Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (22) Gue Ini Cewek Setia


__ADS_3

####


"Udah deh, Gi, apa salahnya sih nyoba jalan sama Prasta?"


Telinga gue rasanya benar-benar sudah bosan mendengar bujuk rayu Vinzi, yang seakan tak pernah bosan mencomblangkan gue dengan Prasta. Iya, Prasta, pria yang awalnya gue kira Aro waktu di mall, beberapa minggu yang lalu, yang kemarin sempet mengajak gue berkenalan. Beberapa hari ini dia lumayan rajin mengajak gue jalan, entah sekedar nonton atau hanya mengajakku bertemu. Dia bahkan pernah datang ke tempat kerja gue untuk jemput dan mengantarkan gue pulang, lalu keesokan harinya, dia datang buat ke rumah dan mengantar gue kerja.


Bang Riki yang tahu akan hal tersebut, tentu saja menjadi senang bukan main. Bahkan, sekarang ia dengan senang hati malah membantu Prasta untuk deketin gue.


Kenapa sih tidak ada yang mendukung gue untuk suka dengan Aro saja. Emang salahnya di mana sih kalau gue suka dia? Dosa besar ya, gue naksir Aro?


"Apaan sih, gue ini bukan cewek gampangan, ya?" balas gue tak terima.


Dibayar berapa sih ini orang, sampai segitu bangetnya ngebujuk gue.


"Eh, nggak ada hubungannya, ya, lo jalan sama Prasta itu bikin lo jadi cewek gampangan. Aro itu cuma baru naksir lo, belum nembak lo."


"Ini nih, yang ngaku pinter tapi otaknya cuma setengah," kata gue sambil menunjuk-nunjuk wajahnya kesal, "gue kasih tahu, ya, Aro itu udah nembak gue lewat Bang Riki. Kurang keren apa itu orang. Cowok model beginian tuh, langka, unik dan patut ditungguin."


Sambil membuka bungkus keripik ketelanya, Vinzi mencibir. "Dan lo berencana buat nungguin tuh cowok? Mau sampai kapan? Sampai Bang Riki lamar gue? Ngimpi aja lo! Cowok modelan Aro, tuh, sekalinya dapat rintangan buat dapetin cewek, ya, dia bakalan mundur teratur. Terus otaknya disugesti, 'ya udah sih, mungkin belum jodohnya'. Gitu. Paham lo?"


Gue mengernyit, sambil mengamati wajah Vinzi. Dalam hati gue bertanya-tanya, kenapa dia bawa-bawa nama Bang Riki? itu bukan kode kan? Mampuslah, gue kalau sampai Vinzi juga naksir Bang Riki.


"Belum paham juga?"


Vinzi menoleh gue sambil tersenyum, mengejek. Mulutnya sibuk mengunyah kripik ketelanya, tanpa ada niatan berbagi dengan gue.


Gue berdecak setelahnya. "Bukan gitu, gue malah salfok ke nama Bang Riki yang lo sebut barusan. Lo nggak nyebut nama Abang gue dalam doa lo juga kan?"


Dengan wajah cueknya, Vinzi mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Kenapa kalau gue sebut nama Abang lo dalam doa gue? Eng--"


"Jelas nggak bolehlah!" potong gue snewen.


Tanpa dia sebut dalam doanya saja, Bang Riki sudah keliatan banget kalau naksir, meski selalu dia elak sih, saat gue tanya tentang itu. Tapi sebagai orang yang dulu pernah berbagi rahim yang sama, gue jadi tahu dari gestur tubuhnya itu. Kebetulan gue nggak buta buat liat yang begituan. Jadi, gue tahu kalau sebenarnya Bang Riki naksir Vinzi.


Sekali lagi, Vinzi mengangkat kedua bahunya cuek. "Termasuk kalau gue ngedoain supaya Bang Riki ngasih restunya gitu?"


Bibir gue mendadak bungkam. Oh, ternyata gue su'udzon.


Vinzi melirik gue sekilas lalu berdecih samar. "Makanya jangan sok tahu lo!"


"Iya, iya, sorry, gue nggak tahu. Lagian gue cuma khawatir sama lo."


"Ya, persis kayak Abang lo!"


"Zi, bisa nggak sih lo itu nggak usah belain Bang Riki. Lo naksir beneran sama dia?" protes gue kesal.


"Gi, inti dari omongan gue bukan itu. Tapi kalau lo mikirnya gitu, ya, terserah. Itu hak lo. Tapi, gue cuma mau ngingetin, biar lo sama Abang lo nggak kelamaan marahannya. Karena niat dia itu baik, dia cuma mau yang terbaik buat lo. Cuma caranya aja yang kurang tepat. Dan itu menurut lo, tapi menurut Bang Riki itu emng yang terbaik. Semua orang punya sudut pandang masing-masing, Gi, ini masalah pendapat. Pendapat itu nggak ada yang salah atau benar. Ini itu masalah sudut pandang."


Gue mendecak frustasi, sambil memijit pelipis. Omongan Vinzi ada benarnya juga sih, cuma gue bingung harus bersikap bagaimana saat ini.


"Terus gue mesti gimana sih, Zi?"


"Baikan sama Bang Riki."


Gue mengerucutkan bibir, sedikit tak suka dengan ide Vinzi.


"Harus itu?"


Vinzi mengangguk semangat sebagai tanda jawaban.


"Ya, udah iya. Nant--"


"Sekarang dong. Jangan nanti-nanti, lo tuh, udah kelamaan ngambek sama Abang lo. Lo mau jadi adek durhaka?"


Gue melirik Vinzi tajam, sambil mendengkus karena tersinggung.


"Bang Riki pergi, jadi na--"


"Gue udah di sini," ucap Bang Riki tiba-tiba muncul entah dari mana.


Mulut gue menganga lebar, karena kaget. Tunggu, sebentar! Jangan bilang, ini rencana mereka berdua?


Vinzi menyengir dengan wajah tak berdosanya. "Hehe, ketebak, ya?"


Sialan. Gue menggeram jengkel. Pantesan si Vinzi mendadak bijaksana, ternyata cuma akting? Kenapa gue nggak sadar dari awal sih?


"Jadi baikan nggak nih?" celetuk Bang Riki sambil memasang wajah cengengesannya.


Gue mendengkus, lalu melirik Bang Riki tajam. Kalau udah begini gue bisa apa?


"Jadi," jawab gue singkat.


"Hah? Masa gitu doang?" protes Bang Riki sambil berdecak tak terima.


Gue meliriknya sekilas. "Mau gimana lagi emang?"

__ADS_1


"Kok gimana sih?" protes Bang Riki sekali lagi.


"Udah ketularan Aro itu kayaknya, Bang," celetuk Vinzi tanpa sadar, bahkan dengan tidak pekanya gadis ini masih sibuk mengunyah, "ketularan nggak pekanya, Bang," lanjutnya, masih belum sadar.


Lah, ngatain gue nggak peka, tapi diri sendiri nggak peka. Temen siapa ini, ya Tuhan. Males banget gue mau ngakuin.


Bang Riki berdehem. Vinzi mendongak ke arah gue dan Bang Riki secara bergantian, di detik berikutnya, baru gadis itu meringis. Sepertinya mulai menyadari mulutnya yang keceplosan.


"Ups! Salah ngomong ya, gue."


Vinzi menggaruk kepalanya lalu tersenyum salah tingkah. "Gue... ke belakang dulu deh. Cari minum, haus banget gue, sumpah!" dengan gerakan buru-buru ia bangkit dari sofa, lalu berlari ke dapur. Padahal di atas meja sudah ada dua botol coca-cola, satu punya gue, satu punyanya.


"Temen lo tuh, emang ngegemesin banget deh," kata Bang Riki lalu merebahkan kepalanya di atas pundak gue. "bikin susah move on."


"Temen lo juga," balas gue sambil terkikik geli.


Bang Riki langsung mengangkat kepalanya, menatap gue tak suka. "Jangan ngacau dulu, deh! Nggak usah bawa-bawa Aro. Ini tuh, quality time kita. Paham nggak sih?"


Gue mendengkus samar, lalu memeluk Bang Riki. "Kangen lo gue, Bang," bisik gue sambil terkikik geli.


Meski setiap hari bertemu dan duduk semeja makan, perang dingin yang kami lakukan benar-benar serius. Apa lagi semenjak dia mengenal Prasta, hubungan kami kian merenggang. Benar-benar contoh yang jelek.


"Siapa suruh pake acara ngambek-ngambek segala," balas Bang Riki sambil mengelus rambut gue.


Sebenarnya kalau boleh jujur, semenjak gue mulai kerja, hubungan gue dan Bang Riki sudah tidak seintens ini. Dulu semenjak gue kecil sampai gue masuk kuliah tuh, gue sama Bang Riki tuh deket dan juga lengket. Ya, kayak sekarang ini. Kalau diinget-inget terakhir dia meluk gue tuh, kayaknya waktu gue memutuskan berhenti kuliah. Gu inget banget Ayah dan Ibu marah waktu itu, dan Bang Riki yang selalu ada buat gue. Bagi gue, setelah Ayah, Bang Riki adalah pria yang paling gue cintai di dunia ini.


"Lo nyebelin sih," balas gue sambil mengerucutkan bibir.


"Salah lo, pake acara naksir Aro," gerutu Bang Riki.


"Ini quality time kita, Bang. Nggak usah sebut-sebut nama itu. Lo pengen banget gue gagal move on?"


Bang Riki langsung tertawa, menyambut gerutuan gue. "Lo naksir beneran sama Aro, ya?"


Gue menggeleng ragu. "Nggak tahu juga, Bang. Tapi kayaknya gitu deh."


"Dek," panggil Bang Riki tiba-tiba.


Gue langsung melepaskan pelukan gue secara reflek. Memandang Bang Riki penuh curiga. Bang Riki kalau udah manggil gue dengan sebutan 'dek' tuh suka bikin gue serem.


"Apaan sih, Bang? Lo tuh kalau manggil gue pake sebutan itu, tuh, serem!"


Bang Riki tertawa. "Apaan, orang ganteng begini kok serem."


"Fakta."


"Terserah lo deh."


"Ngambek lagi?"


"Iya," ketus gue galak.


"Laptop gue sita loh, kalau masih mau ngambek," ancam Bang Riki, membuat nyali gue menciut. Tanpa laptop gue mana bisa maraton drama Korea.


"Dih, ancemannya norak."


"Kan kalau mau pake iming-iming behind the--ups** sorry, lupa gue. Apa namanya kemarin?"


"Bangtan the boys, Bang. Kalau nggak ngerti kepanjangannya kan bisa pake singkatannya."


"Kenapa? Enggak boleh sama Arni, ya?"


Kening gue mengkerut tak paham. Siapa itu Arni? Semacam cem-cemannya?


"Siapa itu, cewek baru lo, Bang?"


"Gue nggak punya cewek. Tapi temen gue ada yang Arni."


"Arni itu siapa, Bang? Gue nggak paham, sumpah! Ini omongan kita ke arah mana sih?"


Serius. Gue beneran nggak paham ini.


"Loh, ini gue yang salah lagi apa lo yang kurang gaul?" tanya Bang Riki kebingungan.


"Mana gue tahu."


Bang Riki berdecak gemas. "Itu loh, Ta, sebutan buat fans-fans behi--maksud gue bangtan the boys. Iya, maksud gue itu."


"Itu Army, Bang. Bukan Arni."


"Army? Itu kan anaknya H.Solikun, tetangga kita, yang tinggal di ujung komplek."


Gue kembali berdecak gemas. "Anaknya H. Solikun emang namanya Army, tapi fandom BTS juga, Army, bukan Arni."


"Fandom itu apaan lagi?"

__ADS_1


"Ya, itu semacam club, atau nama lainnya club. Ya, kurang lebih begitu. Astaga, kenapa obrolan kita jadi unfaedah begini sih?" pekik gue baru nyadar.


"Iya, kalau ngobrolin k-pop emang begitukan? Selalu unfaedah?"


"Dihujat anak k-pop baru nyaho lo, Bang. Nggak tahu aja gimana brutalnya mereka."


"Tahu, lo kan juga gitu."


"Maksud lo?"


Kedua mata gue melotot tajam ke arah Bang Riki. Sementara Bang Riki meringis sambil mengacungkan jarinya membentuk huruf V.


"Akhir minggu ini jalan-jalan, yuk!" ajak Bang Riki, merayu.


"Ke Bandung?"


"Dih, ngarep!"


"Usaha ini."


"Prasta kurang apa sih?" tanya Bang Riki tiba-tiba. Membuat gue langsung menoleh ke arahnya dengan kernyitan di dahi. Kenapa jadi bawa-bawa Prasta.


"Apaan sih? Katanya quality time berdua," kata gue sengaja menyindirnya.


"Enggak, gue serius ini. Kurangnya Prasta apa?"


"Kurangnya dia itu cuma satu, Bang."


"Apa?"


"Kurang tepat waktu datangnya."


"Lagu lama," cibir Bang Riki sambil mendengkus.


"Tapi enak."


"Apanya?" tanya Bang Riki heran.


"Lagunya."


"Lagu siapa?"


"Fiersa Besari. Di waktu yang salah."


"Astagfirullah, malah ngomongin lagu," decak Bang Riki gemas.


"Balik ke lagu. Eh, balik ke topik. Kenapa lo nggak sama Prasta aja sih? Lupain Aro!"


"Gue nggak mau," tolak gue tegas dan tidak ingin dibantah.


Bang Riki mendesah frustasi. "Kenapa?"


"Karena gue sukanya Aro, Bang. Hal sesederhana ini masih aja lo tanyain? Heran gue."


"Prasta juga nggak kalah--"


"Bang, stop! Kita baru aja baikan, nggak lucu kalau berantem lagikan?"


Bang Riki berdecak frustasi, sambil menyandarkan kepalanya di punggung sofa. Kedua matanya melirik gue sebentar, lalu mendesah sekali lagi. "Lo suka banget sama Aro?"


"Tanya itu lagi. Bang, lo tahu kan gue ini kalau naksir sama satu cowok susah pindah ke lain hati gitu aja?"


Bang Riki mengangguk.


"Jadi, lo pahamkan gimana perasaan gue saat ini?"


"Ya, udah kalau gitu. Gue bakalan kasih izin dan juga restu buat kalian."


"Syaratnya?"


Bang Riki tersenyum samar. "Tahu aja lo sama kebiasaan gue."


"Ya, tahu lah. Gue adek lo, kita pernah gantian tinggal di rahim yang sama," balas gue snewen, "jadi syaratnya apa?" desak gue penasaran.


"Syaratnya sederhana kok."


"Iya. Tapi apa?"


"Kasih gue izin buat deketin Vinzi."


"APA?!"


Baik gue dan Bang Riki langsung menoleh ke arah dapur, dan menemukan Vinzi dengan wajah shocknya.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2