
#####
Randu baru saja menyelesaikan tidur siangnya, lalu tiba-tiba ia merasa lapar. Ia celingukan mencari keberadaan Hana, saat sedang lapar begini orang pertama yang Randu cari memang Hana, kecuali kalau ia sedang di rumahnya sendiri. Ia pasti akan mencari ponselnya. Meski berprofesi sebagai seorang dokter, Randu bukan tipekal seseorang yang rewel dan harus makan makanan sehat atau pun dimasak sendiri. Ia lebih suka hal yang praktis, sesuatu yang membuatnya kenyang dan rasanya enak saja itu sudah cukup baginya.
"Han, Mas laper," teriaknya lalu berjalan menuju dapur.
Di dapur minimalisnya, Hana tampak sibuk di depan kompor, entah apa yang sedang dilakukan adiknya itu, mungkin sedang memasak.
"Bikin apa? Woah, ayam teriyaki, pas nih." Randu sedikit melongok ke arah wajan sambil mengelus perutnya yang terasa lapar.
"Mas Randu makan telur balado dari Mbak Anggi aja," balas Hana tanpa menoleh ke arah Randu.
"Mas sanggup makan dua-duanya kok," ucap Randu. Ia segera masuk ke area dapur, mengambil piring dari rak dan langsung menghampiri magic com, "lagian kamu masak banyak gitu kalau nggak Mas bantuin makan, nanti mubazir."
"Ayamnya buat Mbak Anggi, buat balikin mangkuk tadi pagi."
Mendengar nama Anggita, senyum Randu langsung merekah. Sebuah ide tiba-tiba terlintas di otaknya, ini adalah waktu yang tepat untuknya melakukan aksi permodusan. Tanpa sadar ia kini terkikik geli, sampai tidak sadar kalau Hana kini tengah menatapnya tajam.
"Mas Randu ngapain senyum-senyum?" tanya Hana dengan kedua mata menyipit curiga.
Randu tidak menjawab, ia hanya memainkan kedua alisnya naik-turun sebagai respon. Hal ini jelas semakin membuat Hana curiga. Setelah selesai mengambil lauk dan menuang segelas air dingin ke dalam gelas, Randu melenggang keluar dapur menuju ruang tengah. Baginya akan terasa membosan kalau makan tanpa ditemani siaran televisi, maklum bujangan, ya begitu.
"Nanti ayam teriyaki-nya biar Mas aja yang ngaterin," ucap Randu sebelum benar-benar meninggalkan dapur.
Hana semakin curiga dibuatnya. Setelah mematikan kompor, ia kemudian menyusul Randu yang kini tengah duduk bersila di atas sofa sambil menopang piringnya.
"Kayaknya calon kakak ipar-mu pinter masak, Han, masakannya enak."
Persetan dengan sopan santun, Hana tidak peduli. Secara terang-terangan, ia memutar kedua bola matanya malas.
"Plis deh, Mas, jangan halu dulu bisa?"
Dengan mulut penuhnya, Randu menggeleng dramatis. "Enggak bisa, tuh," balasnya santai.
Hana mendengkus lalu duduk di sebelah Randu. Menurutnya, ekspektasi Kakaknya saat ini terlalu tinggi dan perlu dengan segera disadarkan agar tingkat kehaluannya tidak semakin jadi.
"Istigfar, Mas!"
"Astagfirullah al'adzim, cantiknya calon istriku."
Randu terbahak puas, karena berhasil mengerjai sang adik. Melihat wajah kesal milik Hana adalah sebuah kepuasan tersendiri bagi Randu. Momen seperti ini mungkin akan sangat jarang ia rasakan, karena keduanya akan mulai berjauhan.
"Mas Randu, iih. Dikasih tahu juga malah ngeledek. Awas aja nanti dapet karma baru tahu rasa," decak Hana lalu berdiri dan memutuskan kembali ke dapur, membereskan sisa memasaknya jauh lebih berfaedah dari pada mengobrol tidak jelas dengan sang kakak, yang hanya membuatnya kesal sendiri.
Randu hanya tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa sedikit kram, untung saja ia tidak sampai tersedak. Kalau seandainya iya, sudah jelas Hana akan menertawainya habis-habisan. Ia kemudian meraih gelas lalu meneguknya hingga setengah, begitu tawanya reda. Ia menggeleng tak habis pikir dengan adiknya, yang menurutnya, pikirannya terlalu jauh.
Setelahnya, ia lebih memilih untuk menghabiskan makanannya dan menonton acara telivisi. Begitu piringnya kosong, ia langsung mematikan tv dan berdiri, membawa piring dan gelas kotornya menuju dapur. Kalau di rumah mereka yang ada di Jakarta ia mungkin akan mencuci piringnya sendiri, namun berhubung ia sedang berada di apartemen Hana--yang sebenarnya ia juga yang menyewa--jadi ia lebih memilih meletakkan piring dan gelasnya begitu saja di tempat pencucian piring.
Saat Randu belum meninggalkan dapur, Hana tiba-tiba muncul dan berjalan menghampiri kulkas. "Jangan lupa dicuci dulu piringnya, Mas," ucapnya setelah kedua bola matanya menangkap piring dan juga gelas kotor yang masih tergeletak begitu saja di tempat pencucian piring.
"Mas tamu loh, Han, masa disuruh cuci piring sendiri?"
Hana mendengkus tidak percaya dengan ucapan Randu. Ia menutup pintu kulkas setelah mengeluarkan satu cup ice cream dari dalam.
"Bawa sendoknya dua, Mas mau," ucap Randu langsung mendahului Hana keluar dari dapur.
Hana berdecak gemas. Mengembalikan cup ice cream-nya ke dalam kulkas, lalu menggulung lengannya. Ia mendekat ke arah westafel lalu menyalakan kran dan mencuci piring dan juga gelas kotor Randu. Baru setelah selesai ia kembali mengeluarkan cup ice cream dari dalam kulkas dan menuju ruang tengah.
Hana sengaja mengambil posisi duduk agak berjauhan dari Randu, hal ini tentu saja membuat sang kakak berdecak kesal.
"Duduknya jauhan banget? Mas kan jadinya susah ambil ice cream-nya, Han," protes Randu kesal.
__ADS_1
"Mas mau?"
"Iya."
"Beli sendiri."
"Kurang asem. Nggak boleh durhaka sama Mas, Han, nanti kamu susah bayar uang kuliah," ancam Randu.
Berhubung Hana tipekal adik yang sadar diri, kalau hidupnya masih harus bergantung pada sang kakak, mau tidak mau ia akhirnya pindah posisi duduk tempat di sisi kanan Randu.
"Adik pinter," puji Randu sambil mengelus-elus kepala Hana yang terbungkus jilbab.
######
"Sekarang aja, ya Mas anterin. Dari pada nanti, keburu udah makan gimana?"
Hana sepertinya mulai muak dengan tingkah Randu. Sedari tadi, kakaknya iti terus membujuknya agar segera ia izinkan. Karena mulai bosan, akhirnya dengan terpaksa ia mengiyakannya begitu saja.
"Iya, terserah kamu aja lah, Mas," balas Hana lalu masuk ke dalam kamarnya.
Setelah mendapatkan izin, Randu langsung bersorak senang dan sedikit heboh, versi Hana. Sepertinya kakaknya itu benar-benar sedang dimabuk asmara. Ia tidak terlalu ingin ambil pusing, toh, kakaknya itu sudah terlalu tua untuk ia nasehati terus-terusan.
Dengan semangat 45, Randu langsung berlari menuju dapur. Siapa pun yang melihatnya pasti akan bilang kalau Randu terlalu norak untuk jatuh cinta seperti itu. Tapi Randu tidak peduli, selagi ia tidak merugikan orang lain, kenapa tidak?
Randu kemudian mengambil mangkuk milik Anggita dan mengisinya dengan ayam teriyaki yang Hana buat tadi. Begitu dirasa sudah cukup ia segera membawanya keluar apartemen untuk diberikan pada Anggita. Membayangkan akan bertemu sang pujaan hati, jantung Randu mulai terdengar berdetak sedikit norak. Hal ini tentu saja membuatnya merasa lucu.
"Astagfirullah, kok gue jadi alay gini sih," guman Randu sambil memegang dada kirinya. Ia bisa merasakan organ jantungnya seperti sedang berperang saking kerasnya.
Ia kemudian berdehem, merapikan rambutnya dan mulai memencet bell, tapi tidak ada respon. Ia menunggu sejenak sebelum akhirnya kembali memencet bell lagi. Sampai akhirnya Randu mendengar suara memanggilnya.
"Randu."
Randu langsung menoleh dan tersenyum. "Oh, baru pulang? Pantesan dari tadi aku pencet bell nggak ada yang nyautin."
"Iya, baru pulang. Itu kamu bawa apa?" tanya Anggita sedikit berbasa-basi. Mungkin juga terkejut karena ia merasa mengenal mangkuk yang dibawa Randu.
"Oh, ini tadi Hana aku suruh bikin ayam teriyaki, terus tiba-tiba keinget mangkuk kamu. Ya udah, buat isi balikinnya. Nggak tahu deh rasanya cocok di lidah kamu apa enggak."
Randu berbohong sedikit demi melancarkan aksi modusnya. Karena pada kenyataannya ayam teriyaki itu bukanlah idenya, melainkan ide Hana sendiri.
Raut wajah Anggita terlihat sedikit tidak enak. "Ya, ampun kok sampai repot-repot begini. Harusnya kalau mau balikin ya, tinggal balikin aja."
Masih dalam aksi modusnya, Randu kembali menebar senyumnya. Yang menurut beberapa rekan sejawatnya bilang kalau senyumnya manis.
"Kata almarhumah ibu saya kalau abis dikasih sesuatu sama tetangga, alangkah lebih baik jika dibalas, meski hanya seadanya," balas Randu.
Anggita mengangguk sambil menerima mangkuk yang Randu sodorkan. "Iya, deh. Makasih loh, sekali lagi. Kan jadi enak kalau begini. Tapi lain kali nggak--"
Ehem Ehem
Suara demenan seorang pria berhasil menghentikan obrolan mereka. Anggita kemudian menoleh ke arah belakang dan menghampiri pria itu.
"Astaga, lupa." Anggita menepuk jidatnya sendiri lalu memperkenalkan pria itu pada Randu. "Ran, kenalin ini Aro suami aku. Ar, kenalin ini namanya Randu, tetangga baru kita. Plastiknya ditaruh di bawah aja dulu."
Bagaikan disambar petir siang bolong. Randu shock bukan main. Apa tadi Anggita bilang? Suami? Jadi ia naksir perempuan beristri? Pria yang terlihat dingin namun ganteng ini adalah suaminya? Astaga, mau membandingkan saja dirinya merasa terlalu rendah diri saking gantengnya suami Anggita.
Pria yang Anggita akui sebagai suami itu kemudian meletakkan barang belanjaannya, sesuai sang istri. Baru setelahnya ia menyalami Randu.
Randu dapat merasakan dengan jelas ekspresi tidak suka suami Anggita terhadapnya. Mungkin karena mereka sama-sama pria jadi, suaminya itu sedikit banyak paham apa yang ia rasakan. Astaga, Randu benar-benar malu bukan main. Bagaimana bisa ia menyukai wanita beristri?
"Saya Aro, suami Anggita." Aro mengulurkan sebelah tangannya, mengajak Randu berjabat tangan.
__ADS_1
Randu langsung membalas jabatan tangan Aro. "Eh, iya, saya Randu. Adik dari tetangga baru kalian. Salam kenal," balasnya sedikit kikuk.
Kemudian Aro membalas seadanya dan bahkan hanya berupa deheman saja. Dan itu tentu saja membuat Randu semakin tidak enak dan juga bersalah terhadap suami Anggita.
"Hmm," balasnya terdengar tidak suka.
"Kalau gitu saya pamit dulu, ya, kayaknya Hana udah nyariin. Permisi."
Karena tidak ingin semakin lama berada di situasi akward ini, Randu memutuskan untuk segera pamit dengan alasan Hana yang mungkin saja mencarinya. Padahal ia yakin adiknya itu pasti sedang sibuk dengan laptop atau bukunya.
"Eh, iya, Ran, thanks buat ayamnya," balas Anggita, terlihat tidak enak karena sikap suaminya, yang menurutnya terlalu cuek terhadap Randu.
Randu tersenyum canggung sambil mengangguk. "Iya, sama-sama. Thanks juga buat telur baladonya tadi. Mari, Mas."
"Hmm," balas Aro sambil mengangguk enggan. Sedang Randu langsung terbirit-birit masuk ke dalam unit apartemen Hana.
"Astaga, bener-bener malu-maluin," guman Randu begitu selesai menutup pintu.
Hana yang kebetulan baru saja keluar kamar menatapnya keheranan. "Siapa yang malu-maluin?"
Randu menggeleng dan memasang wajah pura-pura santainya. Seolah kejadian tadi tidak pernah terjadi. Hana bisa mengolok-oloknya secara habis-habisan kalau tahu fakta barusan. Big no! Adiknya itu tidak perlu tahu, setidaknya sampai ia kembali ke Jakarta. Sehingga ia tidak perlu diledek Hana secara langsung. Itu terdengar jauh lebih baik.
"Mangkuknya udah Mas balikin?"
Randu hanya mengangguk sebagai tanda jawaban. Hal ini tentu saja menimbulkan kecurigaan yang mendalam pada diri Hana.
"Mas kenapa sih? Kok aneh?"
"Aneh gimana? Enggak, Mas biasa aja tuh. Udah, ah, Mas mau mandi terus berangkat ke Jakarta."
"Loh, katanya mau pulang besok aja? Kenapa mendadak buru-buru?"
"Halah, nggak usah kepo deh. Mending sana belajar yang bener!" Ia hendak melangkah pergi meninggalkan Hana, namun gadis itu tak membiarkan sang kakak pergi begitu saja.
"Tunggu! Tunggu! Mas Randu tadi barusan ketemu Mbak Anggi?" Ia merentangkan kedua tangannya, menghalangi Randu.
"Hmm," balas Randu seadanya.
Senyum penuh ejekan kini terpampang di wajah Hana. "Udah punya pacar, ya?" tebaknya dengan nada meledek.
Randu memutar kedua bola matanya kesal sambil berdecak. "Minggir, Han, Mas mau mandi!" balasnya mulai kesal.
Hana semakin tertawa. "Udah punya tunangan?" tebaknya lagi.
"Farhana!" seru Randu mulai kehabisan kesabaran.
Dengan wajah sok dramatisnya, Hana membungkam mulutnya sendiri sambil memasang wajah terkejut.
"Astagfirullah, udah punya suami?"
"Iya. Kamu puas?"
"Serius?" Kali ini ekspresi Hana terlihat serius sekaligus penasaran.
Dengan wajah malas, Randu mengangguk. "Hmm." Dan pada detik berikutnya baru lah Hana tertawa terbahak-bahak. Puas melihat wajah kesal sang kakak, sekaligus puas karena tebakannya kalau Anggita mungkin sudah punya suami benar.
Tbc,
See bubay to Mas Randu, kuy! Abis ini ketemu Mas Randu di lapak Mas Randu sendiri, ya. Ini kenalan dulu, kali aja nanti ada yang mau ngantri jadi calon kakak iparnya Hana. Hehe, jangan timvuk saya karena part ini khusus buat Mas Randu, ya. Insha Allah kalau gk males atau ketiduran nanti tengah malem deh buat Anggi-Aro momennya, ini diselingi Mas Randu dulu, ya. Oke?
Iya in aja, bahagiain orang bisa bikin kita dapet pahala loh. Jadi oke in aja ya. Iya. Ya udah cukup sekian basa-basi plus cuap-cuap unfaedahnya. Abis ini jangan lupa dibantu koreksi typo-nya. Oke?
__ADS_1
See you next part🥰😜😘😍
See you again to Mas Randu, aku mau ikutan ngantri jadi kakak ipar Hana dong🤭 haha🤣🤣 Authornya mulai ganjen. Mon maap, jangan timvuk saya!! Saatnya kaburrrrrrr