Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Spesial Part : Pov Aro


__ADS_3

####


"Kalau kata gue sih, mending lo ke Jakarta, temuin Riki sekali lagi. Kodrat cowok itu berjuang, Ar, lo harus tahu dan ingat itu. Percuma lo punya wajah ganteng dan duit banyak, kalau lo sendirinya cuma duduk diam sambil meratapi nasib begini. Riki nggak bakalan kasih restu buat lo. Percaya sama gue!"


"Percaya itu sama Tuhan bukan sama lo. Lo dipercaya, sama aja musyrik," balasku kesal.


Kehadirannya yang secara tiba-tiba di apartemenku saja sudah cukup membuatku kesal, dan sekarang malah berlagak ingin menasehati gue.


"Musyrik itu yang bikin kita joget-joget, ya?"


Ada yang sedang pegang buku KUHP tidak? Kalau ada, tolong carikan berapa lama hukuman bunuh orang yang membuat emosi. Atau paling tidak, pinjemin sebentar, agar aku bisa memukul kepala Gani sekarang juga. Heran aku, kok Anya mau sama dia, ya meski dia udah bekas orang, tapi seenggaknya dia ini bule cantik, dokter spesialis bedah umum, yang katanya mau ambil sub-spesialis pula. Mana dia anak orang kaya lagi dan tidak punya saudara, otomatis harta warisan kedua orangtuanya, yang dua-duanya, pengusaha semua. Gila, paket komplit banget deh istri Gani ini, tapi kok dia mau ya, sama Gani yang begini.


"Ah, payah lo. Sense of humor lo itu beneran nol besar. Kalau udah begini, ya udah, bener sikap lo sekarang. Nggak usah lah sok-sokan berjuang. Percuma juga, nggak bakalan dapet Anggi lo."


"Gan, lo kok gitu sih?" protesku kesal, "tujuan lo ke sini mau ngapain sih? Kok malah ngejatuhin semangat gue."


"Ngejatuhin semangat?" beo Gani sambil tersenyum meremehkan, "yakin lo ada semangat buat dapetin Anggi? Kok kalau gue liat lo kayak nyerah kalah gini, ya?"


"Gue nggak nyerah. Cuma bingung harus ngapain," elakku tak terima.


"Beda tipis sama nyerah sih kalau menurut gue," kata Gani penuh keyakinan.


Aku meraup wajahku frustasi, melirik Gani yang sedang sibuk dengan ponselnya. "Kalau menurut lo, gue harus gimana?" tanyaku kemudian.


Gerakan jari Gani tiba-tiba berhenti, saat ia mendengar pertanyaanku. Ia kemudian menoleh ke arahku dengan kedua alis yang terangkat.


"Lo barusan tanya apa?"


Aku berdecak jengkel, karena harus mengulang kalimat. Jujur, aku ini tipekal pria paling nggak suka mengulang sesuatu. Entah itu harus mengulang kalimat atau pun mengulang masa lalu. Aku benci keduanya.


"Gue harus ngapain sekarang?" ulangku gemas.


"Sekarang banget yang lo tanyain?"


Kok, makin ngeselin ya, ini calon Bapak.


"Iya, sekarang," seruku penuh emosi.


"Gampang."


"Apa?" tanyaku kepo.


"Bikinin gue nasgor dong, anak gue kayaknya mulai ngidam deh."


BUGH!!


Tanpa aba-aba langsung kulempari wajah Gani menggunakan bantal sofa milikku. Nggak tahu banget lagi serius galaunya, malah dibercandain.


"Hei! Kenapa gue ditimpuk?" protes Gani tak terima.


"Kenapa? Emang harusnya gue apain lo? Mutilasi? Atau gue jadiin campuran nasi goreng lo?"


"Lah, kalau gue dicampur di nasgor gue, nanti siapa yang makan?"


"GUE!!"


"Buset, ngegas banget sih, Pak. Lagian salah gue di mana, Ar? Lo tanyanya apa yang harus lo lakuinkan tadi? Sekarang, gue tanyanya, ya kalau sekarang ya, lo harusnya bikinin gue nasgor, baru abis--"


"Bodo amat, Gan! Pulang aja deh lo! Emosi gue lama-lama."


"Sabar, bini gue lagi hamil."


Aku langsung menoleh ke arah Gani sengit. "Apa hubungannya emosi gue sama bini lo yang lagi hamil?" tanyaku heran.


"Orang hamil katanya ngeselinkan?"


"Terus?"


"Yang hamil bini gue tapi yang morning sick gue kan?"


"Terus?"


"Teras-terus aja lo, Ar, kek tukang parkir."


Dengan ekspresi seolah tak berdosanya, Gani terkekeh geli. Sementara aku hanya diam sebagai responku. Malas saja aku rasanya meladeni joke recehnya.


"Oke, oke, gue lanjut."


"Enggak usah, nggak penting juga buat gue, Gan."

__ADS_1


Gani mangguk-mangguk setuju. "Iya juga sih, nggak penting. Lebih penting urusan perut, ya."


"Hah?"


"Nasgor, Ar, nasgor! Nggak usah berlagak lupa deh!"


Astagfirullah!


Sabar, Ar, sabar! Orang sabar jodohnya insha Allah Anggita.


Aku berdecak jengkel lalu beranjak berdiri. "Mau pedes nikmat apa pedes gila?"


"Buset, korban iklan," Gani terkikik geli. "kalau pedes gila, beneran bisa bikin gila nggak?"


"Malah bercanda, serius jadi dibikinin nggak nih?" decakku emosi.


"Jadi dong. Nggak usah pedes-pedes, kasian anak gue ntar."


Orang gila!


#####


"Loh, ini beneran Aro? Aro anak Mama?" sambut Mama, saat aku memasuki halaman rumah. Beliau langsung meletakkan selang airnya dan menyambutku. "ini hari apa sih?" tanya Mama heran.


"Kamis. Kenapa emang? Aro ganggu jadwal sunah rosul Mama? Nggak boleh pulang nih Aro, harus balik ke Bandung lagi?"


"Sensi. Gitu aja ngambek."


Aku langsung menepis tangan Mama dengan lembut, lalu merangkul pundak beliau.


"Enggak," kataku lalu menuntun Mama masuk ke dalam rumah.


"Serius, kamu ada apa main ke sini? Tumben," tanya Mama penasaran.


"Kenapa emang, enggak boleh?"


"Bukan nggak boleh, Mama cuma tanya ini. Astaga!"


Dengan gerakan gemas, Mama memukul pundakku, membuatku tertawa setelahnya.


"Malah ketawa," gerutu Mama mulai kesal. "serius lho ini mama tanya, kenapa, ada apa? Berantem sama Gani?"


"Apaan sih, Ma, kenapa Gani disebut-sebut?"


"Ya, soalnya kalau mau tanya 'lagi berantem sama pacar' nggak mungkin. Kan kamu jomblo, nggak punya pacar."


Aku meringis, mendengar penuturan Mama yang, sebenarnya sih bener, cuma kenapa harus pake dijelasin begitu.


"Jadi, kenapa?"


"Ada urusan."


"Penting?"


Aku mengangguk. "Banget."


"Apa itu?" tanya Mama kepo.


"Aro mau nyariin Mama mantu."


"Di Bandung nggak ada?"


Aku menggeleng sekali lagi.


"Tapi Mama nggak mau kamu nyari."


Keningku mengerut tanpa bisa dicegah. Ini tumbenan Mama larang-larang soal beginian, padahal biasanya kalau urusan hal begini, Mama tuh suka heboh sendiri. Nggak sabaran.


"Loh, kenapa begitu? Mama nggak pengen cepet dapet mantu?" tanyaku heran.


"Ya, pengen, cuma maksud Mama itu, kamu nggak usah nyari. Mending sama Anggi, Mama suka sama Adiknya temen kamu itu. Mantu Mama dia aja, ya," rengek Mama sambil menarik lenganku.


Tanpa sadar aku tersenyum. Alhamdulillah, seenggaknya pilihanku sehati dengan Mama. Lumayan, dapat satu dukungan.


"Iya, Mama bantu doa dong kalau begitu. Biar jodohnya Aro juga si Anggi," kataku sambil tersenyum.


Bulu mata Mama menerjap bingung. Aku tebak sih, beliau belum terlalu paham dengan apa yang aku ungkapkan barusan.


"Bentar!"

__ADS_1


Kan!


"Maksudnya ini, calon Mantu Mama nanti beneran Anggi?" seru Mama heboh, ekspresinya berubah antusias.


"Ya, kalau orangnya mau, Ma."


"Jadi, kamu belum ngajak?" tanya Mama terlihat kesal. Bahkan tanpa ragu, tangannya langsung memukul pundakku. "ngapain aja kamu selama ini? Astaga! Nggak nyangka kalau anak Mama sepayah ini."


"Aro awalnya udah minta izin ke Riki, Ma."


"Terus?"


"Riki nggak kasih izin," ringisku sambil tersenyum miris. Bayangan penolakan yang dilakukan Riki kemarin, kini kembali berputar di dalam ingatanku. Menimbulkan sensasi ngilu yang tidak mengenakkan.


Wajah Mama berubah prihatin. Tubuhnya langsung condong ke arahku.


"Kenapa Riki nolak kamu?"


Aku mengangkat bahuku sebagai tanda jawaban.


"Selain sifat nggak peka kamu, kamu ini kan paket komplit, Ar, masa Gani nggak kasih izin kamu buat deketin adiknya?"


"Dia takut kalau seandainya nanti aku sama Anggi putus, semuanya jadi canggung." Aku melirik Mama, "soalnya Anggi itu mantan pacar Gani, Ma."


"Gani? Gani yang udah nikah itu?"


Aku mengangguk.


Mama langsung ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Terus rencana kamu sekarang gimana?"


"Agak bingung juga sih, Ma, sebenarnya," ringisku sambil menggaruk bagian belakang kepalaku. Dan tindakanku tersebut sukses membuatku dihadiahi pukulan manis dari tangan Mama yang rutin melakukan perawatan di salon.


Astagfirullah!


Pukulannya mantap juga.


"Kamu ini anak Mama sama Papa bukan sih?" teriak Mama sambil mendengkus. "heran Mama, masa hal penting begini masih bingung," omelnya kemudian.


Aku hanya diam tak berani menjawab. Dan yang kulakukan sekarang hanya mengelus-elus lenganku, yang kena pukulan Mama.


"Kenapa diam saja?"


Aku melirik Mama ragu. "Memang harus gimana? Nanti kalau Aro jawab, Mama bilang 'jawab mulu kerjaanny' eh, giliran diem salah juga?"


"Ah, kamu ini," gerutu Mama snewen.


"Iya, iya, besok pagi-pagi Aro ke sana," kataku akhirnya.


"Ngapain?"


"Kasih label milik Aro buat Anggi. Mama puas?"


"Of course."


Aku mendengkus. "Ya udah, Aro mau ke atas dulu. Mau istirahat, capek," kataku lalu beranjak dari sofa dan naik ke lantai atas. Huh, aku perlu mandi dan menyusun strategi buat luluhin hati Riki. Sial. Nggak enak banget kedengerannya, ngeluluhin hati Riki. Padahal lebih kedenger enakan luluhin hati calon mertua. Tapi, ya udah, nasib orangkan beda-beda.


####


"Jadi ke rumah Rikinya?" tanya Mama, saat beliau melihtku menuruni anak tangga dengan gerakan buru-buru.


Aku mengangguk lalu mencium kedua pipi Mama. "Jadi, doain Aro, ya, Ma."


"Pasti." Mama mengangguk antusias.


"Ya udah, Aro pamit. Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam! Hati-hati nyetirnya, Nggak usah ngebut!" teriak Mama, dan aku hanya membalasnya dengan mengangkat jempolku.


Setelah masuk ke dalam mobil dan memasang seatbelt-ku, aku berdoa sejenak. Entah kenapa, perasaanku mendadak menjadi campur aduk. Tegang aja rasanya. Agak-agak takut kalau ditolak lagi. Setelah merampungkan acara doaku, aku langsung melajukan mobilku menuju rumah Riki.


Akhirnya, setelah melewati jalanan ibu kota yang sedikit macet, aku sampai juga di depan rumah Riki. Tanpa ingin membuang waktu, aku langsung melepas seatbelt-ku, dan hendak ingin langsung turun dari mobil. Tapi saat kedua mataku menemukan Anggi bersama pria asing, aku mengurungkan niatku tersebut. Menunggu mereka menyelesaikan urusannya lebih dulu. Kalau kuperhatikan, sepertinya mereka cukup akrab dan obrolan mereka serius. Bukan sok tahu, tapi kalau dilihat ekspresi tegang dan gelisah Anggi, aku yakin hubungan mereka spesial. Entah spesial menurut siapa.


Harapanku tiba-tiba langsung sirna saat melihat pria itu maju selangkah dan memeluk tubuh Anggi. Darahku rasanya seperti mendidih saat melihatnya, aku bahkan sempat berpikir untuk keluar dari mobil dan meninju wajah pria itu, saking tak tahannya aku melihat mereka berpelukan begitu.


Sial. Sensasi aneh macam apa ini?


Tanpa perlu menunggu mereka untuk menyelesaikan urusannya, aku akhirnya lebih memilih untuk meninggalkan rumah Riki. Dari pada makin tidak nyaman perasan ini.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2