
\=\=\=\=\=\=!!\=\=\=\=\=\=
"Hotel tempat kerja kamu itu adalah hotel milik Papa. Calon mertua kamu."
"Apa?!"
Mendengar pekikanku, Aro langsung berdecak dan melirik gue sinis. Sebelah tangannya mengusap-usap telinga kirinya, sedang tangan kanannya masih memegang stir kemudi.
"Kenapa teriak sih?" protesnya kesal.
"Aku kaget. Tadi kamu bilang apa?"
"Yang mana?"
"Barusan."
"Kenapa teriak?"
Kali ini giliran gue yang berdecak. "Bukan yang itu, yang sebelumnya, Ar," kata gue gemas.
"Oh."
Oh? Cuma oh? Serius, cuma oh aja? Enggak ada imbuhan apa gitu?
"Kok cuma oh?" protes gue kemudian.
"Loh, emang apa lagi?"
"Ya, dijawab dong, pertanyaan aku tadi. Iiih, kamu itu nyebelin banget sih."
Aro menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. "Aku nggak suka ngulang yang bagian itu, takutnya nanti dikira pamer, sayang. Intinya, iya, bener, yang kamu denger tadi. Aku nggak usah ngulang, ya?"
Mulut gue menganga lebar. "Jadi, aku pacaran sama anak bos besar aku sendiri?"
"Yang sebentar lagi akan berubah jadi menantu bos kamu sendiri," ujar Aro mengimbuhi.
Lagi-lagi gue kembali tercengang. Ternyata pacar dan calon mertua gue orang penting. Sedangkan gue cuma seorang resepsionis, kok mendadak gue jadi minder, ya. Emang sih, Papa dan Mama Aro baik banget sama gue, tapi bagaimana dengan keluarga besarnya, apakah mereka mau menerima gue dengan baik, seperti Mama dan juga Papa Aro.
"Hei, kok malah melamun?"
Gue menoleh ke arah Aro, tersenyum tipis lalu menggeleng.
"Kenapa sih?" desak Aro curiga.
"Enggak papa."
"Kata Papa, cewek kalau bilang nggak papa, itu tandanya sedang kenapa-kenapa. Jadi, kenapa? Plis, jangan bilang nggak papa! Aku nggak suka menebak-nebak."
"Cie cie, belagak peka nih, ceritanya," ledek gue yang diabaikan Aro. Gue menghela napas lalu kembali bersuara. "Besok mau berangkat jam berapa?"
Kali ini Aro berdecak kesal, lalu melirik gue sinis. "Pengalihan isu. Ditanya apa, jawabnya apa. Tahu lah, aku ngambek," rajuk Aro dengan wajah pura-pura marahnya.
"Ngambek aja, aku sih, nggak mau ngerayu, ya. Terusin aja ngambeknya," balas gue sambil menjulurkan lidah.
"Ah, kamu curang, kan, kalau kamu ngambek aku ngerayu kamu. Masa, sekarang giliran aku yang ngambek, kamu cuekin. Nggak adil banget."
Mendengar gerutuan Aro, gue tersenyum lalu berujar, "Sebuah keadilan itu masih dipertanyakan keberadaannya, Ar. Nggak usah kamu cari-cari, kalau nggak mau kecewa."
Kali ini Aro terkekeh geli, meski samar. "Apaan sih kamu ini, curhatan hati, ya, itu?" tanyanya mengejek.
"Kalau iya, kenapa?"
Aro tampak berpikir sejenak, sambil mengusap-usap dagunya, sebelum akhirnya berkata, "Ya, kalau kamu belum merasakan keberadaan keadilan itu, aku siap memberikan keadilan khusus buat kamu. Kamu siap?"
"Siap apa?" tanya gue tak terlalu paham, ke arah mana pembicaraan ini.
"Kan, kamu gitu. Kalau arah pembicaraannya ke sana, pasti pura-pura nggak peka."
"Ya, kamu ambigu sih ngomongnya. Aku mana pah--"
"Nikah, yuk!" ajak Aro tiba-tiba.
Gue langsung menoleh dan menatap Aro dengan kedua mata menyipit tak suka. Ini orang ngajakin nikah, udah kayak ngajak jajan di warteg aja sih. Lancar amat ngomongnya.
"Apa kamu bilang?" kata gue menyuruh Aro mengulang ucapannya.
"Ayo, menikah! Hidup bersa--"
"Ar," panggil gue memotong ucapannya.
"Ya?"
"Kamu tahu nggak kenapa dulu Mas Gani aku putusin?"
Aro terlihat mengernyit tidak suka saat mendengar nama Mas Gani gue sebut, namun ia berusaha untuk menutupinya.
"Ya, mana aku tahu. Posesif kali si Gani," celetuk Aro ketus.
"Kamu mau tau?"
"Enggak," balas Aro masih ketus.
"Tapi kamu kayaknya perlu tahu," kata gue kemudian.
"Tapi aku nggak ingin tahu, tuh," balas Aro bertambah cemberut.
"Kamu cemburu?"
__ADS_1
"Menurut kamu?" ketus Aro galak.
"Kalau sudah tahu, kenapa tanya?"
Gue tertawa puas. "Ya, kan buat memastikan."
Aro melirik gue sinis, lalu mendengkus setelahnya. "Gani kamu panggil Mas, google kamu panggil Mas juga, kenapa cuma aku yang enggak?"
"Karena kamu spesial," kedip gue genit.
"Dasar!" balas Aro sambil menahan senyumnya.
"Kalau mau ketawa, ketawa aja, nggak usah malu-malu, sayang."
"Nggak usah mancing!" ketus Aro judes.
Gue menaikkan alis tinggi-tinggi. "Siapa yang mancing, aku itu ngerayu. Katanya minta dirayu."
"Nggak jadi."
"Ya udah," balas gue sekenanya.
"Hmm," respon Aro kemudian.
Ck. Dasar kulkas dua pintu.
\=\=\=\=\=!!!!\=\=\=\=\=
"Nggak mampir dulu?" tanya gue saat mobil Aro sudah terparkir di depan pintu gerbang.
Aro menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi, sebelum akhirnya berkata, "Mau ngapain? Kan tadi sebelumnya aku udah mampir dulu kan? Kamu kangen berat, ya, sama aku?"
*****, pede banget dia?
"Nyesel aku basa-basi sama kamu. Sana, pulang!" ketus gue mengusir dengan kesal, "padahal kan bisa jawab lebih manis," gerutu gue kemudian.
"Contohnya?" Aro menahan lengn gue, saat gue hendak membuka pintu mobilnya. "Biar bisa kita ulang, terus kamu nggak bete begini."
"M-a-l-e-s!" eja gue judes, lalu melepaskan cekalan tangan Aro dan langsung turun dari mobilnya.
Tak lama setelahnya, Aro turun dan menyusul gue. "Jangan ngambek dong," bujuknya kemudian.
"Apaan sih, lepasin! Nggak usah pegang-pegang, sana pulang!"
"Galak banget sih kamu."
Gue melirik Aro sinis. "Udah tahu galak kenapa dipacarin?"
"Ya, gimana, ya, namanya cinta."
"Kan kamu ngambek, harus dirayu lah. Nanti kalau nggak aku rayu, dibilang nggak peka."
"Pinter banget sih kamu ini," kata gue menyindirnya.
Namun, dengan sok polosnya Aro malah mengangguk, membenarkan. "Kan otak aku encer, sayang."
"Tahu lah, bisa darah tinggi lama-lama ngomong sama kamu, Ar. Sana, pulang!" usir gue snewen.
Aro menggeleng tegas, sebagai tanda jawaban. Membuat gue melotot tajam ke arahnya.
"Aku nggak akan pulang sebelum kamu maafin aku."
Aku menaikkan alis. "Emang kamu abis ngapain sampai bikin kamu minta maaf?"
Aro berpikir sejenak lalu menjawab, "Kan aku udah bikin kamu bete. Jadi, aku harus minta maaf sama kamu dong? Bukannya begitu?"
"Enggak. Udah sana, pulang!"
"Kamu udah nggak marah?"
"Aku nggak marah, cuma kesel dikit. Wajar. Kan kamu emang nyebelin."
Dengan wajah datarnya, Aro mengangguk, membenarkan. "Ya udah, aku pulang, ya?"
"Iya. Kan emang diusir dari tadi kan."
"Oh iya, lupa. Ya, udah, aku langsung pulang." Aro hendak berjalan masuk ke dalam mobilnya, namun tiba-tiba berbalik dan menghampiri gue. "Perlu dipeluk dulu nggak sih, sebelum aku pulang?"
"Enggak usah."
Aro meneliti wajah gue dengan kedua mata menyipit curiga. "Kok kayak nggak rela?"
"Apaan sih? Siapa yang bilang begitu?"
Aro menggeleng. "Nggak ada. Tapi wajah kamu cukup menggambarkan kalau nggak rela."
"Ngarang!" sanggah gue tidak terima.
Aro tidak terlalu mempedulikan ucapan gue. Ia hanya terkekeh lalu memelukku. "Pulang dulu, ya. Besok main lagi, jangan nakal! Sebelum bobok baca doa dulu, oke?"
Mau tidak mau, gue akhirnya tersenyum dan mengangguk.
"Hati-hati nyetirnya, nggak usah ngebut, yang penting nyampe dengan selamat. Kalau udah sampai, langsung kabarin!"
Aro mengangguk, mengecup pelipis gue. Ia lalu melepas rangkulannya dan menatap gue. "Langsung pulang, ya?"
"Iya," kata gue gemas, lalu mendorong tubuh Aro, agar segera masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Diusir banget, ya, aku?"
Gue mengangguk, membenarkan.
"Ya udah, aku pulang," katanya sekali lagi, baru kemudian ia masuk ke dalam mobil.
Gue mengangguk sekali lagi, lalu dada
\=\=\=\=\=!!!\=\=\=\=\=
"Eh, udah balik adek gue tersayang. Gimana lancar?" sapa Bang Riki, saat gue masuk ke dalam rumah.
Ia sedang sibuk menonton tayangan bola. Entah klub mana itu yang sedang bertanding, yang jelas gue yakini bukan klub Indonesia. Kenapa gue tahu? Karena tidak ada suara komentator berisik, pun suara komentator yang terdengar menggunakan bahasa Inggris, berarti sudah jelas bukan klub mana yang sedang bertanding itu? Iya, klub luar negeri pokoknya.
Gue mengangguk, sebagai tanda jawaban atas pertanyaan yang Bang Riki berikan. Gue kemudian duduk di samping Bang Riki, ikut nimbrung, meski gue enggak paham. Lalu ikut menyemil kacang bawang yang sedang ia pangku.
"Mengangguk kok ekspresinya begitu?" tanya Bang Riki di sela kunyahan kacang bawangnya.
"Sambutan Mama dan Papa Aro bagus, Bang. Mereka baik banget sama gue," kata gue memulai curhat gue.
"Terus kenapa ekspresi lo begitu? Aro nggak ada saudara kejem deh perasaan."
Gue mengangguk, membenarkan. "Emang nggak punya."
"Terus?" tanya Bang Riki keheranan.
"Gue minder deh, Bang."
"Hah?" respon Bang Riki spontan. Ia menoleh le arah gue dengan ekspresi bingungnya, sebelah alisnya terangkat beberapa detik sebelum akhirnya, menerjap beberapa kali.
"Iya, masa nih, Bang, ternyata hotel, tempat kerja gue tuh, punya nya Papa Aro."
"Terus?"
"Kok terus?" protes gue kesal.
"Lah, ya, apa coba? Emang gue harus tanya apaan?"
"Ya, apa gitu kek."
"Tahu lah, pergi sana! Gue mau nonton bola."
Bang Riki berdecak gemas, sambil mendorong bahu gue agar segera menjauh darinya. Namun gue abaikan, karena gue butuh temen curhat. Vinzi mungkin udah tinggal bareng kita, tapi itu bumil kerjaannya selain ngemil dan cerewet nyuruh-nyuruh, hobinya itu tidur. Ngeselin emang, untung ada keponakan gue dalam perutnya. Jadi, gue agak calm down dalam menghadapi sikapnya yang suka membuat gue emosi mendadak.
"Dengerin dulu, gue kan mau curhat, Bang!"
Bang Riki berdecak. "Tapi lo lihat dong, gue lagi nonton bola."
"Gue temenin."
"Nggak butuh. Kayak ngerti aja lo!"
Gue mangguk-mangguk, sok mengerti. "Ngerti kok, ngerti gue. Cuma beginian mah, masa nggak ngerti. Kalau bolanya masuk gawang, artinya gol kan? Jadi nambah poin," kata gue pura-pura antusias, pandangan gue kemudian beralih pada layar televisi.
Memperhatikan bule-bule yang ada di dalam layar sedang berebut bola dengan seksama. Lalu saat ada seorang bule tengah menggiring bola menuju gawang, gue langsung berseru heboh.
"Liat, liat, Bang, abis itu masuk gawang pasti," seru gue yakin, sambil mengangkat kedua kaki gue naik ke atas sofa secara spontan, tangan gue menunjuk-nunjuk ke arah layar. Sebelah tangan gue, kemudian memukul pundak Bang Riki. "Bang, kok lo biasa aja sih. Liat itu lho!" gue masih berseru heboh.
"Ya, ya, gollll!!!" seru gue heboh sambil jingkrak-jingkrak heboh, "apa gue bilang, Bang. Gol benerkan!"
Bang Riki melirik gue dengan pandangan sinisnya. Gue mendadak bingung.
"Kan itu beneran gol, Bang. Kenapa lo biasa aja, cenderung nggak seneng malah."
"Gimana gue mau seneng, itu tim gue baru aja kebobolan, Ronaldowati! Yang nyetak gol bukan tim yang gue dukung, tapi tim lawan," jawab Bang Riki judes.
Gue meringis malu. Sambil menggaruk kepala gue salah tingkah. Pantas saja Bang Riki sensi, ternyata sok asik gue tidak pada tempatnya.
"Malu?" sindir Bang Riki sambil berdecak.
"Kan gue nggak tahu, Bang," kata gue kalem.
"Makanya, kalau nggak tahu itu nggak usah sok tahu. Biar nggak bikin lo malu sendiri," ketus Bang Riki dengan wajah snewennya.
"Iya, iya, maaf. Gue tidur aja deh," kata gue kemudian.
"Harusnya emang dari tadi begitu," balas Bang Riki masih dengan wajah kesalnya.
"Tapi, sesi curhat gue gimana?"
"Curhat aja sama sosmed, sana!"
"Dih, curhat sama sosmed tuh, nggak ada faedahnya, Bang, dapet solusi enggak. Yang ada malah bikin peluang para netizen buat ngomong gue."
"Tahu lah, itu urusan lo. Males gue ikut campur. Sana, sana! Gue mau nonton bola ini!"
"Dih, orang rebutan bola ditonton. Kurang kerjaan lo, Bang."
"Biarin! Gue yang nonton, kenapa lo yang sewot," balas Bang Riki tak mau kalah. "Sana, sana!" usirnya kemudian.
"Nyebelin!"
"Lo, apa lagi!" balas Bang Riki, lagi-lagi tak mau kalah.
Gue menghentakkan kedua kaki gue kesal, lalu memukul kepala Bang Riki sebelum akhirnya gue berlari terbirit-birit naik ke lantai atas. Mengabaikan teriakan bernada umpatan khas Bang Riki kalau sedang emosi.
Tbc,
__ADS_1