
####
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam," balas gue sambil menengok ke arah pintu, dan menemukan Aro sedang melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. Ia berjalan menghampiri gue, mencium kening gue sekilas lalu masuk ke dalam kamar kami. Sedangkan gue kembali melanjutkan acara menontonku.
Baiklah, mari gue ceritakan sedikit. Jadi, setelah resmi dipersunting Aro, gue langsung diboyong Aro ke Bandung--setelah pulang honeymoon tentu saja--. Kalau ditanya negara mana yang gue dan Aro kunjungi untuk honeymoon kami, jawabannya rahasia. Ada lah pokoknya, kalian tidak perlu tahu, nanti pengen lagi kalian, kayak Author kalian yang ngiri setengah hidup dengan pilihan negara yang kita kunjungi. Jadi, tidak perlu gue jelaskan, ya, kemana kita pergi honeymoon-nya, nggak usah lah, ya. Iya, udah, mari lupakan tentang rahasia dapur kami yang itu.
Setelah diboyong ke Bandung, status gue berubah menjadi istri pengangguran, yang kerjaannya cuma lontang-lantung tidak jelas. Iya, Aro melarang gue bekerja. Dia melarang bukan karena merasa tersentil ego-nya melihatku ikut bekerja, melainkan karena pekerjaan gue tidak sesuai passionku--menurutnya--. Jadi, ya, kegiatan gue cuma itu-itu aja, beberes, nyuci, setrika, masak ala kadarnya, nganter Aro kerja sampai depan pintu sambil dadah-dadah lalu menunggu kepulangannya. Terdengar membosankan, bukan? Memang, apa lagi tempat tinggal Aro bukan di kompleks perumahan, melainkan di apartemen ukuran studio. Ngeselin, ya, kita punya rumah tapi nggak kita tinggali? Ck, benar-benar menyebalkan.
"Yang, laper."
Gue menoleh. Aro sudah keluar dari kamar, penampilannya jauh lebih segar, aroma sabun mandinya langsung tercium di indera penciumanku. Gue menghela napas pendek, lalu memalingkan wajahku darinya.
"Ya, makan."
"Kamu mau makan apa?"
"Indomie ayam geprek," jawab gue asal, karena kebetulan barusan ada iklannya.
Aro terkekeh lalu berjalan menghampiriku dan mendudukkan pantatnya di sebelahku. "Ngidam?" godanya kemudian.
Gue diam, menatap lurus ke arah layar televisi.
"Aku masak kok hari ini, entah kamunya doyan apa enggak sih."
"Masak apa?"
"Sayur asem sama goreng ikan?"
"Bikin sambalnya enggak?"
Gue menggeleng sebagai tanda jawaban.
"Kenapa sih? Kok mukanya ditekuk gitu?"
Gue memilih tetap diam.
"Bosen, ya?" Aro sedikit memiringkan wajahnya, untuk menatap wajah gue.
"Banget," jawab gue singkat tanpa menoleh ke arahnya.
"Mau kuliah lagi?" tawar Aro tiba-tiba.
"Enggak," tolak gue mentah-mentah.
"Ikut kursus apa gitu? Mau?"
"Kursus apa?"
"Ya, apa gitu, yang kira-kira bakalan kamu sukain gitu."
"Nggak ada."
"Terus maunya apa, sayang?" tanya Aro gemas, sebelah kakinya ia silangkan ke kaki satunya, lalu tangannya merangkul pundak gue.
"Kerja."
"Mau kerja apa?" Sebelah alis Aro terangkat curiga.
"Balik ke hotel?"
"No. Nanti kita harus LDR-an," tolak Aro sambil menggeleng tak setuju.
Gue langsung cemberut. "Restoran kamu kapan dibukanya sih?"
"Belum tahu, kan masih tahap pembangunan, sayang."
"Ya udah, kamu kerja di hotel Papa," saran gue pada akhirnya, yang langsung ditolak Aro mentah-mentah.
"Enggak," tegasnya tidak ingin dibantah.
"Terus gimana dong? Aku tuh kesepian, Ar."
Gue menyandarkan kepalaku di dadanya. Aro dengan reflek langsung mengeratkan rangkulan tangannya pada pundak gue, lalu mencium puncuk rambutku.
"Mau program hamil?" tawar Aro.
Gue mengangkat wajahku dan menatap Aro datar. "Ar, kita udah bahas ini sebelum kan?"
"Iya."
Lalu suasana berubah hening. Gue kembali menyandarkan kepala gue pada dadanya, Aro kembali mengeratkan rangkulannya. Namun, kami sama-sama saling diam setelahnya, seolah sedang menikmati suasana.
"Aku tiba-tiba kangen Bang Riki deh," ucap gue memecah keheningan.
"Tumben?"
"Hmm, kangen omelannya."
"Mau telfon?" tawar Aro.
Gue mengangguk sebagai tanda jawaban. Sudah lama juga gue nggak denger Abang gue yang sedang menunggu kelahiran bayi pertamanya.
"Bentar, aku ambil hape dulu," kata Aro lalu berdiri dan berjalan menuju kamar kami, tak lama setelahnya ia keluar dari kamar dan bergabung di samping gue lagi.
Aro langsung menghubungi Bang Riki via video call, butuh waktu sekitar dua menit sampai akhirnya panggilannya terjawab.
"Oy!" sapa Bang Riki sambil melambaikan tangan kanannya, ia terlihat sedang berada di ruang tengah.
"Abang! Gue kangen!" seru gue sambil dadah-dadah, di samping gue Aro menertawakanku sambil geleng-geleng kepala.
"Lebay lo! Lo cuma diajak suami lo ke Bandung, bukan Belanda."
"Nada sewot lo yang begini nih, yang bikin gue kangen, Bang."
__ADS_1
Aro tiba-tiba mengusap pipi gue menggunakan Ibu jarinya, membuat gue tersadar kalau saat ini gue sedang menangis. Astaga, kenapa gue mendadak melow.
"Iya, iya, gue tahu, gue ini ngangenin. Tapi nggak usah pake mewek, Gi, malu-maluin. Ponakan lo udah mau lahir tahu."
"Kapan?"
"Ya, gue nggak tahu pasti. Kemarin pas gue tengokin, katanya gue disuruh nunggu aja, masalah waktu nggak boleh jadi masalah. Yang penting gue mulai siaga satu aja."
"Astagfirullah, pengen ngumpat banget gue dengernya, Rik, sayang lo udah jadi ipar gue, jadi gue tahan deh."
Gue hanya terkekeh geli kala mendengar celetukan Aro.
"Ya, gue emang lucu. Kalian apa kabar? Sehat-sehatkan? Kaget gue pas dapet panggilan dari kalian."
"Sehat kok, lo sama Vinzi sehat-sehatkan?"
"Hmm, ya gitu deh. Bingung juga gue bilangnya, gue bilang sehat tapi sering banget ngeluh sakit pinggang lah, gampang capek lah, ini lah, dan segala macemnya. Gue bilang sakit, dokter kandungan bilang sehat, kalau ngegas juga kelihatan sehat wal'afiat banget."
"Kangen Bang Riki," bisikku pada Aro.
Secara spontan, Aro langsung merangkul pundakku lalu menyandarkan kepalaku di dadanya.
"Kan ini udah ditelfon," ucapnya ikut berbisik. Kecupan ringan ia berikan pada puncuk rambutku. Namun bukannya mereda, aku justru makin terisak.
Jujur, ini pertama kalinya gue pisah jauh dari Bang Riki untuk waktu yang lama. Dari kecil gue dan Bang Riki tidak terpisahkan, paling kita berjauhan kalau Bang Riki harus keluar kota untuk urusan kerjaan atau kantor, sisanya hampir selalu sama gue. Meski kami jarang akur dan suka sekali beradu mulut, sebenarnya kami ini susah dipisahkan.
"Maunya Bang Riki, Ar."
"Ar, itu kenapa bini lo? Kok mewek gitu?"
"Kangen lo katanya."
Bukannya iba dengan kemelowan gue, Bang Riki justru menertawakan gue.
"Lebay lo, gitu aja mewek. Sini makanya, Ibu juga mau ke sini kok, HPL Vinzi tinggal dua minggu lagi soalnya," ucap Bang Riki di sela menertawakan gue.
Gue agak mendongak ke arah Aro. "Mau ke Jakarta, ketemu Ibu juga," rengek gue manja.
Mau tidak mau, Aro akhirnya mengangguk, mengiyakan ucapanku.
"Iya, nanti akhir pekan kita ke Jakarta."
"Lagian lo berdua tuh aneh, Ar, Gi. Ngapain kalian punya rumah besar begitu kalau pada akhirnya kalian tinggal dan malah milih tinggal di apartemen ukuran studio begitu?" Suara Bang Riki kembali terdengar.
Aku menghapus sisa air mataku di pipi, dibantu Aro, kemudian menggerutu, "Salahin aja adik ipar lo!"
Aro memutar kedua bola matanya datar. "Yang perlu disalahin itu mantan kamu, sayang."
Gue tidak terima.
"Kok jadi bawa-bawa mantan aku?" protesku tidak terima.
"Lah, Gani kan mantan kamu."
"Tapi dia juga sohib kamu, Ar," balasku tidak mau kalah.
Tut Tut Tut
"Lah, kok dimatiin gitu aja? Kakak ipar kamu itu nggak ada akhlak apa gimana sih, Ar?" dumelku kesal.
Aro menurunkan kakinya yang tadi menyilang dan melepaskan rangkulan pada pundakku, kemudian berdiri.
"Kakak iparku itu Kakak kandung kamu istriku sayang. Udah, ah, aku mau makan. Laper. Kamu ikut makan nggak?"
"Nanti aja," tolakku sambil menggelengkan kepala.
Aro mangguk-mangguk paham lalu bergegas menuju dapur. Tak lama setelahnya, ia kembali sambil membawa sepiring nasi dan air putih.
Gue langsung berdecak. "Kenapa makannya di sini? Di dapur sana dong, Ar," omelku kesal.
"Di dapur sendirian. Nggak enak. Mending di sini ada kamu."
Gue menatap Aro datar. "Kamu lagi ngegombal, Ar?"
Dengan wajah datar dan mulut penuh dengan nasi, Aro menggeleng dengan santainya.
"Terus ngapain?"
"Makan," jawabnya santai, "kamu mau?" tawarnya kemudian.
"Enggak. Udah kenyang, mau tidur."
Aro mangguk-mangguk di sela mengunyahnya, setelah nasinya tertelan, baru ia bersuara, "Kalau udah ngantuk mending langsung ke kamar."
Gue langsung menatapnya sengit. Niatanku untuk mengganti saluran televisi kuurungkan.
"Kenapa begitu?"
"Ya, biar lebih nyaman kamu tidurnya. Terus biar aku nggak perlu banguin kamu atau gendong kamu ke kamar. Biar lebih efisien dan sama-sama nyaman kan?"
"Kamu keberatan gendong aku?"
"Kalau hari ini, iya."
"Bedanya sama hari-hari lainnya?" Gue menyilangkan kedua tanganku di depan dada dan menatapnya sengit.
"Hari ini aku capek sayang, nggak begitu yakin bisa gendong kamu ke kamar kalau kamunya ketiduran."
"Aku berat?"
"Awal nikah sih enggak, sekarang, lumayan agak... Yah, begitu lah."
Gue kembali meradang. "Ar, kita baru nikah dua bulan lebih seminggu. Masih termasuk kategori awal-awal nikah."
Aro mangguk-mangguk. "Sebelum nikah kalau gitu."
__ADS_1
"Aro!!" jeritku kesal. Deru napasku naik turun karena menahan emosi saat menghadapi Aro.
Astaga, punya suami satu kok begini amat.
"Kamu itu nggak bisa, ya, bo'ong dikit buat nyenengin istri kamu sendiri?"
"Aku bisa nyenengin kamu kok, tanpa harus bo'ong sama kamu," balas Aro dengan santai. Ia kemudian bangkit berdiri karena makanannya sudah habis.
Aro tidak segera kembali setelahnya, dan gue tebak ia sedang mencuci piring dan gelasnya.
"Nggak usah dicuci, nanti aku cuciin," kata gue sedikit berteriak.
"Udah selesai, tapi kalau pengen kamu cuci ulang nggak masalah."
"Kamu pikir aku kurang kerjaan?"
"Iya," balas Aro sambil mengangguk, "kan tadi kamu bilang bosen."
"Ar, kamu ngajak berantem, ya?"
Dengan wajah polosnya, Aro menggeleng. Ia kemudian duduk tepat di sebelah gue lalu mendusel-dusel manja.
"Pengen ngajak bobok sih. Bobok, yuk!" kedipnya manja, "kamu lagi capek enggak?"
"Enggak."
"Yes!" Aro langsung berseru kegirangan.
"Tapi, Ar."
"Kenapa?"
"Aku tadi siang bocor," bisik gue dengan suara pelan dan sedikit bersalah.
"Yah, terus aku gimana dong?"
Gue meringis. "Main sendiri, ya?"
"Enak aja," tolak Aro mentah-mentah, "ya udah, ayo tidur!" ajaknya kemudian. Ia segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh gue, dan masuk ke dalam kamar lebih dulu.
"Kok aku ditinggal?" protesku kemudian menyusulnya.
"Aku mau mandi dulu."
"Lagi?"
"Iya lah."
"Oke. Kalau mau main sendiri dulu juga boleh kok, yang," kata gue sedikit berteriak karena Aro sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Mendengar teriakan gue, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. "Apa kamu bilang?" tanya Aro sewot.
Gue sedikit meringis. "Ya udah, nggak usah lama-lama. Nanti kamu bisa masuk angin."
Aro tidak merespon apapun, ia langsung menutup pintu kamar mandi lagi. Sedangkan gue hanya menertawakannya lalu berbaring di atas tempat tidur. Tak lama setelahnya, Aro keluar dengan rambut basahnya, membuat gue segera bangun dari posisi berbaringku.
"Cepet amat?" tanya gue sambil terkekeh.
"Katanya suruh cepet, biar nggak masuk angin. Gimana sih?"
"Lagian biar apa sih mandi lagi, baru mandi juga."
Aro melirik gue sinis dan mendengus samar. "Menurut kamu?"
Kali ini gue hanya tertawa, lalu memeluk tubuhnya. "Iih, gemesin banget sih suaminya aku. Jadi pengen cium."
"Tidur! Nggak usah mancing," ucapnya sambil membalas pelukan gue, membuat gue kembali tertawa.
"Nggak usah ketawa!" balas Aro menahan kesal.
Gue melonggarkan pelukan kami, sedikit mendongak ke wajahnya. "Tapi kamu lucu, Ar. Gemesin."
"Emang kamu pikir aku badut."
"Mana ada badut ganteng begini."
Aro mengabaikan ucapan gue, kembali menarik tubuh gue agar merapat dengan tubuhnya. "Nggak usah aneh-aneh! Tidur aja kenapa sih?"
"Belum ngantuk, nih," jawab gue kembali menggodanya.
Kali ini, Aro berdecak kesal. "Kamu sengaja, ya?"
Gue mengangguk sambil tertawa. Dengan kesal, Aro tiba-tiba mengigit hidung gue, membuat gue mengaduh dengan suara keras.
"Sakit, Ar!" jeritku kesal.
Kali ini Aro yang terbahas puas. "Makanya jangan nakal," balasnya tak mau kalah.
"Aro nyebelin!!" Gue menjauhkan tubuh kami.
"Tapi ngangenin kan?" Dengan wajah penuh kemenangan Aro tersenyum, "kalau nggak ada aku juga kamu galau, nangis kejer."
"Tau lah. Sana, jauh-jauh! Nggak usah deket-deket." Gue memberi pembatas gulis di sisi gue, agar berjarak, lalu memunggunginya.
"Awas ya, nanti kalau pas bangun terus kamu ketahuan peluk aku. Aku hukum!"
"Siapa takut."
"Deal?"
"Deal."
Tbc,
Gk tau deh, ini cerita masih ada yang nunggu atau enggak. bakalan masih ada yang baca atau enggak, kalau masih ada sih bakalan aku lanjut, cuma kalau udah gk ada, ya gk jdi gue terusin deh. dari pada kasian, sedih hati ini. 🤣🤣🤣
__ADS_1
udh deh, cuap-cuapnya segini aja. see you next part😍😘😘😘 kalau masih ada yang baca 😂😆
oh, iya, maaf deh telat. minal aidzin wal fai dzin, mohon maaf lahir batin buat yang merayakan. yg masih kudu di rumah, dibetah-betahin lagi ya, yang udah kembali masuk kerja dan beraktivitas jaga kesehatan ya, rajin cuci tangan dan jangan lupa pakai masker. bubayyyyyyyy, yg mau baca lanjutan Mas Bule Jawa baca di aplikasi oren ya, terus buat spin-off Gani-Anya pindahnya di kuda poni ungu(eh, kuda poni apa kuda biasa ya🤔) ya pkknya yang itu lah🤣🤣🤣🙏🙏🙏