
Me:
Sent a picture
Setelah hampir lima belas menit gue menunggu, foto yang gue kirimkan ke Vinzi akhirnya berubah centang biru. Kini room chat Vinzi akhirnya mulai menampilkan tulisan Vinzi sedang mengetik. Kali ini gue sedikit bernapas lega, meski tetap saja hati gue tengah harap-harap cemas menunggu balasan Vinzi.
Vinzi:
cie cie, akhirnya dua garis juga. punya siapa itu? tapi kayaknya spreinya gue kenal🤭
Setelah mendapat balasan Vinzi yang begitu, gue langsung memutuskan untuk menelfonnya. Meski statusnya online, tapi Vinzi tak kunjung langsung menjawab panggilan gue. Membuat gue berdecak gemas dan bertanya-tanya, sedang melakukan apa ibu muda ini. Gue kemudian memutuskan untuk mematikannya dan mulai menghubunginya sekali lagi. Dan kali ini dijawab.
"Sorry, Gi, El rewel tadi."
Gue menghela napas pendek. Sejenak melupakan Vinzi yang kini sudah jadi ibu baru. Apalagi Ibu sudah kembali ke Solo, alhasil ia pasti kerepotan mengurus Baby El dan juga Bang Riki.
"Sorry, Zi, lo lagi sibuk, ya?"
Di seberang Vinzi terdengar menertawakan gue. "Santai aja, Gi, kayak sama siapa aja. Gue sekarang udah jadi kakak ipar lo, nggak cuma sohib lo aja. Jadi, kalau mau cerita, cerita aja. Gue siap dengerin, meski belum tentu bisa kasih solusi."
"Thanks, ya, Zi."
"Iya. Santai. Jadi, ada apa? Apa yang bikin lo galau?"
"Seperti yang lo lihat di foto yang gue kirim tadi."
"Lo beneran hamil? Ya, ampun akhinya selamat ya, Gi. Akhirnya Baby El punya adek sepupu juga. Udah jalan berapa minggu?"
"Gue baru nyoba tes aja, Zi, belum ke dokter. Aro bahkan belum tahu tentang ini, lo jangan kasih tahu dia dulu, ya."
"Heh? Maksud lo? Ini Aro belum tahu kalau lo hamil?"
"Iya," jawab gue pelan.
"Kenapa?"
"Gue belum siap, Zi," aku gue jujur.
"Belum siap apa? Belum siap hamil atau belum siap kasih tahu Aro?"
__ADS_1
"Dua-duanya."
"Kalian kebobolan? Lo lupa nggak minum pil? Atau Aro yang lupa nggak pake pengaman?"
Gue menghela napas panjang sambil menyandarkan kepala gue pada punggung sofa. Jujur, gue tidak tahu kalau keputusan gue untuk tidak mengkonsumi pil pencegah kehamilan, akan langsung membuat gue hamil begini. Gue benar-benar masih shock dan tidak percaya dengan dua garis pada testpack yang gue coba tadi pagi.
"Kita sepakat buat nggak pake pengaman atau pun mengkonsumsi pil. Cuma gue nggak tahu kalau gue bakalan langsung hamil begini. Katanya meski lepas pil kita belum tentu hamil kan, Zi?"
"Emang lo lepas pil baru berapa minggu?"
"Udah beberapa bulan."
"Ya, kalau begitu wajar kalau lo hamil. Gi, kalau lo emang ngerasa belum siap, kan bisa pake pengaman dulu," ucap Vinzi melembut. Gue tahu ia sekarang pasti sedang gemas untuk sekedar menyentil dahiku.
"Gue nggak tega sama Aro."
"Yang bakalan hamil dan melahirkan lo, Gi. Aro cuma modal ****** doang." Kali ini nada bicara Vinzi terdengar sedikit gemas, "hal beginian itu harusnya kalian bicarakan serius dong. Jangan dianggep remeh."
Kedua mata gue terasa perih. "Terus gue harus gimana?"
"Sekarang lo tenangin diri lo dulu, jangan panik, lo istri sah Aro, jadi itu bukan masalah besar. Lo cuma perlu belajar terima kenyataan. Kalau udah ngerasa agak tenang, saran gue lebih baik lo langsung kasih tahu Aro. Abis itu kalian bisa ambil keputusan bareng-bareng."
Kening gue mengerut tidak paham. "Maksud lo?"
Emosi gue tersulut. Apa maksud Vinzi bicara begitu, memang aku sejahat itu apa? Gue mungkin bukan istri idaman kebanyakan suami di luar sana, tapi tetap saja gue tidak seegois itu sampai mengorbankan bayi gue demi ketakutan gue kan? Enggak. Gue nggak begitu.
"Gue nggak sejahat itu ya, Zi."
"Nggak ada yang bilang lo jahat, Gi."
"Tapi lo bilang seolah-olah nyuruh gue gugurin bayi gue, Zi."
Helaan napas terdengar dari seberang. "Gue nggak nyuruh begitu, gue cuma--"
"Gue nggak mau!" potong gue kesal, "gue nggak mau kayak gitu. Gue nggak mau jadi jahat begitu, gue nggak mau." gue menggeleng tegas sambil menahan tangis gue yang kini sudah pecah.
"Iya, sorry kalau omongan gue tadi nyakitin perasaan lo. Serius gue nggak maksud begitu sebenernya. Ini sekarang Aro mana? Ada di rumah atau lagi keluar?"
"Pergi keluar, diundang acara lamaran staff dapur. Nggak enak kalau nggak dateng."
__ADS_1
"Lo oke kan tapi sekarang?"
Gue mengangguk, meski tahu Vinzi tidak bisa melihatku. "Hmm."
"Ya udah, nggak papa. Lo cuma perlu menyesuaikan diri aja, Gi, nanti lo bicarain ini sama Aro, ya. Jangan dipendem sendiri, gimana pun ini termasuk kabar baik kan?"
"Iya, thanks, Zi. Udah mau denger curhatan gue, padahal gue yakin lo lagi sibuk ngurusin ponakan gue."
Dapat gue dengar tawa renyah dari Vinzi. "Santai, Gi, kayak sama siapa aja."
"Ya udah, gue tutup."
"Iya, jaga diri baik-baik. Jangan sembrono, sekarang ada janin yang perlu lo jaga. Ngerti?!"
"Hasil testpack gitu akurat banget, ya, Zi?" tanya gue tiba-tiba.
"Hah?" Vinzi terdengar kaget sekaligus bingung.
"Ya, kalau testpack yang kita coba menunjukkan hasil yang positif, itu tandanya 100% gue hamil?"
"Ya, enggak 100% juga, Gi. Ada yang bilang sekitar 1% kemungkinan testpack tidak akurat. Lo bisa ajak Aro untuk cek ke dokter buat mastiin."
Gue mangguk-mangguk sambil ber'oh'ria. "Oh, kemungkinan besarnya akurat banget, ya, Zi."
"Gi."
"Gue cuma tanya, nggak maksud yang gimana-gimana. Ya udah deh, gue tutup telfonnya. Kapan-kapan gue main ke sana deh, udah kangen Baby El nih gue."
Helaan napas panjang kembali terdenger dari seberang. Membuat gue tersenyum kecut. "Ya udah, iya. Itu juga kayaknya Baby El udah nyariin gue."
"Hmm. Bye!"
Klik.
Gue menghela napas pasrah sambil menutup sambungan telfon. Kini saatnya mempersiapkan mental untuk memberitahu Aro tentang hasil testpack yang gue coba tadi pagi. Ah, semoga gue tidak punya pikiran aneh-aneh lagi.
**Tbc,
kok pendek?
__ADS_1
iya pov-nya dibagi dua sama Babang Aro yes🙃 biar kita tahu responnya nnti lebih puas. okeh? ya, kpn aku postnya? yg penting tungguin aja dan berdoa semoga gk sampai malem😛 oke? okein aja.
see you next part. bubay🥰😍😘😜🤣❤️**