Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
(not) Perfect Couple : {2} Aro Ngambek?


__ADS_3

#####


"Vinzi!! Calon ponakan Aunty!! I'm coming!" teriak gue saat memasuki rumah Bang Riki.


Di sebelah gue, Aro berdecak samar sambil menutup sebelah telinganya. "Nggak usah pake teriak nggak bisa?" tanyanya sedikit sewot.


"Eng--" belum selesai aku menjawab pertanyaan Aro, Ibu muncul dari dapur.


"Eh, ada anak mantu. Kapan nyampe?"


"Barusan, Bu," jawab Aro langsung mencium punggung tangan Ibu. Tak lama setelahnya gue ikut mencium punggung tangan Ibu.


"Nggak ke rumah dulu atau ke rumah Mama-mu?"


"Langsung dari rumah, Bu."


Ibu menepuk-nepuk pundak Aro. "Ya ampun, capek dong. Ya sudah, naik ke kamar langsung istirahat dulu."


"Iya, Bu." Dengan patuh, Aro mengangguk mengiyakan lalu naik ke lantai atas, membawa barang-barang kami.


"Mau nginep berapa hari, kok bawaannya banyak banget?" tanya Ibu setelah Aro naik ke lantai atas.


Gue memilih masuk ke area dapur dahulu, ketimbang manjawab pertanyaan Ibu secara langsung. Mengambil air dingin, karena merasa haus. "Dikit itu, Bu," jawabku, setelah menandaskan segelas air, "Vinzi ke mana, Bu?"


"Ikut senam hamil."


"Bang Riki?"


"Ya, ikut."


Seketika gue langsung mencibir, "Dih, posesif."


"Ngawur! Emang ikut senam Abangmu itu."


"Ha?"


"Iya, sama kelas ibu hamil. Kamu makanya buruan hamil, biar ngerti soal beginian. Udah ada tanda--"


"Belum, Bu. Tahu lah. Anggi capek, mau nyusul Aro ke atas."


Dengan wajah cemberut gue keluar dari dapur. Samar-samar gue masih mendengar teriakan Ibu yang memintaku agar tidak menunda-nunda kehamilan. Ck, dasar Ibu-ibu.


"Huh, capek," keluhku sambil merebahkan tubuh di atas kasur.


Aro keluar dari kamar mandi dengan wajah basahnya, sepertinya habis mencuci wajah. Ia mengeringkan wajahnya dengan handuk dan duduk di tepi ranjang.


"Kenapa?" tanya Aro tanya menoleh ke arah gue. Sepertinya ia menyadari perubahan mood gue.


"Ibu." Gue mengerucutkan bibir dan mengubah posisiku menjadi miring, menghadapnya.


"Iya. Kenapa sama Ibu?"


"Ngeselin. Nanya-nanya aku udah ada tanda-tanda hamil belum. Malah Ibu juga ngelarang kita buat tunda kehamilan. Kan ngeselin banget, tuh."


"Ssst, nggak boleh gitu, ah."


"Ah, kamu mah ngeselin." Gue merajuk dan memukul Aro menggunakan bantal, "mentang-mentang mantu kesayangan, belain mertua terus."


Seperti biasa, respon Aro hanya tertawa kecil. Ia kemudian berdiri dan mengembalikan handuk yang dipakainya. Setelahnya, ia kembali duduk di tepi ranjang.


"Mau main ke rumah Mama kapan? Sore atau malem aja? Atau mau besok aja?"


"Gimana kalau sekarang aja?"


"Katanya capek."


"Ya, biar sekalian nanti bisa tidur sepuasnya, mumpung lagi halangan. Lagian Vinzi juga belum pulang."


"Ya udah, kamu mau ganti baju dulu enggak?"


"Enggak usah. Begini aja." Gue kemudian mengendus tubuhku, "masih wangi kok."


"Ya udah, ayo berangkat."


#####


"Assalamualaikum!"


"Wa'allaikumussalam," koor Ibu, Vinzi dan juga Bang Riki. Mereka sedang sibuk menonton tv. Tidak mereka sih, lebih tepatnya Ibu. Karena Bang Riki sibuk dengan ponselnya, sedang Vinzi sibuk dengan cemilannya.


"Bawa apa itu, Gi?"


Gue mendengkus dengan pertanyaan Vinzi. Ini ibu hamil kalau soal beginian selalu jeli.


"Brownis."


"Sini coba gue icipin."


"Iya, iya, ini emang buat lo. Gue udah makan di rumah Mama tadi." Gue menoleh ke arah Aro, "kamu mandi duluan, gih! Gantian."


Tanpa memprotes, ia mengangguk setuju dan langsung naik ke lantai atas setelah sempat menyapa Ibu terlebih dahulu. Gue sendiri langsung bergabung dengan mereka.


Gue tidak bisa menahan kerutan di dahi gue, saat Bang Riki tiba-tiba merentangkan sebelah tangannya sambil menatapku aneh.


Gue mendengkus lalu mendorong kakinya yang menghalangiku. "Apaan sih lo, Bang?"


"Kok apaan? Katanya lo kangen gue? Kangen omelan gue? Kenapa sekarang jual mahal begini?"


"Itu kan kemarin, sekarang mah udah enggak."


"Kampret!" umpat Bang Riki kesal.

__ADS_1


Gue menjulurkan lidah gue puas. "Bodo amat."


"Berantem, yok!"


"Gue aduin Aro," balas gue.


"Enggak takut gue. Dia adik ipar gue sekarang, dia yang takut sama gue."


"AR--"


"Berisik! Ibu itu mau nonton tv ini lho, mbokyo ora berantem terus begitu. Kalau nggak ada aja dicariin, tapi kalau udah ketemu ribut terus. Bikin pusing kepala Ibu," omel Ibu dengan wajah galaknya.


Nyali kami mendadak menciut. Ibu kalau udah diganggu pas nonton sinetron kesukaannya emang serem.


Di samping gue, Vinzi menahan diri agar tidak menertawakan kami, disela mengunyahnya.


"Udah sana, pindah tempat. Kalian tuh kalau kangen-kangenan butuh privasi biar nggak ganggu kuping yang lain. Sana, sana! Huss, huss!" usir Vinzi terang-terangan.


Bang Riki berdiri lalu merangkul pundak gue. "Kuy, kita puas-puasin quality time-nya. Siapa tahu besok lo udah digondol Aro ke Bandung lagi. Jajan bakso depan mau?"


"Terus laki gue gimana?"


"Ya udah, ayo masak indomie di dapur."


"Dasar pelit lo," dengkus gue sambil menyingkirkan lengannya dari pundak gue. Lalu kami berjalan beriringan menuju teras depan.


"Gimana Bandung?" tanya Bang Riki mulai berbasa-basi.


Gue terkekeh lalu menegak teh botolku. "Nggak gimana-gimana, Bang. Gedung Sate masih di sana, belum pindah ke Cibubur."


Kali ini Bang Riki melempar kulit kacang ovennya hingga mengenai wajah gue. Gue hanya tertawa kecil menanggapinya.


"Untung udah laku lo."


"Kalau belum kenapa emang?"


Bang Riki menoleh ke arah gue. "Ya, enggak gimana-gimana juga sih. Hehe," cengirnya sok polos.


Gue balik melempar Bang Riki menggunakan kulit kacang bekasnya. "Rese lo!"


"Kan itu yang lo kangenin dari gue," balas Bang Riki dengan jumawa-nya.


Gue mendengus samar. Namun, dalam hati membenarkan. Sifat narsisnya begini nih yang gue kangenin. Ah, kenapa sih gue sama Aro harus tinggal di Bandung. Kenapa nggak di Jakarta aja, biar deket kalau mau ketemu atau mau marah-marah sama dia.


"Aro memperlakukan lo dengan baik kan selama ini?"


"Jelas," balas gue tanpa ragu.


"Terus, udah ada tanda-tanda?"


Gue menggeleng. "Kita belum ada rencana punya anak, Bang."


"Kita?" beo Bang Riki terdengar menyindir, "atau lo?" sambungnya kemudian.


"Saran gue lalu disepakati bersama, Bang," kata gue berkilah.


"Terpaksa itu si Aro, sebenernya dia pengen nolak, cuma gegara takut lo ngambek, ya udah, disetujuin deh." Bang Riki berujar dengan rasa percaya dirinya yang tinggi, lalu menegak cola-nya.


Dengan perasaan tidak rela, di dalam hati gue tetap membenarkan ucapan Bang Riki. Meski tidak memperlihatkan dengan jelas, gue sadar betul kalau Aro sebenarnya memang sudah menginginkan anak.


"Mulut lo itu lho, Bang, kalau ngomong kok suka bener."


Bang Riki tersenyum puas sambil memainkan kedua alisnya naik turun, lalu terbahak.


"Yang, aku udah selesai. Sana buruan mandi! Nanti keburu dingin."


Tak lama setelahnya, Aro muncul dengan wajah segaranya. Celana jean panjangnya kini sudah berganti dengan celana pendek, yang ia padukan dengan kaos hitam. Gue berdiri, lalu Aro mengambil alih tempat dudukku tadi. Sementara aku masuk ke dalam rumah untuk mandi.


Setelah selesai mandi, gue kembali ke teras. Mereka terlihat asik mengobrol sambil mengunyah saat kuperhatikan dari kejauhan, sesekali terdengar ledekan yang dilayangkan oleh Bang Riki. Aro tidak terlihat terlalu kesal, ia hanya tersenyum samar sambil melempar kulit kacang sesekali.


"Lo apain laki gue, Bang? Sampai Aro kelihatan kesel gitu?"


"Gue suruh nyari perempuan lain yang siap mengandung bayi--Aduh!"


Bang Riki mengaduh sambil terbahak karena pukulan gue. Tak lama setelahnya ia berlari masuk ke dalam rumah. Saat aku ingin mengejarnya, Aro tiba-tiba menahan lengan gue.


"Nggak usah! Dia itu cuma godain kamu, yang. Nanti Ibu marah lagi kalau denger kalian berisik." Aro menggeleng sambil menyuruh gue duduk.


Bibir gue maju beberapa mili, karena kesal. Meski begitu, gue tetap menurut dan duduk di sebelahnya.


"Bang Riki tuh, ngeselin. Kebiasaan kalau bercanda nggak pake mikir dulu, langsung mangap aja," gerutu gue kesal.


"Kalau udah tahu itu kebiasaannya, ya enggak usah kaget," balas Aro dengan wajah santainya. Ia menegak teh botol gue yang tinggal sekali teguk dan mengumpulkan sisa kulit kacang yang berserakan.


Gue berdecak gemas. Aro dan sikap santainya itu, kadang membuat gue kesal.


"Udah biarin aja, besok aja yang beresin."


"Kalau bisa dan sempet sekarang beresinnya, kenapa harus nunggu besok?" Aro menoleh ke arah gue sekilas, lalu kembali mengumpulkan kulit kacang dan membuangnya ke tempat sampah, "udah selesai. Tidur, yuk!"


Gue tersenyum menggoda Aro. "Duh, elah, rajin banget sih suaminya aku. Idaman ciwi-ciwi."


Dengan wajah datarnya Aro merangkul pinggang gue. "Bukan aku yang rajin, emang kamu aja yang pemalas."


Gue tertawa. "Makin peka, ya, suami aku, sekarang."


"Iya."


******


Gue menggeliat sesaat merasakan tepukan pada pundakku. Samar-samar gue mendengar suara Aro membangunkan gue.

__ADS_1


"Yang, bangun! Udah subuh nih."


Gue mengerang jengkel. "Aku masih halangan, Ar. Nggak subuhan."


"Aku nggak nyuruh kamu subuhan," balas Aro sambil melipat sajadah dan sarungnya.


"Terus mau nyuruh aku ngapain?" tanya gue ogah-ogahan. Kedua mata gue masih setia terpejam, karena memang masih mengantuk.


"Bantuin Ibu sana! Aku tadi denger suara Ibu sibuk di dapur. Ayo, bangun!"


Gue menggeleng tegas. "Enggak mau," rengekku kemudian, "masih ngantuk."


"Makanya kalau malem, waktunya tidur itu ya, tidur, bukannya malah nonton drakor. Biar kalau udah waktunya bangun ya, bangun, bukannya malah masih tidur begini," omel Aro.


Aro cuek-cuek begitu, kalau udah ngomel suka bikin telinga panas dengan ceramah dadakannya.


"Iya," balas gue seadanya, lalu menarik selimut hingga menutupi wajah.


"Jangan cuma iya-iya aja."


"Iya, sayangku. Sana, mending kamu yang bantuin Ibu. Kan kamu jagonya urusan dapur, jatahku nanti deh beres-beres. Tapi nanti, sekarang aku ngantuk. Plis, jangan ganggu aku untuk sementara waktu."


Samar-samar gue masih tetap mendengar Aro menggerutu. Gue tidak terlalu yakin, tapi yang jelas ia mengeluh dengan sifat dan kebiasaanku.


Saat hampir memasuki alam mimpiku kembali, gue tiba-tiba merasakan sebuah lengan melingkar di perutku. Saat kuendus bau-nya, aku yakin seribu persen kalau tangan ini milik Aro.


Tanpa repot-repot membuka mata, gue bertanya padanya. "Kenapa balik lagi?" tanya gue setengah sadar, setengah mengantuk.


"Diusir Ibu. Nggak dibolehin bantuin."


"Ya udah, tidur," kata gue asal.


"Jogging berdua, yuk!"


"Ogah. Ngantuk," tolak gue mentah-mentah.


Ck, mau tidur lagi aja susahnya minta ampun. Gue kemudian berbalik, sehingga kita menjadi saling berhadapan. Masih dengan kedua mata yang enggan terbuka, gue kemudian memeluknya.


"Udah tidur lagi aja dulu. Aku ngantuk banget, Ar," kata gue sambil menepuk punggungnya pelan.


Kali ini Aro tidak membalas ucapan gue, ia hanya ikut menepuk punggung gue pelan sambil mengeratkan pelukannya, tak lama setelahnya gue kembali masuk ke dalam mimpi. Dan tahu-tahu sudah dibangunkan Aro.


Saat gue membuka mata, Aro terlihat sudah segar, karena baru saja mandi. Aroma sabunnya langsung tercium saat ia mendekat ke arah gue dan menarik tanganku, agar gue segera bangun.


"Udah siang, nggak ada alasan tidur-tiduran terus," ucap Aro setelah berhasil membuatku bangun.


"Masih ngantuk," rengek gue ogah-ogahan.


"Nggak boleh banyak alesan. Ayo, bangun terus mandi. Apa perlu aku mandiin, kalau kamu nggak buruan bangun," ancam Aro.


"Kamu itu galak banget sih, Ar."


"Biar kamu nurut. Kamu itu kalau dibaik-baikin suka ngelunjak. Ayo, buruan bangun!" Aro menepuk kaki gue lalu berdiri, "katanya mau bersih-bersih.


"Kita di sini tamu, urusan beres-beres..." Gue menutup mulut gue yang menguap lebar karena masih ngantuk.


Aro duduk di sofa sambil mengutak-atik ponselnya. "Nanti mau balik ke Bandungnya sore apa malem?"


"Terserah kamu."


"Sore aja, ya?"


Gue turun dari ranjang dan mengangguk. "Tapi kamu sendiri, ya?"


Aro mengangkat wajah kaget plus bingungnya. "Maksudnya?"


"Aku di Jakarta dulu, kamu balik ke Bandungnya sendiri. Masih kangen nih aku sama Ibu." Gue kemudian duduk di sebelah Aro.


"Terus nanti aku di Bandung siapa yang ngurusin?"


"Ya, kamu sendiri lah. Udah tua juga," balas gue hampir mirip gerutuan.


"Kamu tega?"


"Plis deh, Ar, nggak usah lebay bisa?" Gue memutar kedua bola mata gue malas.


"Ya, enggak bisa dong. Kalau aku balik ke Bandung sendiri dan kamu di Jakarta, itu sama aja kita Long Distance Marriage dong. Nggak mau," tolak Aro mentah-mentah, "masa aku harus tidur sendiri dan apa-apa sendiri padahal udah punya istri," gerutunya kemudian.


"Biasanya juga gitu kan?"


"Ya, beda dong. Biasanya tetep ada kamu."


"Ya, kan Bandung-Jakarta deket, Ar. Kita bisa video call nantinya."


"Kok kamu gitu sih? Dulu waktu kita pacaran aja, kamu kalau aku tinggal ke Bandung harus pake acara ngambek-ngambek dulu loh. Kenapa sekarang begini? Gampang banget nyuruh aku balik ke Bandungnya sendiri." Wajah Aro terlihat sangat kesal, ia melirik gue sinis lalu menggeleng tegas sebagai tanda penolakan.


Gue tersenyum kecut sambil garuk-garuk kepala, bingung juga bagaimana caranya membujuk Aro.


"Tapi aku masih pengen di Jakarta, Ar."


"Tahu lah."


Aro tiba-tiba berdiri dan meninggalkan kamar. Ia bahkan mengabaikanku, saat gue memanggil-manggil namanya. Lah, beneran ngambek dia?


Tbc,


Yuhuuuuuu😚😚😚😚


Saya kumbek lagi, masih ada yang nungguin saya membawa kisah Anggi-Aro kan? Kuy, absen atu-atu🤭


hehe, sepi, ya, cuma nggak papa. Ada yang nongol aja syukur alhamdulillah. Wakksss, salah sendiri yee kan, updatenya kelamaan. Ya, mon maap, aye pan orang sok sibuk🤣🤣🤣 ohya, untuk frekuensi update kali ini pelan-pelan aja, ya, karena kemarin belum sempet nyicil draf-nya, soalnya ngurusin yg sebelah. Jadi, jangan ada yg minta crazy up, takutnya nnti saya yg jadi crazy,😂

__ADS_1


Udah deh, cuap-cuapnya nggak usah panjang lebar. Segini aja cukup lah, ya . See you next part. Koreksi typo dan lain-lainnya boleh banget kok😉


__ADS_2