
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Gue menatap takjub ke dalam isi ruangan Aro yang terlihat sangat rapi untuk ukuran pria bujang. Suasana pun terasa nyaman dan terlihat menyenangkan, meski dekorasi dan juga barang-barang Aro semua bernuasa monokrom, tapi gue suka.
"Rapi banget sih, ini Mbak-mbak yang ngebersihin berapa sehari sekali?" tanya gue sambil mendudukkan pantatku di sofa.
"Aku nggak pake Mbak."
Aku menoleh ke arah Aro dengan ekspresi tidak percaya. "Hah? Serius?"
"Aku tidak terlalu suka orang asing pegang-pegang barangku, jadi aku lebih memilih untuk mengurus semuanya sendiri."
Aro kemudian berjalan menuju dapur, yang letaknya tidak jauh dari ruang tengah, bahkan dapurnya masih terlihat dari sini, karena tanpa sekat. "Mau minum apa?" tawarnya kemudian, sambil membuka pintu kulkas.
"Apa aja yang penting seger," jawab gue lalu berdiri dan menoleh ke arah Aro, "boleh lihat-lihat?" tanya gue meminta izin.
Aro mengangguk, lalu sibuk sendiri, entah apa yang sedang ia lakukan. Gue tidak terlalu perduli dan memilih untuk sibuk menjelajahi isi apartement Aro. Tidak banyak sebenarnya perabot Aro, ruang tengah Aro benar-benar biasa. Hanya ada sofa panjang dan dua sofa single, meja, televisi datar dan beberapa piagam dan juga penghargaan, yang tidak terlalu gue pahami. Justru yang keren itu dapurnya, entahlah mungkin naluri seorang Chef mungkin, ya.
"Nih!"
Aro kemudian berjalan menghampiri gue dan menyodorkan segelas jus mangga. Entah apa saja yang sudah dimasukkan olehnya ke dalam campuran jus ini, rasanya benar-benar terasa segar dan beda. Gue tidak tahu sih, ini efek karena gue yang kehausan, atau tangan Aro yang terlalu ajaib, atau gue yang norak, tapi rasanya memang beda dari jus mangga yang biasa gue minum.
"Kamu masukin apa aja sih ke dalam sebelum memblender buah mangganya?"
Aro menghentikan niatnya untuk meneguk jus miliknya sendiri, menoleh ke arah gue dengan dahi mengkerut. "Maksudnya?"
"Ini apa-apa yang kamu bikin, itu tuh pasti rasanya enak. Tapi enaknya, tuh, beda. Kamu tambahin apa sih?"
Aro terkekeh lalu geleng-geleng kepala. Ia tak langsung menjawab, dan lebih memilih untuk meneguk jus miliknya sebelum menjawab, "Aku tambahin bumbu-bumbu cinta."
Gue langsung mendengkus. "Nggak cocok ngegombal."
"Kenapa? Perasaan ekspresiku udah bagus kok, aku udah latihan lho sebelum ini."
Gue langsung tertawa. "Latihan apa?"
"Latihan berekspresi."
Gue menatapnya dalam. "Ar," panggil gue kemudian.
"Ya?"
"Aku ini anak bungsu, Bang Riki bisa dibilang lumayan manjain aku, jadi mungkin sifatku kadang suka kelewatan."
"Terus?"
"Aku mau kamu berhenti jadi orang lain jika hanya demi menyenangkan aku. Aku janji akan belajar nerima kamu apa adanya. Nggak ngambek-ngambekan lagi, kurang-kurangin judesnya, terus berhenti nyuruh kamu peka."
Di luar dugaan, Aro tiba-tiba tertawa. "Kamu ini kenapa sih? Kita perasaan nggak habis nonton film atau semacamnya deh, kenapa jadi mendadak melow, hem? Kenapa, sayang, ada yang ganggu pikiran kamu?" ia kemudian meletakkan gelasnya, dan memegang kedua pipi gue.
Sambil mencoba untuk menahan diri agar tidak menangis, gue mengangguk. "Aku minder banget lihat mantan kamu tadi."
"Aku suka kamu, karena itu kamu, sayang. Jadi, stop banding-bandingin diri kamu dengan perempuan di luar sana. Apa lagi dengan perempuan tadi. Kamu bahkan seratus kali jauh lebih baik dan juga cantik darinya. Oke?"
"Kamu bilang begitu karena dia pernah bikin kamu kecewa. Tapi, pria di luaran sana, pasti akan bilang kalau mantan kamu tadi dua kali lipat lebih cantik ketimbang aku."
Aro menaikkan kedua alisnya, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kedua matanya menyorot wajah gue dengan pandangan sedikit tajam. "Sekarang aku tanya, kamu mau jalin hubungan sama aku atau pria di luaran sana?"
"Eh?"
Gue mendadak tergagap.
Aro menatap gue dalam. "Sama pria di luaran sana?"
"Enggak lah!" jawab gue cepat.
"Lalu masalahnya di mana?" tanya Aro, gue masih diam. Bingung juga mau menjawab apa. "Meski pun pria di luar sana bilang cantiknya mereka tidak ada apa-apanya di banding kamu, itu bukan urusanku, sayang, itu urusan mereka. Bukan urusanku atau pun kita. Aku maunya kamu, cuma kamu, bukan perempuan lain. I love you because it's you."
Seketika gue meleleh. Hati gue tersentuh. Gue pengen nangis!! Ah, kok Aro mendadak sweet sih.
"Jadi, berhenti membandingkan diri kamu dengan perempuan lain. Oke? Aku tidak suka, Anggita. Itu melukai perasaanku, seolah aku ini hanya menyukai perempuan karena dia cantik."
"Memangnya tidak demikian?" tantang gue sengaja menggodanya, demi pertahanan diri agar tidak benar-benar berakhir menangis tersedu-sedu.
Aro berdecak. "Setidaknya, itu bukan alasan utama."
"Tapi tetap menjadi kesan pertama," sambung gue cepat.
Aro mendengkus. "Tapi kesan pertamaku melihat kamu tidak demikian."
Seketika gue melotot. Mampus, ini si Aro mau bahas rebutan CD kita waktu itu.
"Tidak perlu panik! Aku tidak akan membahasnya. Masak, yuk!" ajak Aro tiba-tiba.
Hah, masak?
"Kamu nggak takut aku mengacaukan dapurmu?" tanya gue tidak yakin.
"Sebenernya agak takut sih, tapi, setidaknya kamu harus berkenalan dengan dapurku."
"Hah?" respon gue spontan, "kamu yakin, Ar?"
"Sedang berusaha untuk meyakinkan diri," jawab Aro, masih dengan wajah tidak relanya.
"Berarti aku harus demikian?"
Aro mengangguk ragu.
"Mau bikin apa?"
"Kamu maunya makan apa?"
"Apa, ya," guman gue sambil mengusap-usap dagu, "kamu bisanya apa?"
"Apa aja, diusahain bisa dong buat pacar."
"Nggak cocok ngegombal kamu, Ar. Stop! Oke?"
Aro mangguk-mangguk pasrah, sambil mengacungkan jempolnya. "Jadi, mau apa?"
"Steak?"
"Steak?" beo Aro, "nggak indonesian food aja?" tawarnya kemudian.
"Kenapa, nggak bisa?"
"Enak aja, bisa dong. Mau yang ketingkat kematangannya apa? Well Done, Medium Well, Medium atau Medium Rare?"
__ADS_1
"Yang paling enak, yang mana?"
"Tergantung selera dong, biasanya sih kebanyakan Medium. Kamu biasa pesen yang apa?"
"Well Done."
"Ya udah, ayo bikin yang itu."
"Well Done?" tanya gue, Aro kemudian mengangguk sebagai tanda jawaban. "Nggak coba Medium?"
Aro menggeleng tidak setuju. "Nanti kamu nggak doyan malah ribet. Well Done aja."
"Pengen nyoba yang Medium, kan biasanya kalau kamu yang masak enak."
"Tapi kan kamu bantuin juga, nggak ada jaminan bakalan enak."
"Maksudnya?" tanya gue sewot.
"Bercanda, sayang. Yuk, langsung mulai."
"Udah ada bahannya?" tanya gue, langsung mengekor di belakang Aro.
Aro mengangguk lalu mengambil apron berwarna putih dari dalam lemari. "Ngadep sana!"
"Eh?"
Gue terlonjak kaget saat Aro tiba-tiba memakaikan apron itu ke tubuh gue, lalu mengikatnya dari belakang.
"Kok aku yang pakai? Kan aku cuma bantuin."
"Biar nggak kotor baju kamu. Kalau aku kan nanti tinggal ganti, kalau semisal bajuku kotor. Mau ganti punya siapa?"
"Oh iya, juga, ya. Hehe," cengir gue malu, "ya, udah. Yuk, mulai sekarang. Aku nggak sabar."
"Nggak sabar ngapain? Ngerecokin aku masak?"
"Iya. Puas?"
"Banget."
"Iiih, nyebelin!"
####
Selesai masak bersama, (read) gue yang lebih banyak ngerecokin, sesuai dugaan Aro. Gue dan Aro menikmati steak bikinan kita. Eh, sebentar, gue banyakan nonton ketimbang bantuin sih, boleh gue akui kalau ini bikinan gue sama Aro, nggak? Boleh aja lah, ya, kan gue bantuin meski dikit-dikit.
"Gimana?"
"Enak. Seperti biasa," jawab gue sambil mengunyah.
Jadi, setelah sempat berdebat untuk memutuskan tingkat kematangan steak yang akan kita masak tadi, akhirnya kita sepakat untuk memasak steak dengan tingkat kematangan Medium. Awalnya, Aro tidak setuju karena takut gue tidak akan bisa menikmati steak jenis itu. Tapi, setelah gue searching, tidak terlalu buruk kok, malah menjadi standar tingkat kematangan di beberapa negara, dan di Indonesia sendiri termasuk yang difavoritkan.
"Medium or Well Done?"
"Medium."
"Why?"
"Karena adanya Medium," cengir gue kemudian.
Aro mendengkus. "Dasar! Abis ini ngapain?"
"Pulang?"
"Kamu ngusir?"
"Tanya doang, sayang. Jadi, mau ngapain? Nonton?" tawar Aro mengajak bernego.
"Kamu ada koleksi film apaan?"
"Nggak ada. Aku nggak terlalu suka nonton."
Seketika gue langsung berdecak. "Kalau nggak suka nonton, kenapa ngajakin aku nonton?"
"Ya, kali aja kamu suka."
"Terus kalau aku suka, tapi kamu nggak suka, nggak masalah buat kamu?" tanya gue, sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada, menatap lurus Aro.
Dengan wajah santainya, Aro mengangguk.
"Ar, jangan dibiasain manjain cewek, deh."
"Kenapa? Bukankah harusnya kodrat cewek emang dimanjain, ya?"
"Jangan! Nanti makin ngelunjak," balas gue sambil menggeleng tegas.
"Jadi, maunya ngapain?"
"Bingung juga aku."
"Terus? Jalan-jalan? Ke Trans studio?"
Gue langsung menggeleng tegas. "Enggak, kamu nggak seru diajak ke sana."
Aro garuk-garuk kepalanya bingung. Makanan kami sudah ludes, perut belum terlalu kenyang dan kita bingung mau nentuin agenda apa yang harus kami lakukan.
"Terus mau gimana dong?"
"Ngobrol?" tawar Aro.
Gue langsung tertawa. "Emang kita lagi ngapain, Ar?"
"Ngobrol. Tapi ngobrolnya nggak di sini?"
"Di mana?"
"Ruang rahasia."
"Masih di apartemen kamu ini?"
Aro mengangguk. "Masih."
"Oke." Gue mengangguk setuju, lalu mulai membereskan meja. Namun ditahan Aro.
"Biar aku aja."
"Berdua lebih enak, Ar."
__ADS_1
"No. Yang beginian biar aku aja."
"Ar," panggil gue dengan wajah menatap Aro datar.
"Di sini rumahku, aku punya melarang kamu, sayang. Kan, kamu udah bantuin tadi. Udah, ah, jatah cuci piring aku aja."
Gue akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah pada akhirnya. Mendebat Aro kalau soal seperti itu, tidak akan membuat gue menang. Jadi, ya udah, nurut saja lah.
"Enak banget jadi istri kamu nanti, Ar," gerutu gue kembali menyilangkan kedua tanganku di depan dada.
Aro kemudian tersenyum dan menoleh ke arah gue. "Aku hidup memang untuk membahagiakan pasangan, sayang."
"Nggak usah ngegombal! Nggak cocok," balas gue sebal.
"Yang tadi itu curahan hati, bukan gombalan."
"Ohya?"
"Yes."
"Buruan selesaiin nyuci piringnya!" kata gue kemudian.
"Ini juga udah selesai," kata Aro sambil mengibaskan kedua tangannya dan mengeringkan menggunakan serbet. Lalu setelahnya, ia berjalan menghampiri gue.
"Yuk!"
"Ke mana?"
"Kamu suka baca?"
"Suka. Tapi novel," cengir gue malu-malu.
"Nggak papa, bagus. Yang penting suka baca, tapi aku nggak punya banyak koleksi buku bacaan novel sih. Nggak papa?"
"Kamu punya perpustakaan buku pribadi?" tanya gue antusias.
"Kok mendadak heboh?" tanya Aro sambil terkekeh geli.
"Hehe, aku tuh dari dulu pengen punya perpustakaan buku sendiri, tapi belum kesampean sampai sekarang."
"Karena?"
"Koleksinya dikit," cengir gue malu-malu.
"Kenapa nggak ditambah?"
"Aku itu rakyat jelata, beli buku terus-terusan mana lah mampu, Ar. Gajian abis buat jajan sama beli skincare tahu."
"Mau alih profesi?" tawar Aro tiba-tiba.
"Kamu ada lowongan pekerjaan?"
"Hmm."
Aro mengangguk sambil berguman.
"Gajinya gede?"
"Lumayan lah."
"Kerjanya ngapain?" tanya gue penasaran. Mulai tergiur dengan tawaran Aro barusan, bosen juga kerja tebar senyum buat tamu.
"Mencintai aku sampai mati."
"Hah?"
Gue melongo.
"Alih profesi jadi istri aku. Sudah siap?"
Gue menatap Aro datar. Bahasan ini lagi? Sebegitu ngebetnya kah Aro untuk menikah.
"Ar, kamu udah nggak tahan, ya?"
"Tahan kok, cuma nawarin. Kalau belum siap, ya udah. Yuk!" Aro kemudian menggenggam tanganku, namun gue halau.
"Kok, yuk? Aku belum siap nikah, Ar."
"Maksudnya ke perpustakaan buku aku, sayang. Aku belum sengebet itu kok, santai. Yuk!"
"Bikin su'udzon," gerutu gue kesal.
"Kamu aja yang pikirannya negatif mulu," balas Aro tak mau kalah, sebelah tangannya kemudian mencubit hidung gue dengan gemas.
"Ya, serem aja kalau belum apa-apa udah positif."
"Hah?"
Gue mencengir.
#####
"Woah," seru gue takjub, saat memasuki ruang perpustakaan pribadi Aro.
Kenapa tadi Aro menyebutnya ruang rahasia, karena ruangan perpustakaan Aro terletak di dalam lemari. Eh, kok kedengerannya aneh. Maksudnya begini, saat kita membuka pintu lemari, di dalam lemari akan ada pintu menuju ruang perpustakaan itu. Benar-benar keren, terlihat seperti film-film di luar negeri yang bergenre fantasi dan semacamnya.
"Suka?"
"Banget. Ya ampun, aku jadi pengen."
"Nanti kalau kita nikah bikin beginian."
Gue kemudian menghentikan pandangan mata gue mengelilingi seisi ruangan, dan menoleh ke arah Aro.
"Serius, aku nggak lagi ngode, yang," ucap Aro sambil mengacungkan jarinya membentuk huruf V, "pure, ngasih tahu."
Mau tidak mau gue akhirnya tertawa. "Kamu manis banget sih, Ar. Ah, aku jadi lemah iman kan. Nanti kalau tiba-tiba aku minta kamu nikahin gimana?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku masih terlalu egois dan childish, Ar. Aku belum bisa, belum mampu."
Aro tiba-tiba mendekat ke arahku dan memeluk gue. "Aku nggak ngajak nikah kamu sekarang atau dalam waktu dekat. Aku bakalan nunggu sampai kamu siap. Jadi, tenang aja. Oke?"
"Tapi..."
"Ssstt, udah. Mending ihat-lihat koleksi buku aku, yuk!" ajak Aro.
__ADS_1
Gue akhirnya mengangguk, sambil tersenyum. Ah, betapa beruntungnya gue punya Aro. Duh, kenapa gue takut nikah sih?
**Tbc,