, seolah-olah sedang mengobrol dengan bayi kami.
Gue mengernyit bingung. Siapa Pakde yang dimaksud oleh Aro?
"Pakde siapa, Ar?"
__ADS_1
"Pakde Riki."
"Hah? Bang Riki? Jadi anak kita mau kamu ajarin manggil Bang Riki Pakde?" Gue tidak bisa untuk tidak menertawakan ide Aro barusan. Kok bisa-bisanya Aro kepikiran begitu.
"Kan kalian orang Semarang, jadi Riki dipanggil Pakde aja. Gimana menurut kamu?"
"Good idea."
Gue mengacungkan kedua jempol tanda menyetujuhi ide Aro barusan. Gue tiba-tiba membayangkan wajah kesal Bang Riki saat anak kami nanti manggil Bang Riki dengan sebutan Pakde. Ya, ampun itu pasti sesuatu banget. Seru. Ah, gue jadi nggak sabar.
"Yuk, berangkat sekarang aja," ajakku antusias.
Gue langsung melepas pelukan kami dan berdiri. Membuat Aro sedikit tersentak kaget.
"Udah nggak lemes?" tanya Aro sambil menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi dan kepala yang sedikit dimiringkan.
Gue mengangguk antusias. "Kan kamu yang nyetir, aku tinggal duduk manis aja."
Aro mengangguk lalu ikut berdiri. "Udah nggak mual lagi? Bawa plastik kan di atas kamu? Nanti takutnya tiba-tiba muntah, kan repot."
Gue mengacungkan kedua jempolku. "Aman. Selalu ada di dalam dashboard mobil kamu kok."
"Ya udah, langsung berangkat."
"Let's go!" seru gue heboh.
Aro hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
#########
Akhirnya kami sampai di rumah Bang Riki sekitar setengah dua siang. Kebetulan malam ini kami akan menginap di rumah Mama, jadi begitu sampai di Jakarta kami langsung ke rumah Bang Riki baru nanti sore atau abis maghrib, baru deh pulang ke rumah Mama. Abis itu senin balik ke Bandung. Gila, kalau dipikir-pikir setiap kami ke Jakarta kami selalu menginap di rumah Mama atau Bang Riki. Rumah kami sendiri bahkan jarang kami tempati.
"Ar, kamu nyadar nggak kalau kita jarang banget tidur di rumah kita sendiri?" tanyaku sambil melepas seatbelt.
Aro melakukan hal demikian sambil mengangguk. "Sadar kok, ya kali nggak sadar. Kalau nggak sadar, terus siapa yang nyupirin kamu bolak-balik ke Bandung-Jakarta dan sebaliknya."
Gue berdecak sambil turun dari mobil, sedang Aro hanya terkekeh.
"Tumben udah dateng jam segini? Nginep di rumah?" sambut Bang Riki sambil mengayunkan Baby El yang ada di gendongannya.
"Di rumah Mama," jawab gue cepat, "Baby El, ikut--"
Gue merengut lalu masuk ke dalam rumah. Menuju kamar mandi dan mencuci tangan.
"Helo, bumil, gimana sehat?" sapa Vinzi sambil menuruni anak tangga.
Gue yang tadinya hendak kembali keluar jadi urung dan memilih menunggu Vinzi terlebih dahulu.
"Sehat." Gue mengangguk sambil memamerkan senyum terbaik gue.
Vinzi langsung memeluk dan mengajak gue cipika-cipiki begitu sampai di bawah. "Udah nggak mual?"
Kali ini gue meringis. "Tadi malah sempet muntah, sarapan yang gue makan tadi balik semua."
"Eh, kok bisa? Kenapa?"
"Aro dapet parfum baru, terus dipakai. Gue nggak tahan sama baunya, mabok deh akhirnya."
"Ya ampun sampai segitunya? Terus kalau Aro baru pulang kerja atau keringetan gitu? Malah enggak papa?"
Gue berpikir sejenak. Mencoba mengingat-ingat apakah gue merasa terganggu atau tidak dengan keringat Aro.
"Aro jarang deket-deket gue sih kalau keringetan, ya kecuali pas adu keringat, ya. Itu lain ceritanya," gue menjeda kalimatku dan terkekeh, "sisanya mah dia selalu wangi kalau sama gue. Pulang kerja kan mandi dulu, begitu sampai di rumah mandi lagi. Gila, baru nyadar laki gue maniak begitu mandinya."
"Pantesan selalu wangi, ya."
Gue mengangguk setuju, membenarkan ucapan Vinzi. Lalu kami hendak keluar rumah, tapi tidak jadi karena Bang Riki yang tiba-tiba masuk sambil teriak-teriak.
"Mah, El pup!"
"Ya diganti dong, Pa. Masa gitu aja pake segala teriak-teriak," decak Vinzi sambil mengambil alih Baby El dari gendongan Bang Riki.
"Emang nggak pake pempers?"
"Pake kok. Emang dasar Abang lo yang suka lebay gitu, Gi. Gue tinggal dulu, ya, gantiin pempersnya. Lo kalau haus suruh buatin Bang Riki."
"Halah, kayak tamu dari kerajaan Dubai aja, haus minta dibuatin minum," decak Bang Riki sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana pendeknya, "kalau haus ambil di dapur sendiri. Dapur gue belum pindah, jadi masih sama kayak dulu," sambungnya kemudian.
Setelah mengatakan kalimatnya tersebuta, ia langsung bergegas menuju ruang tengah. Baik gue dan Aro kemudian mengekor di belakangnya.
"Tapi gue lagi hamil, Bang."
__ADS_1
"Terus?"
"Ya, perlakukan gue dengan spesial dikit dong," ujar gue lalu duduk di sofa panjang, tak lama setelahnya Aro menyusul dan duduk di sebelahku.
"Apa urusannya sama gue? Yang ngehamilin kan Aro bukan gue." Dengan wajah menyebalkannya, Bang Riki malah menjulurkan lidahnya.
Gue mengeram tertahan lalu melempar bantal sofa ke wajah Bang Riki. "Rese lo!" amuk gue kesal.
Gue langsung berdiri dan meninggalkan ruang tengah.
"Kehamilannya bikin dia sensian, Ar?"
Samar-samar gue mendengar Bang Riki bertanya. Hal ini membuat gue menghentikan langkah kaki gue untuk menaiki anak tangga.
"Biasanya sih enggak. Anggi termasuk yang stabil kok, belum naik turun banget lah," jawab Aro.
Gue tersenyum bangga lalu kembali melanjutkan langkah kaki gue menaiki anak tangga, menuju kamar Vinzi.
"Mau gendong dong," ucap gue pada Vinzi.
"Bentar dong, kan lagi minum, Gi."
"Jangan dibikin tidur, ya." Gue memanyunkan bibir gue cemas, biasanya Baby El atau bahkan bayi pada umumnya memang suka tidur setelah menyusu pada Ibu mereka.
Mendengar jawaban gue, sontak membuat Vinzi tertawa. "Ada-ada aja lo. Tolong ambilin tisu satu."
Gue menarik selembar tisu yang ada di meja lalu menyerahkannya pada Vinzi. Mengintip kalau-kalau Baby El beneran tidur. Memang belum tertidur sepenuhnya, tapi kedua matanya terlihat mengantuk. Karena tak ingin Baby El beneran tidur, gue memutuskan untuk mengganggunya. Gue toel-toel pipi temben Baby El, namun ia tidak terlalu terusik.
"Ikut Aunty, yuk, sayang. Jangan tidur dulu dong, masa disamperin Aunty-nya ditinggal tidur."
Saat Baby El sudah mulai benar-benar terganggu, Vinzi berdecak sambil menyingkirkan tangan gue.
"Jangan digituin nanti rewel, Gi. Jangan suka jahilin anak orang nanti anak kamu dijahilin balik ntar," geram Vinzi karena gue masih membandel dan terus-terusan mengganggu Baby El.
"Namanya anak kecil dijahilin atau ngejahilin itu wajar, Zi. Yang tua aja juga begitu apa lagi yang mud--Plak!"
Sebuah pukulan cukup keras yang menimbulkan sensasi sedikit nyut-nyutan, gue rasakan pada punggung tangan gue. Hal ini sukses membuat nyali gue menciut seketika. Gue kemudian duduk di sebelah Vinzi kembali tanpa mengganggu Baby El.
"Galak lo," cibir gue sambil cemberut.
"Emak-emak kodratnya emang galak."
Gue pura-pura tertawa. "Ha ha ha, siapa yang bilang begitu?"
"Gue barusan."
"Astaga! Beneran tidur lagi." Gue berdecak kesal saat melihat kedua mata Baby El benar-benar mulai terpejam.
"Emang nggak nginep di sini?" tanya Vinzi sambil mengelap keringat pada dahi Baby El.
Gue menggeleng sambil mengambil tisu yang baru dan menyerahkannya pada Vinzi untuk digunakan mengelap bibir Baby El yang terkena air susu. Biar tidak iritasi.
"Nginep di rumah Mama."
Vinzi tertawa. "Gue kirain mau nginep di rumah kalian. Kapan sih coba terakhir kalian nginep di sana? Ya ampun, sayang banget lho punya rumah bagus begitu tapi nggak ditempati. Dulu gimana sih diskusinya, kok jadi begini hasilnya. Rumah besar, bagus-bagus ditinggal dan malah nempati apartemen ukuran studio. Jujur, sampai sekarang gue nggak ngerti sih. Serius."
Gue tersenyum kecut, lalu membaringkan tubuhku di samping Baby El yang sudah dibaringkan.
"Jangan kan elo, gue aja nggak ngerti juga."
"Sempet miskomunikasi kali, makanya begini."
Gue memainkan hidung mancung Baby El. "Iya, kayaknya."
Vinzi memukul lengan gue pelan sambil mengancingkan kancing bajunya. "Jangan digangguin kenapa sih, Gi. Gue juga mau istrirahat elah," omelnya kesal.
Gue tersenyum. "Anak lo imut, Zi, hidungnya mancung. Gue gemes jadinya, pengen gue bawa pulang boleh nggak sih?"
"Ya, enggak kah," jawab Vinzi cepat lalu ikut berbaring di sisi Baby El yang masih kosong, "capek bawa ke mana-mana sembilan bulan, ngeluarinnya juga susah, main pengen lo bawa aja."
Gue tersenyum sambil memamerkan deretan gigi gue. "Hehe, susah ya?"
"Luar biasa."
Tbc,
Alhamdulillah mau double up, senengnya hatih ini😴🤭🤭🤭 bisa tidur nyenyak kayaknya. Atau youtubean sampai puas🤣🤣 haha, aku mau nntn weekly idol dulu😍😍🥰 see you next part
See you bubay🤪😘
Mohon pengertian utk typo bertebarannya, klo berkenan boleh diingetin kok🤭 hehe, daahhhhhhhh
__ADS_1