
Tok Tok Tok
"Masuk!" seruku saat mendengar suara pintu ruanganku diketuk.
Tak lama setelahnya, Arul masuk.
"Ada apa, Rul?"
"Ada tamu, Chef," jawab Arul.
"Dari majalah R-food?" tebakku tidak yakin.
Pasalnya, aku tidak habis membuat janji temu dengan siapa pun kecuali dengan majalah R-food. Itu pun, aku masih harus bertemu dengan mereka minggu depan, tidak hari ini.
"Bukan, Chef. Katanya suaminya Jasmine. Chef kenal siapa itu Jasmine?"
Jari jemariku langsung berhenti mengetik saat mendengar nama itu. Nama yang benar-benar tidak ingin kudengar selama aku hidup. Ah, aku benar-benar membencinya.
Aku menghela napas pendek, mengatur emosiku agar tidak menyembur keluar. "Siapa tadi kamu bilang?"
"Jasmine, Chef. Chef kenal?"
Aku tadi masih sempat berharap, kalau aku salah dengar. Tapi ternyata, kenyataannya tidak sesuai dengan harapanku.
Aku mengangguk dan menjawab dengan gumanan. "Hmm."
"Chef kenal?" ulang Arul sedikit ragu.
Aku kemudian mengangguk sekali lagi untuk menyakinkannya. "Iya. Saya mengenalnya."
"Berarti boleh masuk, Chef?"
Aku menimbang sesaat. Berpikir untuk mengiyakan atau menolaknya. Sampai akhirnya tanpa sadar kepalaku mengangguk secara spontan. Setelah tersadar aku kemudian berkata, "Jangan lupa nanti kamu bawain minuman atau teh dan semacamnya, ya," pesanku sebelum membiarkan Arul meninggalkan ruanganku.
Arul mengangguk sambil tersenyum cerah. "Siap, bos--
"Saya bukan bos kamu, Rul."
"Bosque maksudnya, Chef. Bahasa gaul."
Aku mengangguk acuh tak acuh. "Sana keluar!" usirku kemudian.
Arul menyengir lalu berlari kecil keluar ruanganku. Sedangkan aku gelisah di tempat dudukku.
"Suami Jasmine? Dia sudah menikah? Tapi kenapa suaminya itu mencariku?" gumanku penasaran.
Tak lama setelahnya, terdengar suara pintu diketuk.
Tok Tok Tok
Aku berdehem sejenak, sebelum akhirnya berdiri dan berseru, "Masuk!"
Cklek!
Napasku rasanya langsung tercekat saat menemukan seorang pria, yang kutebak berada dua atau tiga tahun di atasku. Tersenyum sopan sembari menuntun gadis imut yang mirip sekali dengan Jasmine. Sejenak, aku lupa bagaimana caranya menjamu tamu dengan baik, karena terlalu sibuk melamun. Beruntung karena hal itu tidak berlangsung lama.
Aku berdehem untuk menetralkan rasa gugupku dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Saya Harun, suami Jasmine Anggraeni. Dan ini Putri kami, Bunga."
Aku tersenyum canggung lalu menjabat uluran tangannya, dan ikut memperkenalkan diri. "Saya Aro."
"Iya, saya sudah tahu. Istri saya sering cerita. Bunga, ayo, kenalan sama Omnya."
"Hallo, Om, perkenalkan namaku Bunga. Nice to meet you," ucap gadis itu memperkenalkan dirinya.
Aku tersenyum sambil mengangguk. "Hai, Bunga. Nama Om, Om Aro. Nice to meet yo too."
Satu kata untuk menggambarkan gadis kecil ini. Cerdas. Mirip dengan Ibunya.
Aku kemudian langsung mempersilahkan keduanya untuk duduk. "Ayo, silahkan duduk!"
"Terima kasih."
"Jadi, ada yang bisa saya bantu?" ucapku membuka pembicaraan.
"Iya, ini tentang is--"
Tok Tok Tok
"Masuk!" seruku sedikit berteriak.
Tak lama setelahnya, Danu masuk sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh dan segelas susu coklat.
"Terima kasih, Dan," ucapku setelah Danu selesai meletakkan minuman di atas meja.
"Sama-sama, Chef. Kalau gitu saya permisi. Silahkan dinikmati, Pak!"
"Iya, terima kasih."
"Ayo, silahkan diminum!" ucapku mempersilahkan.
"Iya, terima kasih. Maaf merepotkan."
"Tidak. Jadi, ada perlu apa, ya, anda mencari saya?"
"Saya mau minta tolong. Ini tentang istri saya."
"Mohon maaf, saya dan istri anda sudah tidak ada hubungan apa pun. Jadi anda tidak perlu merasa khawatir kalau saya akan merebutnya dari anda," ucapku tenang dan penuh keyakinan.
Namun, di luar dugaan, pria itu justru malah tersenyum. Membuat keningku mengkerut tanpa bisa dicegah.
Apakah ada kalimatku yang lucu? pikirku heran.
"Saya tahu anda tampan, tapi saya pun tahu betul, jika istri saya tidak mungkin meninggalkan saya dan juga putri kami, hanya demi pria yang bahkan sudah tidak menginginkannya lagi."
Sial. Aku merasa malu.
"Jadi, anda minta tolong tentang apa?"
"Tidak bisakah anda memaafkan istri saya?"
Seketika rahangku mengetat. Apa-apaan maksud pria ini?
__ADS_1
"Maksud anda?"
"Saya tahu istri saya pernah melukai perasaan anda di masa lalu. Tapi, tidak bisakah anda memaafkannya?"
Aku langsung tersenyum sinis. "Sepertinya anda begitu mencintai istri anda, ya," sindirku sambil tersenyum geli.
Dengan wajah santai tanpa tersinggung sedikit pun, pria itu mengangguk dan menjawab, "Ya, saya memang sangat mencintainya. Kalau tidak, saya pasti memilih untuk meninggalkannya dari pada ke mari dan meminta maaf atas nama istri saya."
Sebentar, kenapa aku merasa ada yang aneh, ya di sini? Sorot mata pria ini terlihat sangat terluka, dan entah kenapa membuatku mendadak berempati secara tidak sadar. Ada apa denganku?
"Sebenarnya, istri saya ingin datang ke sini sendiri, tapi keadaan tidak memungkinkan. Jadi, saya datang untuk mewakili."
"Kenapa demikian?"
"Istri saya sakit."
Tubuhku seketika langsung mematung. Sedih, kaget, dan juga khawatir. Dalam hati, aku langsung berdoa semoga, apa yang kudengar barusan salah.
"Saya tahu, anda mungkin tidak perduli dengan kehidupannya sekarang. Tapi, kali ini saya memohon dengan sangat, tolong maafkan kesalahan istri saya di masa lalu, setidaknya dia harus sembuh demi putrinya."
"Jasmine terkena tumor, tapi dia menolak dioperasi karena masih merasa bersalah dengan anda."
Apa lagi ini, ya Tuhan?
####
Aku melangkahkan kakiku menyusuri koridor rumah sakit dengan perasaan tegang. Setelah suami Jasmine menemuiku kemarin, aku semalam jadi tidak bisa tidur nyenyak. Aku terus kepikiran dengan kondisi Jasmine. Apakah wanita itu benar-benar sakit? Pertanyaan itu terus-terusan terngiang-ngiang di dalam otakku, sampai akhirnya aku muak dan memutuskan untuk datang ke rumah sakit.
Aku menghela napas panjang saat sudah berada di depan ruang rawat Jasmine. Perasaan ragu-ragu kembali hadir. Apakah memang aku perlu melakukan ini?
"Saya yakin pasti anda akan datang. Terima kasih sebelumnya," ucap suami Jasmine sambil menyodorkan tangannya, mengajakku untuk bersalaman.
Aku kemudian menjabat tangannya sambil tersenyum canggung.
"Saya mungkin akan merasa bersalah jika tidak datang," ucapku kemudian.
Harun, suami Jasmine mengangguk sambil tersenyum. Ia membukakan pintu kamar inap istrinya dan mempersilahkan aku masuk.
"Silahkan!"
"Terima kasih."
Tubuhku langsung menegang, saat kedua bola mataku menangkap sesosok wanita yang dulu pernah memporapondakan hatiku. Perempuan yang dulu sempat aku gilai dan hampir membuatku gila. Hatiku rasanya teriris melihat wajah pucatnya yang kini sedang terbaring lemah di atas brankar. Kedua bola matanya menatapku terkejut, seperti ingin berkata-kata namun tidak sanggup.
Harun langsung menghampiri Jasmine dan mencium kening wanita itu. Menanyakan bagaimana keadaannya saat ini dan apakah ia sudah makan atau belum. Sedang aku, masih berdiri mematung di depan pintu tanpa bergerak seinci pun.
"Kamu pasti tekejut," ucap Harun.
Sangat. Jawabku dalam hati.
"Aku akan keluar, kalian bisa mengobrol dan menyelesaikan masalah kalian."
Aku memandang Harun tidak yakin dan menggeleng.
"Saya percaya dengan istri saya. Dia mencintaiku, jadi aku tidak akan cemburu."
Astaga, bukan itu. Jeritku dalam hati.
Harun kemudian menepuk pundakku dan keluar begitu saja. Aku berdehem untuk menetralkan perasaan gugupku, beberapa saat kemudian aku langsung menghampiri Jasmine dan duduk di kursi yang ada si sebelah tempat tidur Jasmine.
Jasmine tersenyum dengan bibir pucatnya. "Mungkin ini yang dinamakan karma."
Aku mendengkus geli. "Kamu hanya berselingkuh, kamu tidak sejahat itu," jawabku tanpa sadar. Lalu aku langsung menyesalinya beberapa saat kemudian.
"Kalau aku tidak sejahat itu, kenapa kamu sulit sekali memaafkanku?"
"Aku memaafkanmu. Sebenarnya, memang aku sudah memaafkanmu, hanya saja, terkadang aku masih sakit hati jika mengingat apa yang kamu lakukan dulu."
"Itu tandanya kamu belum memaafkanku, Ar."
"Hmm. Mungkin memang belum."
"Aku tidak apa-apa. Kamu tidak perlu membujukku."
"Apa maksudmu?"
"Aku menerima semua dengan ikhlas, Ar. Insha Allah."
"Enak saja kamu bilang. Itu terasa tidak adil. Setidaknya, kamu harus melihatku bahagia dulu sebelum meninggal, jangan mati konyol! Kamu punya suami yang tampan dan juga putri yang cantik."
"Kamu sudah bertemu dengannya?"
Aku mengangguk.
"Tapi... aku..."
"Segera lakukan operasi! Kamu tidak boleh meninggal sebelum melihatku bahagia, kamu harus bertahan dan sembuh. Setelah melihatku bahagia, lalu kamu bisa membuktikan kalau kamu juga bisa bahagia. Jangan mati konyol! Kamu punya tanggung jawab untuk membesarkan putrimu! Kamu memang tidak takut jika suamimu direbut wanita lain?"
Di luar dugaan, Jasmine tiba-tiba tersenyum dan menangis. "Terima kasih, Ar."
"Tidak perlu berterima kasih. Ingatlah untuk sembuh, demi melihatku bahagia dan demi keluarga kecil kalian. Jangan egois, Jas! Kasian mereka," ucapku tulus.
Jasmine semakin tersendu. Aku menghela napas dan menyodorkan tisu untuknya.
"Tidak perlu menangis! Simpan tenaga kamu untuk hal yang lebih berguna."
"Sepertinya, kamu sudah mulai memaafkanku."
"Hmm. Aku akan memaafkanmu dan menjalani hidup yang bahagia. Kamu pun harus demikian. Aku akan menikah, dan kamu harus melihatnya, Jas!"
Jasmine mengangguk yakin. "Ya, aku akan datang ke pernikahan kalian nanti. Dia perempuan yang bersamamu itu?"
Aku mengangguk. "Ya, dia perempuan yang itu."
"Dia cantik, Ar."
Aku mengangguk setuju. "Ya, dia memang cantik, meski agak cerewet, bawel, dan mudah sekali merajuk."
"Tapi kamu terlihat sangat mencintainya."
Aku tersenyum dan mengangguk, membenarkan. "Ya, aku rasa memang seperti itu."
Jasmine tiba-tiba mengulurkan tangan, mengajakku berjabat tangan. Aku menaikkan sebelah alisku sebelum akhirnya tersenyum dan menjabat tangannya.
__ADS_1
"Mari berdamai dengan masa lalu dan menjadi lebih bahagia!"
"Hmm. Mari berbahagia."
Aku kemudian mengangguk setuju dan berdiri. "Aku panggil suami kamu dulu, ya."
Jasmin mengangguk lalu mempersilahkan aku untuk keluar. Sebelum aku keluar, Jasmine tiba-tiba memanggilku.
"Ar,"
"Ya?"
"Terima kasih," ucapnya tulus.
Aku mengangguk. "Berterima kasihlah pada suami kamu. Dia yang paling berjasa di sini, dan kamu jelas harus segera sembuh agar bisa membalasnya."
"Hmm, pasti. Aku akan membahagiakan."
"Kamu hanya perlu bahagia bersamanya, Jas."
Jasmine mengangguk. "Ya, aku akan berbahagia bersamanya dan putri kami."
"Aku langsung pamit," ucapku langsung meninggalkannya.
Saat aku keluar dari ruangannya, aku menemukan Harun sedang duduk di kursi tunggu dengan wajah kacaunya.
"Saya sudah selesai," ucapku membuat Harun mendongak dan langsung berdiri.
"Bagaimana?"
"Seperti dia setuju untuk dioperasi," ucapku sambil tersenyum tipis.
"Hmm, terima kasih sudah membujuknya."
"Tidak. Saya hanya menyarankannya untuk sembuh, karena dia punya anda dan putri kalian."
"Hmm, anda benar. Terima kasih sekali lagi."
"Tidak masalah. Kalau begitu, saya permisi. Lain kali saya akan berkunjung."
"Hmm."
####
"Ar, nikah yuk!"
Ha?
Aku langsung menegakkan tubuhku dan mengubah posisi menjadi duduk bersila. Kuintip layar ponselku yang masih menyala dan masih terhubung dengan Anggita.
"Kamu tadi ngomong apa, sayang? Aku kayaknya masih setengah tidur deh, tadi. Bisa kamu ulangi?"
"Nikah, yuk!"
"Ha?!" seruku sekali lagi.
Aku tidak salah mendengar? Anggita mengajakku menikah?
"Nggak usah ngegas! Nggak usah teriak! Telingaku masih normal, dan aku masih pengen tetep telingaku normal. Jadi nggak usah pake teriak!"
Lah, aku dilarang ngegas, tidak boleh teriak tapi dia nya yang teriak dan ngegas. Hidup perempuan sebebas itu kah? Selalu seenaknya sendiri perasaan, apa karena para lelaki terlalu memanjakan kaum mereka? Jadinya, pada melunjak dan lupa berpijak.
"Iya, maaf."
"Jadi, gimana?"
"Gimana apanya?"
"Ajakan aku tadi."
"Enggak!"
"Maksudnya?"
"Kamu perempuan, sayang. Jangan ngajak nikah dong, tapi nanti aku yang ngajak nikah."
"Halah, emansipasi wanita. Nggak penting siapa yang ngajak, yang penting--"
"Jatah melamar tetap aku, ya," imbuhku, tak mengizinkan Anggita meneruskan kalimatnya.
"Terserah."
"Jadi, mau yang gimana?"
"Apanya?"
"Acaranya. Mau dilamar yang gimana nanti? Aku--"
"Nggak usah neko-neko lah, Ar," sahut Anggita cepat.
Tanpa sadar aku tersenyum. Ah, aku sangat ingin memeluknya.
"Kapan?"
"Libur akhir tahun?""
"Oke. Terima kasih sayang. Aku mencintaimu."
"Hmm. Aku juga."
"Juga apa?"
"Mencintaimu."
Aku kembali tersenyum senang. Ah, aku menjadi semakin tidak sabar menanti libur akhir tahun. Ah, pasti sangat menyenangkan.
#####
Aku tidak bisa berhenti tersenyum cerah sejak pagi tadi. Kalian tahu kenapa? Karena hari ini akan menjadi hari bersejarah bagiku dan juga Anggita. Akhirnya, setelah menanti sekian lama, hari ini aku bisa melamar Anggita. Aku sangat bahagia sekali hari ini dan juga tidak sabar menunggu malam tiba.
Ah, aku semakin berdebar dan tidak sabar. Apa Anggita merasakan apa yang kurasakan saat ini?
Tiba-tiba sebuah ide muncul di dalam benakku. Aku akan menghubungi Anggita. Namun, belum sempat aku menyentuh ponselku, layar ponselku terlihat menyala tanda ada panggilan masuk. Aku kemudian meraihnya dan membaca nama yang tertera di layar. Ada nama Harun yang tertera di sana, seketika perasaan tak enak melingkupiku. Ada apa dia menelfonku pagi-pagi begini?
__ADS_1
**Tbc,