Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
(not) Perfect Couple : {17} Pulang Ke Solo


__ADS_3

#####


Kami pulang ke Solo menggunakan transportasi pesawat. Awalnya aku menyarankan memakai mobil saja, tapi Aro menolak ideku. Alhasil kami harus mengabari keluargaku di Solo untuk menjemput kami di bandara.


"Kita dijemput apa naik taksi aja?" tanya Aro sambil menyerat koper.


Kami hanya membawa satu koper karena memang baju-bajuku di rumah Ibu masih banyak. Dan kebetulan gue belum mengalami perubahan berat badan, jadi tidak perlu khawatir kalau baju-bajuku sudah tidak muat.


"Dijemput Candra," jawabku sambil mengutak-atik ponselku, "ini dia udah di parkiran. Kita disuruh langsung ke sana, males kelaur dari mobil katanya," imbuhku kemudian.


Gue lalu berdecak sambil menggerutu, "Belagu bener ini bocah, padahal biasanya juga masih motoran."


"Enggak papa. Cuaca memang lagi agak panas kan."


Gue mengangguk setuju. Hari ini Solo sedang panas-panasnya, kepalaku rasanya sampai pusing merasakan hawa panasnya. Haha, sedikit tidak nyambung sih tapi, ya. Oke, bisa kalian abaikan.


"Barang bawaannya segini aja?" tanya Candra menyambut kami. Dengan gerakan sigap ia langsung mengambil alih koper yang Aro bawa lalu memasukkannya ke dalam bagasi.


Gue mengumpat dalam hati. Katanya males keluar mobil, tapi dia nungguinnya di luar mobil. Benar-benar deh.


Aro mengangguk, mengiyakan. Lalu berbasa-basi. "Nggak ngampus, Dra?"


"Masuk sore, Mas."


Gue langsung menyipitkan kedua mata gue curiga. "Kok tumben mau jemput kita?"


Bukannya langsung menjawab, Candra justru memasang wajah tersenyum sok malu-malunya. Hal ini membuatku langsung mengerti di balik arti senyumnya itu. Ini bocah, ya, benar-benar deh.


"Paham kan, Mbak?" kekeh Candra.


Gue mendengkus. "Banget."


Candra pasti mau menjemput kami karena iming-iming dikasih pinjem mobil. Maklum fasilitas kendaraan yang disediakan kedua orangtuanya motor dan pacarnya itu sering kali enggan diajak motoran dia. Menurut gue pacar Candra itu terlalu kemayu dan layak diputusin dari pada dipertahanin. Gue sudah menyuruh Candra untuk memutuskan pacarnya itu berulang kali, tapi Candra terlalu bucin dengan pacarnya itu. Padahal Candra ini termasuk kategori pria tampan idaman gadis-gadis, wajahnya putih bersih, tidak berlebihan untuk ukuran pria. Ukuran tubuh tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek juga. Ditambah lagi ia punya senyuman manis yang membuat gadis-gadis meleleh, pembawaannya pun santai dan asik. Ia sebenarnya tidak neko-neko kecuali kalau sudah berurusan dengan pacarnya itu. Ah, gue benar-benar berharap mereka segera putus.


"Masih sama dia?"


Candra mengangguk penuh keyakinan. "Kan gue tipekal yang setia, Mbak."


Gue mendengkus keras sambil memutar kedua bola mata.


"By the way, lo beneran hamil enggak sih?" tanya Candra sambil memainkan kunci mobilnya, kedua matanya menatap ujung kaki hingga ujung kepala gue, "kok body lo masih kayak kemarin, Mbak. Nggak berubah-berubah, nggak tambah bohay gitu?"


Candra memang lebih suka menggunakan bahasa lo-gue kalau sedang mengobrol dengan gue atau Bang Riki. Tapi kalau sedang ada para tetua, ya jelas saja dia menggunakan aku-kamu.


"Makannya masih kayak biasa nggak nambah, tapi dikeluarin terus, Dra," sahut Aro sambil menepuk pundak Candra, "yuk, langsung jalan!"


"Siap."


Dengan sigap Candra langsung membuka pintu kemudi dan masuk ke dalam. Sebuah ide tiba-tiba terlintas di otakku. Gue tersenyum jahil sambil menahan lengan Aro.


"Kenapa?"


"Temenin aku duduk di belakang."


"Loh, kasian Candra dong, sayang."


"Nggak papa, aku agak pusing nih. Butuh sandaran." Gue nggak sepenuhnya berbohong, hanya berbohong sedikit.


"Lagi ngerapatin apa sih? Bukannya langsung masuk? Aku harus jemput pacar nih ngampusnya. Langsung masuk, Mas!"


Gue mengangguk paham lalu masuk ke dalam mobil, diikuti Aro setelahnya.


"Loh, Mas Aro kok duduknya di belakang?" protes Candra sambil menoleh ke bangku belakang.


Aro meringis dengan perasaan bersalahnya. "Maaf, Dra, kemauan Ibu hamil terlalu sulit untuk ditolak."


Candra langsung menatapku tajam. "Lo sengaja kan, Mbak?"


"Apaan sih, anak gue pengen deket Papa-nya. Kok lo tega mau misahin."


"Halah, alasan aja kamu, Mbak," gerutu Candra kesal, ia kemudian mengaitkan seatbeltnya lalu mulai menyalakan mesin dan mengemudikannya.


Candra kalau sedang kesal memang kembali memakai aku-kamu. Aneh memang.


"Mau ke mana dulu nih?" tanya Candra begitu sudah mulai menguasai emosinya.


"Langsung pulang," balas Aro cepat.


Gue langsung menggeleng tidak setuju dan memprotes, "Kok pulang?"


"Emang mau mampir ke mana dulu?"


"Kok ke mana? Ya, ke rumah sakit dong, Ar. Kan kita ke Solo juga mau jenguk Ayah, masa pulang?" protes gue tidak setuju dengan idenya.


"Ya, kan kita baru nyampe istirahat dulu lah. Kasian dedeknya, nanti agak sorean baru kita ke RS-nya."

__ADS_1


Gue menggeleng tidak setuju. "Enggak mau! Maunya langsung ke rumah sakit. " Gue masih ngotot.


Candra langsung tertawa mendengar rengekan gue, lalu ia menyahut, "Permintaan ibu hamil susah ditolak ya, Mas," guraunya kemudian, menirukan ucapan Aro tadi.


Aro menghela napas lalu mengangguk pasrah. "Fakta itu benar-benar menjengkelkan, Dra."


"Jadi langsung ke rumah sakit dulu kan?"


"Iya," jawab gue cepat.


Aro sendiri hanya diam saja, tidak menyahut dan hanya memasang wajah datarnya.


"Mbak, gue mau tanya seriusan ini."


"Apa?" sembur gue galak.


"Lo beneran hamil enggak sih?"


"Maksud lo?"


Kedua mata gue melotot tajam, tidak terima dengan pertanyaan Candra yang seakan tidak mempercayai kehamilan gue.


"Sensi banget sih, Mbak, kan gue cuma nanya. Abis bentukan lo nggak kayak orang hamil, perut juga perasaan masih datar begi--"


Karena tidak tahan gue langsung memukul kepala Candra. Ia langsung mengaduh dan mengomel, Aro mencoba menenangkanku.


"Sayang, nggak boleh gitu lah. Candra lagi nyetir," ucap Aro tenang.


"Ya, dia ngeselin, Ar. Masa nanyanya begitu," gerutu gue tidak terima.


Bukannya merasa bersalah, Candra malah tertawa terbahak-bahak. Sialan.


"Ketawa aja teros, kayak nggak punya dosa aja lo," decak gue kesal.


######


"Assalamualaikum!" ucap kami saat memasuki ruang inap Ayah.


Di dalam ruangan tampak sedikit ramai. Ada beberapa adik-adik Ayah beserta ipar dan kerabat lainnya. Ibu langsung menyambut kami antusias sekaligus kaget.


"Kok udah nyampe? Nggak pulang ke rumah dulu?"


"Anggi ngeyel pengen ke sini dulu, Bu," sahut Aro cepat.


"Kangen Ayah," ucapku sambil memeluk tubuh beliau.


"Udah tua juga masih manja," ledek Ayah namun tetap membalas pelukanku, "gimana sehat kondisi kamu sama cucu Ayah? Kenapa nggak istirahat dulu di rumah? Ayah kan nggak sakit parah."


"Alhamdulillah dedeknya sehat, Yah. Anggi soalnya udah kangen banget sama Ayah. Ayah emang nggak kangen sama Anggi?"


"Enggak. Biasa aja sih kalau Ayah," gurau Ayah.


Gue merengut sebal lalu mengurai pelukan kami. "Iiih, Ayah nyebelin," gerutuku pura-pura memasang wajah merajuk, gue kemudian menggeser tubuhku memberi ruang untuk Aro menyapa Ayah.


"Gimana, Yah? Udah enakan?" tanya Aro sambil mencium punggung tangan Ayah.


Ayah mengangguk. "Ayah itu sebenernya nggak sakit, Ar, Ibumu saja itu yang pengen nginep di sini. Bosen mungkin tidur di rumah," candanya kemudian.


Aro tersenyum. "Ayah bisa saja."


"Bu, ini diberesin dulu, Ayah udah selesai makannya."


"Masih ini, Yah, diabisin dulu dong," protesku pada Ayah. Gue kemudian mengambil mangkuk bubur Ayah lalu menyendok sesuap dan menyodorkannya pada Ayah, "buka mulutnya, Anggi suapin."


Bukannya menurut, Ayah malah menggeleng sambil menutup mulutnya rapat-rapat.


"Masih banyak lho, Yah."


"Tapi Ayah udah kenyang. Kamu aja yang makan kalau mau, Ayah udah kenyang," tolak Ayah.


"Udah, Gi, Ayahmu tadi udah makan nasi campur tadi jam setengah sepuluh. Jadi memang masih kenyang mungkin," ujar Ibu sambil membuka bungkusan obat dan menyerahkan pada Ayah, "kalian sudah pada makan belum?"


Gue menggeleng lalu meletakkan mangkuk bubur tadi pada meja.


"Ya udah pulang dulu sana! Sekalian istirahat. Nanti ke sini lagi," saran Ibu dan mulai membereskan bekas makan siang Ayah.


"Iya, Ibu kamu benar. Gung, anterin Anggi dan Aro ke rumah dulu."


"Siap Mas. Yuk, Gi, Ar!" Pak Lek Agung langsung berdiri mengajak kami pulang.


Gue merengut sebal. "Anggi baru nyampe loh, Yah, masa udah diusir aja? Nggak kasian sama Anggi?"


"Justru karena kita kita kasian sama kamu makanya kita suruh pulang saja. Biar kamu bisa istirahat di rumah, kamu lagi hamil lho, Nduk. Kasian bayinya," balas Ayah tak mau kalah.


Gue berdecak pasrah. Sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena semua yang ada di ruangan ini mengusirku secara tidak langsung.

__ADS_1


"Nanti ke sini lagi," bujuk Aro mencoba membujukku.


"Nggak usah, besok Ayah mau pulang," sahut Ayah cepat.


Gue semakin manyun. "Ya udah kalau diusir terang-terangan begini, kita pulang aja."


Gue dan Aro kemudian langsung berpamitan pada semua kerabat dan keluar ruangan.


"Udah berapa bulan, Nduk?" tanya Pak Lek Agung berbasa-basi.


"Jalan tiga bulan Pak Lek," jawabku.


"Udah mau empat bulan, Pak Lek," koreksi Aro, "tinggal seminggu lagi."


"Oh, acara empat bulanannya mau diadain di mana kira-kira nanti?"


"Di rumah kita yang ada di Jakarta, Pak Lek."


"Wah, jauh, Pak Lek nggak bisa dateng dong."


"Doanya saja, Pak Lek," sahut Aro. Kami kemudian masuk ke dalam pintu lift yang baru saja terbuka.


"Iya, pasti kalau itu. Semoga semua sehat-sehat diberi kelancaran pas lahiran nanti."


"Aamiin," koor kami kompak.


"Tapi selama ini nggak ada mual-mualkan?"


Pak Lek Agung kembali bertanya. Gue hanya meringis sebagai respon, lalu Aro tertawa kecil.


"Nggak cuma mual aja, Pak Lek. Kadang malah sering balik makanan yang sudah dimakan. Mana sekarang susah diem pas hamil, kadang sampai pusing sayanya," ujar Aro terdengar seperti sedang curhat colongan.


Pak Lek kemudian tertawa meresponnya lalu menepuk pundak Aro pelan. "Nggak papa, yang sabar saja. Dulu Pak Lek juga begitu waktu Bu Lek Anggi yang hamil. Memang begitu kadang bikin pusing."


"Iya, Pak Lek, mau gimana lagi. Udah nasibnya begitu." Lalu keduanya tertawa kompak, sedang gue hanya tersenyum tipis.


######


"Capek juga, ya," keluh gue begitu sampai rumah.


Gue langsung merebahkan tubuh di sofa sambil memejamkan kedua mata. Mendadak gue merasa mengantuk.


"Nanti tidurnya. Yuk, bangun! Ganti baju sama makan dulu," ujar Aro sambil mengangkat tubuhku dengan hati-hati.


Gue berdecak dan kembali berbaring. "Ngantuk, nanti aja deh makannya. Udah nggak kuat ini lho."


"Enggak boleh, ayo bangun dulu! Kamu belum makan lho, tadi pagi malah muntah, lupa?"


Gue cemberut. "Tapi ngantuk."


"Iya, nanti tidur. Ayo, sekarang bangun makan dulu." Aro kembali mengangkat tubuhku agar dalam posisi duduk, "kenapa malesannya balik lagi sih?"


"Bukan males, aku tuh beneran ngantuk. Nggak liat ini mataku udah mulai merah ini?"


Gue memajukan wajah sambil menunjuk kedua mataku. Aro mendengkus samar saat meresponku. Tanpa gue duga, Aro memajukan wajahnya mendekat ke arahku. Membuat gue secara raflek memejamkan kedua mata, lalu Aro tiba-tiba mengecup kedua kelopak mataku secara bergantian. Gue cukup terkejut dengan perlakuannya. Bahkan saking terkejutnya, gue sampai melotot tajam ke arahnya.


"Apaan itu barusan?"


"Trik jitu biar kamu nggak ngantuk. Dan terbukti kan? Yuk, bangun! Kita intip di dapur ada apa. Tadi Ibu ngasih tahu kalau ada cah kangkung sama gurame goreng."


Gue kembali merengek dan enggan diajak ke dapur. Saat ini yang gue inginkan hanya berbaring dan masuk ke alam mimpi. Dan gue belum merasa lapar sama sekali.


"Ngantuk," rengek gue ogah-ogahan.


"Iya, nanti abis makan boleh tidur," bujuk Aro tidak ingin menyerah.


Dengan kesabaran yang tersisa Aro kemudian mengangkat tubuhku dan membawa gue menuju dapur. Begitu sampai di dapur ia langsung mendudukkanku di salah satu kursi. Lalu Aro dengan sigap mengambilkan makan dan juga lauk pauk untukku.


"Eh, ada yang dibakar juga nih, mau yang versi apa?" tawar Aro, "tapi kayaknya yang dibakar, yang beli. Kamu mau yang mana?"


Gue menimang sebentar. "Ya udah, yang goreng aja."


Aro mengangguk paham. "Lama nggak manja-manjaan ya, kamu."


Gue terkekeh. "Kenapa? Kangen ya?"


"Banget," balas Aro sambil meletakkan piring nasi beserta lauknya.


Gue berdecak lalu geleng-geleng kepala. Aro itu memang terkadang terlalu aneh jadi suami. Untung gue sayang.


Tbc,


Lagi pusing, mood nulis kacau. Rasanya pengen nangis saya, tapi nggak bisa😥 dan itu benar-benar menjengkelkan. Seseorang keluarkan saya dari mood kacau ini😫😫


Udah segitu aja curcolnya, takut ditimpuk saya. See you next part dan semoga moodku bisa ku kendalikan dengan baik, sehingga up-nya bisa kembali lancar. Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2