Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Spesial Part : Pov Aro


__ADS_3

#####


"Yakin kamu pulang sendiri tanpa aku? Aku ikut aja deh, bentar aku siap--"


Aku tertawa sambil menahan lengannya, lalu menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Saat sedang labil begini, Anggita benar-benar menggemaskan dan juga lucu. Astaga, aku menikahi gadis umur berapa sih ini? Kok labilnya begini banget.


"Kok jadi labil begini? Apa gara-gara lagi periode?"


Anggita tidak menjawabku, ia hanya merapatkan pelukan kami. Bahkan tak lama setelahnya, aku merasakan kemejaku basah. Astaga, Anggita menangis?


Secara spontan, aku melonggarkan pelukan kami. Aku menunduk lalu tertawa saat mendapati Anggita sudah menangis tersedu-sedu di pelukanku.


"Aku jahat banget nggak sih, Ar, kalau nggak ikut kamu ke Bandung? Hiks... Hiks..."


"Enggak." Aku menepuk pundak Anggita untuk menenangkannya.


"Tapi--"


"Udah lah, masa mewek gitu cuma ditinggal ke Bandung," potongku sambil menghapus sisa air mata di pipi Anggita.


Melihatnya begini, aku jadi berat hati mau meninggalkannya. Bagaimana pun ini pertama kalinya bagi kami berpisah setelah menikah. Mungkin rasanya akan aneh kalau bangun tidur dan tidur menemukan siapa pun di sebelahku. Ah, kenapa sekarang aku mendadak ikutan bimbang?


"Ya udah, kita LDR dulu, ya. Nanti kalau nggak kuat, aku nyusul ke Bandung," ucap Anggita dengan lucu.


Aku kembali tertawa. "Ya, udah, nanti kalau nggak kuat aku jemput. Oke?"


Kali ini Anggita mengangguk patuh sambil menghapus sisa air matanya. Sekali lagi ia memelukku dengan erat, membuatku tidak bisa untuk tidak tertawa. Di balik banyak kepayahannya, harus aku akui aku sangat mencintai dan menyayanginya. Rasanya berat juga harus meninggalkan dia di sini tanpa aku. Tapi aku juga tidak tega melihatnya kesepian di apartemen sendirian.


"Sana cuci muka dulu, aku tunggu di luar, ya. Mau pamitan sama Ibu dan yang lain. Kalau ketahuan matanya sembab begini bisa diledek Riki kamu nanti."


Anggita mengangguk lalu melepaskan pelukan kami dan bergerak menuju kamar mandi, sedangkan aku keluar kamar terlebih dahulu.


"Mana Anggi-nya?" tanya Riki saat aku keluar kamar dan berpapasan dengannya.


"Masih di dalem, lagi cuci muka."


"Belum mandi?"


Aku mengangguk. "Udah. Tapi abis mewek."


"Nangisin lo?" tebak Riki tepat sasaran.


Aku terkekeh sambil mengangguk, sedangkan Riki langsung terbahak.


"Dan masih mau lo tinggal di sini? Nanti malem kalau rewel gimana?"


"Enak aja, lo pikir istri gue bayi yang ditinggal Ibunya. Sembarangan aja," dengkusku tidak terima.


"Yee, kelakuan istri lo tuh kadang-kadang suka ajaib, terus suka bikin orang pengen elus dada Mama Muda," seloroh Riki dengan tawa nistanya.


Astaga, kasian sekali sih nasib Vinzi dan calon anak mereka. Punya suami dan Bapak kok begini banget. Lagian heran, udah mau jadi Bapak kok kelakuan masih begini-begini aja.


"Mulut lo itu, Rik, belajar difilter kenapa? Udah mau jadi Bapak nih sebentar lagi kok kelakuan masih begitu. Kasian anak lo ntar." Aku menggeleng miris melihat kelakuannya.


"Omelin aja, Ar, itu Kakak ipar lo emang perlu dikursusin biar sedikit berakhlak," sahut Vinzi ikuta-ikutan.


Riki memasang wajah dramatis sambil memegang dada kirinya, seolah tersakiti. "Astagfirullah, jahatnya istri dan juga ibu dari anak-anakku."


"Lebay!" koorku dan Vinzi bersamaan. Membuat Riki memasang wajah masamnya.


Lalu kami turun ke lantai bawah. Di bawah sudah ada Ibu yang sedang fokus menonton sinetron kesukaan beliau. Saat menyadari kehadiran kami Ibu menoleh ke arah kami, kebetulan acara sinetron juga sedang iklan.


"Jadi balik ke Bandung sekarang?" tanya Ibu berbasa-basi.


Aku mengangguk. "Jadi, Bu."


"Nggak besok aja pagi-pagi? Anggi jadinya mau ikut ke Bandung lagi atau di sini dulu?"


"Di sini aja, Bu, biar kangen-kangenan sama Ibu dan Abangnya dulu."


Ibu mangguk-mangguk paham. Tak lama setelahnya Anggita turun, masih dengan kedua mata yang sedikit sembab.


"Eladalah, itu kenapa matanya begitu?" tanya Ibu terkejut saat menyadari mata Anggita yang sembab.


Baik Vinzi dan Riki langsung menoleh ke arah Anggita. Ekspresi Vinzi datar dan biasa saja, lain lagi dengan Riki yang langsung menertawai adik satu-satunya itu secara terang-terangan. Dan seperti biasa, Anggi kalau periode begini pasti langsung mewek. Ia langsung menubruk dadaku dan memelukku.


Aku terkekeh dan membalas pelukannya. Astaga, kalau begini bagaimana aku tega meninggalkan Anggita.


"Udah ajak aja lah, Ar, dari pada mewek nggak berhenti begini. Siapa yang repot? Gue juga."


Aku menatap Anggita yang masih berada di pelukanku dengan bingung. Apa yang dibilang Riki ada benarnya juga, Anggita kalau sedang periode benar-benar jadi super sensitif. Aku sendiri kadang kewalahan dalam menghadapinya, bagaimana mungkin aku tega meninggalkannya begini. Yang ada aku tidak bisa tenang juga di Bandung nantinya.


"Ya, udah, jadinya mau ikut Bandung?" tanyaku pada Anggita.


Anggita tidak langsung menjawab, ia terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk pelan.

__ADS_1


"Astagfirullah, lo lagi hamil, Gi?" celetuk Vinzi sambil terkekeh geli, "melownya gitu banget deh. Agak alay."


Mendengar celetukan ngaco Vinzi, raut wajah Ibu berubah berbinar. "Kamu terakhir datang bulan kapan, Nduk?"


Aku tertawa mendengarnya, kemudian langsung menjawab, "Anggi sensitif melow ini juga gara-gara lagi dateng bulan, Bu. Haidnya Anggi masih lancar, belum telat sejauh ini."


Mendengar jawabanku, raut wajah Ibu langsung berubah sedih. Aku tahu kekecewaan beliau, tapi mau bagaimana lagi? Anggi sendiri belum sepakat untuk memiliki buah hati, jadi mana bisa aku segera memberi Ibu cucu.


"Maaf, Bu," ucapku tulus.


"Ya, ndak papa. Mungkin belum rejekinya," balas Ibu, kali ini terlihat mencoba untuk menyembunyikan raut wajah kekecewaannya. Membuat perasaan bersalah semakin menjadi.


"Tapi pulang ke Bandungnya besok pagi aja nggak papa?" tanya Anggita.


"Kalau besok pagi apa malah nggak ribet?" sahut Ibu.


Sejujurnya sih memang iya, karena kami harus bangun pagi-pagi sekali. Tapi berhubung Anggita sudah bilang begitu, aku bisa apa selain bilang iya?Tanpa banyak berpikir, aku langsung mengangguk mengiyakannya. Lalu di sebelahku Riki tiba-tiba menepuk pundakku.


"Sabar, ya, Bro, dapet bini yang modelnya beginian."


Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya.


#####


Tok Tok Tok


"Ar, Ar! Bangun! Buka pintunya bentar dong!"


Aku menggeliat saat samar-samar mendengar suara gedoran pintu dan juga suaranya Riki. Kulirik jam weker yang ada di sebelah Anggita, baru pukul setengah dua belas malam. Kenapa Riki teriak-teriak begitu. Pandanganku kemudian beralih pada Anggita yang masih terlelap di pelukanku. Dengan hati-hati aku menarik lenganku, kemudian membenarkan posisi tidur Anggita. Setelah kurasa terlihat nyaman, baru aku turun dari ranjang lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Kenapa sih malem-malem teriak, bangunin orang tidur?" protesku sambil menguap.


"Temenin ke rumah sakit, yuk!" ajak Riki dengan wajah paniknya.


Aku mengernyit bingung. Siapa yang sakit memang?


"Siapa yang sakit? Elo?"


"Vinzi kayaknya udah mau lahiran deh. Tadi gue udah bangunin Ibu sekarang lagi siap-siap. Lo juga, gih!"


"Terus Anggi gimana?"


"Bangunin aja!"


Aku mengangguk. "Ya, udah lo juga siap-siap. Nanti kalau semisal gue lama boleh lo tinggal, nanti biar gue nyusul."


"Kan ada Ibu," balasku sambil sedikit terkekeh geli, "ya udah, sana! Lo siap-siap juga. Gue bangunin Anggi dulu."


Riki mengangguk lalu berlari meninggalkan kamarku begitu saja. Aku sendiri langsung menghampiri ranjang dan membangunkan Anggita, yang sebenarnya masih tidur dengan pulasnya.


"Yang, bangun!" bisikku sambil mengguncang bahunya pelan.


Anggita menggeliat. "Udah pagi?" tanyanya masih enggan untuk membuka mata.


"Belum. Masih jam setengah dua belas."


"Masih lama, Ar, aku masih ngantuk. Bobok lagi aja dulu," balas Anggita, yang kini malah membenarkan selimutnya hingga menutupi leher.


Aku berdecak lalu menarik selimutnya. "Bangun! Ayo, kita ke rumah sakit. Nemenin Vinzi, kata Riki ponakan kita udah mau lahir."


"Iya, besok aja lah. Udah ditemenin Ibu kan?"


Aku menghela napas. Astaga, susah banget sih kalau bangunin Anggita.


"Kamu nggak ikut? Aku tinggal loh," ancamku karena mulai kesal dan kehilangan kesabaran.


"Ikut ke mana?" Anggita sedikit mengangkat kepalanya dan membuka matanya sedikit.


Astagfirullah!


"Bangun dulu, deh!"


Kali ini Anggita menurut, ia bangun dan duduk bersila meski sedikit ogah-ogahan. "Mau ke mana sih?" tanyanya seperti orang kebingungan.


"Rumah sakit. Vinzi mau lahiran, sayang."


"Oh." Anggita ber'oh'ria sambil menguap.


Kalau dilihat dari responnya yang santai begini, sepertinya ia belum menyadari kalimatku dengan betul. Dan benar saja, beberapa detik kemudian ia berseru heboh.


"Heh?! Apa tadi kamu bilang, Ar?"


Kan, kan, kan! Kebiasaan deh.


"Vinzi mau lahiran, sayang. Aku harus ngulang kalimat itu berapa kali sih?"

__ADS_1


Dengan langkah terburu-buru, Anggita berlari masuk ke kamar mandi.


"Tungguin aku bentar, Ar! Aku cuci muka dulu," teriaknya dari kamar mandi.


Aku hanya mampu menghela napas lelah, melihat kelakuannya. Untung sayang. Gerutuku dalam hati.


Anggita tiba-tiba keluar kamar mandi, padahal ia terlihat seperti belum membasuh wajahnya.


"Kok cepet?" tanyaku keheranan.


"Aku mau ganti sekalian," balasnya setelah mengambil yang dicari. Aku hanya ber'oh'ria setelah melihat apa yang dicari. Lalu Anggita masuk ke dalam kamar mandi lagi.


Sambil menunggu Anggita mencuci wajahnya, aku berganti celana panjang dan memakai jaket. Tak lama setelahnya Anggita keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dan sedikit basah. Aku kemudian menyerahkan jaket untuk dia pakai, piyama yang dikenakan Anggita atas dan bawah sama-sama panjang, jadi aku tidak menyuruhnya berganti pakaian, cukup pakai jaket biar tidak kedinginan.


"Makasih," ucap Anggita sambil mengedip genit ke arahku. Aku hanya mengangguk sebagai balasan.


"Yuk, langsung berangkat," ajakku setelah mengantongi dompet dan kunci mobil.


Bukannya langsung bergegas, Anggita malah melipir ke meja riasnya.


"Mau ngapain?"


"Pake pelembab sama liptint dulu dong."


"Nggak usah, malem-malem begini juga. Nggak usah dandan, sayang. Kayak mau ketemu siapa aja," gerutuku kesal, "kamu cantik apa adanya. Bukan cantik skincare-nya apa."


"Apaan sih? Ini itu kebutuhan, Ar. Sebagai istri yang baik, aku tuh harus tampil oke setiap waktu. Lagian aku kan nggak dandan yang gimana-gimana, cuma pake pelembab aja segala diributin. Tuh, udah selesai. Yuk, berangkat. Eh, aku bawa tas enggak?"


"Enggak usah, bawa enjoy aja," balasku mulai kesal.


Anggita hanya tertawa lalu mengekor di belakangku.


******


"Ar, kamu bisa baca masa depan, ya?"


"Kok tahu?" balasku tanpa menoleh ke arah Anggita dan fokus ke arah jalan.


Di luar dugaan, Anggita tiba-tiba terbahak. "Ar, aku tuh lagi tanya. Nggak mau ngegombalin kamu, ya. Dih, kepedean banget sih sekarang suaminya aku ini," ledeknya.


Kali ini aku ikut tertawa. "Aku pikir iya, abis pertanyaan kamu tadi nyeleneh sih. Kan aku jadi mikirnya ke arah sana." Aku menggaruk-garuk kepala karena malu.


"Kamu pengen banget digombalin, ya?" ledek Anggita makin menjadi.


Aku menggeleng tegas. "Enggak, ya. Enak aja."


"Terus apa tadi maksudnya?"


"Ya, kan aku pikir. Salah kamu ngapain tanya begituan?"


"Ya, coba kamu inget omongan kamu yang kemarin!"


"Omongan yang mana?"


"Yang kamu bilang kalau ponakan kita udah mau lahir dan kamu nyuruh aku buat di Jakarta dulu aja."


Aku menggaruk kepalaku menggunakan tangan kiri karena tangan kananku memegang setir.


"Hubungannya sama pertanyaan kamu tadi?"


"Ya, kok bisa pas banget gitu, ya. Kamu bisa lihat masa depan?"


"Ngaco! Itu cuma kebetulan aja, sayang. Nggak usah neko-neko deh.


Anggita ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Terus nanti gimana, kamu jadi balik ke Bandung?"


"Ya, enggak dulu dong. Kan ponakannya mau lahir. Ambil cuti dong."


"Cuti terus kalau dipecat gimana?"


"Gani mana rela mecat aku?" ujarku menyombong.


Sambil tersenyum puas Anggita mangguk-mangguk lagi. "Iya, juga, ya, kan Mas Gani itu terlalu sayang sama kamu ketimbang sama aku," cengirnya tanpa rasa bersalah.


Aku melotot ke arahnya. "Maksudnya apa tuh?"


"Bercanda, Mas," kedip Anggita setelah tadi sempat mencium pipiku.


Ck, tahu aja kelemahan suaminya di mana.


Tbc,


Mon maaf baru up, hehe


Happy reading

__ADS_1


See you next part


Jangan lupa koreksi typo-nya. Inget, yang aku minta koreksi typo, ya🤭 see you bubay😘❤️❤️😍


__ADS_2